Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

Selamanya



Selamanya aku kira pada awalnya merupakan sebuah kata yang selalu bermakna positif.
Misalnya dalam kalimat berikut ini.

Aku mencintaimu selamanya.

Namun aku salah.  Aku telah melupakan kalimat:

Aku akan meninggalkanmu untuk selamanya.

Seperti pada malam itu, ia mengatakan kalimat yang hampir mirip dengan nada yakin di teras rumahku, “... selamanya.” yang kemudian aku lemparkan selembar tissue ke badannya.

Tuhan sedang baik kala itu. Motorikku lemah, hampir setiap hal yang aku lempar maupun tangkap tidak pernah kena sasaran, tapi tidak pada malam itu.

Wajahku panas. Dihiasi amarah yang membuncah.

.
.
.


“Kok nggak nulis blog lagi, Kak? Kan lagi sedih,” ujar seorang teman baik di kantor.

Ya, gue memang cenderung berkarya tatkala perasaan gue sedang tidak bahagia. Coba tilik prosa dan puisi gue, lebih dari tiga perempatnya adalah karya-karya yang tertuang dari rasa pahit dan juga getir.

Namun, yang ini berbeda. Jari-jemari seakan berat untuk membahas tentangnya. Mungkin karena semua yang berhubungan dengannya menimbulkan sakit dan membangkitkan trauma. Begitu kuat efeknya.

Hari ini, tepat dua puluh hari sejak kejadian itu terjadi, gue berani untuk mengangkat kepala dan menulis lagi. Meski yang akan gue beritahukan adalah hal sedangkal:

aku tidak pernah disakiti hingga patah hati sehebat ini.

Gambar diambil dari weheartit

8 Juli 2016

Jumat, 11 Desember 2015

Apakah Benar Esensi Pertemuan adalah Perpisahan?

Dia bilang, semua awal akan menjumpai akhir.

Aku setengah tidak percaya. Mengapa? Karena saat itu dia berbicara mengenai kita.

Dan dia benar.

Berkali-kali aku bertemu pada ujung yang menuju akhir.

Tapi aku kembali, memaksa menemui titik awal. Berulang kali.

Tak jarang seolah dia membuatku lupa untuk melangkah kepada akhir.

Dan aku turut menutup mata. Tidak peduli dengan penyebabnya.
.
.
.
Sekarang, aku benar-benar sudah melampaui akhir.

Kini aku berada pada titik awal yang anyar.

Apakah kelak aku akan bersua akhir?

Oleh: D. Nariswari
11 Desember 2015

Diambil dari weheartit

Senin, 09 September 2013

Terselip Kamu di Antara Aku dan Band-band Indie Favoritku



Hai, aku sedang mendengarkan album baru Frau yang berjudul Happy Coda
Aku suka
Sama seperti aku suka kepada kamu yang sama-sama menggilai Frau ketika pertama kali dengar

Kebetulan tadi siang aku membaca judul lagu Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan di salah satu media sosial
Itu lagu kesukaan kamu dari Payung Teduh, salah satu band indie favoritku
Kamu tidak pernah tahu band ini sebelumnya, hingga kamu mencari tahu dan mencari lagu kesukaanmu sendiri
Dan aku suka

Nanti ada saatnya kita berbicara banyak tentang ini lagi
Sambil mendengarkan Efek Rumah Kaca, Gugun Blues Shelter, Frau, Payung Teduh, dan tentu saja aku tidak akan egois, kita juga akan mendengarkan Mocca, band indie favoritmu
Tunggu saat itu, hingga waktu yang tepat dan kita tak akan mengumpat

Salam dari aku yang sedang mendengarkan Frau

Gambar dari album Happy Coda

Selasa, 06 November 2012

Salam, Rasa, dan Pertama


Hai, sudah lama tak berjumpa.
Diliputi senyuman, oh, seperti inilah rasanya meninggalkan ruang ini berbulan-bulan lamanya. Ups, lebih tepatnya, tiga bulan lamanya.
Apa yang berbeda? Ada yang hilang? Atau ada yang bertambah?
Perasaannya kurang lebih sama seperti saat meninggalkan rumah beberapa bulan. Lalu saat kembali lagi ke rumah, melihat sekeliling, mengamati setiap inci detail rumah.
Ada yang berbeda di situ. Entah udaranya entah apanya.
Dan aku tidak menganggapnya deja vu. Tapi ya seperti inilah.
Ada kisah yang ku tinggalkan di situ, hingga akhirnya ada kisah yang ku lewatkan begitu saja. Sibuk menengak-nengok dan mencari tahu.
Ada rasa canggung yang mengerjap. Bagai berkenalan dengan orang baru.
Ada sedikit malu, ketika di pikiranku berkecamuk pertanyaan, "Masih diterimakah aku?"
Ada penyesuaian, sesuai dengan kumpulan puzzle yang mulai terbentuk.
Lalu terkejut! Ketika ada yang masuk.
Semua rasanya... persis seperti pertama memasuki ruang ini kembali.

Oleh:
6 November 2011

Prosa ini dibuat dalam rangka penyambutan kepada diri sendiri di blog ini.

Rabu, 11 Mei 2011

06.43 - 4 comments

Ketika Emosi Bercampur Logika




Aku bukannya tidak mengerti. Tapi aku marah. Aku begini karena kau begitu. Aku menjadi seperti ini karena kau seperti itu.

Sakit? Jahat? Perih?

Semua kau yang ajari. Semua kau yang awali. Namun kau kini menghakimi. Seolah aku yang pantas mati.

Rusak? Kandas? Putus?

Bukan aku yang bermaksud. Bukan aku yang menyalahi maktub. Tapi kau yang terkutuk. Kau yang harusnya takut.

Semua menunjuk aku. Di tengah-tengah putih, aku hitam. Padahal kau di situ. Kau JUGA di situ.

Namun sayang aku yang terpenjara. Kau berhasil keluar dengan senyum simpulmu. Meninggalkan aku. Turut menunjuk aku. Sebagai yang hitam. Yang paling hitam. Teramat hitam.

Aku tersungkur. Lalu babak belur. Kau tetap di situ, menjadi yang paling unggul.

N. B. : Kau harus tahu, sangkaanku tidak sepahit sangkaanmu terhadapku. Kau jauh lebih pantas menjadi dedemit. Enyah kau, lemur.

Oleh :

11 Mei 2011

Minggu, 26 September 2010

06.41 - 2 comments

Menangisi Sang Fajar


Cahayanya meredup. Menjauh dari aku.

Biasa mendengar bising dari jemari lidah apinya yang senantiasa menari-nari, tak enggan merogoh untaian hangat untuk menyengat kalbuku.

Aku tatap ia kini, silau. Ingin aku raih, aku tahu aku tak sanggup. Jarak memisahkan kami. Tidak seperti mawar yang setia pada duri.

Ia terus berada di sana. Berdiri dengan gagahnya, tertawa bersama sahabat dan terus berganti rupa. Malam menjadi bulan.

Dengan besar rasa, aku kira ia menatapku dari atas sana. Namun tetap menaruh perhatian. Kadang hinaan. Dengan menyengat kuat kulit tubuhku yang cahayanya semakin temaram. Meski begitu, aku biarkan saja.

Ia tak menyapaku, lalu apa aku juga begitu? Pernah sesekali aku tantang dirinya. Berdiri di luar, aku maki-maki dirinya. Kemudian ia keluar sebentar, membalas, dan semakin menguatkan teriknya. Aku puas. Aku masuk lagi ke kamar.

Tapi malam ini berbeda. Ketika ia mulai merapat ke senja. Dan tenggelam di sana.

Aku nanti kurang lebih sepuluh jam lamanya. Di ufuk itu, tak kunjung muncul. Bolak-balik ku keluarkan kepala untuk mengecek kehadirannya. Namun tetap sama. Gulita.

Aku mulai resah dan menggigiti bagian bawah bibirku. Menggoyang-goyangkan kaki seraya menunggu yang dinanti. Ia tak jua lekas datang.

Aku teropong langit gelap itu. Ada seberkas siluet cahaya namun tertutup. Dan aku merasa kepanasan, lebih berkeringat dari biasa dia ada.

Suara letupan-letupan api pun terdengar. Aku tajamkan pendengaran. Makin lama makin sayup dan ini yang sebenarnya aku redupkan sendiri.

Aku bingung. Aku tutup jendela kamarku. Tapi tidak untuk tirai yang sengaja aku buka sedikit, jikalau suatu saat aku ingin mengintip.

Begitu terus menerus. Hingga aku tak mengerti lagi apakah ini siang atau malam. Karena ia tak kunjung datang. Bahkan sesungguhnya menghilang.

Tak akan ada lagi fajar.


Oleh: D. Nariswari

25-26 September 2010