Tampilkan postingan dengan label Libur telah tiba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Libur telah tiba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

Liburan Seru: Klaten - Jogja

Hari ke-4 di Jogja, gue dan nyokap diajak pakde berjalan-jalan ke Klaten. Tujuan pertama adalah mengunjungi Yoga Art Design, yaitu sebuah toko yang menjual lurik. Bagi yang belum mengetahui apa itu lurik, lurik adalah kain tenun khas Jawa yang memiliki motif garis-garis. Di toko ini terhampar berbagai macam warna lurik. Selain menjual kain, toko ini juga menjual pakaian jadi dan juga bantal-bantal berbahan dasar lurik. Lurik yang biasa gue temui adalah lurik yang teksturnya kasar, namun tidak untuk kain lurik di Yoga Art Design, karena lurik yang mereka produksi adalah lurik bertekstur halus dan nyaman untuk dikenakan. Nyokap membelikan gue sebuah kain lurik berwarna hijau muda. Terima kasih, ibu…

Gue diantara lurik-lurik
Tujuan selanjutnya adalah mengunjungi Galeri Kebaya Jakajeky. Galeri ini merupakan produsen kebaya yang memproduksi kebaya berpayet secara massal dengan harga yang terjangkau. Kalau nggak percaya, coba deh, main ke Klaten dan mampir ke sana. Aduh, promosi gini gue jadinya, dibayar juga nggak, haha. Di Galeri Kebaya Jakajeky ini, terdapat larangan untuk mengambil foto. Sebenarnya sebelum membaca larangan itu, gue sudah sempat jeprat-jepret beberapa situasi di sana sebagai dokumentasi perjalanan, tetapi untuk menghormati larangan tersebut, gue tidak akan memasukkan foto mereka di blog ini atau media internet yang lain. Maaf ya buat yang punya Jakajeky, gue ngepromosiinnya jadi setengah-setengah gini kan :p

Setelah puas bermain-main dengan hal-hal yang berhubungan dengan fashion, kami melanjutkan perjalanan ke toko yang menjual berbagai macam keripik. Kata bude gue, di Klaten ini terdapat sentra keripik, tetapi karena bude gue lupa tempatnya, kami hanya mampir ke sebuah toko keripik kecil yang memiliki merek dagang Ibu Mangun (kalau nggak salah, gue agak lupa, haha). Yang menjadi ciri khas dari toko keripik Ibu Mangun ini adalah keripik paru. Di sana kami memborong berbagai macam keripik untuk dikonsumsi sendiri maupun oleh-oleh. Karena sudah siang dan lapar, gue, tante, dan sepupu gue mencicipi tester keripik yang memang disediakan untuk pengunjung secara ganas. Gue sampai ketawa-ketawa sendiri melihat kelakuan kami, tentu saja sambil terus mengunyah tester di sana..

Setelah puas berbelanja dan “menyicipi” tester, kami minta kepada penjaga toko untuk melihat proses pembuatan keripik paru yang kebetulan terletak di belakang toko. Gue langsung teringat ketika gue dulu kuliah S-1, gue pernah pergi ke sentra keripik tempe di Sanan, Malang. Pemandangan di pabrik kecil keripik paru ini juga hampir mirip seperti di Sanan, yaitu pabrik keripik dengan skala Usaha Kecil Menengah (UKM). Memori-memori gue jadi tersentak kembali ketika melihat pabrik di Klaten ini.. Betapa sesungguhnya berkuliah di jurusan Agribisnis sangat menyenangkan! :D
Mesin pemotong paru
Proses pembumbuan keripik paru
Proses penggorengan keripik paru
Berakhirlah jalan-jalan ke Klaten. Sepulang dari Klaten, gue dan nyokap mampir mengunjungi rumah pakde gue yang satu lagi yang terletak di samping Monumen Jogja Kembali (Monjali). Pakde gue ini pecinta kucing, dan ketika gue ke sana, terdapat seekor anak kucing yang nakal dan lincahnya nggak karuan! Akhirnya gue lebih banyak menghabiskan waktu di teras rumah pakde gue. Jadi kayak sombong kan gue jadinya. Gimana lagi dong, salah sendiri pakde-pakde gue pada memelihara kucing :( Untungnya sih keluarga besar gue rata-rata sudah memahami bahwa gue takut banget kalau ketemu sama kucing, jadi (semoga saja) mereka memaklumi perilaku gue. Maaf, ya Pakde..

Malamnya, gue berkesempatan untuk menyaksikan Jogja Fashion Week 2012 (JFW 2012) yang diselenggarakan di Jogja Expo Center. Saat itu adalah hari ke-4 diselenggarakannya JFW 2012. Berhubung pakde gue adalah desainer senior di Jogjakarta, maka gue dan keluarga mendapatkan tempat duduk untuk tamu undangan. Jarak tempat duduk yang gue duduki dengan panggung catwalk sangatlah dekat, hanya sekitar 90 cm saja. Jadi, gue bisa melihat lenggokan peragawati dengan mata kepala sendiri secara dekat, namun sayangnya, malam itu tidak ada satupun peragawan yang tampil, maka gue nggak bisa menyegarkan mata deh :D
Pakde Goet Poespo memberikan karangan bunga kepada para desainer 
Pakde Goet Poespo berfoto bersama desainer di JFW 2012
Salah satu karya desainer di panggung JFW 2012
Keesokan harinya merupakan hari kepulangan gue ke Bekasi. Merasa belum puas kalau ke Jogja belum ke Malioboro, maka pagi itu gue dan nyokap ditemani tante pergi ke sana. Sebelumnya, kami pergi terlebih dahulu ke Pasar Beringharjo untuk membelikan beberapa titipan bude gue. Setelah selesai membelikan titipan, nyokap mengajak ke salah satu gerai makanan yang berada di dalam pasar. Gue yang saat itu sebenarnya tidak begitu nafsu untuk jajan, merasa terheran-heran mengapa nyokap memaksa gue untuk ke gerai itu. Ternyata, di gerai makanan itu terdapat es campur yang menjadi langgan sejak nyokap tinggal di Jogja. Es campur ini terdiri atas cincau dan kelapa muda serta sirup merah yang rasanya gurih kemanisan (sirup inilah yang menjadi kekhasan dari es campur tersebut). Yang tambah bikin mengejutkan adalah ketika nyokap hendak membayar tiga gelas es campur, nyokap bertanya “Berapa pak?” dan penjual menjawab “Rp 6.000”. Jadi… satu gelas es campur harganya hanya Rp 2.000 saja SAUDARA-SAUDARA! Kalau di sekitar rumah gue Rp 2.000 cuma dapet es batunya aja kali…
Es Campur di Pasar Beringharjo
Ini dia gerainya
Oh ya, karena gue tipe manusia yang tenggorokannya sensitif sama es-es jalanan, setelah minum es tersebut, gue sukses flu berat selama dua minggu lamanya. Sebenarnya gue tidak hanya menyalahkan es itu, tetapi memang keadaan tubuh selama liburan yang semakin menurun ditambah lagi dengan lingkungan keluarga gue mulai dari bokap, sepupu, sampai keponakan yang juga terserang flu berat. Bahkan malam sebelum kepulangan gue ke Bekasi, Nadif yang saat itu sudah terlebih dahulu flu, sempat mengeluarkan nafasnya dari dalam mulut ketika duduk di sebelah gue, “Haaah.. Haaah.. Nih, aku sebarin virusnya.” Makasih lho Nadif, aku jadi beneran flu gara-gara disebarin virus sama kamu >.<

Oke, cukup intermezzo mengenai flunya.. Dari Beringharjo, kami melanjutkan perjalanan ke sepanjang Malioboro. Tujuan gue ke Malioboro tentu ada misi khusus yaitu mencari suatu barang-yang-tak-bisa-gue-ceritakan-di-sini (sok rahasia :p). Berhubung saat itu adalah hari libur sekolah, maka sepanjang pelataran Malioboro penuh sekali dengan orang. Perjuangan menerobos kerumunan orang-orang di Malioboro terbayarkan setelah mendapat beberapa barang yang dibutuhkan.

Di Malioboro, gue sempat membeli buah ciplukan. Pasti di antara Anda ada yang kurang familier dengan buah ini. Buah ini bentuknya bulat kecil berwarna hijau muda. Rasanya manis, kadang manis keasaman. Satu ikat harganya Rp 3.000. Buah ciplukan diakui nyokap gue sebagai jajanan nyokap di kala beliau SD, saat itu harga buah ciplukan masih satu sen per ikatnya.. Setiap ke Jogja, gue pasti menyempatkan diri untuk membeli buah ini, karena sangat sulit menemukan buah ini di Jabodetabek.
Buah Ciplukan
Perjalanan di Malioboro menutup rangkaian liburan gue kali ini. Malamnya, gue sekeluarga di jemput travel menuju ke Bekasi. Sempat terkena macet di jalan, hingga menghabiskan perjalanan Jogja-Bekasi 19 jam lamanya. Meski lelah, semua kisah dalam liburan kali ini membawa kepuasan tersendiri. Empat bulan perkuliahan terbayarkan oleh sepuluh hari liburan yang menyenangkan!

Maka, berakhirlah artikel-artikel liburan gue di pertengahan tahun ini. Bagi yang sudah bosan dengan cerita-cerita ini, selamat ya, sudah selesai nih kisah perjalanan gue :p

Sabtu, 11 Agustus 2012

Liburan Seru: Sangam House Jogjakarta

Jika Anda mudah tergoda oleh makanan India, terlebih di bulan puasa, gue sarankan untuk tidak melanjutkan membaca artikel ini :p


Malam hari ke-3 di Jogja, gue sekeluarga diajak Pakde gue makan malam di sebuah restoran India yang bernama Sangam House. Sebelumnya gue sudah pernah melihat restoran ini ketika diliput dalam sebuah acara televisi. Ketika sampai di sana, kami di sambut oleh pelayan yang wajahnya seperti orang India (mungkin saja dia memang keturunan India) dan dari halaman depan kita sudah dapat melihat suasana India bahkan dari pintu masuknya sekalipun.

Masuk ke dalam, ternyata oh ternyata, bagian depan Sangam House ini merupakan butik yang menjual kain-kain, aksesoris, sampai peralatan rumah tangga bertema India. Sedangkan untuk restorannya sendiri, terletak di bagian belakang.

Pakde gue sebelumnya sudah memesan tempat dan makanan, sehingga kami langsung dibawa ke sebuah ruangan yang sudah mereka tata mejanya menjadi meja besar. Setelah mengambil tempat duduk masing-masing, pelayan langsung menyuguhkan Papadum. Papadum ini merupakan snack pembuka yang menurut gue bentuk dan rasanya mirip-mirip kerupuk Opak (ingat Keluarga Cemara? :p), namun yang berbeda adalah cara makannya yang dicelupkan ke dalam kuah berwarna hijau dengan rasa mint segar dan sedikit asam, yang belakangan gue tahu bernama kuah Pani. Untuk Papadum, bisa gue beri nilai 3 dari 5.
Papadum (Rp 10.500) - Kuah Pani
Seketika makanan berikutnya datang, yaitu Maharani Soup. Porsinya memang tidak banyak, justru menurut gue cukup, karena ini merupakan makanan pembuka. Sup ini terdiri atas wortel dan entah dedaunan apa. Rasanya pedas keasaman. Nilai untuk makanan ini 2,5 dari 5.
Maharani Soup (Rp 16.500)
Setelah sup habis, pelayan mengantarkan makanan-makanan utama. Makanan yang pertama sampai ke meja adalah Plain Naan, dimana jenis makanan ini cukup membuat mata gue terbelalak, karena mirip seperti Taco (roti Meksiko) yang nyokap gue sering buat di rumah. Karena sudah biasa makan, gue nggak akan memberikan nilai apapun untuk makanan ini *curang
Plain Naan (Rp 6.000)
Makanan selanjutnya adalah Butter Chicken yang turut disajikan bersama salad dan kuah Pani. Butter Chicken ini merupakan fillet ayam yang dimasak menggunakan rempah-rempah. Gue nggak terlalu suka. Nilainya 1,5 dari 5.
Butter Chicken (Rp 43.000)
Nah.. Karena gue adalah seorang pecinta keju, maka Palak Paneer menjadi salah satu makanan kesukaan gue di sini. Palak Paneer merupakan keju India yang dimasak dengan saus bayam. Tapi jangan berharap rasa kejunya asin, ya. Sebab menurut gue rasa keju ini hambar tapi sensasinya berbeda. Wajib dicoba! Nilainya 3,5 dari 5.
Palak Paneer (Rp 32.000)
Terdapat dua macam nasi yang kami pesan, yakni Java Rice dan Jeera Rice. Java Rice merupakan nasi biasa seperti yang orang Indonesia biasa makan, sedangkan Jeera Rice adalah nasi khas India yang dicampur dengan mentega dan jinten. Jika kita teliti, bentuk dari kedua nasi ini berbeda lho.. Jeera rice bentuknya lebih panjang dan berujung lancip dibandingkan dengan nasi Indonesia. Nilai untuk Jeera Rice adalah 3 dari 5, sedangkan Java Rice nggak usah dinilai, haha!
Java Rice (Rp 5.500)
Jeera Rice (Rp 21.000)
Berikutnya adalah Prawn Goa Vindaloo yang menurut gue salah satu juara di sini. Udang dengan rasa asam pedas yang konon katanya dimasak dengan tomat dan bumbu-bumbu. Nilai untuk makanan ini adalah 4 dari 5.
Prawn Goa Vindaloo (Rp 47.000)
Setelah udang, sajian yang tidak kalah juara adalah Madras Mutton Curry. Makanan ini merupakan kari kambing muda yang dimasak dengan kelapa dan wijen. Nilainya adalah 4 dari 5. Gue suka sekali dengan Madras Mutton Curry ini. Sangat gue rekomendasikan!
Madras Mutton Curry (Rp 32.000)
Makanan selanjutnya adalah Chicken Tandoori yang rupanya sama seperti Butter Chicken karena disajikan bersama salad dan kuah Pani. Chicken Tandoori ini adalah potongan paha atas beserta paha bawah ayam. Warnanya merah menyala, entah dimasak dengan bumbu apa. Nilainya 2  dari 5. Entah mengapa, menurut gue makanan berbahan dasar ayam di restoran ini kurang begitu enak.
Chicken Tandoori (Rp 32.000)
Chapati ini mirip dengan Plain Naan namun lebih tipis dan renyah. Berbeda dengan Plain Naan, Chapati ini ada sensasi rasa gosongnya. Nilai untuk makanan ini adalah 3,5 dari 5.
Chapati (Rp 6.000)
Puas dengan rupa-rupa makanan utama India, selanjutnya kami memesan makanan penutup. Makanan penutup adalah Kulfi, yaitu es krim berbahan dasar susu, almond, dan pistaccio. Yang menarik adalah es krim ini diwadahi oleh pot tembikar berukuran kecil dan es krimnya terasa keras ketika disendoki karena terlalu beku, padahal sebenarnya tekstur es krim tersebut lembut. Saat itu Nadif tidak menghabiskan Kulfi-nya karena sedang pilek, sehingga Kulfi miliknya dihibahkan kepada gue. Tidak tanggung-tanggung, gue mendapatkan satu pot kulfi lagi dari Pakde gue. Merasa berlebih, gue sumbangkan satu pot tersebut kepada Rangga, sepupu gue. Nilai untuk Kulfi adalah 5 dari 5. Hingga sekarang gue masih kangen dengan rasa Kulfi ini, semoga lain kali bisa merasakannya lagi :9
Kulfi (Rp 15.000)
Setelah belum kenyang dengan semua makanan yang dipesan, gue berjalan-jalan ke seluruh ruangan di Sangam House. Restoran ini memang tidak terlalu besar. Ruangan untuk makan terdiri atas empat ruangan yang berwarna kuning, biru, merah, dan warna yang terakhir ini gue lupa, kalau tidak salah sih, oranye.
Keluarga gue dan ruangan makan berwarna kuning
Main ke ruangan biru aah!
Salah satu lukisan yang tergantung di Sangam House 
Semacam lampion, penghias di langit-langit restoran
Terima kasih pakde Goet atas makan malam Indianya.. Semoga suatu saat nanti keponakanmu ini bisa makan makanan India di negara asalnya :)

Pulang dari Sangam House, di mobil, Shafa bercerita tentang pengalamannya ke rumah hantu. Posisi gue saat itu sedang duduk bersama Nadif di jok paling belakang. Gue melihat mata Nadif sudah mulai terpejam. Gue antusias mendengar cerita Shafa dan memancingnya dengan banyak pertanyaan seputar rumah hantu yang ia datangi tempo hari. Tiba-tiba Nadif terbangun dan merekatkan kedua tangan ke kupingnya, “Aaa.. Aku nggak mau dengar. Aku nggak mau dengar!” Gue melirik Nadif, senyum sebentar, namun tidak terlalu gue hiraukan karena ingin terus mendengarkan cerita Shafa. Sebenarnya ada perasaan ingin menggoda Nadif juga sih..<- bibi tak tahu diri

Cerita Shafa semakin lama (mungkin) menurut Nadif semakin seram (kalau gue sih ketawa-ketawa aja dengarnya), tak terasa air mata Nadif mulai turun, “Udaaaah! Udaaah!” ujarnya sambil terisak. Gue memeluk Nadif, “Iya udah udah. Nggak apa-apa kok.” Eh Shafa malah semakin melanjutkan ceritanya dan tangisan Nadif semakin menjadi-jadi. Huaaa.. gue yang jadi bingung. Untungnya mobil sudah sampai di depan rumah bude gue. Setelah orang-orang di jok tengah turun, Nadif segera turun dari mobil dan segera loncat ke dalam pelukan Shafa. Di sini gue melihat pemandangan yang menggelikan saat Shafa berinisiatif menggendong Nadif masuk ke dalam rumah! Gimana gue nggak mau geli, Shafa kan masih kelas 2 SMA dan Nadif sudah kelas 5 SD, kenapa pakai acara gendong-gendongan. Hahaha. Hubungan persepupuan yang cute sekali :D
Nadif (masih terisak), digendong oleh Shafa
Nantikan sambungan cerita liburan gue berikutnya ya :)

(Bersambung ke artikel berikutnya)…

Minggu, 05 Agustus 2012

Liburan Seru: Magelang - Jogja

Seperti biasa, sebelumnya gue mau memohon maaf untuk rekan blogger yang berpuasa karena artikel ini akan banyak sekali foto makanan. Jika masih berkenan membaca, silakan dilanjutkan. Nggak berkenan, ya sudah, sana pergi! :p

Hari ketiga di Jogja, yang menjadi tujuan adalah pergi ke Magelang. Di Magelang, kami berziarah ke makam kakak nyokap gue, setelah itu mampir sebentar ke dalam sekolah keponakan gue, Shafa, di SMA Taruna Nusantara. Saat itu siswa-siswa baru di sekolahan itu sudah mulai masuk asrama. Terlihat gerombolan siswa berpakaian putih-biru berjalan dalam beberapa barisan. Lucunya, ketika mobil kami lewat, siswa-siswa tersebut berhenti dan memberi hormat kepada kami. Ternyata, bukan hanya mobil kami saja yang diberi hormat, melainkan setiap kendaraan yang masuk ke sana dan setiap orang yang lebih tua dari mereka (misal: siswa senior) turut mereka berikan hormat.

Selepas dari sana, kami mampir ke Warung Makan Mbak Tri 2. Bude gue sudah lama mengiming-imingi nyokap gue tentang makanan-makanan di warung ini. Keistimewaan dari warung makan ini adalah Mangut Beong-nya.
Warung Makan Mbak Tri 2
Sebelum ke warung ini, gue bertanya-tanya apaan sih Beong? Ternyata ikan Beong mirip dengan ikan Lele, tapi ukurannya lebih besar dari ikan Lele normal. Rasanya gurih-gurih sedap dengan paduan kuah pedas. Skornya 4 dari 5. Mohon maaf gue tidak bisa mencantumkan keterangan harga karena gue tidak menanyakannya.
Mangut Beong
Mangut Kepala Beong
Warung makan ini juga menjual ikan Jambal. Sayang, gue tidak mencicipinya karena saat itu gue duduk di ujung meja, sedangkan si ikan Jambal terletak di ujung meja yang satunya.. Tapi sebelumnya sudah sempat gue foto.
Jambal
Selain Mangut Beong dan Jambal, mereka juga menjual Telur Beong Goreng. Kalau menurut gue pribadi sih, masih lebih enak telur ikan Kakap dibandingkan telur Beong. Skor untuk Telur Beong Goreng ini 2,5 dari 5. Untuk sayurnya, kami memesan Lompong dan Tumis Buncis. Lompong, yang merupakan batang pohon talas, adalah jenis sayur yang belum pernah gue makan sebelumnya yang ternyata membuat gue ketagihan setelah mencobanya, dan untuk kedua masakan sayur ini gue beri nilai 3,5 dari 5. Cita rasa keseluruhan di warung makan ini boleh gue katakan: lezaaat!
Telur Beong Goreng dan Lompong
Tumis Buncis
Setelah memanjakan perut, kami pergi ke Candi Mendut. Tiket masuknya Rp 3.300 saja. Ini merupakan kali pertama gue berkunjung ke Candi Mendut..

Candi Mendut 
Candi Mendut dari Sisi Depan
Tiket masuk Candi Mendut
Candi ini memang tidak sebesar Candi Borobudur atau Candi Prambanan, namun menurut gue tetap mengagumkan.

Setelah melongok ke dalam, terdapat patung Buddha yang berukuran amat besar
.
Buddha
Salah satu relief di Candi Mendut
Entah ini apa, letaknya di sisi kanan Candi Mendut. Ada yang tahu?
Gue tidak terlalu lama berada di Candi Mendut karena pakde yang mengantarkan kami harus cepat-cepat kembali ke Jogja. Maka, berakhirlah jalan-jalan kami ke Magelang siang hari itu. Sorenya, gue dan nyokap dijemput oleh sepupu untuk mengunjungi makam eyang buyut, eyang kakung, dan eyang putri gue. Selesai berziarah, gue melihat sebuah gerobak Kue Leker. Seakan membaca pikiran gue, nyokap bertanya, “Kamu mau Leker?” Iya dong Bu, di Jabodetabek kan nggak pernah ketemu Leker… Dengan mata berbinar gue segera membeli beberapa Leker. Untuk yang belum tahu seperti apa kue ini, cukup bayangkan saja dengan Crepes, karena persis seperti kulit Crepes dan tengahnya diolesi selai atau taburan coklat maupun keju, serta tidak lupa potongan pisang. Gue curiga, mungkin cikal bakal Crepes ini sebenarnya dari Leker :p Harga Kue Leker ini cukup Rp 1.000 untuk rasa coklat, kacang, nanas, blueberry, atau strawberry. Untuk rasa keju dan campuran, diberi harga Rp 1.500.
Kue Leker rasa coklat dan blueberry
Yang menarik di sini adalah cara memasaknya. Kalau kita biasa lihat cara memasak Crepes dengan cara adonan dituang di atas wajan datar kemudian dioles dengan sendok khusus, di tempat gue beli Kue Leker ini, mas penjualnya menenggelamkan pantat penggorengan ke dalam baskom adonan kemudian ditaruh di atas kompor. Menarik!
Sesaat setelah pantat penggorengan ditenggelamkan ke dalam baskom adonan
Proses “penggorengan” Kue Leker
Tidak sebatas ini saja, liburan gue di Jogja masih panjang lagi ceritanya. Jangan bosan-bosan ya, baca cerita gue :p

(Bersambung ke artikel berikutnya)…


Sabtu, 28 Juli 2012

Liburan Seru: Surabaya - Jogjakarta

Hai blogger, gimana puasanya? Masih semangat kan? Semangat mengikuti cerita liburan gue, maksudnya :p

(Sekali lagi, maaf untuk Anda-Anda yang tidak kuat menahan lapar dan haus selama puasa, gue sarankan untuk tidak melanjutkan membaca artikel kali ini. Karena akan ada beberapa foto makanan dan minuman di sini.)

Dari Malang, gue sampai di Surabaya pukul 17.30. Agak lambat karena travel harus mengantarkan penumpang lainnya ke Bandara Juanda terlebih dahulu. Tiba di Surabaya, sudah seperti orang habis turun gunung. Udaranya jauh berbeda dengan Malang. Kipas angin di rumah tante menjadi andalan kembali..

Keesokan harinya, gue, nyokap, dan bokap jalan-jalan sore. Rumah tante gue berada di salah satu kompleks perumahan Wiyung. Dari rumah tante, kami berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan utama Wiyung. Kalau boleh dibandingkan sih, gue membayangkan jalan di Wiyung ini seperti jalanan Kalimalang Bekasi - Jakarta Timur, karena panjang dan lalu lintasnya padat.

Tujuan utama kami dari jalan-jalan kali itu adalah mencari jajanan. Nyokap ingin Rujak Cingur. Gue tidak menginginkan sesuatu yang spesifik, karena apapun makanan khas Surabaya pasti gue doyan!

Di tengah perjalanan, kami menemukan Royal Square. Karena belum pernah masuk ke sana,  kami mampir sejenak ke supermarketnya.
Royal Square

Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan dan menemukan warung penjual rujak cingur namun sedang tutup. Tidak kecewa, kami kembali berjalan namun sepertinya memang tidak ada lagi warung penjual rujak cingur yang lain. Sudah jalan sejauh itu rasanya sia-sia kalau tidak jajan apapun. Akhirnya pilihan jatuh kepada Lontong Balap dan Es Degan. Makanan ini adalah makanan kesukaan kakak gue, sayang dia tidak ikut dalam liburan kali ini karena sedang menjadi suami siaga. Hai Emas, gue makan Lontong Balap dooong!

Lontong Balap ini terdiri atas lontong, tahu, tauge, lento (gue kurang tahu persis komposisinya apa, yang jelas merupakan gorengan), dengan kuah dan petis tentunya. Rasanya enak namun menurut gue kuah yang disajikan di warung tersebut kurang hangat. Apalagi kalau liburan seperti ini gue agak khawatir sakit perut, jadinya tidak semua petis gue campurkan. Padahal sesungguhnya petis adalah “nyawa” setiap kuliner khas Surabaya.
Lontong Balap (Rp 5.000 saja!)

Mari beralih kepada Es Degan. Kalau di antara Anda ada yang bertanya, apaan sih Es Degan? Es Degan adalah sebutan untuk Es Kelapa Muda. Orang tua gue sih beranggapan kalau Es Degan di Surabaya berbeda dengan Es Kelapa Muda di tempat-tempat lain, karena kelapanya memang benar-benar muda dan rasanya gurih kemanisan. Ditambah lagi dengan es yang bikin “nendang” di antara panasnya udara Surabaya.
Es Degan (Rp 3.000)

Perut kenyang dengan Lontong Balap dan Es Degan, kami kembali ke rumah tante gue. Di rumah tante gue, gue pun kembali menyikat makanan-makanan yang ada. Habis gimana dong, udah disikat, tapi tetap aja itu makanan nggak ada habisnya *alasan

Besok paginya, gue beserta bokap nyokap melanjutkan liburan ke Jogjakarta. Kami diantarkan oom gue ke Terminal Bungurasih untuk menaiki bus ke Jogja. Saatnya melambaikan tangan ke kota bokap gue dan bersiap menuju kota nyokap gue..

Berangkat dari Bungurasih pukul 08.00, sampai Jogja jam 17.30. Di Jogja, kami menginap di rumah bude gue. Di rumah itu kebetulan sedang ada keponakan gue, Nadif, 9 tahun, yang sedang liburan sekolah. Nadif adalah cucu dari bude gue, dia “terbang” sendirian dari Batam, lho, tanpa ditemani orangtuanya, hebat ya! Selain itu ada juga Shafa, cucu bude gue yang satu lagi, dia saat ini sedang bersekolah di SMA Taruna Nusantara. Kedua ponakan gue inilah yang memanggil gue dengan sebutan Bibi.  

Ternyata, nyokap gue saat itu dilanda kurang enak badan. Jadinya malam itu, gue sekeluarga hanya beristirahat saja. Esok harinya nyokap gue masih sakit, sebenarnya ini menjadi semacam peringatan juga untuk gue, bahwa gue harus menjaga kesehatan sebaik mungkin, karena liburan dibumbui penyakit itu sangat-sangatlahlah merugi. Namun alhamdulillah, nyokap masih bisa memaksakan keadaannya untuk mengunjungi rumah pakde gue di Kaliurang. Maka kami sekeluarga bersilaturahmi ke sana. Kemudian tante gue mengajak kami ke Cangkringan, salah satu kawasan Gunung Merapi yang saat ini dijadikan objek wisata dalam melihat Gunung Merapi secara lebih dekat. Tanpa persiapan baju hangat apapun, kami meluncur ke sana.

Sesampainya di sana, satu orang dikenakan tarif sebesar Rp 3.000 dan mobil dikenakan tarif Rp 5.000. Gue merasa beruntung bisa ke tempat itu, menyaksikan sendiri rumah-rumah yang rusak dan pepohonan yang kering akibat letusan Merapi beberapa tahun lalu. Kata tante gue, keadaan saat ini sudah lebih baik dan maju dibandingkan setelah bencana tersebut, karena beberapa rumah-rumah penduduk sudah kembali normal dan pohon-pohon mulai menghijau. Di sana, gue bisa mengabadikan Gunung Merapi dengan mata kepala gue sendiri. Subhanallah.
Puncak Gunung Merapi

Udara di Cangkringan terasa dingin, ditambah hembusan angin sore yang semakin bikin merinding. Ternyata, di tempat itu juga disediakan fasilitas ojek dan mobil besar untuk menuju ke beberapa titik wisata lain (tentunya terdapat biaya untuk masing-masing kendaraan). Bahkan, ada paket yang menyediakan fasilitas untuk menuju rumah Alm. Mbah Maridjan. Namun gue tidak sempat mencoba ke tempat-tempat tersebut karena langit sudah mulai gelap, percuma jika nantinya tidak kelihatan apa-apa.
Terlihat di tengah ada sesuatu berwarna biru, di sanalah lokasi rumah Alm. Mbah Maridjan


Kali tempat aliran lahar Gunung Merapi

Puas berfoto ria, kami kembali pulang ke rumah bude. Setelah itu bude gue mengajak kami makan malam di restoran Malaysia.

Menu makanan di Restoran Bukit Bintang (kok gue jadi hobi memotret menu makanan ya?)
Di restoran itu, terbagi dua jenis masakan, yaitu Chinese Malay dan Indian Malay. Gue memesan Laksa Penang yang ternyata masuk dalam kategori Chinese Malay. Gue baru tahu kalau laksa itu terpengaruh kuliner Cina. Rasanya? Maaf-maaf nih, bukannya nggak cinta negara sendiri, tapi menurut gue lebih enak dari Laksa Indonesia. Kalau di Indonesia Laksa terdiri atas lontong, bihun, dan tauge dengan kuah santan kuning, Laksa Penang terdiri atas mie kuning, tauge, bakso ikan, dan udang dengan kuah merah yang rasanya mirip Tom Yam. Yumm!
Laksa Penang (Rp 12.500)

Untuk minuman, gue pesan Teh Rempah yang rasanya sangat enak dan menghangatkan tubuh. Kalau boleh sok-sokan ngasih skor, gue kasih skor 4 dari 5 deh untuk tehnya. Kalau Laksa Penang yang tadi gue beri skor 5 (karena enak parah!).
Teh Rempah (Rp 7.500), yang warna putih itu susu kental manis, sebelum diminum diaduk terlebih dahulu
Teh Rempah setelah diaduk

Pakde gue memesan Kwetiau Kuah, sedangkan bokap gue memesan Kwetiau Goreng. Gue sempat menyicipi Kwetiau Gorengnya, bolehlah gue beri skor 4 dari 5.
Kwetiau Kuah (Rp 12.500)
Kwetiau Goreng (Rp 12.500)

Selain itu, bude gue memesan beberapa Roti Chanai Kari. Roti Chanai ini jika dimakan tanpa Kuah Kari rasanya agak asin, namun jika dipadu dengan Kuah Kari rasanya menjadi sangat nikmat.
Roti Chanai Kari (Rp 7.000)

Nadif memesan Bakmi Goreng. Untuk Bakmi Goreng, gue beri skor 3 dari 5. Saat gue sedang sibuk memotret makanan, Nadif berkata, “Bibi, makanan aku kok belum difoto ya?” Iya iya, sini aku foto sama kamunya sekalian…
Nadif (tidak dijual) dan Bakmi Goreng (Rp 12.500)

Secara keseluruhan, makanan di Restoran Bukit Bintang ini rasanya pas sekali di lidah gue. Bumbunya sangat terasa namun tidak membuat enek. Harganya pun terhitung murah untuk makanan sekelas ini. Patut dicoba kalau Anda sedang main ke Jogja.

Oh ya, pas di restoran ini kebetulan di meja lain sedang berkumpul bule-bule lucu. Gue nggak bisa flirting deh, soalnya saat itu gue bersama keluarga. Kalau sama teman-teman, mungkin lain lagi ceritanya. Hahaha :)

(Bersambung ke artikel berikutnya...)