Liburan Seru: Klaten - Jogja
Tujuan
selanjutnya adalah mengunjungi Galeri Kebaya Jakajeky. Galeri ini merupakan
produsen kebaya yang memproduksi kebaya berpayet secara massal dengan harga
yang terjangkau. Kalau nggak percaya, coba deh, main ke Klaten dan mampir ke
sana. Aduh, promosi gini gue jadinya,
dibayar juga nggak, haha. Di Galeri Kebaya Jakajeky ini, terdapat larangan
untuk mengambil foto. Sebenarnya sebelum membaca larangan itu, gue sudah sempat
jeprat-jepret beberapa situasi di sana sebagai dokumentasi perjalanan, tetapi
untuk menghormati larangan tersebut, gue tidak akan memasukkan foto mereka di blog ini atau media internet yang lain. Maaf ya buat yang punya Jakajeky, gue
ngepromosiinnya jadi setengah-setengah gini kan :p
Setelah
puas bermain-main dengan hal-hal yang berhubungan dengan fashion, kami melanjutkan perjalanan ke toko yang menjual berbagai
macam keripik. Kata bude gue, di Klaten ini terdapat sentra keripik, tetapi
karena bude gue lupa tempatnya, kami hanya mampir ke sebuah toko keripik kecil
yang memiliki merek dagang Ibu Mangun (kalau nggak salah, gue agak lupa, haha).
Yang menjadi ciri khas dari toko keripik Ibu Mangun ini adalah keripik paru. Di
sana kami memborong berbagai macam keripik untuk dikonsumsi sendiri maupun
oleh-oleh. Karena sudah siang dan lapar, gue, tante, dan sepupu gue mencicipi tester keripik yang memang disediakan
untuk pengunjung secara ganas. Gue sampai ketawa-ketawa sendiri melihat
kelakuan kami, tentu saja sambil terus mengunyah tester di sana..
Setelah
puas berbelanja dan “menyicipi” tester,
kami minta kepada penjaga toko untuk melihat proses pembuatan keripik paru yang
kebetulan terletak di belakang toko. Gue langsung teringat ketika gue dulu
kuliah S-1, gue pernah pergi ke sentra keripik tempe di Sanan, Malang.
Pemandangan di pabrik kecil keripik paru ini juga hampir mirip seperti di
Sanan, yaitu pabrik keripik dengan skala Usaha Kecil Menengah (UKM).
Memori-memori gue jadi tersentak kembali ketika melihat pabrik di Klaten ini..
Betapa sesungguhnya berkuliah di jurusan Agribisnis sangat menyenangkan! :D
Berakhirlah
jalan-jalan ke Klaten. Sepulang dari Klaten, gue dan nyokap mampir mengunjungi
rumah pakde gue yang satu lagi yang terletak di samping Monumen Jogja Kembali
(Monjali). Pakde gue ini pecinta kucing, dan ketika gue ke sana, terdapat
seekor anak kucing yang nakal dan lincahnya nggak karuan! Akhirnya gue lebih
banyak menghabiskan waktu di teras rumah pakde gue. Jadi kayak sombong kan gue
jadinya. Gimana lagi dong, salah sendiri pakde-pakde gue pada memelihara kucing
:( Untungnya sih keluarga besar gue rata-rata sudah memahami bahwa gue takut
banget kalau ketemu sama kucing, jadi (semoga saja) mereka memaklumi perilaku
gue. Maaf, ya Pakde..
Malamnya,
gue berkesempatan untuk menyaksikan Jogja Fashion Week 2012 (JFW 2012) yang
diselenggarakan di Jogja Expo Center. Saat itu adalah hari ke-4
diselenggarakannya JFW 2012. Berhubung pakde gue adalah desainer senior di
Jogjakarta, maka gue dan keluarga mendapatkan tempat duduk untuk tamu undangan.
Jarak tempat duduk yang gue duduki dengan panggung catwalk sangatlah dekat, hanya sekitar 90 cm saja. Jadi, gue bisa
melihat lenggokan peragawati dengan mata kepala sendiri secara dekat, namun
sayangnya, malam itu tidak ada satupun peragawan yang tampil, maka gue nggak
bisa menyegarkan mata deh :D
Keesokan
harinya merupakan hari kepulangan gue ke Bekasi. Merasa belum puas kalau ke
Jogja belum ke Malioboro, maka pagi itu gue dan nyokap ditemani tante pergi ke
sana. Sebelumnya, kami pergi terlebih dahulu ke Pasar Beringharjo untuk
membelikan beberapa titipan bude gue. Setelah selesai membelikan titipan,
nyokap mengajak ke salah satu gerai makanan yang berada di dalam pasar. Gue
yang saat itu sebenarnya tidak begitu nafsu untuk jajan, merasa terheran-heran
mengapa nyokap memaksa gue untuk ke gerai itu. Ternyata, di gerai makanan itu
terdapat es campur yang menjadi langgan sejak nyokap tinggal di Jogja. Es
campur ini terdiri atas cincau dan kelapa muda serta sirup merah yang rasanya
gurih kemanisan (sirup inilah yang menjadi kekhasan dari es campur tersebut). Yang
tambah bikin mengejutkan adalah ketika nyokap hendak membayar tiga gelas es
campur, nyokap bertanya “Berapa pak?” dan penjual menjawab “Rp 6.000”. Jadi… satu
gelas es campur harganya hanya Rp 2.000 saja SAUDARA-SAUDARA! Kalau di sekitar
rumah gue Rp 2.000 cuma dapet es batunya aja kali…
Oh
ya, karena gue tipe manusia yang tenggorokannya sensitif sama es-es jalanan, setelah
minum es tersebut, gue sukses flu berat selama dua minggu lamanya. Sebenarnya
gue tidak hanya menyalahkan es itu, tetapi memang keadaan tubuh selama liburan
yang semakin menurun ditambah lagi dengan lingkungan keluarga gue mulai dari
bokap, sepupu, sampai keponakan yang juga terserang flu berat. Bahkan malam
sebelum kepulangan gue ke Bekasi, Nadif yang saat itu sudah terlebih dahulu
flu, sempat mengeluarkan nafasnya dari dalam mulut ketika duduk di sebelah gue,
“Haaah.. Haaah.. Nih, aku sebarin virusnya.” Makasih lho Nadif, aku jadi beneran flu gara-gara disebarin virus sama kamu
>.<
Oke,
cukup intermezzo mengenai flunya..
Dari Beringharjo, kami melanjutkan perjalanan ke sepanjang Malioboro. Tujuan
gue ke Malioboro tentu ada misi khusus yaitu mencari suatu
barang-yang-tak-bisa-gue-ceritakan-di-sini (sok rahasia :p). Berhubung saat itu
adalah hari libur sekolah, maka sepanjang pelataran Malioboro penuh sekali
dengan orang. Perjuangan menerobos kerumunan orang-orang di Malioboro
terbayarkan setelah mendapat beberapa barang yang dibutuhkan.
Di
Malioboro, gue sempat membeli buah ciplukan. Pasti di antara Anda ada yang
kurang familier dengan buah ini. Buah ini bentuknya bulat kecil berwarna hijau
muda. Rasanya manis, kadang manis keasaman. Satu ikat harganya Rp 3.000. Buah
ciplukan diakui nyokap gue sebagai jajanan nyokap di kala beliau SD, saat itu harga
buah ciplukan masih satu sen per ikatnya.. Setiap ke Jogja, gue pasti
menyempatkan diri untuk membeli buah ini, karena sangat sulit menemukan buah
ini di Jabodetabek.
Perjalanan
di Malioboro menutup rangkaian liburan gue kali ini. Malamnya, gue sekeluarga
di jemput travel menuju ke Bekasi.
Sempat terkena macet di jalan, hingga menghabiskan perjalanan Jogja-Bekasi 19
jam lamanya. Meski lelah, semua kisah dalam liburan kali ini membawa kepuasan
tersendiri. Empat bulan perkuliahan terbayarkan oleh sepuluh hari liburan yang
menyenangkan!
Maka,
berakhirlah artikel-artikel liburan gue di pertengahan tahun ini. Bagi yang
sudah bosan dengan cerita-cerita ini, selamat ya, sudah selesai nih kisah
perjalanan gue :p