Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Desember 2014

Afgan Lagi Afgan Lagi


“Citta… Hari gini lo masih suka Afgan?” tulis teman gue di perbincangan melalui sebuah media.

Iya, kalau gue masih suka Afgan terus kenapa? Sedosa apa sih kalau gue suka sama penyanyi dengan suara enak, lagu bagus, dan tampang ganteng?

Atau karena umur gue sudah 25 jadi nggak boleh fangirling lagi? 

Auk ah. Sirik aje lo.

Ini sebenarnya kejadian yang sudah terjadi beberapa bulan lalu, tepatnya satu minggu sebelum lebaran. Iya, gue tahu kejadian ini sudah lama banget, tapi sayang kalau nggak di-posting T.T. Gue sudah menulis ini berbulan-bulan lalu, tapi apa lah daya, waktu belum berjodoh dengan gue (sama waktu aja lama berjodohnya, apalagi sama manusia). Eh, what

Beklah.

 Saat itu, gue pergi ke Mal Kelapa Gading bersama keluarga kakak gue. Niatnya mau beli takoyaki dan beberapa keperluan lain. Tujuan pertama akhirnya diputuskan ke Farmers Market terlebih dahulu untuk membeli beberapa bahan pangan. Dasar belanja sama ibu-ibu (baca: kakak ipar), jadi yang dibeli sayur mayur gitu, seperti kangkung, tomat, kentang, dll.

Selepas dari Farmers Market, kami menuju Ippeke Komachi untuk beli takoyaki. Sepanjang perjalanan ke Ippeke Komachi, banyak stan diskonan dalam rangka lebaran. Dasar cewek (baca: gue dan kakak ipar), nggak tahan kalau nggak lihat diskonan (padahal belum tentu beli), jadi dengan lincah kami mampir dari satu stan ke stan yang lain. Eh ternyata kakak ipar gue tertarik dengan barang-barang di salah satu stan dan berhenti cukup lama di situ untuk memilih-milih. Dasar bapak-bapak (baca: kakak gue) yang nggak tahan nungguin belanja sambil gendong anak yang aktif luar biasa, maka kami disuruh kakak gue untuk ke Ippeke Komachi terlebih dahulu untuk memesan takoyaki agar tidak kelamaan. “Oke, nanti kita balik lagi ke sini, “ kata kakak ipar. Gue sih iya-iya aja deh, kebetulan gue tertarik dengan salah satu stan yang belum sempat gue kunjungi.

Langkah demi langkah mendekati Ippeke Komachi, sayup-sayup terdengar iringan live music.

Langkah semakin dekat... Semakin terdengar suara dan lagunya…

Sampai di samping Ippeke Komachi… Gue dan kakak ipar bertatapan…

“AFGAN!!!”

Kami lari berhamburan mendekati panggung di depan Ippeke Komachi.

Kakak ipar gue udah nggak peduli meninggalkan suami dan anaknya yang jauh di belakang kami. Kalau gue sih ngapain juga peduli. HAHA.

Akhirnya gue bisa mendapat tempat di bagian tengah. Di depan gue berdiri dua orang pria yang badannya lebih tinggi dari gue. Sempat bingung mau pindah ke sayap kanan atau kiri tapi gue lebih senang menonton di bagian tengah. Baiklah, untuk saat itu gue sabar berdiri di belakang kedua pria yang saling kenal ini. Jujur, gue khawatir lama-kelamaan dua pria ini akan berpegangan tangan, bertatapan mesra, dan kau-tahu-selanjutnya. Ah paling juga nanti dua cowok ini pada pergi

Oke, skip.

Afgan saat itu memakai kemeja berwarna biru muda.

Sebenarnya, ini semacam doa yang dikabulkan oleh Allah SWT. Beberapa hari sebelumnya, gue sempat membatin ketika menonton Afgan di televisi, udah lama nggak nonton Afgan, kayaknya harus nonton langsung lagi nih

Iya, gue penasaran akan penampilan langsungnya dia setelah sekitar 4 tahun yang lalu gue menonton langsung penampilannya. Ternyata, interaksi Afgan terhadap penonton sudah semakin bagus dan luwes. Bagian menariknya, ada beberapa kali Afgan mengajak ngobrol penonton. Kali itu, ada seorang penonton perempuan kira-kira berumur sekitar 15-16 tahun yang diajak mengobrol oleh Afgan. 

Afgan                          : Kamu mau nggak nikah sama aku?
Penonton Perempuan   : Hmmm..
Gue (dalam hati)          : Kyaaa~~~Yes yes. Aku mau mau mau, Afgan~~~
Penonton Perempuan   : (dengan suara yang dimanja-manjain) Bukan gitu, Kak. Kak Afgan kan masih muda, jadi jangan pikir nikah dulu.
Gue (dalam hati)          : YA ELAH GAN, MASIH BOCAH GITU LO AJAK NIKAH. MAKANYA GUE AJA YANG LO AJAK NIKAH, UDAH PASTI MAU! *KZL*

Masih dengan pergolakan batin akibat Afgan ditolak ajakan nikahnya, gue menengok ke belakang. Eh kakak ipar ternyata sudah menghilang. Dia pasti sudah bersama kakak gue ke Ippeke Komachi. Oke, biarlah gue khusyuk menonton si ganteng satu ini. Saat itu Afgan membawakan single religinya yang terbaru dan lebih banyak menyanyikan beberapa lagu dari album terbaru.

Gue kalau nonton pertunjukan musik kan ekspresif ya, teriak-teriak bisa, jejingkrakan bisa, nyanyi tanpa mengikuti nada yang benar juga bisa. Bisa heri (heboh sendiri) gitu lah (makanya sebenarnya gue lebih nyaman nonton pertunjukan musik sendirian karena gue tipe Inpresif. Introvert yang ekspresif. Oke, adik-adik di rumah, jangan dipakai istilah ini ya, karena istilah ini 100 persen karangan gue sendiri). Lah, emang ada lagu Afgan yang bisa bikin joget? Ada dong, nggak gawl banget sih situ. 

Woo salah ketik tuh Cit!

Apaan? Gawl?

Iye

EMANG GAWL kali ah nulis GAWL yang GAWL!!!

….

BERANTEM AJA YUK!

***

Oke, masih ingat dong dengan belanjaan sayur mayur yang dibeli kakak ipar gue? Ndilalah (bahasa Jawa: kebetulan) itu belanjaan yang isinya kangkung dkk gue yang bawa! Bayangkan dong gue nyanyi-nyanyi dan jejingkrakan sambil bawa plastik berisi kangkung? Emang sih jingkraknya nonton Afgan tuh nggak sejingkrak kalau gue nonton Nidji. Tapi lo harus tau rasanya nonton pertunjukan musik dengan orang-orang di sekeliling lo yang nggak bawa apa-apa dan elo dengan kerennya bawa plastik belanjaan dengan akar kangkung yang keluar-keluar. How cool you are!

Belum lagi kalau gue nonton tuh makin lama makin pengen maju ke depan. Pasti kan harus nyelip-nyelip, tuh. Gue dengan sok santainya, nyelip-nyelip di antara orang-orang sambil kresek-kresek (bunyi plastik belanjaan). Sontak, orang yang gue selipin (BOK, PILIHAN KATANYA NGGAK ADA YANG LEBIH BAGUS YA, BOK?!) langsung menoleh dan tatapannya menuju ke sumber suara yang ada di antara kaki mereka.

 Iya, suara gesekan plastik dengan akar kangkung yang menjulur-julur ke luar. END LAH POKOKNYA. END. ENDAAANG WILL ALWAYS LOVE YOU~~ HOOO~~ WA~~ A~~ WILL ALWAYS LOVE YOU~~~

*mari kita lupakan yang barusan*

Saat di lagu ke-7, gue dicolek orang dari belakang.

Gue deg-degan.
 
Duh, siapa nih yang nyolek gue?
Colek lagi dong, udah lama nih nggak dicolek orang #eh

Pas gue nengok…

Eh si kakak ipar, “Ayo Cit udah sore.”

Buyar sudah keriaan siang itu. Gue nggak jadi ikut pulang ke rumah Afgan suami gue. Gue cek telepon genggam, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Kami menargetkan pulang sebelum buka puasa, sehingga kami tidak menuntaskan melihat-lihat barang diskonan. 

Dadah Afgan, dadah barang diskonan.


Senin, 09 September 2013

Terselip Kamu di Antara Aku dan Band-band Indie Favoritku



Hai, aku sedang mendengarkan album baru Frau yang berjudul Happy Coda
Aku suka
Sama seperti aku suka kepada kamu yang sama-sama menggilai Frau ketika pertama kali dengar

Kebetulan tadi siang aku membaca judul lagu Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan di salah satu media sosial
Itu lagu kesukaan kamu dari Payung Teduh, salah satu band indie favoritku
Kamu tidak pernah tahu band ini sebelumnya, hingga kamu mencari tahu dan mencari lagu kesukaanmu sendiri
Dan aku suka

Nanti ada saatnya kita berbicara banyak tentang ini lagi
Sambil mendengarkan Efek Rumah Kaca, Gugun Blues Shelter, Frau, Payung Teduh, dan tentu saja aku tidak akan egois, kita juga akan mendengarkan Mocca, band indie favoritmu
Tunggu saat itu, hingga waktu yang tepat dan kita tak akan mengumpat

Salam dari aku yang sedang mendengarkan Frau

Gambar dari album Happy Coda

Selasa, 04 Desember 2012

Dosa Sang Maestro


“Sebelah kanan ada Idris Sardi, lho!” seru teman gue.

Mana? Kita kan memang duduk di sebelah kanan. - batin gue dalam hati.

Begitu gue tengok ke kanan bawah, ah benar. Maestro itu sedang duduk ditemani salah seorang anggota keluarganya.

***

Kemarin, gue berangkat ke kampus untuk mengikuti salah satu mata kuliah reguler. Sampai di lobi fakultas, banyak orang yang memakai atribut pakaian daerah Sumatra. Gue pikir, oh mungkin sedang ada acara. Gue tidak terlalu banyak memusingkan hal itu dan bergegas menuju kelas. Setelah menunggu kira-kira lima belas menit, dosen tak kunjung datang. Gue dan teman-teman lalu berjalan menuju Gedung IX untuk mengetahui sedang ada acara apa yang berlangsung.

Di depan Auditorium Gedung IX ternyata sudah banyak sekumpulan orang yang mengantri untuk mengisi absen acara itu. Gue dan teman-teman memutuskan untuk mengisi absen dan masuk ke dalam Auditorium. Kami memilih barisan tempat duduk di sayap kanan. Ketika hendak duduk, di situlah terjadi percakapan yang menjadi ilustrasi pembuka dalam artikel ini.

Ya, acara tersebut ternyata merupakan acara Dies Natalis FIB UI yang ke-9 Windu. Dies Natalis kali ini bertajuk tentang Bumi Sriwijaya. Salah satu tamu yang turut diundang adalah Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin.

Acara diawali dengan tarian daerah Palembang. Setelah itu, pembawa acara mulai membuka acara. Kemudian Idris Sardi dipanggil ke atas panggung untuk memainkan lagu Indonesia Raya, seluruh orang yang datang ke acara tersebut dipersilakan berdiri.

Untuk pertama kalinya gue mendengar langsung lagu Indonesia Raya dimainkan oleh Maestro biola Indonesia. Yang terjadi adalah bulu kuduk gue berdiri sepanjang lagu karena mengagumi gesekan biola beliau. Bahkan, dua teman yang berdiri di samping kanan dan kiri gue, mbak Heidy dan mbak Mamay, menitikkan air matanya. Gue jadi menyesal, mengapa saat itu gue tidak merekamnya. Namun alunan biola lagu Indonesia Raya tersebut masih berdendang di telinga gue hingga kini.


Setelah Indonesia Raya, beliau memainkan lagu Bagimu Negeri. Tidak mau mengulang penyesalan yang kedua kali, gue mengambil kamera dan segera merekamnya. Alhamdulillah, bisa merasakan dan mengabadikan keindahan kedua lagu itu.

Lagu selesai, Idris Sardi turun, kembali ke tempat ia duduk sedia kala. Tempat duduk beliau mungkin hanya berjarak tiga-empat meter dari tempat gue duduk, sangat dekat. Gue bisa melihat apa yang dia lakukan. Membuka-buka map, tapi gue tidak dapat melihat dengan jelas, map itu berisi apa.

Setelah sambutan-sambutan dari ketua panitia, dekan, dan Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin, saat itulah gue baru mengerti apa isi map yang sedari tadi dibuka-buka oleh Idris Sardi. Ternyata map itu adalah kumpulan partitur lagu yang akan ia mainkan.

Idris Sardi dipanggil kembali ke atas panggung. Selagi tempat duduk diatur, ia berbicara di depan mikrofon. Beliau mengucapkan terima kasih karena sudah diundang ke acara itu.

“Saya bukan maestro, saya hanya pengamen,” ujarnya lirih.

Subhanallah, sosok yang berdiri di panggung itu ternyata merupakan maestro yang berbalut rasa rendah hati.

Kemudian beliau melanjutkan, “Saya berdosa, saya belum melakukan apa-apa untuk negeri ini.”

Seketika hati gue tertohok. Pemain biola sekelas Idris Sardi yang sudah mencetak banyak prestasi dan kontribusi untuk negara saja belum merasa memberikan apa-apa untuk Indonesia. Kalau begitu, apalah arti keberadaan gue yang hanya sebutir pasir di pantai?

Lalu ia mengaku bahwa dirinya sedang sakit, sambil menunjukkan tangan kirinya, “Saya bermain biola sudah dari kecil. Maafkan saya kalau nanti saya bermain buruk. Selain karena kesehatan, apabila permainan saya buruk karena saya juga belum sempat sound check, saya belum terbiasa dengan ruangan di sini.”

Setelah itu beliau menjelaskan akan bermain selama dua puluh enam menit, dengan urutan lagu yang tak bisa dipotong. Gue langsung terbelalak, DUA PULUH ENAM MENIT? Ini jelas akan menjadi sebuah pertunjukan mahal yang gue tonton secara cuma-cuma.

Permainan biola pun dimulai. Gue tidak mau kehilangan kesempatan untuk merekamnya melalui kamera digital dan juga kamera pemberian Allah, yaitu mata kepala gue sendiri.


Maestro berlilitkan sarung kehijauan tersebut sesekali duduk dan berdiri sambil menggesekkan biolanya. Tak lupa ditambah dengan ekspresi dan aksi ketika memasuki beberapa lagu tertentu. Sangat mengagumkan.

Pada kenyataannya, lagu yang dibawakan beliau berlangsung selama dua puluh delapan menit lamanya. Sayang sekali pada dua menit terakhir gue tidak bisa merekamnya karena kamera digital gue kehabisan memori. Tapi gue tetap puas sudah bisa merekam, mendengar, dan menyaksikannya langsung. Sekali lagi, alhamdulillah.

Setelah permainan selesai, ia kembal berdiri di depan mikrofon. Ia kembali meminta maaf atas permainan yang menurutnya buruk. Ia bercerita, sejak kecil ia sudah diawasi oleh orang tuanya dalam bermain biola. Setiap selepas subuh ia berlatih intonasi selama satu jam. Jika melakukan kesalahan telinga beliau disentil oleh orang tuanya, “Hingga waktu kecil, telinga saya itu congek,” ujarnya. Ternyata, hukuman dan usahanya dalam berlatih itulah yang menghasilkan sosok Idris Sardi seperti sekarang ini. Lalu ia kembali menuturkan bahwa beliau merasa berdosa karena belum memberikan apa-apa untuk negara, karena menurutnya, seniman seperti beliau tidak memiliki uang yang banyak, yang bisa ia lakukan hanyalah dengan bermain biola hingga akhir menutup mata. Siapa yang tidak tergetar mendengar pernyataan seperti itu?

Kemudian, dekan naik ke atas panggung. Dekan gue mengaku bahwa itulah kali pertama ia menitikkan air mata dalam mendengarkan sebuah lagu. Ia memanggil Idris Sardi dengan sebutan mas, “Sebulan yang lalu saya bertemu dengan beliau, ia minta dipanggil Mas Idris, bukan Bapak.” Lalu dekan gue mendata prestasi Sang Maestro, ternyata beliau sudah mendapatkan penghargaan FFI sebanyak sebelas kali ditambah sekitar empat penghargaan lain (maaf jika informasi ini salah, gue agak kesulitan untuk mengingatnya). Dekan pun memberikan sebuah lukisan diri Idris Sardi, “Untuk menemani Mas Idris berlatih di rumah.”

Hari itu gue sangat bersyukur karena bisa mendapatkan lebih daripada sebuah pertunjukan spetakuler. Gue akan selalu mengingat dan berusaha menebus “dosa” yang belum terbayarkan karena gue belum menyumbangkan apapun untuk Indonesia.

Terima kasih sudah menginspirasi, Idris Sardi.


Jumat, 06 April 2012

Idola Indonesia


Aku mungkin sudah gila
Memang benar kata Agnes Monica
“Cinta ini kadang-kadang tak ada logika”

Ada salah satu idola gue di Indonesian Idol musim ini yang menurut gue tidak terlalu memiliki kekhasan dalam suaranya namun gue sangat suka. Mulai pertama berjumpa. Meski berjumpa di layar televisi saja. Memang benar kata Agnes Monica, “Cinta ini kadang-kadang tak ada logika” *Eaaa diulang lagi  *Kehabisan ide :p

Ya, Indonesian Idol babak spektakuler akan segera dimulai! Kedua belas kontestan sudah diumumkan pada tanggal 7 April 2012 dini hari. Jadi, siapa aja dong yang masuk ke Indonesian Idol musim 7? Mari dicek, siapa tahu ada idola kesayangan Anda juga!

Urutan ini dibuat berdasarkan urutan pengumuman 12 besar Indonesian Idol musim 7:
1.      Regina
2.      Yoda
3.      Dera
4.      Dion
5.      Rio
6.      Sean
7.      Belinda
8.      Ivan
9.      Kanza
10.  Sandy
11.  Febri
12.  Rosa

Selamat untuk kedua belas kontestan. Jangan kecewakan Indonesia ya, di mana menurut gue satu hal yang cukup berat karena mereka akan membawa gelar “Idola Indonesia”, yang seharusnya bisa merepresentasikan selera musik masyarakat Indonesia. Mohon digaris bawahi pada kata seharusnya :p

Eh tapi tidak sedikit lho, yang ternyata mencemooh, mempertanyakan, dan menggugat Indonesian Idol, baik kontestan maupun juri. “Mengapa si A yang masuk? Si B jauh lebih baik.” atau “Hampir aja si C nggak masuk. Malah si D yang jelas-jelas suaranya jelek, masuk duluan.” atau ada yang lebih parah “Eh si E ini saudaranya juri F ya, kok dia bisa keterima?” daaan banyak lagi komentar lainnya.

Hei, ada sedikit saran aja nih dari gue buat orang-orang yang protes di twitter atau di mana pun (terserah lah), buka deh pikiran Anda, jangan jadikan pikiran Anda hanya selebar daun kelor. Ada juga tuh, beberapa kontestan yang menurut gue nggak begitu layak tetapi gue terima-terima saja, nggak maki-maki juga. Mungkin juri dan mayoritas penonton memiliki selera yang berbeda dengan gue (selera adalah hak masing-masing individu) dan ada sisi lain yang mungkin saja gue belum menemukan alasan mengapa dia bisa pantas dipilih. Malah gue akan menunggu-nunggu di setiap penampilan berikutnya, apakah dia memang selayaknya untuk dimasukkan ke 12 besar, atau akan lebih membanggakan jika kontestan yang nggak gue suka itu bisa menampilkan kemajuan di setiap minggunya. Mulailah belajar untuk menerima sesuatu yang tidak sejalan dengan (kemauan) kita. Dan satu lagi, nggak usahlah berburuk sangka dengan sesuatu, hidup ini nggak usah ditambah beban dengan memikirkan sangkaan-sangkaan yang belum tentu benar. Enjoy aja lagi :D

Dan terakhir, kenapa udah lama gue nggak posting artikel eh malah tiba-tiba gue bahas tentang acara pencarian bakat ini? Pertama, karena tugas kuliah lagi sama tingginya dengan tumpukan sampah di Bantar Gebang. Kedua, karena emosi gue sedang menggebu-gebu setelah menonton acara tersebut, ditambah dengan kekepoan gue yang langsung mengecek di media sosial mengenai komentar acara ini.

Lagian, nggak usah heran ya. Gue ini sebenarnya pencinta acara-acara pencarian bakat semacam ini. Kalau Anda mau tanya seputar ajang pencarian bakat yang sudah pernah tayang, mulai dari AFI, Indonesian Idol, American Idol, Mamamia, Indonesia Mencari Bakat, Masterchef, Junior Masterchef, America’s Got Talent, dan lain-lain (hihi malu ah nyebutin banyak-banyak *Udah banyak kaliii itu yang disebutin), silakan aja kirimkan pertanyaannya ke gue, insyaallah gue masih hafal hahaha. Dulu aja waktu di kosan, gue jadi standar verifikasi anak-anak kosan tentang hal-hal seputar acara pencarian bakat. Kalau belum diverifikasi ke gue, gosip seputar mereka dianggap belum sah :p *Setidaknya, hidup gue ada gunanya sedikit lah :’)

Akhir kata, selamat berakhir minggu, Indonesia!

Selasa, 06 Maret 2012

Lady Gaga ke Indonesia!



“Kalau Lady Gaga konser di Indonesia, gue pasti harus nonton!”
Itulah sepenggal kalimat yang gue camkan di dalam hati saat sedang ramai-ramainya konser Katy Perry di awal tahun 2012 ini.
Saat itu gue berpikir, gue nggak begitu pengin nonton konser Katy Perry. Gue suka sama Katy Perry, baik secara personal maupun lagu-lagunya. Tapi gue merasa untuk tidak harus kecewa jika gue tidak menonton konsernya.
Lalu pikiran gue pun melayang pada beberapa penyanyi luar negeri yang kira-kira kalau datang ke Indonesia, siapa yang gue pengin banget untuk nonton…
Backstreet Boys.
Ya, mereka boyband yang sangat gue idolakan dari SD sampai sekarang. Tapi di tahun 2006, Kevin Richardson, personil BSB kesukaan gue, memutuskan untuk meninggalkan boyband tersebut. Sehingga, ketika (kalau tidak salah) di tahun 2008 BSB konser di Indonesia (gue saat itu sedang berada di Malang), gue tidak kepengin nonton dan tidak terlalu kecewa. Galau-galau sedikit sih iya, tapi nggak terlalu menyesal karena Kevin-nya nggak ada.
Di tahun 2012 ini pun, BSB bersama NKOTB (digabung menjadi NKOTBSB) akan  menggelar konsernya di Jakarta pada tanggal 1 Juni 2012. Untuk yang ini gue lumayan tergiur untuk menonton, karena gue sudah tinggal di Bekasi lagi. Tapi langsung ilfeel ketika tahu harga tiketnya, yang paling murah Rp 950.000,-! Wakwaw. Alasan promotornya sih, karena penggemar NKOTBSB rata-rata sudah mature jadi harga segitu dianggap wajar. Iya yang lain sih sudah pada mature, lah gue masih anak ingusan begini disuruh bayar konser sembilan ratus ribu. Duit dari mane? Padahal gue juga tahu kalau nggak ada Kevin di konser ini, tapi sedikit penasaran saja dengan NKOTBSB. Genit kan gue :p
Gambar diambil dari http://rajakarcis.com
Oke. Kira-kira siapa lagi ya yang gue pengin nonton konsernya?
LADY GAGA. Ya. Tiada lain dan tiada ragu. The one and only mother of monsters: LADY GAGA.
Di blog ini beberapa kali gue sudah pernah menyinggung bahwa gue sangat mengaguminya. Mulai dari lagu, fashion, dan kepribadiannya, gue suka! Sehingga gue seperti mengikrarkan di dalam hati bahwa “Gue pasti akan nonton Lady Gaga di Indonesia.”
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Beberapa hari yang lalu gue mendengar kabar bahwa Lady Gaga akan konser di Indonesia!!!
Gambar diambil dari http://bigdaddy.co.id
Tapi… Kenapa Lady Gaga datangnya nggak dua atau tiga tahun lagi aja sih?
Sebab di masa itu pasti gue sudah lulus kuliah dan bisa menghasilkan uang sendiri! Huaaa. Siapa yang mengira ternyata dia datangnya di tahun ini. Tiga bulan lagi. Dan yang paling penting adalah… penjualan tiketnya dimulai TIGA HARI DARI SEKARANG!!!
Aaaargh! Gila gue gila!
Oke. Gue pelan-pelan menjelaskannya.
Lady Gaga The Born This Way Ball akan diselenggarakan di Gelora Bung Karno Jakarta pada tanggal 3 Juni 2012. Penjualan tiket dibuka mulai tanggal 10 Maret 2011 di FX Jakarta mulai pukul 10.00 pagi. Tidak hanya di Jakarta saja, tetapi juga dijual di Bandung dan Surabaya serta melalui pembelian online.
Harga tiketnya pun termasuk harga tiket konser yang paling masuk akal di kantong gue (dibanding konser-konser artis luar negeri lain kesukaan gue). Yang paling murah sebesar Rp 465.000,- (Tribune 2), selanjutnya adalah Rp 750.000,- (Festival dan Tribune 1). Udah lah ya, gue menginformasikan yang paling murah saja, yang di atas itu gue nggak sanggup nyebutin dan ngeluarin uangnya T.T
Gambar diambil dari http://myticket.co.id
Tapi oh tapi. Lihat gambar venue seating map di atas. Tribune 2 jauuuh bener ya mak! Tapi nggak apa-apa deh. Gue masih punya sisa-sisa tabungan terakhir. Untuk mengembalikan tabungan itu pun gue harus rela memperketat pengeluaran gue.
Masalah pun muncul lagi ketika.. Gue harus nonton sama siapa? Ihik. Gue belum pernah nonton konser besar sendirian.
Jadi, jika ada sahabat blogger yang pengin dan berencana nonton Lady Gaga di tanggal 3 Juni nanti, ajak-ajak gue ya. Gue mohon dengan sangat T.T
Gue anaknya baik kok, nggak nyusahin, insyaallah nggak bakal pingsan di dalam GBK. Suer deh.
Serius lho ini. Sekali lagi ya, kalau ada yang mau nonton konsernya Lady Gaga, barengan yuk, gue belum menemukan teman nih. Dan tentu saja, tiketnya beli sendiri-sendiri lah. Gue buat jajan minuman di jalan waktu pulang dari kampus aja susah, apalagi beliin tiket buat lo.
Buat yang nggak nonton atau nggak tertarik sama Lady Gaga, gue minta doanya saja. Semoga gue jadi nonton Lady Gaga The Born This Way Ball dan mendapatkan teman yang mau nonton bareng gue. Terima kasih : )