Senin, 22 November 2010

Berakit-Rakit ke Hulu, Berenang-Renang ke Tepian


Semua pasti tahu ya, lanjutan kalimat yang gue jadikan judul di atas.

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Sederhana sih memang. Mungkin ada sebagian dari Anda yang menganggap peribahasa ini sebagai angin lalu. Tapi tidak untuk gue. Karena gue setuju banget sama peribahasa yang satu ini.

Dari kecil, gue selalu dibebaskan oleh orang tua gue untuk memilih apapun yang gue mau. Minta les ini, diturutin. Minta beli buku itu, diturutin. Minta mainan, dibeliin (tapi gue dari kecil nggak matre, kalau milih mainan nggak pernah yang mahal-mahal banget. Kecuali pas ulang tahun. Hehe).

Mulai masuk SMP, perlakuan orang tua ke gue sama saja. Gue izin mengikuti ekskul A sampai Z, beliau-beliau pun mengizinkan. Gue latihan PMR setiap hari gara-gara persiapan untuk lomba, nggak masalah. Menginap di sekolah untuk LDK OSIS, juga nggak masalah. Menginap di rumah teman gue pun mereka izinkan. Padahal ada teman gue yang kala itu nggak dibolehin menginap sama orang tuanya dengan alasan, “Kayak nggak punya rumah aja.” Ah kalau orang tua gue sih asik, pandangannya demokratis. Namun ada satu kejadian yang bikin gue terkaget-kaget kala nyokap gue nggak mengizinkan gue untuk pergi bersama dengan teman-teman.

Kelas 3 SMP, gue punya geng yang kompak banget dan sampai sekarang pun hubungan kami masih lancar seperti saudara sendiri. Setelah ujian nasional SMP, salah satu teman di geng gue, mengajak untuk pergi ke pantai. Entah Ancol entah Anyer (gue lupa). Sebelum-sebelumnya gue yang paling gencar melayangkan permintaan untuk pergi ke pantai, karena gue udah lama nggak main ke pantai. Saat itu kami memang sudah bebas tidak ada kegiatan sekolah dan sedang menunggu hasil ujian nasional. Gue pun izin ke nyokap gue untuk ikut pergi bersama teman-teman. Nggak disangka nggak dinyana, nyokap gue nggak mengizinkan. Gue kaget bukan main. Alasannya, gue harus prihatin, karena belum dapat pengumuman nilai ujian nasional. Harusnya gue di rumah saja, banyak berdoa, bukannya malah pergi bersenang-senang.

Sebagai anak SMP yang kejiwaannya masih labil, gue antara sedih campur marah. Gue berpikir, kalau nilai gue bagus, alhamdulillah bisa dapat nilai bagus dan udah ngerasain jalan ke pantai. Kalau nilai gue jelek, ya nggak apa-apa, yang penting gue udah ikutan ke pantai. Hitung-hitung jalan-jalan perpisahan sama teman-teman gue. Gue yang punya sifat emosian, langsung malas sama orang tua gue. Gue sedih sepanjang hari. (Duh kalau ingat ini gue jadi sedih lagi.)

Akhirnya gue bilang sama teman gue, kalau gue nggak diizinin sama orang tua gue. Tanpa gue, akhirnya mereka tetap pergi ke pantai. Dan gue gigit jari di rumah.

Pada saat pengumuman nilai ujian nasional, ternyata gue dapat nilai yang paling baik di antara teman-teman gue dan gue juga berhasil masuk ke SMA yang gue idam-idamkan. Setelah dipikir-pikir lagi, benar kata orang tua gue, kalau gue harus prihatin sebelum mendapatkan apa yang gue inginkan. Mungkin saja kalau saat itu gue ke pantai, gue terlena dengan kesenangan hingga lupa berdoa dan nggak mendapatkan nilai yang baik.

Hingga saat ini, prinsip “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” masih gue terapkan. Kayak sekarang, Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1 kan sedang di bioskop tuh ya.. Teman-teman gue banyak yang ngajak untuk menontonnya. Pasti lah gue pengen banget nonton, sama seperti Anda semua. Tapi gue belum dapat restu untuk seminar proposal dari dosen pembimbing gue. Lalu gue memilih untuk bersabar dan berencana menonton film itu setelah proposal skripsi gue ditandatangani dosen pembimbing. Intinya adalah sadar diri. Sebab,

“Allah SWT akan menolongmu, jika kamu mau menolong dirimu sendiri. Dan tak ada yang bisa menolong dirimu, selain doa dan usaha dari dirimu sendiri.” – D. Nariswari

Terima kasih untuk kedua orang tua gue yang telah mengajarkan betapa pentingnya makna “pahit sebelum manis”.


Seperti biasa, gambar diambil dari weheartit



Selasa, 16 November 2010

Idul Adha Versi Anak Kos


Tahun ini merupakan tahun ke-tiga gue merayakan Idul Adha di Malang. Di tahun pertama kuliah, gue masih bisa berlebaran di rumah karena saat itu kalau tidak salah sudah memasuki waktu libur akhir tahun. Sedangkan di tahun ke-duanya, gue di Malang namun sedang berhalangan jadi tidak bisa sholat. Di tahun ke-tiga, nah ini dia.

Ada apa Cit?

Entah ini aib atau bukan, tapi gue hanya sekedar mau berbagi cerita saja. Satu tahun yang lalu, yang masih bertahan di kosan saat Idul Adha hanya lima orang saja yaitu gue, Novi, Usna, Mbak Lia, dan Mbak Sovy. Namun Mbak Sovy sedang berhalangan sehingga yang pergi sholat hanya empat orang termasuk gue.

Kita udah bangun pagi-pagi, semangat menyambut hari raya tersebut. Kita berniat akan sholat di Masjid Besar yang terletak di Jalan Kertopamuji. Jam setengah enam pagi kita semua sebenarnya sudah siap untuk berangkat, namun entah kenapa kita malah santai-santai. FYI, karena kita semua adalah anak Bekasi (kecuali Usna yang rumahnya di Jakarta), biasa sholat Ied jam setengah tujuh atau jam tujuh pagi jika berada di rumah. Maka, gue pun menganggap paling-paling sholat Ied di Malang juga dilaksanakan sekitar jam setengah tujuh-an.

Mendekati jam enam, gue pun memanggil teman-teman untuk segera berangkat ke Masjid. Dan dengan kepedean, gue nanya sama teman gue, “Bawa koran nggak ya?” Secara gue berpikir kita akan menjadi orang-orang pertama yang datang ke Masjid dan mendapat tempat di dalam Masjid. Namun teman gue tetap menyuruh gue membawa koran.

Kita berempat pun berangkat. Ternyata di awal-awal perjalanan, kita mendengar suara imam sudah memulai sholat. Langkah pun langsung kami percepat.

Sesampainya di sana, kita melihat shaf jamaah sudah tumpah sampai ke jalan. Kita pun mendapat shaf paling belakang dan dengan buru-buru memasang koran dan sajadah. Namun apa daya, saat itu sudah memasuki rakaat ke-dua dan kita pun tidak bisa mengejarnya lagi sebab sudah sampai gerakan sujud. OH TIDAAAK!

Jadi, kami hanya sempat mendengarkan ceramah dan tidak lama bangkit berdiri untuk kembali pulang ke kosan. Benar-benar kejadian yang buruk.

Dan tahun ini pun, tidak kalah serunya. Karena tanggal merahnya berada di tengah minggu, jadi banyak anak kos yang nggak pulang ke rumahnya masing-masing. Alhasil ada sekitar sepuluh orang yang merayakan Idul Adha di kosan. Gue sudah wanti-wanti jauh-jauh hari, jangan sampai telat lagi sholatnya.

Jam lima kurang sepuluh pun gue bergegas mandi. Terdengar teman-teman lain pun juga sudah bersiap-siap. Jam setengah enam kurang sepuluh, anak-anak di lantai atas sudah turun lalu nungguin gue dan Vika (kita berdua kamarnya di lantai satu). Tak lama kemudian, kita berangkat ke kampus. Lho, kok ke kampus? Iya, soalnya kita mau sholat Ied di Lapangan Rektorat. Kata Tita, cowok-cowok yang sholat di situ ganteng-ganteng (oke, niatnya melenceng sekali ya gue).

Sampai sana, untung saja kita masih beruntung dapat tempat di sekitar shaf ke-empat wanita. Sebab siang sedikit, shaf sudah tumpah sampai ke jalan.



Sesudah sholat, kita pun berfoto-foto. Gue sengaja bawa digital camera untuk mengabadikan kejadian ini (tuh kan, gue juga heran sebenarnya niat gue apaan sih?).


Lalu, kami pun mencari tempat makanan yang buka. Ternyata warung bubur penuh sesak, isinya pembeli yang sudah kelaparan semua. Tak jauh dari situ, warung tahu telur juga buka. Total hanya dua warung yang buka pada pagi ini (yang kita temui).

Sampai di kos, kita rapat kecil, memikirkan akan makan apa. Nggak lucu kalau makan mie instan. Masa’ lebaran nggak lebaran makannya mie instan. Akhirnya kita memutuskan untuk delivery KFC saja. Paket yang Rp 18.000-an (lupa nama paketnya apa).

Titi menelepon 14022. Sang operator menjawab, “Karena Idul Adha, pengiriman dilakukan mulai jam 1 siang.” DANG! Nggak jadilah, mau lihat kita mati kelaparan kali itu si mbak operatornya.

Akhirnya gue minta tolong sama salah satu adik kos gue yang punya pacar. Minta tolong untuk beliin makanan. Apa korelasinya adik kos yang punya pacar dengan beliin makanan? Kalau punya pacar kan bisa diantar ke mana-mana tuh, nah maka dari itu gue minta tolong adik kos gue buat nyari warung makan yang buka.

Si adik kos pun mencoba menghubungi pacarnya. Akan tetapi telepon genggam pacarnya tidak aktif. Akhirnya si adik kos cerita ke gue kalau pacarnya lagi marahan sama dia. Oh. mai. got.

Pupus harapan, gue pun membuat makanan instan dengan heater. Ya terpaksalah, kalau pagi ini gue nggak makan sama sekali, maag gue bisa makin parah (karena beberapa hari sebelum ini maag gue kambuh).

Sehabis itu gue internetan di kamar. Tiba-tiba adik kos yang tadi, nawarin mau nitip beli makan apa. Ternyata pacarnya sudah bisa dihubungi dan bersedia keluar sama adik kos gue. Yippy. Alhasil sekarang gue sudah bisa bertemu dengan nasi kembali. Lauknya lalapan ayam (teteuuup ya!) :D

Selamat Idul Adha untuk semua!



Jauh dari Rumah

Begitu memutuskan untuk kuliah di mana, sama sekali nggak ada ketakutan di benak gue untuk memilih universitas di kota mana yang akan gue tempati. Mau di luar provinsi nggak ada masalah sama sekali. Intinya saat itu yang ada di pikiran gue adalah, harus PTN (Perguruan Tinggi Negeri).

Sama halnya dengan gue, orang tua gue pun memiliki prinsip yang sama. Kuliah jauh juga nggak apa-apa. Meskipun saat itu kakak gue sudah berkuliah di luar provinsi dan gue adalah satu-satunya anak yang masih tinggal di rumah. Selain itu gue juga anak bungsu perempuan. Sejak dulu, orang tua gue selalu membebaskan setiap kegiatan dan keputusan anak-anaknya meski sebelumnya pasti dipertimbangkan secara bersama-sama.

Maka, jadilah gue sekarang ini kuliah di luar kota. Luar provinsi, lebih tepatnya. Rumah gue di Jawa Barat. Gue kuliah di Jawa Timur. Ujung pulau ke ujung pulau, lho.

Di awal kuliah, gue ngerasa senang banget bisa hidup jauh dari orang tua. Emang dasarnya gue suka mencoba hal-hal yang baru, makanya gue nggak ada masalah sama yang namanya hidup merantau dalam kemandirian. Justru menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi gue.

Percaya nggak percaya, dulu gue hampir nggak pernah nangis gara-gara homesick. Tapi di akhir-akhir semester dua gue jadi agak sering nangis gara-gara gue nggak cocok sama kuliah gue di sini. Bisa dibaca deh, kenapa alasan gue nggak cocok sama kuliah gue. Silakan cek di sini dan di sini.

Makanya, berikut adalah tips bagi para orang tua yang akan melepas anaknya ke alam bebas (perantauan):

Pertama, pastikan anak Anda benar-benar menyenangi jurusan atau universitas yang anak Anda pilih. Sebab, contohnya seperti gue ini. Dalam satu atau lebih dari satu malam, anak Anda akan menangis meraung-raung karena tidak sanggup mengerjakan atau memahami tugas kuliahnya. Terlebih saat skripsi.

Gue dan keluarga gue adalah tipe keluarga yang senang berdiskusi. Apalagi kalau sudah menyangkut pelajaran, gue suka sekali bertanya dan bertukar pikiran dengan papa, ibu, dan kakak gue. Ketika di Malang ini, ketka gue mengalami kesulitan di mata kuliah yang ada sangkut pautnya dengan eksak khususnya pertanian, gue sering sekali bertanya sama kakak gue, baik lewat telepon maupun lewat email. Kalau kesulitan di mata kuliah bidang ekonomi, gue sering bertanya kepada bokap gue.

Tapi, secanggih-canggihnya media, sepesat-pesatnya teknologi, bertemu muka memang lebih baik. Anda bisa berdiskusi sepuasnya jika bertemu secara langsung.

Oleh karena itu, lebih baik jika anak Anda tidak akan mengalami kesulitan yang signifikan pada tugas-tugas perkuliahannya nantinya. Sebab anak Anda benar-benar niat dan suka pada jurusan tersebut sehingga jika anak Anda menemui kesulitan, yang dirasakannya hanyalah tantangan yang dapat dilalui dengan mudah. Tidak seperti gue.

Kedua, pastikan anak Anda tidak memiliki penyakit yang aneh. Well, sudah pasti lah ya, kalau anak Anda punya penyakit parah yang membutuhkan bantuan orang lain, sebaiknya memang jangan melepas anak Anda terlalu jauh. Tapi maksud penyakit aneh di sini, seperti penyakit yang gue miliki. Yaitu penyakit nggak doyan makan.

Gue doyan makan, pada saat memang gue lagi doyan makan. Tapi kalau lagi nggak doyan sama makanan APAPUN itu, gue sanggup deh puasa 24 jam sehari (tapi tetap minum lho ya). Sebenarnya penyakit ini sudah ada sejak gue masih tinggal di rumah. Kalau nyokap gue lagi masak makanan yang gue nggak ada yang doyan sama sekali, bisa jadi gue nggak akan makan. Durhaka deh emang gue. Namun untungnya, nyokap gue emang the best lah, pasti beliau berusaha membuat menu lain yang sekiranya bisa gue makan. Nah kalau di kota orang, mau makan apa? Tengok warung makan kanan kiri, udah bosan semua.. Yang terjadi adalah, mati aja lo Cit! Haha. Paling biasanya gue kabur ke mall, cari makanan enak. Makan deh gue sendirian di sana. Yang bikin nyebelin, uang melayang nggak karuan demi makanan enak gara-gara penyakit nggak doyan makan. Sengsara amat deh punya penyakit kayak begini.

Ketiga, berilah kesempatan untuk pindah kuliah jika anak Anda BENAR-BENAR tidak sreg dan tidak sanggup menjalani kuliahnya lagi. Tentunya si anak juga tidak boleh bimbang dalam memutuskan jadi pindah kuliah atau tidak. Korbannya cukup gue aja (emang dasar gue plin-plan).

Yak, gue kira cukup sekian tips tidak bergunanya. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi Anda semua.



Jumat, 12 November 2010

00.50 - 4 comments

Pesan Tengah Malam


Halo, kamu yang di sana

Saat ini waktu telah memasuki pukul setengah satu malam


Aku hanya ingin tahu, apakah kau sudah terlelap?

Sehingga aku bisa merasukimu dengan kata-kataku

Lewat angin malam yang melesatkannya ke dalam mimpimu


Pertama.

Aku tak yakin dengan tindakanmu

Aku yakin itu hanya nafsu


Kedua.

Tolong dipikirkan lagi

Benarkah aku sesuai harapanmu?

Mungkin saja aku tak sebaik yang kau ingin


Ketiga.

Maaf jangan ganggu aku

Meski sempat aku menikmati gangguan-gangguan itu

Tapi aku yang tak begitu yakin denganmu


Terakhir.

Paham?

Jangan buat aku kecewa


Oleh :

19 Oktober 2010


Gambar diambil dari weheartit