Sabtu, 28 Juli 2012

Liburan Seru: Surabaya - Jogjakarta

Hai blogger, gimana puasanya? Masih semangat kan? Semangat mengikuti cerita liburan gue, maksudnya :p

(Sekali lagi, maaf untuk Anda-Anda yang tidak kuat menahan lapar dan haus selama puasa, gue sarankan untuk tidak melanjutkan membaca artikel kali ini. Karena akan ada beberapa foto makanan dan minuman di sini.)

Dari Malang, gue sampai di Surabaya pukul 17.30. Agak lambat karena travel harus mengantarkan penumpang lainnya ke Bandara Juanda terlebih dahulu. Tiba di Surabaya, sudah seperti orang habis turun gunung. Udaranya jauh berbeda dengan Malang. Kipas angin di rumah tante menjadi andalan kembali..

Keesokan harinya, gue, nyokap, dan bokap jalan-jalan sore. Rumah tante gue berada di salah satu kompleks perumahan Wiyung. Dari rumah tante, kami berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan utama Wiyung. Kalau boleh dibandingkan sih, gue membayangkan jalan di Wiyung ini seperti jalanan Kalimalang Bekasi - Jakarta Timur, karena panjang dan lalu lintasnya padat.

Tujuan utama kami dari jalan-jalan kali itu adalah mencari jajanan. Nyokap ingin Rujak Cingur. Gue tidak menginginkan sesuatu yang spesifik, karena apapun makanan khas Surabaya pasti gue doyan!

Di tengah perjalanan, kami menemukan Royal Square. Karena belum pernah masuk ke sana,  kami mampir sejenak ke supermarketnya.
Royal Square

Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan dan menemukan warung penjual rujak cingur namun sedang tutup. Tidak kecewa, kami kembali berjalan namun sepertinya memang tidak ada lagi warung penjual rujak cingur yang lain. Sudah jalan sejauh itu rasanya sia-sia kalau tidak jajan apapun. Akhirnya pilihan jatuh kepada Lontong Balap dan Es Degan. Makanan ini adalah makanan kesukaan kakak gue, sayang dia tidak ikut dalam liburan kali ini karena sedang menjadi suami siaga. Hai Emas, gue makan Lontong Balap dooong!

Lontong Balap ini terdiri atas lontong, tahu, tauge, lento (gue kurang tahu persis komposisinya apa, yang jelas merupakan gorengan), dengan kuah dan petis tentunya. Rasanya enak namun menurut gue kuah yang disajikan di warung tersebut kurang hangat. Apalagi kalau liburan seperti ini gue agak khawatir sakit perut, jadinya tidak semua petis gue campurkan. Padahal sesungguhnya petis adalah “nyawa” setiap kuliner khas Surabaya.
Lontong Balap (Rp 5.000 saja!)

Mari beralih kepada Es Degan. Kalau di antara Anda ada yang bertanya, apaan sih Es Degan? Es Degan adalah sebutan untuk Es Kelapa Muda. Orang tua gue sih beranggapan kalau Es Degan di Surabaya berbeda dengan Es Kelapa Muda di tempat-tempat lain, karena kelapanya memang benar-benar muda dan rasanya gurih kemanisan. Ditambah lagi dengan es yang bikin “nendang” di antara panasnya udara Surabaya.
Es Degan (Rp 3.000)

Perut kenyang dengan Lontong Balap dan Es Degan, kami kembali ke rumah tante gue. Di rumah tante gue, gue pun kembali menyikat makanan-makanan yang ada. Habis gimana dong, udah disikat, tapi tetap aja itu makanan nggak ada habisnya *alasan

Besok paginya, gue beserta bokap nyokap melanjutkan liburan ke Jogjakarta. Kami diantarkan oom gue ke Terminal Bungurasih untuk menaiki bus ke Jogja. Saatnya melambaikan tangan ke kota bokap gue dan bersiap menuju kota nyokap gue..

Berangkat dari Bungurasih pukul 08.00, sampai Jogja jam 17.30. Di Jogja, kami menginap di rumah bude gue. Di rumah itu kebetulan sedang ada keponakan gue, Nadif, 9 tahun, yang sedang liburan sekolah. Nadif adalah cucu dari bude gue, dia “terbang” sendirian dari Batam, lho, tanpa ditemani orangtuanya, hebat ya! Selain itu ada juga Shafa, cucu bude gue yang satu lagi, dia saat ini sedang bersekolah di SMA Taruna Nusantara. Kedua ponakan gue inilah yang memanggil gue dengan sebutan Bibi.  

Ternyata, nyokap gue saat itu dilanda kurang enak badan. Jadinya malam itu, gue sekeluarga hanya beristirahat saja. Esok harinya nyokap gue masih sakit, sebenarnya ini menjadi semacam peringatan juga untuk gue, bahwa gue harus menjaga kesehatan sebaik mungkin, karena liburan dibumbui penyakit itu sangat-sangatlahlah merugi. Namun alhamdulillah, nyokap masih bisa memaksakan keadaannya untuk mengunjungi rumah pakde gue di Kaliurang. Maka kami sekeluarga bersilaturahmi ke sana. Kemudian tante gue mengajak kami ke Cangkringan, salah satu kawasan Gunung Merapi yang saat ini dijadikan objek wisata dalam melihat Gunung Merapi secara lebih dekat. Tanpa persiapan baju hangat apapun, kami meluncur ke sana.

Sesampainya di sana, satu orang dikenakan tarif sebesar Rp 3.000 dan mobil dikenakan tarif Rp 5.000. Gue merasa beruntung bisa ke tempat itu, menyaksikan sendiri rumah-rumah yang rusak dan pepohonan yang kering akibat letusan Merapi beberapa tahun lalu. Kata tante gue, keadaan saat ini sudah lebih baik dan maju dibandingkan setelah bencana tersebut, karena beberapa rumah-rumah penduduk sudah kembali normal dan pohon-pohon mulai menghijau. Di sana, gue bisa mengabadikan Gunung Merapi dengan mata kepala gue sendiri. Subhanallah.
Puncak Gunung Merapi

Udara di Cangkringan terasa dingin, ditambah hembusan angin sore yang semakin bikin merinding. Ternyata, di tempat itu juga disediakan fasilitas ojek dan mobil besar untuk menuju ke beberapa titik wisata lain (tentunya terdapat biaya untuk masing-masing kendaraan). Bahkan, ada paket yang menyediakan fasilitas untuk menuju rumah Alm. Mbah Maridjan. Namun gue tidak sempat mencoba ke tempat-tempat tersebut karena langit sudah mulai gelap, percuma jika nantinya tidak kelihatan apa-apa.
Terlihat di tengah ada sesuatu berwarna biru, di sanalah lokasi rumah Alm. Mbah Maridjan


Kali tempat aliran lahar Gunung Merapi

Puas berfoto ria, kami kembali pulang ke rumah bude. Setelah itu bude gue mengajak kami makan malam di restoran Malaysia.

Menu makanan di Restoran Bukit Bintang (kok gue jadi hobi memotret menu makanan ya?)
Di restoran itu, terbagi dua jenis masakan, yaitu Chinese Malay dan Indian Malay. Gue memesan Laksa Penang yang ternyata masuk dalam kategori Chinese Malay. Gue baru tahu kalau laksa itu terpengaruh kuliner Cina. Rasanya? Maaf-maaf nih, bukannya nggak cinta negara sendiri, tapi menurut gue lebih enak dari Laksa Indonesia. Kalau di Indonesia Laksa terdiri atas lontong, bihun, dan tauge dengan kuah santan kuning, Laksa Penang terdiri atas mie kuning, tauge, bakso ikan, dan udang dengan kuah merah yang rasanya mirip Tom Yam. Yumm!
Laksa Penang (Rp 12.500)

Untuk minuman, gue pesan Teh Rempah yang rasanya sangat enak dan menghangatkan tubuh. Kalau boleh sok-sokan ngasih skor, gue kasih skor 4 dari 5 deh untuk tehnya. Kalau Laksa Penang yang tadi gue beri skor 5 (karena enak parah!).
Teh Rempah (Rp 7.500), yang warna putih itu susu kental manis, sebelum diminum diaduk terlebih dahulu
Teh Rempah setelah diaduk

Pakde gue memesan Kwetiau Kuah, sedangkan bokap gue memesan Kwetiau Goreng. Gue sempat menyicipi Kwetiau Gorengnya, bolehlah gue beri skor 4 dari 5.
Kwetiau Kuah (Rp 12.500)
Kwetiau Goreng (Rp 12.500)

Selain itu, bude gue memesan beberapa Roti Chanai Kari. Roti Chanai ini jika dimakan tanpa Kuah Kari rasanya agak asin, namun jika dipadu dengan Kuah Kari rasanya menjadi sangat nikmat.
Roti Chanai Kari (Rp 7.000)

Nadif memesan Bakmi Goreng. Untuk Bakmi Goreng, gue beri skor 3 dari 5. Saat gue sedang sibuk memotret makanan, Nadif berkata, “Bibi, makanan aku kok belum difoto ya?” Iya iya, sini aku foto sama kamunya sekalian…
Nadif (tidak dijual) dan Bakmi Goreng (Rp 12.500)

Secara keseluruhan, makanan di Restoran Bukit Bintang ini rasanya pas sekali di lidah gue. Bumbunya sangat terasa namun tidak membuat enek. Harganya pun terhitung murah untuk makanan sekelas ini. Patut dicoba kalau Anda sedang main ke Jogja.

Oh ya, pas di restoran ini kebetulan di meja lain sedang berkumpul bule-bule lucu. Gue nggak bisa flirting deh, soalnya saat itu gue bersama keluarga. Kalau sama teman-teman, mungkin lain lagi ceritanya. Hahaha :)

(Bersambung ke artikel berikutnya...)

13 comments:

Bibi, kok niar gag di ajak manak bareng yaa.....

Eeh itu beneran nadif dari batam berangkat sendiri gitu naik sepawat?? niar ajah belum pernah naik sepawat :D

Haha kok jadi manak si Niar.. typo deh pasti, tapi jadi lucu gitu :D
Iya, dia sendirian naik pesawat dari Batam. Jago ya ponakan aku :)

Such a great trip hehe. I heard km alumni brawijaya juga ya kak hehe :D and thanks for dropping ur comments on my blog :)
salam kenal juga :D

Iya Diva, aku alumni UB.. Terima kasih atas kunjungan baliknya :)

LOL ngakak pas bagian 'nadif (tidak dijual)' =))

duh banyak makanan yang bikin ngiler, dan banyak juga makanan yang ga tau rasanya gimana kayak es degan sama petis kayak apa yah rasanya ehhehe.

Hehe.. Kalau petis sebenarnya belum tentu semua orang suka, malah temen gue ada yang bilang rasa petis mirip baygon :p

salam knal juga kak :)
alumni UB fakultas apa ?
anak kvling jg toh? angkatan brp kak?

Aku Fakultas Pertanian, Agribisnis 2007. Iya dulu semester pertama pernah ikutan Kavling.. Selanjutnya terserah Anda *eh *nggak lagi maksudnya :D

ow ya ya. maen2 mbak ke kvling hehe. brarti sempet sama bung jaryo yaa?

Bung Jaryo itu siapa ya? Taunya mas Haryo, mas itu sama mas itu. Hadeeh inget muka tapi nggak inget nama hahaha. Salam deh buat anak Kavling.. Pasti mereka nggak kenal aku :D

hmmm jadi laper siang2 baca ini,..
ntr coba mampir dech,.. :)
sekalian kalo ada yg mampir ke toko tas jogja, ada pilihan tas menarik tas cewek, tas ransel, tas selempang, tas anak yuk mampir ke pabrik tas jogja !!!

Thanks for sharing...
perkenalkan kami (protase) produksi tas seminar, yg berada di jogja
Kami melayani pesanan tas dalam partai besar maupun kecil. memproduksi berbagai macam produk tas yang berkualitas untuk keperluan seperti Tas Ransel, Tas Slempang, Tas Kantor, Tas Laptop, Tas Pakaian, Softcase, Tas Promosi, Tas Wanita, dll. Kami juga menerima pesanan tas dengan desain anda sendiri.