Jumat, 15 Mei 2015

Kisah Citta Pascalulus (Keenam--Habis): Legalisasi Ijazah berikut Pengambilan Foto Wisuda, Piagam Alumni, dan Buku Alumni

Baiklah, ini menjadi yang terakhir kalinya dalam Seri Kisah Citta Pascalulus. Besok-besok lo bakal baca kisah gue yang alay-alay­ lagi (padahal Seri Kisah Citta Pascalulus ini nggak terlepas dari kealayan).

Yak, kali ini gue akan bahas tentang yandok alias laYANan DOKumen di kampus kuning.

Seperti yang sebelumnya gue ceritakan, bahwa untuk mendapatkan ijazah di kampus gue yang ini harus melalui pemesanan terlebih dahulu. Setelah wisuda, kami masih harus bolak-balik ke kampus untuk mengambil ijazah, transkrip, dan mengurus legalisasi. Hal ini berbeda dengan kampus gue terdahulu yang saat wisuda langsung diberikan satu buah map cantik berisikan satu paket ijazah dan transkrip asli beserta salinan ijazah dan transkrip yang sudah dilegalisasi masing-masing sebanyak lima lembar, ditambah salinan akreditasi universitas yang juga sudah dilegalisasi. Pernah merasakan pengalaman yang begitu praktis pada kampus yang terdahulu, melihat apa yang masih harus diperjuangkan di kampus pascawisuda rasanya pengin ngomel nggak tentu arah. Makanya gue tulis di sini saja, supaya kampus lain yang belum menerapkan fasilitas seperti ini bisa turut mengaplikasikannya.

Agar urusan di kampus segera selesai, gue langsung menuju Gedung Pelayanan Akademik untuk memesan legalisasi ijazah, transkrip, dan akreditasi. Gue sudah sangat familiar dengan gedung itu karena dulu kantor dosen pembimbing gue berada di situ. Meski sudah hafal, gue tidak begitu perhatian dengan tempat melegalisasi dokumen, sehingga begitu masuk, gue langsung bertanya pada satpam mengenai keberadaannya. Setelah ditunjukkan, gue mengantri sekitar 3--4 menit karena ada beberapa orang yang dilayani.

Giliran gue tiba. Gue ditanya apakah sudah melakukan pemesanan melalui laman yandok sebelumnya dan gue menjawab sudah. Gue menyebutkan nomor pemesanan yang gue dapatkan dari laman yandok. Kemudian gue disuruh menunjukkan ijazah dan transkrip asli. Bapak petugas langsung memfotokopi, mengembalikannya pada gue, dan beliau menuju komputernya. Mengetahui gue memesan legalisasi akreditasi jurusan, gue disuruh membuat akun yandok baru khusus untuk pemesanan legalisasi akreditasi karena letak pemesanannya berbeda, yakni di lantai dua. Gue pun langsung membuat akun baru di komputer yang terletak di atas meja loket pemesanan legalisasi ijazah. Setelah selesai, gue lapor kepada Bapak petugas. Tak lama, beliau kembali ke hadapan gue dengan membawa kertas bukti pemesanan legalisasi ijazah dan transkrip. Gue berterima kasih dan melangkah menuju lantai dua. Di saat beberapa langkah berjalan, gue mengecek nama gue di bukti pemesanan legalisasi. Gue merasa ada yang aneh dan ternyata Si Bapak asal mengetik nama gue dan yang muncul adalah RADEN AJENG SUSETYO. Gue agak terbelalak pas melihat nama gue, alamak, kenapa melencengnya jauh benerrr? Gue kembali ke loket dan bertanya, “Pak, ini namanya nggak sesuai nggak apa-apa?” lalu Bapak itu berujar tidak apa-apa. Baiklah, gue naik ke lantai dua.

Sesampainya di lantai dua, gue langsung melihat ada tulisan “AKREDITASI” berikut panah menuju ruangan yang letaknya tepat di depan tangga. Setelah mohon izin masuk dan menjelaskan maksud kedatangan gue ke sana, gue dipersilakan duduk. Rupanya Bapak petugas yang di lantai dua ini sedang mengurus hal lain sehingga gue harus menunggu. Sembari menunggu, gue kembali mengecek kertas bukti pemesanan legalisasi yang salah nama tadi. Pas gue baca, lah, kok jumlah pemesanan ijazah dan transkrip gue masing-masing lima lembar? Padahal gue memesannya masing-masing sepuluh lembar. Pas gue cek nomor pemesanan legalisasinya, wah ternyata benar-benar berbeda, jelas ini bukan nomor pemesanan, nama, dan item pemesanan milik gue! Lalu gue menceritakannya secara singkat pada bapak yang mengurus legalisasi akreditasi kemudian gue izin melaporkannya ke bawah.

Sesampainya di loket pemesanan legalisasi ijazah, bapak petugas yang tadi melayani gue rupanya sedang melayani orang lain. Ada seorang bapak petugas lain yang menanyakan maksud gue. Gue pun mengatakan bahwa ada kesalahan pada bukti pemesanan legalisasi ijazah dan transkrip gue. Namun karena bapak itu tidak mnlayani gue dari awal maka gue sempat ngotot-ngototan dengan bapak itu karena menurutnya gue belum daftar pada akun yandok. Gue yakin gue nggak sesembrono itu kali, ah. Gue tetep maksa supaya yang ngelayanin gue si Bapak itu, makanya gue berkali-kali bilang “Tadi sama Bapak itu,” akhirnya Si Bapak nyerah dan menunjukkan buktinya ke bapak yang pertama kali melayani gue. Beruntung Si Bapak itu sudah selesai melayani orang lain dan bisa berpindah melayani gue. Gue menjelaskan bahwa bukti pemesanan yang tadi dia berikan adalah milik orang lain. Beliau pun agak kebingungan beberapa saat tetapi akhirnya menyadari kesalahannya. Setelah mendapatkan bukti pemesanan legalisasi milik gue, beliau berpesan pada gue untuk mengatakan pada Bapak petugas yang bertugas mengurus legalisasi akreditasi bahwa kesalahan ini berasal karena beliau salah ngeprint. Yeee padahal mah jelas-jelas, Bapak itu nanyain nomor gue aja ngga, asal main ketik nama dan mengeklik yang muncul otomatis di sana. Ya sudah, setelah itu gue naik lagi dan akhirnya mengurus legalisasi akreditasi. Kata Bapak petugas legalisasi akreditasi, untuk mengambilnya gue harus menunggu e-mail konfirmasi legalisasi yang sudah jadi selama rata-rata 7 hari kerja.

Baiklah, urusan legalisasi selesai. Berikutnya gue menuju ke meja di depan loket tempat mengurus legalisasi untuk mengambil piagam alumni. Cukup tunjukkan kwitansi wisuda, tanda tangan di daftar pengambil piagam alumni, dan gue sudah bisa mendapatkan piagam alumni itu. Sebenarnya sampai sekarang gue masih merasa piagam alumni itu tidak ada gunanya. Hei, alumni kampus gue, ada yang bisa menybeutkan fungsinya piagam alumni selain buat punya-punyaan aja?

Setelah mengambil piagam alumni, gue bergerak ke meja lainnya, yaitu tempat pengambilan foto wisuda. Gue memberikan bukti pengambilan foto ke Mas penjaga. Kemudian ia mulai sibuk mencari foto gue. Setelah didapat, Masnya membuka map foto gue dan menyocokkan wajah gue dengan wajah yang ada di dalam foto. Terlihat dari raut wajahnya yang agak kebingungan. Refleks gue tertawa kecil (sekaligus agak tersinggung, emang muka gue jelek banget di foto itu? iya, gue juga kaget, kenapa di foto itu gue mangap?). Gue tanya “Kenapa Mas?” lalu ia balas bertanya, “Sudah benar, ya, Mbak?” Gue makin cengengesan, “Iya, benar.” “Oh, soalnya yang di sini (nunjuk foto) nggak pakai kacamata.” Yes keleusss Mas, gue pakai kacamata pas wisuda. Dulu pas gue belum berani pakai lensa kontak aja, gue bela-belain mengikuti wisuda dan nikahan kakak gue nggak pakai kacamata, hihi. Oh ya, selidik punya selidik, setelah gue melihat foto gue dengan Rektor dan dengan Dekan, ternyata yang pas gue mangap itu yang pas salaman sama Dekan. Setelah gue ingat lagi, gue memang sengaja jaga image pas foto sama Rektor, supaya nggak kelihatan jelek makanya pas salaman gue senyum selebar-lebarnya, baru setelah yakin sudah terjepret, gue mengucapkan “terima kasih” sama Bapak Rektor. Nah, setelah itu kan foto sama Dekan, gue lupa lah strategi gue itu, dan mungkin karena gue terpesona dengan Bapak Dekan yang ternyata charming itu, makanya gue refleks langsung bilang “Terima kasih, Pak!” sambil menyalaminya. Itulah sebabnya kenapa foto gue bisa mangap pas salaman dengan Pak Dekan. Penting banget, ya, sampai gue ceritain detail begini :’D

Sehabis mengambil foto, urusan berikutnya adalah mengambil buku alumni. Gue bertanya pada satpam dan ternyata untuk mengambil buku alumni memang di satpam -___- Buku alumni memang diletakkan di meja satpam dan gue harus menukarkan bukti pengambilan buku alumni di sana. Selain itu, para alumni juga mendapatkan CD wisuda. Sampai sekarang pun gue belum menontonnya. Bagi yang penasaran dengan wisuda gue, yuk kita tonton bareng-bareng di rumah gue *ya kali ada yang mau, lo sendiri aja ga mau nonton, Cit. Setelah itu, semua urusan di Gedung Pelayanan Akademik berakhir.

Keluar dari Gedung Pelayanan Akademik, gue menuju ke BNI Perpustakaan kampus untuk membayar legalisasi ijazah, transkrip, dan akreditasi jurusan. Gue hanya perlu menunjukkan bukti pemesanan legalisasi kepada Teller dan voila! Teller dapat menyebutkan jumlah yang harus gue bayarkan. Selanjutnya, gue tinggal menunggu e-mail dari yandok di rumah. Pada kenyataannya, gue tidak perlu menunggu sampai tujuh hari sebab gue sudah mendapat e-mail dari yandok bahwa legalisasi ijazah dan transkrip gue sudah selesai dalam waktu tiga hari saja. Namun gue belum mendapat e-mail dari yandok legalisasi akreditasi jurusan. Setelah menunggu beberapa hari dan e-mail itu belum kunjung datang, gue langsung mendatangi kampus. Pertama kali yang gue lakukan adalah mengambil legalisasi ijazah dan transkrip di loket lantai satu. Gue agak terkejut karena salinan transkripnya sangat mirip dengan transkrip asli. Perbedaannya hanya terletak di warna yang itu pun tidak begitu kentara. Selanjutnya gue pergi ke lantai dua untuk menanyakan status legalisasi akreditasi jurusan gue. Ternyata setelah dicek, legalisasi yang gue pesan sudah selesai tetapi petugasnya lupa menginformasikannya ke e-mail gue. Baiklah. Akhirnya semua urusan gue di kampus sudah berakhir. Alhamdulillah meski ada batu dan kerikil menerjang, semua dapat terlampaui dengan baik. Hiks, terharu nih gue *halah.

Sekian Seri Kisah Citta Pascalulus. Terima kasih bagi yang sudah setia membaca cerita ini dari awal sampai akhir (macem sinetron aja lo Cit). Kalau nggak ada yang baca, setidaknya untuk dokumentasi kalau-kalau gue terlupa dengan langkah-langkah yang harus diurus pascalulus bagi teman-teman yang akan lulus berikutnya. Atau paling tidak, suatu hari nanti keturunan gue bisa mengetahui perjuangan gue di kala gue tiada nanti. Ihik :’)

Seperti pepatahnya Descartes, cogito ergo sum ‘aku menulis maka aku ada’.



3 comments:

hahaha..kocak abis nulisnya...
nanya dong Cit..laman yandok itu di mana ya?
trus saat pengambilan foto dan buku alumni menunjukkan apa ke petugas? Apakah kwintansi wisuda juga?

Hehehe..Laman yandok sudah terjawab di whatsapp ya, Mbak. Kalau ngambil foto nanti setelah foto sama dekan dan rektor, kita dapat bukti foto, itu yang harus dibawa dan ga boleh hilang karena ada nomornya. Kalau buku alumni pakai kwitansi wisuda aja kalau nggak salah.

Hai Citta (seumuran ga ya? Hehe), aku mampir ke blog ini setelah lihat tulisan mengenai linguistik di blog nya kak Ikmi Nur Oktaviani. Aku lagi tertarik untuk S2 linguistik nih, meskipun ga berasal dari s1 sosial, apalagi sastra. Citta pernah nulis tentang studi linguistik kah? Kalau pernah, aku mau baca untuk referensi gimana kehidupan mahasiswa pascasarjana linguistik hehe. Atau kalau bersedia mungkin berbagi info via email? Ini email ku: elsayuli2013@gmail. Maaf ya komennya ga nyambung sama tulisannya hehe..

Salam ^^