Minggu, 26 Agustus 2012

Ketika Waktu Menghimpit

Ilustrasi oleh shadow_ken

Siapa bilang waktu itu berjalan begitu cepat? Di beberapa momen, saya merasakan waktu seakan berjalan begitu lambat.. Bahkan berhenti.. Kita semua pernah mengalami saat itu, saat jam pelajaran di kelas, saat dimana kita menunggu jawaban dari seorang yang kita sukai untuk menerima cinta kita atau tidak, saat menunggu proses kelahiran, dan lain lain..
Di hari itu, waktu seakan berhenti berputar.. Ketika sebuah truk bermuatan kayu gelondongan muncul di depan mobil yang sedang saya kendarai..
Banyak yang bilang di depan ajal, di benak kita akan muncul memori-memori dari kejadian yang pernah kita alami dalam kehidupan.. Namun yang saya alami jauh berbeda.. Di benak saya tidak muncul memori-memori indah saat ayah saya mengajak saya memancing ikan berdua dengannya, saat hari pertama saya ke sekolah, saat saya menyatakan cinta ke seorang gadis yang saya cintai, atau saat merayakan kelulusan dengan teman-teman saya.. Yang saya lihat justru bayangan dari sesosok wanita yang saya cintai.. Dia..
Dia. Waktu bahkan tidak pernah berkenalan dengannya. Hanya saya dan dia. Kami tidak pernah menghabiskan waktu bersama namun ada satu hal yang saya dan dia tahu: kami saling mencinta. Tapi kami tidak pernah berargumen tentang derasnya waktu yang tak pernah menyatukan kita. Mungkin saja dengan penuh dendam dan perlahan, waktu akan membunuh perasaan saya dengannya. Dengan cara ini, ajal segera meraup gejolak rasa yang tidak tuntas terhadapnya.
Lantas saya tidak bisa berkata-kata. Biar Tuhan yang membawa perasaan ini padanya. Aku titipkan asa ini padaNya, agar dia tahu bahwa aku mencintainya meski raga ini sudah tiada.
Harapan dan impian untuk kembali kepadanya pun sirna seiring saya menutup mata, menyambut Sang Malaikat maut datang menjemput.. Dan segalanya berubah menjadi gelap..
Seakan cahaya datang kembali menerangi pandangan saya, saya pun tersadar sembari berkeringat.. Entah itu karena mimpi yang baru saya alami, atau bahkan karena selimut yang menutupi tubuh saya di siang hari ini.. Saya melirik jam digital yang ada di buffet yang terletak di samping kasur.. Hari ini hari minggu, tanggal 11, jam 11 siang.. tunggu sebentar.. Hari ini adalah tanggal sekarang, namun 3 jam lebih awal sebelum kecelakaan tadi.. Di tengah kebingungan saya, saya mendengar suara ribut di dapur..
Saya melihat diri saya 3 jam lalu sedang bertengkar dengan istri saya.. Sebuah pertengkaran verbal yang cukup sengit, dan hanya dikarenakan persoalan kecil menyangkut acara esok hari, yang rencananya kami akan mengunjungi orang tua saya.. Yang notabene tidak berhubungan baik dengan istri saya..
Saya ingin menghentikan pertengkaran mereka, tapi apa daya.. Bagi mereka suara saya hanyalah suara desiran angin.. Tak lebih dari bayangan..
Banyak hal yang saya sesali di dalam hidup ini.. Salah satunya, mungkin yang terbesar, adalah saat saya mengatakan, "Saya menyesal telah menikahimu! Kenapa saya tidak menikahi Lusi saja, orang yang saya cintai sebelum bertemu kamu!".. Jika saya tahu bahwa itu akan menjadi percakapan terakhir kami, tentu saya hanya akan mengungkapkan kalimat-kalimat cinta di depannya saat itu..
Saya melihat istri saya menangis.. Saya pun duduk disebelahnya sembari meminta maaf dan menungkapkan betapa menyesalnya saya telah mengatakan hal itu dan betapa saya mencintainya.. Mungkin ribuan kali.. Sampai tiba-tiba saya terkejut ketika ada seseorang yang tidak saya kenal masuk ke dalam rumah saya.. Bukan itu saja, yang membuat saya lebih terkejut adalah orang itu bisa melihat saya..
Dia mengatakan pada saya, "Apakah kamu menyesal?".. Tentu saja saya menjawab iya.. Lalu dia bertanya lagi pada saya, "Apa yang paling kamu inginkan di dunia ini?".. Saya menjawab, "Saya ingin kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan saya".. "Apakah kamu yakin kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama?", tanyanya lagi.. Saya optimis dan menjawab tidak.. Lalu dia bilang, "Kamu sadar kan, kehidupan di dunia? Bagaimana jika saya menjanjikan surga jika kamu merelakan kehidupan ini?".. Dan saya, dengan mudah menjawab, "Jika saya di surga dan dia di neraka, saya akan meminta Tuhan untuk mengirim saya ke neraka tempat dia berada.. Karena surga bukanlah sebuah surga tanpanya.."..
Orang itu tiba-tiba tersenyum dan mendekati saya.. Lalu dengan tangannya dia mendorong saya.. Saya yang sedang kebingungan pun di dorongnya lagi.. Di dorong lagi.. di dorong lagi.. dorong lagi.. dorong lagi............ "CLEAR!!!" terdengar seseorang menyeru.. "CLEAR!!" terdengar lagi, namun kali ini diikuti dengan suara bising, seperti suara mesin-mesin.. "CLEAR!!", sepintas saya melihat sebuah ruangan, seperti ruang emergency rumah sakit..
Setelah saya telusuri lagi.. Bukan. Ini bukan ruang emergency rumah sakit. Saya yakin saya sedang mengigau. Atau jangan-jangan, saya sudah berada di surga? Tidak mungkin neraka seindah ini.. dan hei, mana orang yang mendorong saya tadi? Mengapa ia tidak bertanggung jawab mendampingi saya?
Lambat laun, saya mulai menangkap seberkas cahaya. Saya tajamkan pandangan ini, pelan namun tetap tak kehilangan arah. Kelamaan saya melihat sebuah titik dan saya tidak ingin lepas dari titik itu. Saya ikuti titik itu sampai ke ujung. Ternyata kosong. Hilang.
Saya tertunduk. Tak terasa air mulai menetes ke pipi saya. “Apakah semudah ini saya menangis?” pikirku sembari menyeka ujung mata. Ternyata tidak. Air itu tidak jatuh dari mata saya. Kemudian saya teringat, seseorang pernah berkata, “Tidak mungkin air mata akan turun dari orang sepertimu.” Lalu, dari manakah air-air ini? Saya mengangkat kepala dan merasakan air-air itu terjun menghantam wajah saya.
Berarti.. Ini bukan surga. Ini bukan neraka. Saya tidak pernah mendengar cerita ada hujan di surga ataupun neraka. Ini pasti masih di dunia. Saya berteriak penuh suka cita. Saya bisa memohon maaf kepada istri saya dan mengatakan bahwa saya cinta. Tapi keriangan itu tak lama, mengingat saya tidak tahu saat ini saya sedang berada di dunia bagian mana. Saya mulai menggigiti ujung jari saya.
“TRING!” seketika ada yang jatuh di arah jam 10 tempat saya duduk. Saya ambil benda keemasan yang berkilau itu. Saya amati, ternyata sekeping uang logam. “Apalah artinya uang, Tuhan.. Saya mohon, jangan ajak saya berseloroh. Apalah artinya uang dalam keadaan seperti ini?” pekikku dalam hati.
“BRUK!” belum lagi mendapat jawaban dari Tuhan, tetiba jatuh setumpukan kertas tepat di depan kaki saya. Saya pungut dan dapat saya lihat jelas tulisan di atasnya, ternyata itu adalah surat-surat kontrak perusahaan. Saya tersenyum tipis, “Apalah artinya kekuasaan, Tuhan.. Saya mohon, jangan asal berkelakar. Apalah artinya kekuasaan dalam keadaan seperti ini?”
“SUDAH CUKUP, TUHAN! Jangan jatuhkan apa-apa lagi kepada saya. Saya sudah mengerti. Sudah sangat mengerti! Yang saya butuhkan sekarang hanyalah kunci. Kunci agar saya bisa meminta maaf dan dimaafkan. Tolong, Tuhan!”
Sedetik.. Dua detik.. “KLING!” jatuhlah kunci di hadapan saya. Namun saya mulai ragu.. Haruskah saya mengambil kunci ini atau lebih baik membiarkan diri saya terjebak dalam kesunyian ini?
Saya pun memilih untuk mengambil kunci tersebut.. dan tepat disaat saya mengambilnya, sebuah pintu besar yang saya rasa terbuat dari mahoni dan berlapis emas, muncul di hadapan saya.. Saya masukkan kunci itu.. Saya masuk ke ruangan yang sangat gelap, seakan cahaya tidak pernah hadir disitu.. Dan saat saya melangkah, ternyata ruangan tersebut tak beralas.. Saya pun jatuh ke dalam lubang kegelapan..
Tak berapa lama muncul cahaya-cahaya redup di sekeliling saya..
Dengan kondisi yang masih terjun bebas saya dapat melihat cahaya-cahaya tersebut membentuk gambar-gambar.. Tampaknya seperti sebuah presentasi video lewat proyektor yang biasa dilakukan di kantor.. Saya melihat diri saya, istri saya, dan.. seorang anak! Seorang anak yang kehadirannya sangat kami tunggu-tunggu! Saya mulai ingat belakangan ini istri saya sering mual dan cepat letih.. tapi... apakah ini sebuah petanda? Baru saya memikirkan tentang itu, seketika gambar-gambar di ruangan itu beterbangan dengan pola acak mengelilinya saya.. dan seketika sebuah cahaya yang sangat terang menenggelamkan saya..
Ketika saya tersadar dan membuka mata, saya mendapati diri saya sedang duduk di dalam mobil.. Mobil pribadi saya.. Saya melihat jam digital di dashboard mobil saya, tanggal 11, jam 2 siang lewat 15 menit.. 10 menit sebelum kecelakaan terjadi..
Saya tersentak. “Apa yang saya pikirkan di tengah-tengah jalanan ini?” gumamku. Saya sadar, saya tidak punya banyak waktu. Hanya tersisa 5 menit lagi. Lima menit yang bisa mengantarkan saya pada nyawa yang terlepas dari raga atau mungkin sebaliknya, dimana Tuhan masih mengizinkan saya dalam memperpanjang helaan nafas ini.
Saya memutuskan untuk meminggirkan mobil saya. Suara-suara di kepala saya pun mulai beradu, mengharuskan saya menghadapi kematian atau membelokkan garis takdir. Suara-suara ini rupanya tidak sadar bahwa saya sedang berpacu dengan waktu. Seharusnya mereka tahu bahwa tak ada lagi kesempatan untuk berdebat dan sebaiknya membantu saya dalam mengambil keputusan yang tak perlu hebat, namun tepat.
Lima menit berkurang semenit. Saya tak boleh mendengarkan suara-suara ini lagi. Saya akan mengikuti ke mana kaki ini akan melangkah. Kebetulan otak saya meresponnya dengan baik, menugaskan kaki saya untuk keluar dari dalam mobil kemudian berlari. Terus tanpa arah. Saya mulai kebingungan. Saya tidak tahu ke mana kaki ini berayun, ingin saya hentikan tapi tak ada kekuatan yang bisa membuatnya berhenti.
Saya terus menerus memaksa kaki ini untuk terhenti, namun tetap tak bisa. Arah kaki ini semakin acak tak beraturan. Saya pasrah. Kepasrahan membawa saya kepada lintasan raut istri dan orang tua saya. Bahkan raut calon anak saya tak terlihat di situ! Saya tidak terima dengan keadaan ini. Saya ingin pulang. Saya ingin pulang.
Enam puluh detik terlewatkan begitu saja atas kebodohan kaki ini melangkah entah ke mana. Saya menyesali perbuatan saya dalam mengambil tindakan. Seandainya saya menuruti suara-suara yang sedang berdebat 2 menit lalu. Toh, kalaupun saya mati sekarang, tak akan ada bedanya jika saya mati 50 tahun lagi. Semua orang akan mati. Mengapa saya takut menghadapi kematian? Ah, mengapa tiba-tiba saya bisa lupa. Tentu saja saya takut menghadapi kematian. Karena tugas saya di dunia ini belum selesai. Tuhan sudah berbaik hati memberikan saya nikmat detik per detik menjelang ajal. Namun tak ada lagi yang bisa saya perbaiki sekarang ini. Kaki saja tak mau berkompromi dengan saya. Kaki saja tak mau memaafkan saya..
Tak terasa, kaki ini semakin lambat lajunya. Saya berpikir, mungkin ini sudah saatnya malaikat menjemput. Memang, masih tersisa waktu 2,5 menit lagi. Siapa yang tahu jika malaikat datang dengan permisi terlebih dahulu, bahkan memperkenalkan dirinya hingga tersisa waktu 2 detik baru kemudian mencabut nyawaku.
Tapi dugaan saya salah. Bukannya melihat sosok malaikat, melainkan saya menangkap siluet istri saya berdiri di ujung sana, dengan senyumnya yang terkembang. Entah berapa jarak kami saat itu. Apapun keadaannya, saya sudah siap merentangkan tangan saya untuk segera memeluknya.
*
Teringat akan semua itu.. Saya jadi berpikir bahwa kehidupan saya sekarang patut saya syukuri.. Jika kita bicara tentang mensyukuri hidup, saya pernah dengar ada yang berbicara seperti ini di televisi, "Orang yang tidak punya sepeda motor ingin punya mobil.. Sementara yang punya sepeda ingin punya sepeda motor.. Yang jalan kaki ingin punya sepeda.. dan di tempat lain, yang tidak punya kaki ingin berjalan..".. Jika kita turuti, kemauan manusia tidak ada batasnya.. Mulai dari ingin mengelilingi dunia, menyelam ke dasar laut, terbang di angkasa, sampai menginjakkan kaki di bulan.. Mungkin seterusnya manusia ingin menjelajahin alam semesta ini..
Saya percaya bahwa kemungkinan itu memang tak terbatas, namun ada hal yang perlu kita pertahankan daripada kita buang dan menggantinya dengan sesuatu yang baru.. Hal-hal yang membuat kita terinspirasi akan hal yang lebih baik.. dan kadang yang baru tidak selalu lebih baik.. Beberapa misteri sebaiknya tetap menjadi misteri untuk mempertahankan sesuatu dalam diri kita yang disebut dengan "keingintahuan".. Karena jika kita mengetahui semua hal, maka tidak ada lagi misteri.. Tidak ada lagi hal yang membuat kita ingin terus belajar..
Yang ingin saya katakan adalah, saya tahu ada jalan dan ada cara untuk membuat hidup saya lebih baik.. Mobil yang lebih baik, rumah yang lebih baik, pekerjaan yang lebih baik.. bahkan.. jodoh yang lebih baik.. Tapi.. biarlah semua itu menjadi misteri kehidupan dan mengalir apa adanya mengikuti arus waktu.. Saya tidak ingin tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan saya jika saya lebih memilih wanita lain untuk menjadi istri saya.. Saya lebih memilih berpegang erat pada suatu keyakinan, yaitu tumbuh tua bersamanya, sampai usia lanjut, dan mati bersama sembari bergenggaman tangan dengan erat.. Hal itulah yang saya impikan dan menjadi motivasi hidup saya sekarang..
**
Bekasi - Tangerang, 2 Agustus 2012, 2:49 AM


N.B.:
Cerpen  di atas merupakan kolaborasi gue dengan seorang teman, shadow_ken. Dikerjakan pada sebuah malam tanpa rencana sebelumnya. Ide cerita berawal dari  shadow_ken  (paragraf-paragraf berwarna hitam) dan dilanjutkan oleh gue (paragraf-paragraf berwarna cokelat tua). Oh, satu lagi. Ilustrasi di atas merupakan karya  shadow_ken, yang sejatinya merupakan seorang Mangaka. Bagi yang mau order gambar, boleh lho pesan ke dia.. Nih Rief, gue bantuin promosi :p Kalau di antara Anda ada yang mau order hatinya juga boleh, karena yang gue dengar-dengar sih dia sedang sibuk mencari jodoh. Langsung hubungi orangnya aja ya… *kabur

22 comments:

wow, keren, bu.. eh.. mba, Citta! bagus sekali cerpennya! saya bacanya sampai nangis! apalagi pas lihat ilustrasinya.. kalau dijual, 1 milliar pun saya beli!

Duh komentar di atas.. Duh ini tombol report as spam-nya mana sih.. :D

huaaah keren deh cerpennya! (>__O)b

Waaah makasih banyak, Gia :))

jadi kayak penjelajah waktu gitu yak (O.O) btw tata bahasanya apik, aku syukaaa~aa (>.<)

Hahaha ide penjelajahan waktu ini sebenarnya "jebakan" dari shadow_ken :D
Makasih ya Suci :)

apik tenaann, walaupun agak panjang tp saya bertahan untuk terus baca dan ternyata... worth it :) like thisss

Matur nuwun atas kesediannya dalam membaca cerpen yang (cukup) panjang ini :)

wah kalau aku ga mau ke neraka buat nemanin si dia

neraka itu sejahat-jahatnya hukuman loh

Hahaha.. shadow_ken, rayuan maut lo kena semprot tuh sama Ario Antoko :))

haduuu, kiasan itu.. kiasan.. :))

@ken : lah kan ente jadi penulisnya juga ken -__-, spammer nih hehehehe :p

absen sore ajalah disini, bingung mau komen apa hehe

Hayooo kalau baca pasti nggak akan bingung isi komentarnya. Hzndi pasti nggak baca, ya kan? Ayo dibaca! :p

@Hzndi duh, saya cuma bantu-bantu nyapu, ngepel, sama nyuci piring kok, mas.. :))

kak Citta sama Arief, gw sebagai seorang yang seneng banget berkhayal dan baca novel ini mau ngasih saran kalo bisa jangan pake saya dong. itu kesannya terlalu di "adakan" dan ga natural. so, next time bikin cerita yg natural pake "aku" oke :) sukses buat kalian berdua

@Putri gw "kak" nya mana ya?? hahaha.. thanks, Put.. senang bisa menghibur.. tunggu karya gw dan Citta berikutnya yaa.. :D

Nah, Putri ini adalah salah satu contoh pembaca blog dan penikmat karya yang kritis. Terima kasih sarannya, Put :)

Maaf mba, baru sempet komen. hehe.

Bagus mba cerpennya. walupun agak bingung. overall cerpennya bagus mba, unik. Pesannya juga dapet :)

Ditunggu cerita berikutnya ya. :D

Walaah.. Habis turun dari gunung ya? Kirain mau semedi 100 tahun di sana :p
Kok bisa bingung sih, beneran dibaca nggak? ::D

walaupun cerpennya panjang baget tapi gak rugi baca cerpen ini..keren pokoknya..

hmm..salam kenal...mampir ke blogku ea..follow sukses, followback ea Non...thank's qiu..salam persahabatan dari aku.

Jadinya bukan cerpen lagi ya, tapi cerpan = cerita panjang? :p
Terima kasih!