Tampilkan postingan dengan label perlu tahu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perlu tahu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2015

Tanya & Jawab (Frequently Asked Question/FAQ) Agribisnis

Tahun 2008 yang lalu, gue menulis tentang kuliah Agribisnis di sini dan di sini. Tak disangka, kedua artikel itu menjadi salah dua artikel yang paling banyak pengunjungnya hingga saat ini. Senang bisa membantu memberi gambaran bahkan menyemangati siswa-siswi SMA yang sedang mempersiapkan dirinya untuk berkuliah di Agribisnis atau sekadar memberikan setitik pengetahuan tentang Agribisnis. Menurut gue pribadi, kedua artikel itu sebenarnya tidak memberikan informasi yang mendalam mengenai Agribisnis karena saat itu gue hanya menulis untuk menyemangati diri sendiri. Pada akhirnya banyak yang masih penasaran dengan Agribisnis dan gue membuka kesempatan bagi mereka yang ingin bertanya dengan mengirim pertanyaan melalui e-mail. Tahun demi tahun berlalu, semakin banyak pertanyaan yang masuk ke e-mail, twitter, bahkan media chat (sungguh, untuk yang terakhir ini gue benar-benar keberatan karena gue tidak pernah mengumbar id media chat untuk melayani pertanyaan seputar Agribisnis sehingga, menurut gue, orang yang “mengejar” gue sampai ke media chat sudah di luar batas dan pertanyaannya tidak gue layani).

Akhir-akhir ini pertanyaan yang masuk kembali membludak dan gue tidak sanggup membalasnya satu per satu karena waktu luang yang gue miliki semakin sedikit. Oleh sebab itu, gue menulis artikel ini untuk mewadahi pertanyaan yang sering ditanyakan oleh siswa-siswi SMA yang sedang mencari tahu tentang Agribisnis. Dengan kerendahan hati, kehadiran artikel ini sekaligus memberi tanda bahwa gue tidak akan lagi membalas pertanyaan seputar Agribisnis yang dilayangkan melalui kontak pribadi gue, baik itu e-mail, twitter, media chat, facebook, telepon, SMS, hingga merpati pos (?).Mohon pengertiannya, ya :) Gue pun berharap gue bisa meng-update pertanyaan dan jawaban lainnya seiring permintaan dari para pembaca yang ingin mengetahui tentang Agribisnis.

Perlu diketahui sebelumnya, gue diterima di Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian (FP), Universitas Brawijaya (UB) pada tahun 2007 dan lulus pada tahun 2011. Jadi, semua yang gue jawab di sini berdasarkan pengalaman gue pada masa itu dan kemungkinan besar ada beberapa hal yang sudah tidak sesuai dengan saat ini. Bisa dipahami, kan? Baiklah, mari kita simak pertanyaan tentang Agribisnis yang sering ditanyakan berikut jawaban yang dapat gue jelaskan. Here we go!

Tanya (T): Agribisnis itu apa sih, Kak? Kuliahnya gimana? Yang dipelajari apa aja?
Jawab (J): Agribisnis merupakan salah satu jurusan kuliah yang multidisiplin, jadi secara garis besar ada tiga disiplin ilmu yang dipelajari. Pertama, ada ilmu ekonomi (contoh mata kuliah yang dipelajari adalah Pengantar Ilmu Ekonomi, Ekonomi Makro, Ekonomi Mikro, Dasar Akuntansi, Akuntansi Biaya, Dasar Manajemen, Manajemen Pemasaran, Manajemen Strategik, Manajemen Keuangan, Matematika Ekonomi, Perilaku Konsumen, Bisnis Internasional, dll). Kedua, ada ilmu sosial (seperti Sosiologi, Dasar Komunikasi, Komunikasi Bisnis, dll) dan ketiga ada ilmu pertanian (seperti dasar Ilmu Tanah, Dasar Agronomi, Dasar Hortikultura, Dasar Pemuliaan Tanaman, Fisiologi Tumbuhan, Produksi Tanaman Buah, dll). Namun ada juga mata kuliah lain seperti Statistika, Metodologi Penelitian Kualitatif, Metodologi Penelitian Kuantitatif, dan mata kuliah umum seperti Bahasa Inggris, Agama, Kewarganegaraan, Kewirausahaan, dll. Semua mata kuliah yang gue sebutkan tadi belum mencakup semua mata kuliah yang gue pelajari di Agribisnis. Perlu diingat kembali, mata kuliah-mata kuliah itu berlaku pada saat gue kuliah, untuk sat ini tentu kurikulum dan  mata kuliahnya bisa saja sudah berubah.

T: Apa sih Kak, bedanya Agribisnis sama Agroteknologi?
J: Saat itu, belum ada jurusan agroekoteknologi di FP UB. Yang ada adalah jurusan Sosial Ekonomi Pertanian (mencakup Program Studi Agribisnis serta Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian), jurusan Tanah, jurusan Budi Daya Pertanian, dan jurusan Hama & Penyakit Tanaman. Kalau tidak salah, sekitar tahun 2010 (mohon dikoreksi jika salah), jurusan di Fakultas Pertanian UB dilebur menjadi 2 jurusan, yaitu Agribisnis dan Agroekoteknologi. Jurusan Agribisnis melingkupi Agribisnis itu sendiri serta Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian,sedangkan jurusan Agroekoteknologi merupakan leburan dari jurusan Tanah, Budi Daya Pertanian, dan Hama & Penyakit Tanaman. Karena gue dulu belajar di Agribisnis, maka gue tidak terlalu tahu mengenai agroekoteknologi dengan pasti. Secara garis besar, Agroekoteknologi meliputi ilmu agronomi, hortikultura, pemuliaan tanaman, tanah, serta hama dan penyakit tanaman. Ilmu-ilmu ini cenderung mempelajari seputar ilmu alam.

T: Kakak dulu skripsinya tentang apa?
J: Topik skripsi yang gue ambil adalah manajemen strategik dan pemasaran. Objek penelitian gue merupakan jamu instan produksi salah satu Usaha Kecil Menengah jamu instan di Jakarta.

T: Gimana prospek pekerjaan lulusan Agribisnis?
J: Mengenai prospek perkerjaan, menurut gue setiap orang yang berkuliah di jurusan apa pun, asalkan ada kemauan dan kemampuan, semua orang bisa bekerja di manapun yang dia inginkan. Tapi gue akan jelaskan sedikit gambaran tentang pekerjaan yang menjadi pekerjaan teman-teman gue dari lulusan Agribisnis. Mayoritas dari mereka bekerja di sektor perbankan yang tersebar di berbagai posisi, dimulai dari front liner (seperti CS dan teller), legal, hingga analis. Ada juga teman-teman yang bekerja di sektor pertanian seperti industri kelapa sawit, perusahaan benih, perusahaan pupuk, perusahaan alat pertanian, dan sebagainya. Selain itu, ada juga teman-teman yang memilih untuk memiliki usaha sendiri dan ada juga yang menjadi PNS. Meski yang dipelajari di Agribisnis terkait dengan pertanian tetapi ilmu-ilmu ekonomi dan sosial (termasuk ilmu berbisnis) yang kami pelajari di Agribisnis tetap dapat diaplikasikan ke segala macam sektor sehingga lulusan Agribisnis dapat bekerja di sektor-sektor yang gue sebut barusan.

T: Kakak setelah lulus dari Agribisnis kerja di mana?
J: Setelah lulus S-1, gue langsung melanjutkan studi S-2 di Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Selama berkuliah S-2, gue sembari bekerja sebagai freelance editor, memasarkan produk coklat produksi teman gue, dan memiliki usaha kecil-kecilan di bidang handicraft. Setelah lulus S-2, gue memiliki pekerjaan pada posisi yang berkaitan dengan bisnis di salah satu perusahaan penerbitan buku di Indonesia.

***

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanyakan selama gue membuka kesempatan kepada pembaca untuk bertanya lewat e-mail. Dari sekian banyak pertanyaan yang masuk melalui e-mail, gue merasa hanya sedikit siswa-siswi SMP/SMA yang memiliki kesantunan dan dapat menyampaikan pertanyaannya dengan baik kepada gue. Jadi, mohon disimak bagi kamu yang di lain waktu akan berkorespondensi dengan orang lain (terutama kepada orang yang belum kamu kenal sebelumnya) melalui e-mail. Pertama, beri salam. Jangan asal tubruk dengan pertanyaan. Kalau kamu langsung memberondong dengan pertanyaan, itu sudah seperti nyelonong masuk rumah orang minta air minum tanpa Assalamualaikum. Minimal sapaan “Halo” menurut gue sudah cukup. Kedua, perkenalkan diri kamu, minimal nama panggilan. Ketiga, gunakan kata serta kalimat yang baik dan benar ketika bertanya. Nggak usah plek ketiplek sama EYD, paling tidak sebelum mengirimnya, kamu mengecek pertanyaan kamu sendiri, apakah kalimat yang kamu pakai bisa dipahami oleh orang lain? Kalau itu semua sudah kamu lakukan, yang terakhir adalah jangan lupa ucapkan terima kasih. Bagaimana orang lain mau respek sama kamu kalau kamu tidak respek pada orang itu? Ya, kan? :)

Semoga semua yang gue tulis di sini membawa manfaat, ya. Pesan gue, selamat belajar dan tetap berdoa. Semangat!

Citta Lulus dari FP UB Tahun 2011

Selasa, 04 Desember 2012

Dosa Sang Maestro


“Sebelah kanan ada Idris Sardi, lho!” seru teman gue.

Mana? Kita kan memang duduk di sebelah kanan. - batin gue dalam hati.

Begitu gue tengok ke kanan bawah, ah benar. Maestro itu sedang duduk ditemani salah seorang anggota keluarganya.

***

Kemarin, gue berangkat ke kampus untuk mengikuti salah satu mata kuliah reguler. Sampai di lobi fakultas, banyak orang yang memakai atribut pakaian daerah Sumatra. Gue pikir, oh mungkin sedang ada acara. Gue tidak terlalu banyak memusingkan hal itu dan bergegas menuju kelas. Setelah menunggu kira-kira lima belas menit, dosen tak kunjung datang. Gue dan teman-teman lalu berjalan menuju Gedung IX untuk mengetahui sedang ada acara apa yang berlangsung.

Di depan Auditorium Gedung IX ternyata sudah banyak sekumpulan orang yang mengantri untuk mengisi absen acara itu. Gue dan teman-teman memutuskan untuk mengisi absen dan masuk ke dalam Auditorium. Kami memilih barisan tempat duduk di sayap kanan. Ketika hendak duduk, di situlah terjadi percakapan yang menjadi ilustrasi pembuka dalam artikel ini.

Ya, acara tersebut ternyata merupakan acara Dies Natalis FIB UI yang ke-9 Windu. Dies Natalis kali ini bertajuk tentang Bumi Sriwijaya. Salah satu tamu yang turut diundang adalah Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.

Acara diawali dengan tarian daerah Palembang. Setelah itu, pembawa acara mulai membuka acara. Kemudian Idris Sardi dipanggil ke atas panggung untuk memainkan lagu Indonesia Raya, seluruh orang yang datang ke acara tersebut dipersilakan berdiri.

Untuk pertama kalinya gue mendengar langsung lagu Indonesia Raya dimainkan oleh Maestro biola Indonesia. Yang terjadi adalah bulu kuduk gue berdiri sepanjang lagu karena mengagumi gesekan biola beliau. Bahkan, dua teman yang berdiri di samping kanan dan kiri gue, mbak Heidy dan mbak Mamay, menitikkan air matanya. Gue jadi menyesal, mengapa saat itu gue tidak merekamnya. Namun alunan biola lagu Indonesia Raya tersebut masih berdendang di telinga gue hingga kini.


Setelah Indonesia Raya, beliau memainkan lagu Bagimu Negeri. Tidak mau mengulang penyesalan yang kedua kali, gue mengambil kamera dan segera merekamnya. Alhamdulillah, bisa merasakan dan mengabadikan keindahan kedua lagu itu.

Lagu selesai, Idris Sardi turun, kembali ke tempat ia duduk sedia kala. Tempat duduk beliau mungkin hanya berjarak tiga-empat meter dari tempat gue duduk, sangat dekat. Gue bisa melihat apa yang dia lakukan. Membuka-buka map, tapi gue tidak dapat melihat dengan jelas, map itu berisi apa.

Setelah sambutan-sambutan dari ketua panitia, dekan, dan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, saat itulah gue baru mengerti apa isi map yang sedari tadi dibuka-buka oleh Idris Sardi. Ternyata map itu adalah kumpulan partitur lagu yang akan ia mainkan.

Idris Sardi dipanggil kembali ke atas panggung. Selagi tempat duduk diatur, ia berbicara di depan mikrofon. Beliau mengucapkan terima kasih karena sudah diundang ke acara itu.

“Saya bukan maestro, saya hanya pengamen,” ujarnya lirih.

Subhanallah, sosok yang berdiri di panggung itu ternyata merupakan maestro yang berbalut rasa rendah hati.

Kemudian beliau melanjutkan, “Saya berdosa, saya belum melakukan apa-apa untuk negeri ini.”

Seketika hati gue tertohok. Pemain biola sekelas Idris Sardi yang sudah mencetak banyak prestasi dan kontribusi untuk negara saja belum merasa memberikan apa-apa untuk Indonesia. Kalau begitu, apalah arti keberadaan gue yang hanya sebutir pasir di pantai?

Lalu ia mengaku bahwa dirinya sedang sakit, sambil menunjukkan tangan kirinya, “Saya bermain biola sudah dari kecil. Maafkan saya kalau nanti saya bermain buruk. Selain karena kesehatan, apabila permainan saya buruk karena saya juga belum sempat sound check, saya belum terbiasa dengan ruangan di sini.”

Setelah itu beliau menjelaskan akan bermain selama dua puluh enam menit, dengan urutan lagu yang tak bisa dipotong. Gue langsung terbelalak, DUA PULUH ENAM MENIT? Ini jelas akan menjadi sebuah pertunjukan mahal yang gue tonton secara cuma-cuma.

Permainan biola pun dimulai. Gue tidak mau kehilangan kesempatan untuk merekamnya melalui kamera digital dan juga kamera pemberian Allah, yaitu mata kepala gue sendiri.


Maestro berlilitkan sarung kehijauan tersebut sesekali duduk dan berdiri sambil menggesekkan biolanya. Tak lupa ditambah dengan ekspresi dan aksi ketika memasuki beberapa lagu tertentu. Sangat mengagumkan.

Pada kenyataannya, lagu yang dibawakan beliau berlangsung selama dua puluh delapan menit lamanya. Sayang sekali pada dua menit terakhir gue tidak bisa merekamnya karena kamera digital gue kehabisan memori. Tapi gue tetap puas sudah bisa merekam, mendengar, dan menyaksikannya langsung. Sekali lagi, alhamdulillah.

Setelah permainan selesai, ia kembal berdiri di depan mikrofon. Ia kembali meminta maaf atas permainan yang menurutnya buruk. Ia bercerita, sejak kecil ia sudah diawasi oleh orang tuanya dalam bermain biola. Setiap selepas subuh ia berlatih intonasi selama satu jam. Jika melakukan kesalahan telinga beliau disentil oleh orang tuanya, “Hingga waktu kecil, telinga saya itu congek,” ujarnya. Ternyata, hukuman dan usahanya dalam berlatih itulah yang menghasilkan sosok Idris Sardi seperti sekarang ini. Lalu ia kembali menuturkan bahwa beliau merasa berdosa karena belum memberikan apa-apa untuk negara, karena menurutnya, seniman seperti beliau tidak memiliki uang yang banyak, yang bisa ia lakukan hanyalah dengan bermain biola hingga akhir menutup mata. Siapa yang tidak tergetar mendengar pernyataan seperti itu?

Kemudian, dekan naik ke atas panggung. Dekan gue mengaku bahwa itulah kali pertama ia menitikkan air mata dalam mendengarkan sebuah lagu. Ia memanggil Idris Sardi dengan sebutan mas, “Sebulan yang lalu saya bertemu dengan beliau, ia minta dipanggil Mas Idris, bukan Bapak.” Lalu dekan gue mendata prestasi Sang Maestro, ternyata beliau sudah mendapatkan penghargaan FFI sebanyak sebelas kali ditambah sekitar empat penghargaan lain (maaf jika informasi ini salah, gue agak kesulitan untuk mengingatnya). Dekan pun memberikan sebuah lukisan diri Idris Sardi, “Untuk menemani Mas Idris berlatih di rumah.”

Hari itu gue sangat bersyukur karena bisa mendapatkan lebih daripada sebuah pertunjukan spetakuler. Gue akan selalu mengingat dan berusaha menebus “dosa” yang belum terbayarkan karena gue belum menyumbangkan apapun untuk Indonesia.

Terima kasih sudah menginspirasi, Idris Sardi.


Jumat, 06 April 2012

Idola Indonesia


Aku mungkin sudah gila
Memang benar kata Agnes Monica
“Cinta ini kadang-kadang tak ada logika”

Ada salah satu idola gue di Indonesian Idol musim ini yang menurut gue tidak terlalu memiliki kekhasan dalam suaranya namun gue sangat suka. Mulai pertama berjumpa. Meski berjumpa di layar televisi saja. Memang benar kata Agnes Monica, “Cinta ini kadang-kadang tak ada logika” *Eaaa diulang lagi  *Kehabisan ide :p

Ya, Indonesian Idol babak spektakuler akan segera dimulai! Kedua belas kontestan sudah diumumkan pada tanggal 7 April 2012 dini hari. Jadi, siapa aja dong yang masuk ke Indonesian Idol musim 7? Mari dicek, siapa tahu ada idola kesayangan Anda juga!

Urutan ini dibuat berdasarkan urutan pengumuman 12 besar Indonesian Idol musim 7:
1.      Regina
2.      Yoda
3.      Dera
4.      Dion
5.      Rio
6.      Sean
7.      Belinda
8.      Ivan
9.      Kanza
10.  Sandy
11.  Febri
12.  Rosa

Selamat untuk kedua belas kontestan. Jangan kecewakan Indonesia ya, di mana menurut gue satu hal yang cukup berat karena mereka akan membawa gelar “Idola Indonesia”, yang seharusnya bisa merepresentasikan selera musik masyarakat Indonesia. Mohon digaris bawahi pada kata seharusnya :p

Eh tapi tidak sedikit lho, yang ternyata mencemooh, mempertanyakan, dan menggugat Indonesian Idol, baik kontestan maupun juri. “Mengapa si A yang masuk? Si B jauh lebih baik.” atau “Hampir aja si C nggak masuk. Malah si D yang jelas-jelas suaranya jelek, masuk duluan.” atau ada yang lebih parah “Eh si E ini saudaranya juri F ya, kok dia bisa keterima?” daaan banyak lagi komentar lainnya.

Hei, ada sedikit saran aja nih dari gue buat orang-orang yang protes di twitter atau di mana pun (terserah lah), buka deh pikiran Anda, jangan jadikan pikiran Anda hanya selebar daun kelor. Ada juga tuh, beberapa kontestan yang menurut gue nggak begitu layak tetapi gue terima-terima saja, nggak maki-maki juga. Mungkin juri dan mayoritas penonton memiliki selera yang berbeda dengan gue (selera adalah hak masing-masing individu) dan ada sisi lain yang mungkin saja gue belum menemukan alasan mengapa dia bisa pantas dipilih. Malah gue akan menunggu-nunggu di setiap penampilan berikutnya, apakah dia memang selayaknya untuk dimasukkan ke 12 besar, atau akan lebih membanggakan jika kontestan yang nggak gue suka itu bisa menampilkan kemajuan di setiap minggunya. Mulailah belajar untuk menerima sesuatu yang tidak sejalan dengan (kemauan) kita. Dan satu lagi, nggak usahlah berburuk sangka dengan sesuatu, hidup ini nggak usah ditambah beban dengan memikirkan sangkaan-sangkaan yang belum tentu benar. Enjoy aja lagi :D

Dan terakhir, kenapa udah lama gue nggak posting artikel eh malah tiba-tiba gue bahas tentang acara pencarian bakat ini? Pertama, karena tugas kuliah lagi sama tingginya dengan tumpukan sampah di Bantar Gebang. Kedua, karena emosi gue sedang menggebu-gebu setelah menonton acara tersebut, ditambah dengan kekepoan gue yang langsung mengecek di media sosial mengenai komentar acara ini.

Lagian, nggak usah heran ya. Gue ini sebenarnya pencinta acara-acara pencarian bakat semacam ini. Kalau Anda mau tanya seputar ajang pencarian bakat yang sudah pernah tayang, mulai dari AFI, Indonesian Idol, American Idol, Mamamia, Indonesia Mencari Bakat, Masterchef, Junior Masterchef, America’s Got Talent, dan lain-lain (hihi malu ah nyebutin banyak-banyak *Udah banyak kaliii itu yang disebutin), silakan aja kirimkan pertanyaannya ke gue, insyaallah gue masih hafal hahaha. Dulu aja waktu di kosan, gue jadi standar verifikasi anak-anak kosan tentang hal-hal seputar acara pencarian bakat. Kalau belum diverifikasi ke gue, gosip seputar mereka dianggap belum sah :p *Setidaknya, hidup gue ada gunanya sedikit lah :’)

Akhir kata, selamat berakhir minggu, Indonesia!

Minggu, 18 Maret 2012

SOTOJI: Soto Jamur Instan yang Menggugah Selera


Mie instan? Ah sudah biasa.
Bihun instan? Ah itu sudah banyak.
Soto jamur instan? Ah itu juga bia…
Eh apa? *kucek-kucek mata* Nggak salah baca kan, ada Soto Jamur Instan?

Ya, kini telah hadir SOTOJI (SOTO Jamur Instan) yang akan menyemarakkan variasi kuliner di tengah Anda dan keluarga!

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk mendapatkan sampel produk SOTOJI.
 
Begitu kiriman sampel SOTOJI tersebut sampai ke rumah saya, saya tidak sabar untuk segera memasak dan mencicipinya. Tapi karena ada beberapa tugas yang harus diselesaikan, saya harus menunda beberapa saat  sampai-sampai saya berkata dalam hati ”Oke, tahan dulu ya perut, nanti kita masak SOTOJI-nya.”
Beberapa jam berlalu…
Teng teng teng!
Waktunya memasak SOTOJI dimulai. Eh tunggu dulu.. Kita lihat dulu kemasannya. Aman dikonsumsi atau tidak? Mari kita cek!
Saya lega ternyata SOTOJI ini sudah terdaftar di DEPKES RI dan ada label Halal dari MUI.
Selanjutnya… Kita balik bungkusnya, penasaran komposisinya apa saja. Sebagai konsumen kita harus peduli terhadap komposisi produk yang kita makan dong… Dan ternyata ada informasi nilai gizinya juga lho!
Wah aman, tidak nampak adanya bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kandungan karbohidrat dan proteinnya juga tinggi.

Setelah cek dan ricek SOTOJI dirasa aman, saatnya membaca petunjuk memasaknya.
Tampak mudah nih cara masaknya.
Baiklah, daripada perut teriak-teriak minta segera diisi SOTOJI, mari kita masak!
  1. Buka bungkus SOTOJI (di situ Anda akan menemukan sohun, jamur tiram goreng, bumbu, minyak, dan cabai bubuk)
2.      a.  Masukkan sohun ke dalam 400 cc (2 gelas) air mendidih
b.   Masukkan jamur tiram goreng
c.    Aduk selama 2 menit
  1. Selagi sohun dan jamur tiram goreng direbus, siapkan bumbu, minyak, dan cabai bubuk ke dalam mangkuk.
  2. Setelah 2 menit, matikan kompor. Tuang SOTOJI yang telah direbus ke dalam mangkuk. Aduk hingga bumbu merata.
  3. Beri pelengkap tambahan sesuai selera, seperti telur rebus, tomat, jeruk nipis, seledri, dan bawang goreng. SOTOJI siap untuk dihidangkan. 
 
 
 
 

Saya pun langsung tergoda untuk mencicipi karena tergiur oleh aroma jamur yang membangkitkan selera, namun saya juga tidak lupa memanggil kedua orang tua saya untuk turut merasakan SOTOJI ini.
Ketika ibu saya mencicipi, beliau langsung berseru, “Hmm… Enak! Enak!”
 

Papa saya pun tak ketinggalan untuk menikmati SOTOJI.
 

Sedangkan saya? Seperti orang yang tidak makan satu minggu! Hehe... Saya makan SOTOJI selahap mungkin.
 

 
Malam harinya, kakak saya beserta istri datang ke rumah orang tua saya. Sampel SOTOJI yang tinggal sisa satu bungkus pun saya sodorkan kepada kakak saya. “SOTOJI? Apaan nih?” ujarnya. “Udah, cobain aja,” jawab saya. Kakak saya pun antusias dan bergegas menuju dapur untuk memasaknya. Tidak lama kemudian, SOTOJI terhidang di atas meja dan langsung disantap oleh kakak dan kakak ipar saya. Mereka terlihat puas dan sangat menikmati suapan demi suapan SOTOJI.

Berikut adalah komentar kami tentang SOTOJI:
SOTOJI sangat lezat! Setelah saya coba, awalnya saya membayangkan bahwa SOTOJI itu soto daging sapi atau soto ayam, ternyata soto jamur yang rasanya lezat sekali. Saya memakan SOTOJI dengan nasi, merupakan kombinasi yang begitu pas.” - Papa saya

SOTOJI sedap! Saya kan biasa makan jamur, tetapi baru kali ini saya merasakan soto jamur instan. Memang enak dan saya ingin memakannya lagi. Saya yakin SOTOJI ini sehat karena ada kandungan jamurnya. Bumbu SOTOJI terasa light dan pas sekali sehingga saya rasa cocok untuk disajikan kepada keluarga, apalagi dengan cara memasaknya yang mudah dan praktis. Saya akan mempromosikan kepada teman-teman saya.” - Ibu saya

“Inovasi  SOTO Jamur Instan ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Soto dengan jamur tiram goreng dan sohun lembut serta aroma yang begitu khas hingga tidak ada alasan untuk menolaknya. Cara memasaknya pun praktis dan hanya sekedipan mata. Semoga sukses, SOTOJI!” - Saya

SOTOJI rasanya gurih, bumbunya pas, dan proses pembuatannya cepat sehingga kalau lapar tidak usah lama menunggu. Selain itu saya puas karena SOTOJI menyediakan bubuk cabe yang banyak. Saya harap SOTOJI bisa membuat inovasi lain pada jamurnya, jadi tidak hanya jamur tiram saja tetapi bisa jamur kancing atau mungkin jamur shitake.” - Kakak ipar saya

“Ketika mencicip SOTOJI, saya tidak sadar bahwa saya sedang makan soto instan, karena rasanya yang ‘rumahan’, benar-benar soto khas Indonesia. Sangat enak. Hanya saja bungkus bumbunya sulit dibuka. Saran saya terhadap SOTOJI, bisa dikembangkan variasi-variasi soto lainnya.”- Kakak saya

Hayooo, penasaran kan dengan rasa SOTOJI yang sangat nikmat ini? Bagi yang ingin mencoba SOTOJI, buruan deh pesan DI SINI. Selamat mencoba ya : )

Saya berharap semoga SOTOJI bisa diterima oleh pasar dalam negeri dan bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk terkenal sampai ke luar negeri. Sukses terus ya, SOTOJI!

 
SOTOJI, paling pas di hati : )



Selasa, 06 Maret 2012

Lady Gaga ke Indonesia!



“Kalau Lady Gaga konser di Indonesia, gue pasti harus nonton!”
Itulah sepenggal kalimat yang gue camkan di dalam hati saat sedang ramai-ramainya konser Katy Perry di awal tahun 2012 ini.
Saat itu gue berpikir, gue nggak begitu pengin nonton konser Katy Perry. Gue suka sama Katy Perry, baik secara personal maupun lagu-lagunya. Tapi gue merasa untuk tidak harus kecewa jika gue tidak menonton konsernya.
Lalu pikiran gue pun melayang pada beberapa penyanyi luar negeri yang kira-kira kalau datang ke Indonesia, siapa yang gue pengin banget untuk nonton…
Backstreet Boys.
Ya, mereka boyband yang sangat gue idolakan dari SD sampai sekarang. Tapi di tahun 2006, Kevin Richardson, personil BSB kesukaan gue, memutuskan untuk meninggalkan boyband tersebut. Sehingga, ketika (kalau tidak salah) di tahun 2008 BSB konser di Indonesia (gue saat itu sedang berada di Malang), gue tidak kepengin nonton dan tidak terlalu kecewa. Galau-galau sedikit sih iya, tapi nggak terlalu menyesal karena Kevin-nya nggak ada.
Di tahun 2012 ini pun, BSB bersama NKOTB (digabung menjadi NKOTBSB) akan  menggelar konsernya di Jakarta pada tanggal 1 Juni 2012. Untuk yang ini gue lumayan tergiur untuk menonton, karena gue sudah tinggal di Bekasi lagi. Tapi langsung ilfeel ketika tahu harga tiketnya, yang paling murah Rp 950.000,-! Wakwaw. Alasan promotornya sih, karena penggemar NKOTBSB rata-rata sudah mature jadi harga segitu dianggap wajar. Iya yang lain sih sudah pada mature, lah gue masih anak ingusan begini disuruh bayar konser sembilan ratus ribu. Duit dari mane? Padahal gue juga tahu kalau nggak ada Kevin di konser ini, tapi sedikit penasaran saja dengan NKOTBSB. Genit kan gue :p
Gambar diambil dari http://rajakarcis.com
Oke. Kira-kira siapa lagi ya yang gue pengin nonton konsernya?
LADY GAGA. Ya. Tiada lain dan tiada ragu. The one and only mother of monsters: LADY GAGA.
Di blog ini beberapa kali gue sudah pernah menyinggung bahwa gue sangat mengaguminya. Mulai dari lagu, fashion, dan kepribadiannya, gue suka! Sehingga gue seperti mengikrarkan di dalam hati bahwa “Gue pasti akan nonton Lady Gaga di Indonesia.”
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Beberapa hari yang lalu gue mendengar kabar bahwa Lady Gaga akan konser di Indonesia!!!
Gambar diambil dari http://bigdaddy.co.id
Tapi… Kenapa Lady Gaga datangnya nggak dua atau tiga tahun lagi aja sih?
Sebab di masa itu pasti gue sudah lulus kuliah dan bisa menghasilkan uang sendiri! Huaaa. Siapa yang mengira ternyata dia datangnya di tahun ini. Tiga bulan lagi. Dan yang paling penting adalah… penjualan tiketnya dimulai TIGA HARI DARI SEKARANG!!!
Aaaargh! Gila gue gila!
Oke. Gue pelan-pelan menjelaskannya.
Lady Gaga The Born This Way Ball akan diselenggarakan di Gelora Bung Karno Jakarta pada tanggal 3 Juni 2012. Penjualan tiket dibuka mulai tanggal 10 Maret 2011 di FX Jakarta mulai pukul 10.00 pagi. Tidak hanya di Jakarta saja, tetapi juga dijual di Bandung dan Surabaya serta melalui pembelian online.
Harga tiketnya pun termasuk harga tiket konser yang paling masuk akal di kantong gue (dibanding konser-konser artis luar negeri lain kesukaan gue). Yang paling murah sebesar Rp 465.000,- (Tribune 2), selanjutnya adalah Rp 750.000,- (Festival dan Tribune 1). Udah lah ya, gue menginformasikan yang paling murah saja, yang di atas itu gue nggak sanggup nyebutin dan ngeluarin uangnya T.T
Gambar diambil dari http://myticket.co.id
Tapi oh tapi. Lihat gambar venue seating map di atas. Tribune 2 jauuuh bener ya mak! Tapi nggak apa-apa deh. Gue masih punya sisa-sisa tabungan terakhir. Untuk mengembalikan tabungan itu pun gue harus rela memperketat pengeluaran gue.
Masalah pun muncul lagi ketika.. Gue harus nonton sama siapa? Ihik. Gue belum pernah nonton konser besar sendirian.
Jadi, jika ada sahabat blogger yang pengin dan berencana nonton Lady Gaga di tanggal 3 Juni nanti, ajak-ajak gue ya. Gue mohon dengan sangat T.T
Gue anaknya baik kok, nggak nyusahin, insyaallah nggak bakal pingsan di dalam GBK. Suer deh.
Serius lho ini. Sekali lagi ya, kalau ada yang mau nonton konsernya Lady Gaga, barengan yuk, gue belum menemukan teman nih. Dan tentu saja, tiketnya beli sendiri-sendiri lah. Gue buat jajan minuman di jalan waktu pulang dari kampus aja susah, apalagi beliin tiket buat lo.
Buat yang nggak nonton atau nggak tertarik sama Lady Gaga, gue minta doanya saja. Semoga gue jadi nonton Lady Gaga The Born This Way Ball dan mendapatkan teman yang mau nonton bareng gue. Terima kasih : )