Rabu, 11 Mei 2011

06.43 - 4 comments

Ketika Emosi Bercampur Logika




Aku bukannya tidak mengerti. Tapi aku marah. Aku begini karena kau begitu. Aku menjadi seperti ini karena kau seperti itu.

Sakit? Jahat? Perih?

Semua kau yang ajari. Semua kau yang awali. Namun kau kini menghakimi. Seolah aku yang pantas mati.

Rusak? Kandas? Putus?

Bukan aku yang bermaksud. Bukan aku yang menyalahi maktub. Tapi kau yang terkutuk. Kau yang harusnya takut.

Semua menunjuk aku. Di tengah-tengah putih, aku hitam. Padahal kau di situ. Kau JUGA di situ.

Namun sayang aku yang terpenjara. Kau berhasil keluar dengan senyum simpulmu. Meninggalkan aku. Turut menunjuk aku. Sebagai yang hitam. Yang paling hitam. Teramat hitam.

Aku tersungkur. Lalu babak belur. Kau tetap di situ, menjadi yang paling unggul.

N. B. : Kau harus tahu, sangkaanku tidak sepahit sangkaanmu terhadapku. Kau jauh lebih pantas menjadi dedemit. Enyah kau, lemur.

Oleh :

11 Mei 2011

4 comments:

Haha ini lagi kangen nulis prosa aja, kebetulan saya sengaja merasukkan emosi yang sedang terjadi. Begini deh hasilnya :)
Terima kasih sudah berkunjung :)

jadi bingung sama maksud isinya.

tapi bagus banget kata-katanya.

Nggak usah bingung-bingung, yang penting bisa menikmati. Terima kasih banyak :)