Tampilkan postingan dengan label Pertama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertama. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

Selamanya



Selamanya aku kira pada awalnya merupakan sebuah kata yang selalu bermakna positif.
Misalnya dalam kalimat berikut ini.

Aku mencintaimu selamanya.

Namun aku salah.  Aku telah melupakan kalimat:

Aku akan meninggalkanmu untuk selamanya.

Seperti pada malam itu, ia mengatakan kalimat yang hampir mirip dengan nada yakin di teras rumahku, “... selamanya.” yang kemudian aku lemparkan selembar tissue ke badannya.

Tuhan sedang baik kala itu. Motorikku lemah, hampir setiap hal yang aku lempar maupun tangkap tidak pernah kena sasaran, tapi tidak pada malam itu.

Wajahku panas. Dihiasi amarah yang membuncah.

.
.
.


“Kok nggak nulis blog lagi, Kak? Kan lagi sedih,” ujar seorang teman baik di kantor.

Ya, gue memang cenderung berkarya tatkala perasaan gue sedang tidak bahagia. Coba tilik prosa dan puisi gue, lebih dari tiga perempatnya adalah karya-karya yang tertuang dari rasa pahit dan juga getir.

Namun, yang ini berbeda. Jari-jemari seakan berat untuk membahas tentangnya. Mungkin karena semua yang berhubungan dengannya menimbulkan sakit dan membangkitkan trauma. Begitu kuat efeknya.

Hari ini, tepat dua puluh hari sejak kejadian itu terjadi, gue berani untuk mengangkat kepala dan menulis lagi. Meski yang akan gue beritahukan adalah hal sedangkal:

aku tidak pernah disakiti hingga patah hati sehebat ini.

Gambar diambil dari weheartit

8 Juli 2016

Selasa, 04 Desember 2012

Dosa Sang Maestro


“Sebelah kanan ada Idris Sardi, lho!” seru teman gue.

Mana? Kita kan memang duduk di sebelah kanan. - batin gue dalam hati.

Begitu gue tengok ke kanan bawah, ah benar. Maestro itu sedang duduk ditemani salah seorang anggota keluarganya.

***

Kemarin, gue berangkat ke kampus untuk mengikuti salah satu mata kuliah reguler. Sampai di lobi fakultas, banyak orang yang memakai atribut pakaian daerah Sumatra. Gue pikir, oh mungkin sedang ada acara. Gue tidak terlalu banyak memusingkan hal itu dan bergegas menuju kelas. Setelah menunggu kira-kira lima belas menit, dosen tak kunjung datang. Gue dan teman-teman lalu berjalan menuju Gedung IX untuk mengetahui sedang ada acara apa yang berlangsung.

Di depan Auditorium Gedung IX ternyata sudah banyak sekumpulan orang yang mengantri untuk mengisi absen acara itu. Gue dan teman-teman memutuskan untuk mengisi absen dan masuk ke dalam Auditorium. Kami memilih barisan tempat duduk di sayap kanan. Ketika hendak duduk, di situlah terjadi percakapan yang menjadi ilustrasi pembuka dalam artikel ini.

Ya, acara tersebut ternyata merupakan acara Dies Natalis FIB UI yang ke-9 Windu. Dies Natalis kali ini bertajuk tentang Bumi Sriwijaya. Salah satu tamu yang turut diundang adalah Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.

Acara diawali dengan tarian daerah Palembang. Setelah itu, pembawa acara mulai membuka acara. Kemudian Idris Sardi dipanggil ke atas panggung untuk memainkan lagu Indonesia Raya, seluruh orang yang datang ke acara tersebut dipersilakan berdiri.

Untuk pertama kalinya gue mendengar langsung lagu Indonesia Raya dimainkan oleh Maestro biola Indonesia. Yang terjadi adalah bulu kuduk gue berdiri sepanjang lagu karena mengagumi gesekan biola beliau. Bahkan, dua teman yang berdiri di samping kanan dan kiri gue, mbak Heidy dan mbak Mamay, menitikkan air matanya. Gue jadi menyesal, mengapa saat itu gue tidak merekamnya. Namun alunan biola lagu Indonesia Raya tersebut masih berdendang di telinga gue hingga kini.


Setelah Indonesia Raya, beliau memainkan lagu Bagimu Negeri. Tidak mau mengulang penyesalan yang kedua kali, gue mengambil kamera dan segera merekamnya. Alhamdulillah, bisa merasakan dan mengabadikan keindahan kedua lagu itu.

Lagu selesai, Idris Sardi turun, kembali ke tempat ia duduk sedia kala. Tempat duduk beliau mungkin hanya berjarak tiga-empat meter dari tempat gue duduk, sangat dekat. Gue bisa melihat apa yang dia lakukan. Membuka-buka map, tapi gue tidak dapat melihat dengan jelas, map itu berisi apa.

Setelah sambutan-sambutan dari ketua panitia, dekan, dan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, saat itulah gue baru mengerti apa isi map yang sedari tadi dibuka-buka oleh Idris Sardi. Ternyata map itu adalah kumpulan partitur lagu yang akan ia mainkan.

Idris Sardi dipanggil kembali ke atas panggung. Selagi tempat duduk diatur, ia berbicara di depan mikrofon. Beliau mengucapkan terima kasih karena sudah diundang ke acara itu.

“Saya bukan maestro, saya hanya pengamen,” ujarnya lirih.

Subhanallah, sosok yang berdiri di panggung itu ternyata merupakan maestro yang berbalut rasa rendah hati.

Kemudian beliau melanjutkan, “Saya berdosa, saya belum melakukan apa-apa untuk negeri ini.”

Seketika hati gue tertohok. Pemain biola sekelas Idris Sardi yang sudah mencetak banyak prestasi dan kontribusi untuk negara saja belum merasa memberikan apa-apa untuk Indonesia. Kalau begitu, apalah arti keberadaan gue yang hanya sebutir pasir di pantai?

Lalu ia mengaku bahwa dirinya sedang sakit, sambil menunjukkan tangan kirinya, “Saya bermain biola sudah dari kecil. Maafkan saya kalau nanti saya bermain buruk. Selain karena kesehatan, apabila permainan saya buruk karena saya juga belum sempat sound check, saya belum terbiasa dengan ruangan di sini.”

Setelah itu beliau menjelaskan akan bermain selama dua puluh enam menit, dengan urutan lagu yang tak bisa dipotong. Gue langsung terbelalak, DUA PULUH ENAM MENIT? Ini jelas akan menjadi sebuah pertunjukan mahal yang gue tonton secara cuma-cuma.

Permainan biola pun dimulai. Gue tidak mau kehilangan kesempatan untuk merekamnya melalui kamera digital dan juga kamera pemberian Allah, yaitu mata kepala gue sendiri.


Maestro berlilitkan sarung kehijauan tersebut sesekali duduk dan berdiri sambil menggesekkan biolanya. Tak lupa ditambah dengan ekspresi dan aksi ketika memasuki beberapa lagu tertentu. Sangat mengagumkan.

Pada kenyataannya, lagu yang dibawakan beliau berlangsung selama dua puluh delapan menit lamanya. Sayang sekali pada dua menit terakhir gue tidak bisa merekamnya karena kamera digital gue kehabisan memori. Tapi gue tetap puas sudah bisa merekam, mendengar, dan menyaksikannya langsung. Sekali lagi, alhamdulillah.

Setelah permainan selesai, ia kembal berdiri di depan mikrofon. Ia kembali meminta maaf atas permainan yang menurutnya buruk. Ia bercerita, sejak kecil ia sudah diawasi oleh orang tuanya dalam bermain biola. Setiap selepas subuh ia berlatih intonasi selama satu jam. Jika melakukan kesalahan telinga beliau disentil oleh orang tuanya, “Hingga waktu kecil, telinga saya itu congek,” ujarnya. Ternyata, hukuman dan usahanya dalam berlatih itulah yang menghasilkan sosok Idris Sardi seperti sekarang ini. Lalu ia kembali menuturkan bahwa beliau merasa berdosa karena belum memberikan apa-apa untuk negara, karena menurutnya, seniman seperti beliau tidak memiliki uang yang banyak, yang bisa ia lakukan hanyalah dengan bermain biola hingga akhir menutup mata. Siapa yang tidak tergetar mendengar pernyataan seperti itu?

Kemudian, dekan naik ke atas panggung. Dekan gue mengaku bahwa itulah kali pertama ia menitikkan air mata dalam mendengarkan sebuah lagu. Ia memanggil Idris Sardi dengan sebutan mas, “Sebulan yang lalu saya bertemu dengan beliau, ia minta dipanggil Mas Idris, bukan Bapak.” Lalu dekan gue mendata prestasi Sang Maestro, ternyata beliau sudah mendapatkan penghargaan FFI sebanyak sebelas kali ditambah sekitar empat penghargaan lain (maaf jika informasi ini salah, gue agak kesulitan untuk mengingatnya). Dekan pun memberikan sebuah lukisan diri Idris Sardi, “Untuk menemani Mas Idris berlatih di rumah.”

Hari itu gue sangat bersyukur karena bisa mendapatkan lebih daripada sebuah pertunjukan spetakuler. Gue akan selalu mengingat dan berusaha menebus “dosa” yang belum terbayarkan karena gue belum menyumbangkan apapun untuk Indonesia.

Terima kasih sudah menginspirasi, Idris Sardi.


Selasa, 06 November 2012

Salam, Rasa, dan Pertama


Hai, sudah lama tak berjumpa.
Diliputi senyuman, oh, seperti inilah rasanya meninggalkan ruang ini berbulan-bulan lamanya. Ups, lebih tepatnya, tiga bulan lamanya.
Apa yang berbeda? Ada yang hilang? Atau ada yang bertambah?
Perasaannya kurang lebih sama seperti saat meninggalkan rumah beberapa bulan. Lalu saat kembali lagi ke rumah, melihat sekeliling, mengamati setiap inci detail rumah.
Ada yang berbeda di situ. Entah udaranya entah apanya.
Dan aku tidak menganggapnya deja vu. Tapi ya seperti inilah.
Ada kisah yang ku tinggalkan di situ, hingga akhirnya ada kisah yang ku lewatkan begitu saja. Sibuk menengak-nengok dan mencari tahu.
Ada rasa canggung yang mengerjap. Bagai berkenalan dengan orang baru.
Ada sedikit malu, ketika di pikiranku berkecamuk pertanyaan, "Masih diterimakah aku?"
Ada penyesuaian, sesuai dengan kumpulan puzzle yang mulai terbentuk.
Lalu terkejut! Ketika ada yang masuk.
Semua rasanya... persis seperti pertama memasuki ruang ini kembali.

Oleh:
6 November 2011

Prosa ini dibuat dalam rangka penyambutan kepada diri sendiri di blog ini.

Senin, 11 Juli 2011

Artikel Ke-seratus Emotional Flutter dalam Setahun

Entah bagaimana ceritanya hingga gue bisa nyangsang di blog Emotional Flutter, dan menemukan bahwa dia sedang mengadakan bagi-bagi hadiah atau biasa kita dengar dengan istilah giveaway. Hadiah yang diberikan pun nggak nanggung-nanggung, langsung diimpor dari Cina! Soalnya belum lama ini si empunya blog baru bertandang ke Cina. Terus kenapa tiba-tiba dia bagi-bagi hadiah? Sebab, giveaway tersebut diselenggarakan dalam rangka ulang tahun pertama blog-nya dan sekaligus posting artikel yang ke-seratus.

Wow.

Artikel ke-seratus baru bisa gue capai setelah dua setengah tahun usia blog gue. Salut deh buat Keven (benar kan ya, nama panggilannya Keven?). Apalagi artikel-artikel yang dia buat menurut gue sangat menghibur dan juga informatif. Oleh karena itu, gue ucapkan selamat ulang tahun yang pertama untuk blognya dan tentu untuk artikel ke-seratusnya.

Semoga bisa terus produktif dalam menghasilkan karya-karya yang bermanfaat

Saya juga punya hadiah spesial buat Keven. Silakan diambil di toko donat terdekat : )



Senin, 04 Juli 2011

Racun Lipstik

Dengar punya dengar, @looxperiments sedang mengadakan Looxperiments 1st Blog Giveaway, lho! Pas gue lihat.. Wow, hadiahnya menggiurkan. Makanya, langsung deh gue bikin artikel ini, hihihi. Kalau kamu mau ikutan juga boleh kok.. Klik ini aja ya http://looxperiments.blogspot.com/2011/06/1st-looxperiments-blog-giveaway.html

Waktu kecil, gue sering melihat nyokap berdandan. Yang paling menarik perhatian gue saat itu adalah sebuah benda seperti tongkat kecil yang dapat diputar dan jika diputar akan muncul sesuatu berbentuk lancip berwarna merah. Kata nyokap, benda itu bernama lipstik. Karena gue masih kecil dan merasa malu, gue tidak mengutarakan keinginan gue untuk mencobanya.

Suatu hari, gue sedang mewarnai gambar menggunakan satu set krayon kesayangan gue. Tiba-tiba terlintas di benak gue, sepertinya krayon ini bisa gue poleskan di bibir layaknya nyokap yang sering memakai lipstik. Mumpung di rumah sedang sepi, sambil membawa satu batang krayon berwarna merah, berlarilah gue ke depan cermin besar yang terletak di kamar nyokap.

Di depan cermin, gue langsung memoleskan krayon tersebut ke atas bibir, berulang-ulang kali hingga warna merah terlihat. Bahagia sekali rasanya saat itu. Setelah puas, gue pun kembali mewarnai gambar masih dengan olesan “lipstik” di bibir. Tak lama terdengar suara nyokap mulai mendekat. Gue kaget, malu ketahuan kalau gue pakai “lipstik”. Sekuat mungkin gue menggosokkan jari di atas bibir untuk menghilangkan bekas “lipstik”. Entah apakah warna merah di bibir gue benar-benar sudah hilang entah tidak, nampaknya nyokap tidak sadar kalau gue baru saja memakai “lipstik”.

Suatu saat, sanggar tari yang gue ikuti mengadakan sebuah pertunjukan tari yang ditonton oleh orang banyak. Tarian yang gue bawakan adalah Tari Sirih Kuning. Itu artinya, wajah gue dirias seperti penari betulan dan tentu tidak lupa, kali ini bibir gue pun dihiasi dengan lipstik asli. Setelah dirias, gue merasakan ada sesuatu yang aneh pada bibir gue, rasanya berat sekali. Gue akhirnya sadar kalau sesuatu yang berat itu adalah polesan lipstik di bibir gue.

Sambil menunggu giliran tampil, orang tua gue menyuruh gue untuk makan dan minum terlebih dulu. Gue keukeuh tidak mau menyeruput air minum atau mengunyah makanan sedikitpun, dengan alasan takut lipstiknya luntur. Padahal alasan sebenarnya bukan takut luntur, melainkan gue takut keracunan lipstik! Bagaimana tidak, gue baru pakai lipstik pertama kali dan tentu saja gue merasa was-was jika ada zat asing yang masuk ke dalam mulut. Tapi seiring berjalannya waktu sih akhirnya gue paham kalau lipstik itu tidak berbahaya (apalagi mengandung racun). Dan alasan takut keracunan tersebut baru orang tua gue ketahui akhir-akhir ini. Bayangkan dong, gue menyimpan rahasia ini selama bertahun-tahun! Hahaha.

Hingga saat ini, alat make up yang paling tidak bisa gue lepas adalah lipstik. Pergi sebentar saja, rasanya janggal kalau tidak memakai lipstik. Pernah satu kali, teman gue, Dita, mengajak gue pergi ke mall yang jaraknya tak begitu jauh dari kosan. Dita datang ke kosan gue dengan baju serta dandanan seadanya. Begitu tahu dia akan mengajak gue ke mall, gue langsung izin untuk berdandan.

Dita (D) : (marah-marah) Jangan cantik-cantik, aku cuma dandan begini.

Gue (G) : Iya, lipstikan sama pakai eyeliner aja..

D : (kaget) Hah, Cit, kamu pakai lipstik?

G : Lho, aku kan setiap ke kampus pakai lipstik. Aku nggak pede kalau pergi nggak pakai lipstik.

D : Masa sih? Nggak kelihatan tapi Cit..

Gue langsung pengin menghilang ditelan bumi. Jadi, selama ini gue memakai perona bibir yang tak dianggap. Salah siapa? Salah gueh? Salah teman-teman gueh? Ah sudahlah. Gue memang kalau pakai make up sukanya yang ringan-ringan saja, takut keracunan boook :D

Oh iya.. Kamu juga bisa mengikuti twitter @looxperiments dan lewat blognya (klik). Nggak akan rugi deh, karena di sana kalian akan menemukan tips dan informasi menarik seputar dandan/ kecantikan dan ada make up challenge-nya segala lho! Tunggu apa lagi? Yuk meluncur ke TKP : )