celoteh,Pertama,prosa
3 comments
untuk relaksasi. untuk menghidupkan kehidupan.
celoteh,Pertama,prosa
3 comments
prosa
No comments
![]() |
| Diambil dari weheartit |
musik,prosa
2 comments
![]() |
| Gambar dari album Happy Coda |
Pertama,prosa
11 comments
prosa
4 comments

Sakit? Jahat? Perih?
Semua kau yang ajari. Semua kau yang awali. Namun kau kini menghakimi. Seolah aku yang pantas mati.
Rusak? Kandas? Putus?
Bukan aku yang bermaksud. Bukan aku yang menyalahi maktub. Tapi kau yang terkutuk. Kau yang harusnya takut.
Semua menunjuk aku. Di tengah-tengah putih, aku hitam. Padahal kau di situ. Kau JUGA di situ.
Namun sayang aku yang terpenjara. Kau berhasil keluar dengan senyum simpulmu. Meninggalkan aku. Turut menunjuk aku. Sebagai yang hitam. Yang paling hitam. Teramat hitam.
Aku tersungkur. Lalu babak belur. Kau tetap di situ, menjadi yang paling unggul.
N. B. : Kau harus tahu, sangkaanku tidak sepahit sangkaanmu terhadapku. Kau jauh lebih pantas menjadi dedemit. Enyah kau, lemur.
11 Mei 2011
prosa
2 comments
Cahayanya meredup. Menjauh dari aku.
Biasa mendengar bising dari jemari lidah apinya yang senantiasa menari-nari, tak enggan merogoh untaian hangat untuk menyengat kalbuku.
Aku tatap ia kini, silau. Ingin aku raih, aku tahu aku tak sanggup. Jarak memisahkan kami. Tidak seperti mawar yang setia pada duri.
Ia terus berada di sana. Berdiri dengan gagahnya, tertawa bersama sahabat dan terus berganti rupa. Malam menjadi bulan.
Dengan besar rasa, aku kira ia menatapku dari atas sana. Namun tetap menaruh perhatian. Kadang hinaan. Dengan menyengat kuat kulit tubuhku yang cahayanya semakin temaram. Meski begitu, aku biarkan saja.
Ia tak menyapaku, lalu apa aku juga begitu? Pernah sesekali aku tantang dirinya. Berdiri di luar, aku maki-maki dirinya. Kemudian ia keluar sebentar, membalas, dan semakin menguatkan teriknya. Aku puas. Aku masuk lagi ke kamar.
Tapi malam ini berbeda. Ketika ia mulai merapat ke senja. Dan tenggelam di sana.
Aku nanti kurang lebih sepuluh jam lamanya. Di ufuk itu, tak kunjung muncul. Bolak-balik ku keluarkan kepala untuk mengecek kehadirannya. Namun tetap sama. Gulita.
Aku mulai resah dan menggigiti bagian bawah bibirku. Menggoyang-goyangkan kaki seraya menunggu yang dinanti. Ia tak jua lekas datang.
Aku teropong langit gelap itu. Ada seberkas siluet cahaya namun tertutup. Dan aku merasa kepanasan, lebih berkeringat dari biasa dia ada.
Suara letupan-letupan api pun terdengar. Aku tajamkan pendengaran. Makin lama makin sayup dan ini yang sebenarnya aku redupkan sendiri.
Aku bingung. Aku tutup jendela kamarku. Tapi tidak untuk tirai yang sengaja aku buka sedikit, jikalau suatu saat aku ingin mengintip.
Begitu terus menerus. Hingga aku tak mengerti lagi apakah ini siang atau malam. Karena ia tak kunjung datang. Bahkan sesungguhnya menghilang.
Tak akan ada lagi fajar.
Oleh: D. Nariswari
25-26 September 2010