Rabu, 12 Juni 2013

Surat Merah Muda dari Kapten Bhirawa



Apakah ada yang sering menunggu pak pos datang? Jika ada, aku salah satunya. Jumat pagi adalah waktu yang paling tepat untuk menunggu sepucuk surat melayang di rerumputan halaman. Surat itu selalu jatuh tepat di ujung kakiku. Jika sudah begitu, surat tersebut aku buka dengan hati riang bukan kepalang. Aku terkadang menyiapkan beberapa lembar tisu, sekadar menjaga jikalau ada air yang lewat di kedua sudut mataku. Air itu mengalir karena sesuatu: pesan rindu yang orang tuaku goreskan di akhir setiap surat-surat itu. 

Sejak kecil, orang tuaku tinggal terpisah denganku. Mereka di Surabaya. Aku di Jakarta. Aku tak bersama mereka karena keadaan saat itu masih sulit sehingga aku tinggal bersama oma di perkampungan Betawi ini. Hingga umurku yang ke-18, aku masih bersama oma. Hal itu semata karena aku merasa bertanggung jawab akan oma. Jika tak ada aku, aku yakin oma tak akan ada hingga kini. Oma tinggal sendiri, hanya aku yang oma punya di rumah ini. Meski aku dan orang tuaku hidup berjauhan sejak lama, orang tuaku tak pernah lupa kepadaku. Satu-satunya cara untuk mengirimkan kabar dan melepas rindu adalah dengan surat yang mereka kirimkan setiap seminggu sekali.

Tapi kali ini lain, yang aku tunggu bukanlah surat dari orang tuaku, melainkan surat dari Kapten Bhirawa. Lamat-lamat musik gambang keromong menjadi latar penantianku hari ini. Jantungku berdegup tak menentu, tak dapat mengimbangi pukulan gendang dari musik gambang keromong yang oma putar pagi ini. Aku pernah mengalami perasaan gugup semacam ini saat pertama kali aku mendapatkan surat cinta dari pacar pertama. Bahkan kali ini seratus kali lebih gugup dibanding waktu itu.  Di tengah lamunan yang diiringi gempitanya bunyi jantungku, tiba-tiba “Kring kring!” suara bel sepeda pertanda surat sebentar lagi akan jatuh di ujung jari kakiku. Aku menangkapnya dengan sigap, sebelum surat itu mencium rumput basah akibat hujan semalam. Aku tersenyum mendapatinya. Sebuah surat berwarna merah muda. Di bagian belakang jelas tertulis, “Dari Kapten Bhirawa”. Ini yang aku tunggu. Hatiku berbunga.

Sesaat kemudian aku berhamburan mencari sosok oma. Tak lama, aku menemukan oma berada di kebun belakang sambil menyeruput kentalnya teh melati dengan mata setengah terpejam menikmati alunan gambang keromong. Aku langsung menyodorkan surat itu kepadanya. Aku menahan kegembiraan sambil setengah berbisik, “Dari Kapten Bhirawa.” Lantas aku buka amplop itu dengan suka cita. Oma melirikku, mengisyaratkan aku untuk membacanya karena mata oma sudah tak terlalu sanggup membaca. Sepintas aku menemukan kalimat yang aku harap di surat itu. Sontak aku memeluk oma dengan erat sambil berkata, “Oma, akhir bulan depan, Kapten Bhirawa akan mempersunting oma.” Senyum oma langsung tersungging di sela paras ayunya. Ya, Kapten Bhirawa adalah seorang veteran yang akan menjadi opaku sebentar lagi.