Jumat, 13 Februari 2015

Kisah Citta Pascalulus (Pertama): Perbandingan Tempat Penjilidan Tesis di Depok

Fiuh. Akhirnya gue lulus juga, Saudara-saudara!

Kok sepi? Mana tepuk tangannya? 

*tetap hening* *tepuk tangan sendiri*

Mumpung masih hangat di ingatan, sekarang gue mau ngasih review tentang penjilidan tesis di layanan copy & printing di sekitaran kampus gue, yaitu di Margonda, Depok. Jadi, gue sengaja coba-coba ke dua tempat yang berbeda untuk mengetahui layanan dan hasil dari tempat penjilidan mana yang lebih memuaskan. Sifat perfeksionis gue kali ini muncul agar pada penjilidan berikutnya gue sudah tahu tempat mana yang lebih baik untuk gue percayakan menjilid karya-karya gue selanjutnya *tsah*

Yang pertama adalah Era Copy & Digital Printing (selanjutnya gue sebut Era). Gue sudah mendengar beberapa kali mengenai tempat ini dari teman-teman kuliah gue yang sering cetak e-book di sana. Beberapa kali pula gue bertanya, “Di mana sih, mbak?” karena jawaban dari teman gue selalu kurang memuaskan. Akhirnya gue bertanya ke teman yang satu lagi, kata dia begini, “Pokoknya kalau dari kosan Citta, belok kanan.” Oke, gue kan pernah ngekos di Depok, tepatnya di Jalan Kober. Nah, kalau dari Kober, lo nggak usah menyebrang, tapi lo belok kanan, jalan melewati Mie Berkat, terus melewati Lawson (yang sudah tutup). Nggak jauh, lo akan ketemu Era Digital itu. Pokoknya kalau dari Kober letaknya sebelum BSI. Kalau dari arah Jakarta ya nggak jauh-jauh habis melewati BSI.

Setelah mengurus segala macam keperluan di kampus, gue melesat ke Margonda untuk mencari tempat layanan penjilidan tesis. Awalnya gue nggak niat nyari Era, seketemunya aja tempat penjilidan yang bagus, pikir gue. Setelah putar balik dari kampus ke Margonda, bokap gue memelankan kemudinya. Gue lihat kanan-kiri. Bokap tiba-tiba, “Itu Dek, Era.” Ya jadilah kami ke sana. Kesan pertama masuk Era: wow, keren banget tempatnya. Terhampar pemandangan meja panjang dengan komputer-komputer di atasnya dan ada tempat duduk bagi konsumen di tiap meja berkomputer itu. Di sebelah kanan pintu masuk ada mesin nomor antrian seperti di bank. Gue yang baru pertama kali ke sana celingak-celinguk bingung harus ambil nomor atau tidak, tapi ternyata gue langsung disambut mbak petugas di sana. Si Mbak nanya keperluan gue. Gue bilang mau jilid tesis. Alhamdulillah karena hanya jilid satu eksemplar, pesanan gue bisa jadi dalam satu hari saja. Waktu itu gue memasukkan pesanan pada Selasa siang, diambilnya Rabu jam 12.00. Okelah. Kebetulan waktu itu gue perlu fotokopi dulu, jadi gue menunggu hasil fotokopinya jadi. Selagi menunggu gue tanya mbaknya, “Mbak, yang ngambil nomor antrian itu buat apa?” Si Mbak jawab, “Oh, itu yang ngeprint. Kalau fotokopi lagi rame, ya ambil antrian juga.” Kebetulan pas gue ke sana memang jam 12.00--13.00 dan tidak begitu ramai, jadi gue langsung dilayani. Setelah fotokopi jadi, gue ditanya mau sampul berwarna apa. Gue bilang warna cokelat (ketentuan warna sampul tesis di kampus gue). Lalu Si Mbak menunjukkan contoh warna cokelatnya, gue baca di keterangan di bawah contoh warnanya, bertuliskan “Linen”. Jujur gue kurang sreg pas lihatnya, karena cokelatnya agak kusam, tidak seperti tesis-tesis yang sering gue lihat di perpustakaan. Namun gue iya-kan saja, karena memang tidak ada pilihan lain. Si Mbak nanya, pakai pembatas kuning atau tidak, dengan cepatnya gue jawab tidak, karena seingat gue ketentuan penjilidan tesis yang sekarang tidak usah pakai pembatas. Eh ternyata, di meja sebelah gue ada seorang ibu-ibu yang ditemani suaminya yang juga menjilid tesis, tapi sepertinya ibu itu masih nge-print terlebih dahulu. Ibu itu sibuk bertanya sama mas petugas yang melayani, “Bolak-balik nggak, sih?” Si Mas dengan sotoy-nya menjawab, “Biasanya nggak bolak-balik.” Sebenarnya nggak sotoy juga sih, karena ketentuan di-print bolak-balik ini baru beberapa semester belakangan. Gue mau nyamber kan nggak enak, ya, kesannya penguping banget (padahal emang iya :p). Terus ibu itu bilang, “Nanti pakai pembatas, ya, Mas.” Jeng jeng jeng... Itulah yang bikin galau. Perlu pembatas atau nggak. Akhirnya setelah urusan mengatur dan mengecek halaman selesai, gue digiring ke meja kasir (((DIGIRING))). Di situlah gue menumpahkan kegalauan gue, “Mbak, biasanya pakai pembatas, nggak, sih?” “Biasanya sih pakai, Mbak,” jawab Si Mbak petugas. Gue mikir, “Hmmm...,” lantas Si Mbak ngasih ide, “Mending ditanya dulu aja ke temen-temennya, biasanya gimana, nanti hubungi kami kalau mau pakai pembatas.” “Oh gitu, ya sudah, nanti saya telepon ke sini aja, ya, Mbak.” “Iya, tapi sebelum jam 16.00, ya. Di atas jam segitu saya sudah pulang.” Baiklah. Setelah sampai rumah, gue tanya teman gue, ternyata pakai pembatas. Gue telepon Era dan Si Mbaknya gue kasih instruksi bagian-bagian mana saja yang perlu pembatas. Percaya nggak percaya, malamnya gue kepikiran, takut ada yang salah. Emang dasar prasangka Allah sama dengan prasangka hambaNya, benar-benar terjadi deh tuh kesalahan di penjilidan tesis gue. Besoknya, gue ambil anak gue yang baru lahir a.k.a. tesis yang sudah dijilid. Kesan pertama pas gue buka dari plastiknya, wah kok ada guratan tinta emas yang sedikit mengganggu. Langsung agak bete. Begitu gue buka halaman demi halaman, wah, kok ada satu halaman yang tertukar. Langsung makin bete. Gue tahu itu kesalahan gue, karena waktu itu gue sendiri yang mengurutkan halamannya. Ya sudah, gue nggak bisa protes juga, tapi gue puas dengan jilidannya yang rapi dan terlihat kokoh. Gimana nggak kokoh, wong tesis gue halamannya 600 lebih :p

Sekitar seminggu berikutnya, gue menjilid tesis lagi dan sengaja cari tempat lain. Kebetulan gue sudah mengincar Data Digital Copy and Printing (selanjutnya gue sebut Data) karena sempat browsing dan muncul tempat ini. Selain alasan itu, gue memang sudah tahu letaknya (setelah dari Era untuk pertama kali, kan gue pulang harus berputar jalan ke arah Jakarta, nah gue melewati Data ini). Letak Data sejajar dengan Detos, jadi kalau dari Kober, kita harus menyebrang dulu, jalan ke sebelah kiri melewati Es Pocong, Alfamart, dan tepatnya setelah pondok bakso Solo langganan gue pas ngekos dulu *duh jadi pengen baksonya :(* Lahan parkir Data tidak seluas lahan parkir Era. Pas gue masuk, ternyata ada mesin pengambil nomor antrian juga, tapi gue langsung nyelonong ke meja yang ada mas-masnya di ujung kiri. “Mas, mau jilid tesis.” “Oh, silakan ke sana, yang dekat kasir.” Berjalan lah gue ke mbak-mbak petugas dekat kasir. Pas gue sampai di depan salah satu mbak petugas, gue tertegun sesaat, loh, ini kan mbak yang di Era. Gue mengedipkan mata beberapa kali, sadar, Cit, sadar. Pas gue lihat lagi, ternyata bukan, tapi suerrr deh mirip banget dari perawakannya sampai dandanannya, hahaha. Gue sempat mikir, jangan-jangan mbak ini adiknya mbak yang di Era :D Setelah kejadian berpandang-heran-sama-mbak-petugas, gue menjelaskan maksud gue. Mungkin karena sudah pengalaman di tempat sebelumnya, maka gue sudah tahu apa-apa saja yang harus gue minta. Setelah fotokopian gue selesai, gue mengurut halaman dengan cermat, tidak mau kesalahan seperti halaman yang terbalik terulang kembali. Di sela-sela mengurut halaman, Si Mbak bilang ke gue, “Mbak, halamannya tebal banget. Tesis-tesis yang lain biasanya nggak setebal ini.” Gue nyengir sambil bilang, “Iya, Mbak.” Sebenarnya gue sudah kehabisan tanggapan untuk menanggapi hal semacam ini karena sebelum lulus, gue beberapa kali fotokopi tesis untuk ujian pratesis dan sidang tesis, dan hampir semua petugas fotokopi mengujarkan hal yang sama. Ya gimana lagi, gue juga sebenarnya nggak mau tebal-tebal begini, tapi tuntutan topik, Saudara-saudara :D Setelah selesai mengurut halaman, gue memastikan ke Si Mbak, “Mbak, JANGAN SAMPAI ada halaman yang tertukar.” Si Mbak jawab, “Iya, habis ini saya periksa lagi.” Eh bener aja gitu, dia ngecek urutan halamannya di depan gue sambil masukin halaman pembatasnya. Ngeceknya bener-bener satu persatu. Gue langsung ngerasa klop banget sama Data :p Ternyata, di Data ini untuk menjilid satu eksemplar tesis juga hanya menghabiskan waktu satu hari. Berhubung Jumatnya gue harus gladi resik wisuda, maka gue memutuskan untuk mengambil hari Jumat saja, yang merupakan hari ke-tiga setelah gue memasukkan tesis di Data. Pas hari Jumat, sebelum ke kampus, gue pergi dulu ke Data untuk ambil tesis. Kesan pertama, warnanya lebih seperti yang gue inginkan, tapi kok tinta emasnya sudah sedikit ada yang hilang di ujung-ujung huruf. Haaah.. Memang semua tak ada yang sempurna *hela nafas* Setelah itu, gue ke kampus dan menghilangkan segala rasa ketidakpuasan gue agar gladi resik wisuda hari itu berlangsung dengan menyenangkan. Besok-besoknya, gue baru bisa membandingkan tesis hasil jilidan di Era dengan tesis hasil jilidan di Data.  Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut perbandingan dari pengalaman gue:

(+) ERA
Jilidan lebih rapi.
Kualitas kertas pembatas lebih bagus Era karena warna kuningnya lebih terang.
Permukaan sampul lebih bertekstur dibanding Data sehingga menurut gue lebih enak dipegang.

(-) ERA
Warna cokelat kusam.
Tinta emas agak mbleber-mbleber. Nggak banyak, hanya guratan-guratan tipis seperti rambut, tapi cukup mengganggu untuk orang yang perfeksionis seperti gue karena letaknya di sampul depan.

(+) DATA
Pelayanan lebih baik Data karena tidak terburu-buru.
Suasana toko lebih nyaman dan terasa kekeluargaannya (ya kali lo suka sesuatu yang berbau kekeluargaan :p).
Kualitas emboss logo kampus lebih bagus Data, karena lebih timbul.
Pengecekan halaman dilakukan bersama-sama oleh petugas dan konsumen (jadi resiko halaman tertukar lebih kecil).
Warna cokelat lebih terang.

(-) DATA
Kalau dipegang dengan tangan berkeringat akan ada ceplakan di sampul.
Tinta emas lebih gampang hilang dibanding Era.

 
Hasil jilidan Era (atas) dan hasil jilidan Data (bawah). Bisa di-zoom kalau mau melihat detail tinta emas dan semburat emas yang belepetan. Pesan sponsor: Kalau mau baca isi tesisnya, silakan main ke perpus kampus gue, ya! Dijamin bagus dan membawa manfaat, kok :p

Bisa terlihat perbedaan kertas pembatas (Kiri: Era ; Kanan: Data)
Seperti itulah kelebihan dan kekurangan dari kedua tempat penjilidan tesis di Margonda Depok yang gue jadikan objek penelitian :p. Secara kualitas fotokopi nggak ada masalah. Dua-duanya sama-sama memuaskan. Baik tarif penjilidan maupun fotokopi, keduanya sama. Bisa dikatakan Era dan Data berada dalam pasar persaingan sempurna. Namun, ada yang gue sayangkan, baik Era maupun Data tidak memberikan paper bag sebagai tas pembungkus hasil jilidan. Mereka hanya menawarkan tas kresek saja. Gue menginginkan hal ini bukan karena mengada-ada, sebab gue pernah punya pengalaman saat dahulu menjilid skripsi di Maestro Malang, kami diberikan paper bag untuk menjinjing skripsi kami. Sebagai konsumen, gue merasa skripsi gue terlindungi dengan baik dan ada kesan eksklusif. Mungkin hal ini bisa jadi masukan buat Era maupun Data.

Sekian review dari gue, maaf kalau dari pihak Era atau Data kurang berkenan, tapi sepertinya gue nggak menuliskan kata-kata yang menyakiti hati, kan? Hehe *mendadak panik cari hak perlindungan konsumen :D* Kalau ada yang pernah punya pengalaman dengan penjilidan tesis dan kawan-kawannya, gue persilakan untuk berbagi di kotak komentar. Semoga tulisan gue ini bisa membantu mahasiswa-baru-lulus yang akan menjilid tugas akhirnya berdasarkan prioritas dan selera yang berbeda-beda :)



5 comments:

Kaaak mau tanya dong tarif jilid skripsi berapaaa ya ka?

Hai Gia, di dua tempat yang aku sebutkan, jilid hardcover skripsi/tesis/disertasi Rp 30.000/eksemplar.

kaak saya mau nanya2 tentang agribisnis

Setahu saya Aladin, Buring, Cano, Data dan Era itu satu managemen,yang punya satu orang. jadi wajar kalo ketemu satu pegawai yang sama. bisnisnya sengaja dipecah biar bisa melayani dengan jangkauan yang lebih luas. kualitasnya juga berbeda di tiap tempat menunjukkan pangsa pasar yg dicari.

mau tanya dong, di era atau data jenis kertas nya bisa milih ga ? soalnya kampus gue mercu rempong kya kanjeng mamih, bahanya beda ga di terima. mohon infonya