Senin, 11 Juli 2016

Selamanya



Selamanya aku kira pada awalnya merupakan sebuah kata yang selalu bermakna positif.
Misalnya dalam kalimat berikut ini.

Aku mencintaimu selamanya.

Namun aku salah.  Aku telah melupakan kalimat:

Aku akan meninggalkanmu untuk selamanya.

Seperti pada malam itu, ia mengatakan kalimat yang hampir mirip dengan nada yakin di teras rumahku, “... selamanya.” yang kemudian aku lemparkan selembar tissue ke badannya.

Tuhan sedang baik kala itu. Motorikku lemah, hampir setiap hal yang aku lempar maupun tangkap tidak pernah kena sasaran, tapi tidak pada malam itu.

Wajahku panas. Dihiasi amarah yang membuncah.

.
.
.


“Kok nggak nulis blog lagi, Kak? Kan lagi sedih,” ujar seorang teman baik di kantor.

Ya, gue memang cenderung berkarya tatkala perasaan gue sedang tidak bahagia. Coba tilik prosa dan puisi gue, lebih dari tiga perempatnya adalah karya-karya yang tertuang dari rasa pahit dan juga getir.

Namun, yang ini berbeda. Jari-jemari seakan berat untuk membahas tentangnya. Mungkin karena semua yang berhubungan dengannya menimbulkan sakit dan membangkitkan trauma. Begitu kuat efeknya.

Hari ini, tepat dua puluh hari sejak kejadian itu terjadi, gue berani untuk mengangkat kepala dan menulis lagi. Meski yang akan gue beritahukan adalah hal sedangkal:

aku tidak pernah disakiti hingga patah hati sehebat ini.

Gambar diambil dari weheartit

8 Juli 2016

Jumat, 11 Desember 2015

21.34 - 2 comments

Apakah Benar Esensi Pertemuan adalah Perpisahan?

Dia bilang, semua awal akan menjumpai akhir.

Aku setengah tidak percaya. Mengapa? Karena saat itu dia berbicara mengenai kita.

Dan dia benar.

Berkali-kali aku bertemu pada ujung yang menuju akhir.

Tapi aku kembali, memaksa menemui titik awal. Berulang kali.

Tak jarang seolah dia membuatku lupa untuk melangkah kepada akhir.

Dan aku turut menutup mata. Tidak peduli dengan penyebabnya.
.
.
.
Sekarang, aku benar-benar sudah melampaui akhir.

Kini aku berada pada titik awal yang anyar.

Apakah kelak aku akan bersua akhir?

Oleh: D. Nariswari
11 Desember 2015

Diambil dari weheartit

Sabtu, 16 Mei 2015

Tanya & Jawab (Frequently Asked Question/FAQ) Agribisnis

Tahun 2008 yang lalu, gue menulis tentang kuliah Agribisnis di sini dan di sini. Tak disangka, kedua artikel itu menjadi salah dua artikel yang paling banyak pengunjungnya hingga saat ini. Senang bisa membantu memberi gambaran bahkan menyemangati siswa-siswi SMA yang sedang mempersiapkan dirinya untuk berkuliah di Agribisnis atau sekadar memberikan setitik pengetahuan tentang Agribisnis. Menurut gue pribadi, kedua artikel itu sebenarnya tidak memberikan informasi yang mendalam mengenai Agribisnis karena saat itu gue hanya menulis untuk menyemangati diri sendiri. Pada akhirnya banyak yang masih penasaran dengan Agribisnis dan gue membuka kesempatan bagi mereka yang ingin bertanya dengan mengirim pertanyaan melalui e-mail. Tahun demi tahun berlalu, semakin banyak pertanyaan yang masuk ke e-mail, twitter, bahkan media chat (sungguh, untuk yang terakhir ini gue benar-benar keberatan karena gue tidak pernah mengumbar id media chat untuk melayani pertanyaan seputar Agribisnis sehingga, menurut gue, orang yang “mengejar” gue sampai ke media chat sudah di luar batas dan pertanyaannya tidak gue layani).

Akhir-akhir ini pertanyaan yang masuk kembali membludak dan gue tidak sanggup membalasnya satu per satu karena waktu luang yang gue miliki semakin sedikit. Oleh sebab itu, gue menulis artikel ini untuk mewadahi pertanyaan yang sering ditanyakan oleh siswa-siswi SMA yang sedang mencari tahu tentang Agribisnis. Dengan kerendahan hati, kehadiran artikel ini sekaligus memberi tanda bahwa gue tidak akan lagi membalas pertanyaan seputar Agribisnis yang dilayangkan melalui kontak pribadi gue, baik itu e-mail, twitter, media chat, facebook, telepon, SMS, hingga merpati pos (?).Mohon pengertiannya, ya :) Gue pun berharap gue bisa meng-update pertanyaan dan jawaban lainnya seiring permintaan dari para pembaca yang ingin mengetahui tentang Agribisnis.

Perlu diketahui sebelumnya, gue diterima di Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian (FP), Universitas Brawijaya (UB) pada tahun 2007 dan lulus pada tahun 2011. Jadi, semua yang gue jawab di sini berdasarkan pengalaman gue pada masa itu dan kemungkinan besar ada beberapa hal yang sudah tidak sesuai dengan saat ini. Bisa dipahami, kan? Baiklah, mari kita simak pertanyaan tentang Agribisnis yang sering ditanyakan berikut jawaban yang dapat gue jelaskan. Here we go!

Tanya (T): Agribisnis itu apa sih, Kak? Kuliahnya gimana? Yang dipelajari apa aja?
Jawab (J): Agribisnis merupakan salah satu jurusan kuliah yang multidisiplin, jadi secara garis besar ada tiga disiplin ilmu yang dipelajari. Pertama, ada ilmu ekonomi (contoh mata kuliah yang dipelajari adalah Pengantar Ilmu Ekonomi, Ekonomi Makro, Ekonomi Mikro, Dasar Akuntansi, Akuntansi Biaya, Dasar Manajemen, Manajemen Pemasaran, Manajemen Strategik, Manajemen Keuangan, Matematika Ekonomi, Perilaku Konsumen, Bisnis Internasional, dll). Kedua, ada ilmu sosial (seperti Sosiologi, Dasar Komunikasi, Komunikasi Bisnis, dll) dan ketiga ada ilmu pertanian (seperti dasar Ilmu Tanah, Dasar Agronomi, Dasar Hortikultura, Dasar Pemuliaan Tanaman, Fisiologi Tumbuhan, Produksi Tanaman Buah, dll). Namun ada juga mata kuliah lain seperti Statistika, Metodologi Penelitian Kualitatif, Metodologi Penelitian Kuantitatif, dan mata kuliah umum seperti Bahasa Inggris, Agama, Kewarganegaraan, Kewirausahaan, dll. Semua mata kuliah yang gue sebutkan tadi belum mencakup semua mata kuliah yang gue pelajari di Agribisnis. Perlu diingat kembali, mata kuliah-mata kuliah itu berlaku pada saat gue kuliah, untuk sat ini tentu kurikulum dan  mata kuliahnya bisa saja sudah berubah.

T: Apa sih Kak, bedanya Agribisnis sama Agroteknologi?
J: Saat itu, belum ada jurusan agroekoteknologi di FP UB. Yang ada adalah jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (mencakup Program Studi Agribisnis serta Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian), jurusan Tanah, jurusan Budi Daya Pertanian, dan jurusan Hama & Penyakit Tanaman. Kalau tidak salah, sekitar tahun 2010 (mohon dikoreksi jika salah), jurusan di Fakultas Pertanian UB dilebur menjadi 2 jurusan, yaitu Agribisnis dan Agroekoteknologi. Jurusan Agribisnis melingkupi Agribisnis itu sendiri serta Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian,sedangkan jurusan Agroekoteknologi merupakan leburan dari jurusan Tanah, Budi Daya Pertanian, dan Hama & Penyakit Tanaman. Karena gue dulu belajar di Agribisnis, maka gue tidak terlalu tahu mengenai agroekoteknologi dengan pasti. Secara garis besar, Agroekoteknologi meliputi ilmu agronomi, hortikultura, pemuliaan tanaman, tanah, serta hama dan penyakit tanaman. Ilmu-ilmu ini cenderung mempelajari seputar ilmu alam.

T: Kakak dulu skripsinya tentang apa?
J: Topik skripsi yang gue ambil adalah manajemen strategik dan pemasaran. Objek penelitian gue merupakan jamu instan produksi salah satu Usaha Kecil Menengah jamu instan di Jakarta.

T: Gimana prospek pekerjaan lulusan Agribisnis?
J: Mengenai prospek perkerjaan, menurut gue setiap orang yang berkuliah di jurusan apa pun, asalkan ada kemauan dan kemampuan, semua orang bisa bekerja di manapun yang dia inginkan. Tapi gue akan jelaskan sedikit gambaran tentang pekerjaan yang menjadi pekerjaan teman-teman gue dari lulusan Agribisnis. Mayoritas dari mereka bekerja di sektor perbankan yang tersebar di berbagai posisi, dimulai dari front liner (seperti CS dan teller), legal, hingga analis. Ada juga teman-teman yang bekerja di sektor pertanian seperti industri kelapa sawit, perusahaan benih, perusahaan pupuk, perusahaan alat pertanian, dan sebagainya. Selain itu, ada juga teman-teman yang memilih untuk memiliki usaha sendiri dan ada juga yang menjadi PNS. Meski yang dipelajari di Agribisnis terkait dengan pertanian tetapi ilmu-ilmu ekonomi dan sosial (termasuk ilmu berbisnis) yang kami pelajari di Agribisnis tetap dapat diaplikasikan ke segala macam sektor sehingga lulusan Agribisnis dapat bekerja di sektor-sektor yang gue sebut barusan.

T: Kakak setelah lulus dari Agribisnis kerja di mana?
J: Setelah lulus S-1, gue langsung melanjutkan studi S-2 di Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Selama berkuliah S-2, gue sembari bekerja sebagai freelance editor, memasarkan produk coklat produksi teman gue, dan memiliki usaha kecil-kecilan di bidang handicraft. Setelah lulus S-2, gue memiliki pekerjaan pada posisi yang berkaitan dengan bisnis di salah satu perusahaan penerbitan buku di Indonesia.

***

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanyakan selama gue membuka kesempatan kepada pembaca untuk bertanya lewat e-mail. Dari sekian banyak pertanyaan yang masuk melalui e-mail, gue merasa hanya sedikit siswa-siswi SMP/SMA yang memiliki kesantunan dan dapat menyampaikan pertanyaannya dengan baik kepada gue. Jadi, mohon disimak bagi kamu yang di lain waktu akan berkorespondensi dengan orang lain (terutama kepada orang yang belum kamu kenal sebelumnya) melalui e-mail. Pertama, beri salam. Jangan asal tubruk dengan pertanyaan. Kalau kamu langsung memberondong dengan pertanyaan, itu sudah seperti nyelonong masuk rumah orang minta air minum tanpa Assalamualaikum. Minimal sapaan “Halo” menurut gue sudah cukup. Kedua, perkenalkan diri kamu, minimal nama panggilan. Ketiga, gunakan kata serta kalimat yang baik dan benar ketika bertanya. Nggak usah plek ketiplek sama EYD, paling tidak sebelum mengirimnya, kamu mengecek pertanyaan kamu sendiri, apakah kalimat yang kamu pakai bisa dipahami oleh orang lain? Kalau itu semua sudah kamu lakukan, yang terakhir adalah jangan lupa ucapkan terima kasih. Bagaimana orang lain mau respek sama kamu kalau kamu tidak respek pada orang itu? Ya, kan? :)

Semoga semua yang gue tulis di sini membawa manfaat, ya. Pesan gue, selamat belajar dan tetap berdoa. Semangat!

Citta Lulus dari FP UB Tahun 2011

Jumat, 15 Mei 2015

Kisah Citta Pascalulus (Keenam--Habis): Legalisasi Ijazah berikut Pengambilan Foto Wisuda, Piagam Alumni, dan Buku Alumni

Baiklah, ini menjadi yang terakhir kalinya dalam Seri Kisah Citta Pascalulus. Besok-besok lo bakal baca kisah gue yang alay-alay­ lagi (padahal Seri Kisah Citta Pascalulus ini nggak terlepas dari kealayan).

Yak, kali ini gue akan bahas tentang yandok alias laYANan DOKumen di kampus kuning.

Seperti yang sebelumnya gue ceritakan, bahwa untuk mendapatkan ijazah di kampus gue yang ini harus melalui pemesanan terlebih dahulu. Setelah wisuda, kami masih harus bolak-balik ke kampus untuk mengambil ijazah, transkrip, dan mengurus legalisasi. Hal ini berbeda dengan kampus gue terdahulu yang saat wisuda langsung diberikan satu buah map cantik berisikan satu paket ijazah dan transkrip asli beserta salinan ijazah dan transkrip yang sudah dilegalisasi masing-masing sebanyak lima lembar, ditambah salinan akreditasi universitas yang juga sudah dilegalisasi. Pernah merasakan pengalaman yang begitu praktis pada kampus yang terdahulu, melihat apa yang masih harus diperjuangkan di kampus pascawisuda rasanya pengin ngomel nggak tentu arah. Makanya gue tulis di sini saja, supaya kampus lain yang belum menerapkan fasilitas seperti ini bisa turut mengaplikasikannya.

Agar urusan di kampus segera selesai, gue langsung menuju Gedung Pelayanan Akademik untuk memesan legalisasi ijazah, transkrip, dan akreditasi. Gue sudah sangat familiar dengan gedung itu karena dulu kantor dosen pembimbing gue berada di situ. Meski sudah hafal, gue tidak begitu perhatian dengan tempat melegalisasi dokumen, sehingga begitu masuk, gue langsung bertanya pada satpam mengenai keberadaannya. Setelah ditunjukkan, gue mengantri sekitar 3--4 menit karena ada beberapa orang yang dilayani.

Giliran gue tiba. Gue ditanya apakah sudah melakukan pemesanan melalui laman yandok sebelumnya dan gue menjawab sudah. Gue menyebutkan nomor pemesanan yang gue dapatkan dari laman yandok. Kemudian gue disuruh menunjukkan ijazah dan transkrip asli. Bapak petugas langsung memfotokopi, mengembalikannya pada gue, dan beliau menuju komputernya. Mengetahui gue memesan legalisasi akreditasi jurusan, gue disuruh membuat akun yandok baru khusus untuk pemesanan legalisasi akreditasi karena letak pemesanannya berbeda, yakni di lantai dua. Gue pun langsung membuat akun baru di komputer yang terletak di atas meja loket pemesanan legalisasi ijazah. Setelah selesai, gue lapor kepada Bapak petugas. Tak lama, beliau kembali ke hadapan gue dengan membawa kertas bukti pemesanan legalisasi ijazah dan transkrip. Gue berterima kasih dan melangkah menuju lantai dua. Di saat beberapa langkah berjalan, gue mengecek nama gue di bukti pemesanan legalisasi. Gue merasa ada yang aneh dan ternyata Si Bapak asal mengetik nama gue dan yang muncul adalah RADEN AJENG SUSETYO. Gue agak terbelalak pas melihat nama gue, alamak, kenapa melencengnya jauh benerrr? Gue kembali ke loket dan bertanya, “Pak, ini namanya nggak sesuai nggak apa-apa?” lalu Bapak itu berujar tidak apa-apa. Baiklah, gue naik ke lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, gue langsung melihat ada tulisan “AKREDITASI” berikut panah menuju ruangan yang letaknya tepat di depan tangga. Setelah mohon izin masuk dan menjelaskan maksud kedatangan gue ke sana, gue dipersilakan duduk. Rupanya Bapak petugas yang di lantai dua ini sedang mengurus hal lain sehingga gue harus menunggu. Sembari menunggu, gue kembali mengecek kertas bukti pemesanan legalisasi yang salah nama tadi. Pas gue baca, lah, kok jumlah pemesanan ijazah dan transkrip gue masing-masing lima lembar? Padahal gue memesannya masing-masing sepuluh lembar. Pas gue cek nomor pemesanan legalisasinya, wah ternyata benar-benar berbeda, jelas ini bukan nomor pemesanan, nama, dan item pemesanan milik gue! Lalu gue menceritakannya secara singkat pada bapak yang mengurus legalisasi akreditasi kemudian gue izin melaporkannya ke bawah.

Sesampainya di loket pemesanan legalisasi ijazah, bapak petugas yang tadi melayani gue rupanya sedang melayani orang lain. Ada seorang bapak petugas lain yang menanyakan maksud gue. Gue pun mengatakan bahwa ada kesalahan pada bukti pemesanan legalisasi ijazah dan transkrip gue. Namun karena bapak itu tidak mnlayani gue dari awal maka gue sempat ngotot-ngototan dengan bapak itu karena menurutnya gue belum daftar pada akun yandok. Gue yakin gue nggak sesembrono itu kali, ah. Gue tetep maksa supaya yang ngelayanin gue si Bapak itu, makanya gue berkali-kali bilang “Tadi sama Bapak itu,” akhirnya Si Bapak nyerah dan menunjukkan buktinya ke bapak yang pertama kali melayani gue. Beruntung Si Bapak itu sudah selesai melayani orang lain dan bisa berpindah melayani gue. Gue menjelaskan bahwa bukti pemesanan yang tadi dia berikan adalah milik orang lain. Beliau pun agak kebingungan beberapa saat tetapi akhirnya menyadari kesalahannya. Setelah mendapatkan bukti pemesanan legalisasi milik gue, beliau berpesan pada gue untuk mengatakan pada Bapak petugas yang bertugas mengurus legalisasi akreditasi bahwa kesalahan ini berasal karena beliau salah ngeprint. Yeee padahal mah jelas-jelas, Bapak itu nanyain nomor gue aja ngga, asal main ketik nama dan mengeklik yang muncul otomatis di sana. Ya sudah, setelah itu gue naik lagi dan akhirnya mengurus legalisasi akreditasi. Kata Bapak petugas legalisasi akreditasi, untuk mengambilnya gue harus menunggu e-mail konfirmasi legalisasi yang sudah jadi selama rata-rata 7 hari kerja.

Baiklah, urusan legalisasi selesai. Berikutnya gue menuju ke meja di depan loket tempat mengurus legalisasi untuk mengambil piagam alumni. Cukup tunjukkan kwitansi wisuda, tanda tangan di daftar pengambil piagam alumni, dan gue sudah bisa mendapatkan piagam alumni itu. Sebenarnya sampai sekarang gue masih merasa piagam alumni itu tidak ada gunanya. Hei, alumni kampus gue, ada yang bisa menybeutkan fungsinya piagam alumni selain buat punya-punyaan aja?

Setelah mengambil piagam alumni, gue bergerak ke meja lainnya, yaitu tempat pengambilan foto wisuda. Gue memberikan bukti pengambilan foto ke Mas penjaga. Kemudian ia mulai sibuk mencari foto gue. Setelah didapat, Masnya membuka map foto gue dan menyocokkan wajah gue dengan wajah yang ada di dalam foto. Terlihat dari raut wajahnya yang agak kebingungan. Refleks gue tertawa kecil (sekaligus agak tersinggung, emang muka gue jelek banget di foto itu? iya, gue juga kaget, kenapa di foto itu gue mangap?). Gue tanya “Kenapa Mas?” lalu ia balas bertanya, “Sudah benar, ya, Mbak?” Gue makin cengengesan, “Iya, benar.” “Oh, soalnya yang di sini (nunjuk foto) nggak pakai kacamata.” Yes keleusss Mas, gue pakai kacamata pas wisuda. Dulu pas gue belum berani pakai lensa kontak aja, gue bela-belain mengikuti wisuda dan nikahan kakak gue nggak pakai kacamata, hihi. Oh ya, selidik punya selidik, setelah gue melihat foto gue dengan Rektor dan dengan Dekan, ternyata yang pas gue mangap itu yang pas salaman sama Dekan. Setelah gue ingat lagi, gue memang sengaja jaga image pas foto sama Rektor, supaya nggak kelihatan jelek makanya pas salaman gue senyum selebar-lebarnya, baru setelah yakin sudah terjepret, gue mengucapkan “terima kasih” sama Bapak Rektor. Nah, setelah itu kan foto sama Dekan, gue lupa lah strategi gue itu, dan mungkin karena gue terpesona dengan Bapak Dekan yang ternyata charming itu, makanya gue refleks langsung bilang “Terima kasih, Pak!” sambil menyalaminya. Itulah sebabnya kenapa foto gue bisa mangap pas salaman dengan Pak Dekan. Penting banget, ya, sampai gue ceritain detail begini :’D

Sehabis mengambil foto, urusan berikutnya adalah mengambil buku alumni. Gue bertanya pada satpam dan ternyata untuk mengambil buku alumni memang di satpam -___- Buku alumni memang diletakkan di meja satpam dan gue harus menukarkan bukti pengambilan buku alumni di sana. Selain itu, para alumni juga mendapatkan CD wisuda. Sampai sekarang pun gue belum menontonnya. Bagi yang penasaran dengan wisuda gue, yuk kita tonton bareng-bareng di rumah gue *ya kali ada yang mau, lo sendiri aja ga mau nonton, Cit. Setelah itu, semua urusan di Gedung Pelayanan Akademik berakhir.

Keluar dari Gedung Pelayanan Akademik, gue menuju ke BNI Perpustakaan kampus untuk membayar legalisasi ijazah, transkrip, dan akreditasi jurusan. Gue hanya perlu menunjukkan bukti pemesanan legalisasi kepada Teller dan voila! Teller dapat menyebutkan jumlah yang harus gue bayarkan. Selanjutnya, gue tinggal menunggu e-mail dari yandok di rumah. Pada kenyataannya, gue tidak perlu menunggu sampai tujuh hari sebab gue sudah mendapat e-mail dari yandok bahwa legalisasi ijazah dan transkrip gue sudah selesai dalam waktu tiga hari saja. Namun gue belum mendapat e-mail dari yandok legalisasi akreditasi jurusan. Setelah menunggu beberapa hari dan e-mail itu belum kunjung datang, gue langsung mendatangi kampus. Pertama kali yang gue lakukan adalah mengambil legalisasi ijazah dan transkrip di loket lantai satu. Gue agak terkejut karena salinan transkripnya sangat mirip dengan transkrip asli. Perbedaannya hanya terletak di warna yang itu pun tidak begitu kentara. Selanjutnya gue pergi ke lantai dua untuk menanyakan status legalisasi akreditasi jurusan gue. Ternyata setelah dicek, legalisasi yang gue pesan sudah selesai tetapi petugasnya lupa menginformasikannya ke e-mail gue. Baiklah. Akhirnya semua urusan gue di kampus sudah berakhir. Alhamdulillah meski ada batu dan kerikil menerjang, semua dapat terlampaui dengan baik. Hiks, terharu nih gue *halah.

Sekian Seri Kisah Citta Pascalulus. Terima kasih bagi yang sudah setia membaca cerita ini dari awal sampai akhir (macem sinetron aja lo Cit). Kalau nggak ada yang baca, setidaknya untuk dokumentasi kalau-kalau gue terlupa dengan langkah-langkah yang harus diurus pascalulus bagi teman-teman yang akan lulus berikutnya. Atau paling tidak, suatu hari nanti keturunan gue bisa mengetahui perjuangan gue di kala gue tiada nanti. Ihik :’)

Seperti pepatahnya Descartes, cogito ergo sum ‘aku menulis maka aku ada’.



Senin, 06 April 2015

Kisah Citta Pascalulus (Kelima): Pengambilan Ijazah dan Transkrip


Buat yang berpikir, “Ini apaan sih Kisah Citta Pascalulus nggak abis-abis? Apa urusan gue? atau “Penting banget nggak sih, lo cerita panjang lebar gitu, Cit? Gue nggak peduli!Hakhak. Hampura. Mending doakan gue supaya dapat melangkah ke tataran hidup selanjutnya aja, gimana? Berdoa, mulai.

Aamiin. Selesai.

Sekarang gue mau cerita tentang proses pengambilan ijazah di eF-I-Be UI. Jadi, sekitar dua hari sebelum gladi resik, di sore hari yang cerah, gue di-SMS oleh Mbak sekretariat yang mengurus departemen gue, “Mbak Disyacitta, segera serahkan formulir pemesanan ijazah, segera.” Gue yang kala itu sedang guling-gulingan di atas kasur langsung loncat. APAAAH?!

Gue kaget karena: pertama, gue baru sekali itu mendengar Formulir Pemesanan Ijazah dan kedua, di dalam SMS-nya ada dua kata segera yang gue artikan sendiri sebagai ‘penting banget, man! lo harus lakukan ini sekarang juga’.

Mari kita bedah satu-satu poin kekagetan gue:
1. Kenapa mahasiswa yang sudah lulus harus MEMESAN ijazah? Bukankah setiap mahasiswa yang sudah lulus BERHAK mendapatkan ijazah dan sudah BERKEWAJIBAN untuk memberikan ijazah? Lantas, kenapa mahasiswa harus PESAN terlebih dahulu? Kalau gue nggak pesan, apakah gue nggak dapat ijazah? Pemikiran ini tentu tidak berdasar atas alasan kemalasan-mengurus-ijazah-melalui-birokrasi semata, tetapi karena gue sudah pernah menjadi mahasiswa yang lulus dari universitas negeri lain dan gue tidak perlu melakukan pemesanan untuk mendapatkan ijazah. Memang, kebijakan setiap kampus pasti berbeda-beda, tapi hal ini menurut gue kurang masuk akal dan merepotkan.
2. Kalau hal ini penting dan sifatnya segera, kenapa Mbak sekretariat  mengirim SMS dua hari sebelum gue gladi resik wisuda? Harusnya kan setelah gue dinyatakan lulus, gue diberi tahu akan hal itu. Jadinya gue bertanya-tanya sendiri, beneran nih, perlu segera dikumpulkan? (Ternyata saat wisuda gue bertemu dengan wisudawan lain dan ia berkata tidak mendapat SMS dari Mbak sekretariat mengenai formulir pemesanan ijazah. Jadi untuk sementara benar kan dugaan gue bahwa formulir ini sifatnya tidak penting-penting amat.)

Akhirnya, sebelum gladi resik gue mampir ke Gedung II FIB terlebih dahulu untuk mengambil formulir pemesanan ijazah. Karena saat itu sudah memasuki jam istirahat, maka gue hanya mengambil formulir saja tanpa bertanya kepada mas atau mbak pegawai di sana. Pas gue lihat ternyata ada syarat-syarat yang harus disertakan, yaitu pas foto 6x6, bukti penyerahan tesis, bukti pengunggahan tesis, dan bukti bebas pinjam buku perpustakaan. Sudah jelas saat itu gue tidak membawa foto dan belum menyerahkan maupun mengunggah tesis, sehingga gue memutuskan untuk mengembalikan formulir beserta syarat-syaratnya di lain hari saja.

Keesokan hari setelah wisuda, gue mengunggah tesis lewat http://lib.ui.ac.id/unggah/. Sebenarnya hal ini sudah pernah gue lakukan sebelum wisuda tetapi yang gue lakukan tidak membuahkan hasil alias gagal. Ternyata mengunggah tesis di http://lib.ui.ac.id/unggah/ tidak semudah yang gue kira. Ada beberapa kolom yang harus gue isi dan gue mengalami beberapa kesulitan saat mengisinya, terutama pada nama dosen pembimbing dan penguji. Jadi, saat kita mengisi nama dosen, akan muncul otomatis seperti kita mengetik di google gitu, lho. Duh istilahnya apa gue ga ngerti, haha. Nah, nama yang muncul secara otomatis itu ternyata nggak akan muncul kalau internet yang kita pakai koneksinya lambat. Gue coba beberapa kali dan hasilnya tetap sama. Jadi saran gue, kalau mau ngunggah di situs itu, lo harus pakai internet yang kencang dan atau harus sabar. Di suatu malam, gue coba kembali mengunggahnya dengan harapan internet yang gue pakai koneksinya sudah lebih cepat. Akhirnya gue berhasil memunculkan secara otomatis nama-nama dosen gue tetapi gue tetap tidak bisa submit karena di layar tampil peringatan yang mengatakan bahwa ada jumlah karakter yang kebanyakan. Selidik punya selidik, nama dosen gue yang muncul secara otomatis itu kepanjangan karakternya! Nah lho, bukan salah gue kan -__- Akhirnya gue memutuskan untuk menghapus nomor yang menurut gue tidak penting (karena selain nama, ada pula NIP dan entah nomor kode apa yang muncul di sistem otomatis itu). Keputusan menghapus nomor itu membawa keberhasilan pada pengunggahan tesis gue. Fiuh! Dan ternyata bukan gue saja yang mengalami kesulitan, karena teman gue pun mengalami hal yang serupa. Jadi jelas kesalahan atau kebodohan bukan di gue, dong, melainkan sistemnya yang kurang bersahabat.

Beberapa hari setelah berhasil mengunggah tesis, gue ke perpustakaan untuk menyerahkan tesis dan mengurus bukti bebas pinjam buku perpustakaan. Mengenai tempat penyerahan tesis, letaknya di Lantai 1 perpustakaan. Begitu masuk pintu perpustakaan, meja yang berada di depan adalah untuk pengembalian buku, sedangkan untuk menyerahkan tesis, gue harus menghampiri ke meja di bagian sebelah kiri. Ada seorang bapak pegawai yang berjaga di situ. Gue harus mengisi sebuah tanda bukti penyerahan kemudian memberikan tesis yang sudah terjilid ke bagian itu. Setelah itu, gue mengurus bukti bebas pinjam buku perpustakaan yang letaknya di meja yang sama dengan meja pengembalian buku. Agak deg-degan juga sih, takutnya ada buku yang gue pinjam tapi lupa gue kembalikan dan harus bayar denda. Alhamdulillahnya ketakutan gue tidak terjadi. Sebab, banyak lho, mahasiswa yang nggak sadar punya buku pinjaman dari perpustakaan yang lupa dikembalikan dan ketika mengurus bukti bebas pinjam, mereka harus membayar denda yang besar jumlahnya :o

Setelah semua urusan di perpustakaan selesai, gue kembali ke mobil karena sudah memasuki jam istirahat (yang sudah pasti loket di Gedung II sudah tutup). Di saat-saat menanti loket buka, gue mengecek kembali formulir pemesanan ijazah dan membacanya. Sesaat kemudian gue tersadar. Foto 6x6. Oke. Gue ngecek tempat pensil, membuka plastik tempat menyimpan segala ukuran pas foto yang gue punya. Gue kaget bukan kepalang ketika menemukan bahwa foto yang gue kira berukuran 6x6 adalah 3x3! Gue panik nggak tahu harus ngeprint di mana. Gue mengirim pesan ke teman-teman gue. Sembari menunggu, gue cari di google tempat ngeprint foto berukuran 6x6. Menurut gue ukuran itu kurang lazim, biasanya kan 2x3, 3x4, atau 4x6. Nah iin 6x6. Tempat foto mana yang bisa ngeprint pas foto segede gaban gitu? Setelah pikiran yang kalang kabut, gue teringat MariPro Depok (sebelah Es Pocong). Gue langsung lari ke sana dan alhamdulillah bisa langsung jadi (ditunggu beberapa menit), tapi minimal nyetaknya harus enam lembar sedangkan gue hanya butuh  satu lembar. Lima lembar sisanya buat apa, coba? Mungkin di antara pembaca blog ini ada yang mau? :p

Drama mencetak foto usai, terbitlah drama yang lain. Gue bergegas menuju Gedung II dan bertemu dengan seorang Mbak pegawai di loket pengambilan ijazah. Gue menyerahkan formulir dan segala macam persyaratannya. Di situ Si Mbak agak terkaget, “Oh, belum ngumpulin (formulir), ya?” Gue mengangguk. Namun, gue tetap bisa mengambil ijazah. Nah, kan, bisa juga tuh gue dapat ijazah tanpa pesan-pesan segala. Proses pengambilan ijazah masih memerlukan waktu yang tidak singkat karena gue harus menunggu lem foto kering, menunggu stempel kering, dan menunggu ijazah dipindai terlebih dahulu. Setelah semua-muanya kering dan beres, gue harus tanda tangan bukti pengambilan ijazah. Tiba-tiba Mbaknya bilang kalau transkrip belum keluar. Ngueeeng. “Jadinya kapan, Mbak?” “Belum tentu, sih. Yang jelas saat ini masih dalam proses.” Yo wis lah tak sabar-sabarke wae. Setelah itu Mbaknya nyuruh gue fotokopi ijazah. Fotokopi sendiri. Di luar. Pakai duit sendiri. Yaelaaa. You know what I mean, lah. Capek gue komentarnya, haha.

Selang waktu beberapa minggu, gue pergi ke kampus untuk mengambil transkrip. Gue berpikir dengan waktu yang selama itu pastilah transkrip gue sudah selesai. Gue bertanya pada Bapak yang terlihat di sekitar loket pengambilan ijazah dan transkrip. Kemudian beliau mengambil setumpuk ijazah dan transkrip kemudian mencari nama gue. Krik krik. Cukup lama. Lalu beliau membuka suaranya, “Kemarin ngumpulin formulirnya telat, nggak?” Gue jawab, “Iya, Pak.” “Pantes!” Yeah, Bapaknya agak ngomel karena tahu gue telat ngumpulin formulir pemesanan ijazah yang gue singgung-singgung di awal cerita ini. Gue kemudian melakukan pembelaan, “Tapi teman saya kemarin ngumpulin formulirnya lebih telat daripada saya, transkripnya sudah jadi, Pak.” Setengah kesal beliau menjawab, “Iya bentar, ini lagi dicari. Ada di file susulan.” O-EM-JI, ternyata formulir pemesanan ijazah dampaknya sedemikian besarnya. Setelah Si Bapak mengobrak-abrik file susulan (nggak seekstrim itu juga, sih), akhirnya beliau menemukan transkrip gue. Olala, transkripnya kenapa gedeee sekali. Katanya sih emang buat dilipat gitu, padahal gue nggak suka melipat-lipat dokumen penting. Tapi kalau nggak dilipat gimana dong, wong gede banget, sampai sekarang pun gue masih nggak tahu harus nyimpan transkrip itu di mana karena gue nggak bisa meletakkannya di tas dokumen gue. Setelah mendapatkannya, gue pun mengucapkan terima kasih kepada Si Bapak yang sudah sempat ngomel ke gue, hihi.

Baiklah, gitu aja sih cerita dan derita seputar pengambilah ijazah dan transkrip. Untuk kisah mengurus legalisasi bisa dibaca di kisah berikutnya, ya :)