Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2015

Kisah Citta Pascalulus (Pertama): Perbandingan Tempat Penjilidan Tesis di Depok

Fiuh. Akhirnya gue lulus juga, Saudara-saudara!

Kok sepi? Mana tepuk tangannya? 

*tetap hening* *tepuk tangan sendiri*

Mumpung masih hangat di ingatan, sekarang gue mau ngasih review tentang penjilidan tesis di layanan copy & printing di sekitaran kampus gue, yaitu di Margonda, Depok. Jadi, gue sengaja coba-coba ke dua tempat yang berbeda untuk mengetahui layanan dan hasil dari tempat penjilidan mana yang lebih memuaskan. Sifat perfeksionis gue kali ini muncul agar pada penjilidan berikutnya gue sudah tahu tempat mana yang lebih baik untuk gue percayakan menjilid karya-karya gue selanjutnya *tsah*

Yang pertama adalah Era Copy & Digital Printing (selanjutnya gue sebut Era). Gue sudah mendengar beberapa kali mengenai tempat ini dari teman-teman kuliah gue yang sering cetak e-book di sana. Beberapa kali pula gue bertanya, “Di mana sih, mbak?” karena jawaban dari teman gue selalu kurang memuaskan. Akhirnya gue bertanya ke teman yang satu lagi, kata dia begini, “Pokoknya kalau dari kosan Citta, belok kanan.” Oke, gue kan pernah ngekos di Depok, tepatnya di Jalan Kober. Nah, kalau dari Kober, lo nggak usah menyebrang, tapi lo belok kanan, jalan melewati Mie Berkat, terus melewati Lawson (yang sudah tutup). Nggak jauh, lo akan ketemu Era Digital itu. Pokoknya kalau dari Kober letaknya sebelum BSI. Kalau dari arah Jakarta ya nggak jauh-jauh habis melewati BSI.

Setelah mengurus segala macam keperluan di kampus, gue melesat ke Margonda untuk mencari tempat layanan penjilidan tesis. Awalnya gue nggak niat nyari Era, seketemunya aja tempat penjilidan yang bagus, pikir gue. Setelah putar balik dari kampus ke Margonda, bokap gue memelankan kemudinya. Gue lihat kanan-kiri. Bokap tiba-tiba, “Itu Dek, Era.” Ya jadilah kami ke sana. Kesan pertama masuk Era: wow, keren banget tempatnya. Terhampar pemandangan meja panjang dengan komputer-komputer di atasnya dan ada tempat duduk bagi konsumen di tiap meja berkomputer itu. Di sebelah kanan pintu masuk ada mesin nomor antrian seperti di bank. Gue yang baru pertama kali ke sana celingak-celinguk bingung harus ambil nomor atau tidak, tapi ternyata gue langsung disambut mbak petugas di sana. Si Mbak nanya keperluan gue. Gue bilang mau jilid tesis. Alhamdulillah karena hanya jilid satu eksemplar, pesanan gue bisa jadi dalam satu hari saja. Waktu itu gue memasukkan pesanan pada Selasa siang, diambilnya Rabu jam 12.00. Okelah. Kebetulan waktu itu gue perlu fotokopi dulu, jadi gue menunggu hasil fotokopinya jadi. Selagi menunggu gue tanya mbaknya, “Mbak, yang ngambil nomor antrian itu buat apa?” Si Mbak jawab, “Oh, itu yang ngeprint. Kalau fotokopi lagi rame, ya ambil antrian juga.” Kebetulan pas gue ke sana memang jam 12.00--13.00 dan tidak begitu ramai, jadi gue langsung dilayani. Setelah fotokopi jadi, gue ditanya mau sampul berwarna apa. Gue bilang warna cokelat (ketentuan warna sampul tesis di kampus gue). Lalu Si Mbak menunjukkan contoh warna cokelatnya, gue baca di keterangan di bawah contoh warnanya, bertuliskan “Linen”. Jujur gue kurang sreg pas lihatnya, karena cokelatnya agak kusam, tidak seperti tesis-tesis yang sering gue lihat di perpustakaan. Namun gue iya-kan saja, karena memang tidak ada pilihan lain. Si Mbak nanya, pakai pembatas kuning atau tidak, dengan cepatnya gue jawab tidak, karena seingat gue ketentuan penjilidan tesis yang sekarang tidak usah pakai pembatas. Eh ternyata, di meja sebelah gue ada seorang ibu-ibu yang ditemani suaminya yang juga menjilid tesis, tapi sepertinya ibu itu masih nge-print terlebih dahulu. Ibu itu sibuk bertanya sama mas petugas yang melayani, “Bolak-balik nggak, sih?” Si Mas dengan sotoy-nya menjawab, “Biasanya nggak bolak-balik.” Sebenarnya nggak sotoy juga sih, karena ketentuan di-print bolak-balik ini baru beberapa semester belakangan. Gue mau nyamber kan nggak enak, ya, kesannya penguping banget (padahal emang iya :p). Terus ibu itu bilang, “Nanti pakai pembatas, ya, Mas.” Jeng jeng jeng... Itulah yang bikin galau. Perlu pembatas atau nggak. Akhirnya setelah urusan mengatur dan mengecek halaman selesai, gue digiring ke meja kasir (((DIGIRING))). Di situlah gue menumpahkan kegalauan gue, “Mbak, biasanya pakai pembatas, nggak, sih?” “Biasanya sih pakai, Mbak,” jawab Si Mbak petugas. Gue mikir, “Hmmm...,” lantas Si Mbak ngasih ide, “Mending ditanya dulu aja ke temen-temennya, biasanya gimana, nanti hubungi kami kalau mau pakai pembatas.” “Oh gitu, ya sudah, nanti saya telepon ke sini aja, ya, Mbak.” “Iya, tapi sebelum jam 16.00, ya. Di atas jam segitu saya sudah pulang.” Baiklah. Setelah sampai rumah, gue tanya teman gue, ternyata pakai pembatas. Gue telepon Era dan Si Mbaknya gue kasih instruksi bagian-bagian mana saja yang perlu pembatas. Percaya nggak percaya, malamnya gue kepikiran, takut ada yang salah. Emang dasar prasangka Allah sama dengan prasangka hambaNya, benar-benar terjadi deh tuh kesalahan di penjilidan tesis gue. Besoknya, gue ambil anak gue yang baru lahir a.k.a. tesis yang sudah dijilid. Kesan pertama pas gue buka dari plastiknya, wah kok ada guratan tinta emas yang sedikit mengganggu. Langsung agak bete. Begitu gue buka halaman demi halaman, wah, kok ada satu halaman yang tertukar. Langsung makin bete. Gue tahu itu kesalahan gue, karena waktu itu gue sendiri yang mengurutkan halamannya. Ya sudah, gue nggak bisa protes juga, tapi gue puas dengan jilidannya yang rapi dan terlihat kokoh. Gimana nggak kokoh, wong tesis gue halamannya 600 lebih :p

Sekitar seminggu berikutnya, gue menjilid tesis lagi dan sengaja cari tempat lain. Kebetulan gue sudah mengincar Data Digital Copy and Printing (selanjutnya gue sebut Data) karena sempat browsing dan muncul tempat ini. Selain alasan itu, gue memang sudah tahu letaknya (setelah dari Era untuk pertama kali, kan gue pulang harus berputar jalan ke arah Jakarta, nah gue melewati Data ini). Letak Data sejajar dengan Detos, jadi kalau dari Kober, kita harus menyebrang dulu, jalan ke sebelah kiri melewati Es Pocong, Alfamart, dan tepatnya setelah pondok bakso Solo langganan gue pas ngekos dulu *duh jadi pengen baksonya :(* Lahan parkir Data tidak seluas lahan parkir Era. Pas gue masuk, ternyata ada mesin pengambil nomor antrian juga, tapi gue langsung nyelonong ke meja yang ada mas-masnya di ujung kiri. “Mas, mau jilid tesis.” “Oh, silakan ke sana, yang dekat kasir.” Berjalan lah gue ke mbak-mbak petugas dekat kasir. Pas gue sampai di depan salah satu mbak petugas, gue tertegun sesaat, loh, ini kan mbak yang di Era. Gue mengedipkan mata beberapa kali, sadar, Cit, sadar. Pas gue lihat lagi, ternyata bukan, tapi suerrr deh mirip banget dari perawakannya sampai dandanannya, hahaha. Gue sempat mikir, jangan-jangan mbak ini adiknya mbak yang di Era :D Setelah kejadian berpandang-heran-sama-mbak-petugas, gue menjelaskan maksud gue. Mungkin karena sudah pengalaman di tempat sebelumnya, maka gue sudah tahu apa-apa saja yang harus gue minta. Setelah fotokopian gue selesai, gue mengurut halaman dengan cermat, tidak mau kesalahan seperti halaman yang terbalik terulang kembali. Di sela-sela mengurut halaman, Si Mbak bilang ke gue, “Mbak, halamannya tebal banget. Tesis-tesis yang lain biasanya nggak setebal ini.” Gue nyengir sambil bilang, “Iya, Mbak.” Sebenarnya gue sudah kehabisan tanggapan untuk menanggapi hal semacam ini karena sebelum lulus, gue beberapa kali fotokopi tesis untuk ujian pratesis dan sidang tesis, dan hampir semua petugas fotokopi mengujarkan hal yang sama. Ya gimana lagi, gue juga sebenarnya nggak mau tebal-tebal begini, tapi tuntutan topik, Saudara-saudara :D Setelah selesai mengurut halaman, gue memastikan ke Si Mbak, “Mbak, JANGAN SAMPAI ada halaman yang tertukar.” Si Mbak jawab, “Iya, habis ini saya periksa lagi.” Eh bener aja gitu, dia ngecek urutan halamannya di depan gue sambil masukin halaman pembatasnya. Ngeceknya bener-bener satu persatu. Gue langsung ngerasa klop banget sama Data :p Ternyata, di Data ini untuk menjilid satu eksemplar tesis juga hanya menghabiskan waktu satu hari. Berhubung Jumatnya gue harus gladi resik wisuda, maka gue memutuskan untuk mengambil hari Jumat saja, yang merupakan hari ke-tiga setelah gue memasukkan tesis di Data. Pas hari Jumat, sebelum ke kampus, gue pergi dulu ke Data untuk ambil tesis. Kesan pertama, warnanya lebih seperti yang gue inginkan, tapi kok tinta emasnya sudah sedikit ada yang hilang di ujung-ujung huruf. Haaah.. Memang semua tak ada yang sempurna *hela nafas* Setelah itu, gue ke kampus dan menghilangkan segala rasa ketidakpuasan gue agar gladi resik wisuda hari itu berlangsung dengan menyenangkan. Besok-besoknya, gue baru bisa membandingkan tesis hasil jilidan di Era dengan tesis hasil jilidan di Data.  Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut perbandingan dari pengalaman gue:

(+) ERA
Jilidan lebih rapi.
Kualitas kertas pembatas lebih bagus Era karena warna kuningnya lebih terang.
Permukaan sampul lebih bertekstur dibanding Data sehingga menurut gue lebih enak dipegang.

(-) ERA
Warna cokelat kusam.
Tinta emas agak mbleber-mbleber. Nggak banyak, hanya guratan-guratan tipis seperti rambut, tapi cukup mengganggu untuk orang yang perfeksionis seperti gue karena letaknya di sampul depan.

(+) DATA
Pelayanan lebih baik Data karena tidak terburu-buru.
Suasana toko lebih nyaman dan terasa kekeluargaannya (ya kali lo suka sesuatu yang berbau kekeluargaan :p).
Kualitas emboss logo kampus lebih bagus Data, karena lebih timbul.
Pengecekan halaman dilakukan bersama-sama oleh petugas dan konsumen (jadi resiko halaman tertukar lebih kecil).
Warna cokelat lebih terang.

(-) DATA
Kalau dipegang dengan tangan berkeringat akan ada ceplakan di sampul.
Tinta emas lebih gampang hilang dibanding Era.

 
Hasil jilidan Era (atas) dan hasil jilidan Data (bawah). Bisa di-zoom kalau mau melihat detail tinta emas dan semburat emas yang belepetan. Pesan sponsor: Kalau mau baca isi tesisnya, silakan main ke perpus kampus gue, ya! Dijamin bagus dan membawa manfaat, kok :p

Bisa terlihat perbedaan kertas pembatas (Kiri: Era ; Kanan: Data)
Seperti itulah kelebihan dan kekurangan dari kedua tempat penjilidan tesis di Margonda Depok yang gue jadikan objek penelitian :p. Secara kualitas fotokopi nggak ada masalah. Dua-duanya sama-sama memuaskan. Baik tarif penjilidan maupun fotokopi, keduanya sama. Bisa dikatakan Era dan Data berada dalam pasar persaingan sempurna. Namun, ada yang gue sayangkan, baik Era maupun Data tidak memberikan paper bag sebagai tas pembungkus hasil jilidan. Mereka hanya menawarkan tas kresek saja. Gue menginginkan hal ini bukan karena mengada-ada, sebab gue pernah punya pengalaman saat dahulu menjilid skripsi di Maestro Malang, kami diberikan paper bag untuk menjinjing skripsi kami. Sebagai konsumen, gue merasa skripsi gue terlindungi dengan baik dan ada kesan eksklusif. Mungkin hal ini bisa jadi masukan buat Era maupun Data.

Sekian review dari gue, maaf kalau dari pihak Era atau Data kurang berkenan, tapi sepertinya gue nggak menuliskan kata-kata yang menyakiti hati, kan? Hehe *mendadak panik cari hak perlindungan konsumen :D* Kalau ada yang pernah punya pengalaman dengan penjilidan tesis dan kawan-kawannya, gue persilakan untuk berbagi di kotak komentar. Semoga tulisan gue ini bisa membantu mahasiswa-baru-lulus yang akan menjilid tugas akhirnya berdasarkan prioritas dan selera yang berbeda-beda :)



Minggu, 18 Maret 2012

SOTOJI: Soto Jamur Instan yang Menggugah Selera


Mie instan? Ah sudah biasa.
Bihun instan? Ah itu sudah banyak.
Soto jamur instan? Ah itu juga bia…
Eh apa? *kucek-kucek mata* Nggak salah baca kan, ada Soto Jamur Instan?

Ya, kini telah hadir SOTOJI (SOTO Jamur Instan) yang akan menyemarakkan variasi kuliner di tengah Anda dan keluarga!

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk mendapatkan sampel produk SOTOJI.
 
Begitu kiriman sampel SOTOJI tersebut sampai ke rumah saya, saya tidak sabar untuk segera memasak dan mencicipinya. Tapi karena ada beberapa tugas yang harus diselesaikan, saya harus menunda beberapa saat  sampai-sampai saya berkata dalam hati ”Oke, tahan dulu ya perut, nanti kita masak SOTOJI-nya.”
Beberapa jam berlalu…
Teng teng teng!
Waktunya memasak SOTOJI dimulai. Eh tunggu dulu.. Kita lihat dulu kemasannya. Aman dikonsumsi atau tidak? Mari kita cek!
Saya lega ternyata SOTOJI ini sudah terdaftar di DEPKES RI dan ada label Halal dari MUI.
Selanjutnya… Kita balik bungkusnya, penasaran komposisinya apa saja. Sebagai konsumen kita harus peduli terhadap komposisi produk yang kita makan dong… Dan ternyata ada informasi nilai gizinya juga lho!
Wah aman, tidak nampak adanya bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kandungan karbohidrat dan proteinnya juga tinggi.

Setelah cek dan ricek SOTOJI dirasa aman, saatnya membaca petunjuk memasaknya.
Tampak mudah nih cara masaknya.
Baiklah, daripada perut teriak-teriak minta segera diisi SOTOJI, mari kita masak!
  1. Buka bungkus SOTOJI (di situ Anda akan menemukan sohun, jamur tiram goreng, bumbu, minyak, dan cabai bubuk)
2.      a.  Masukkan sohun ke dalam 400 cc (2 gelas) air mendidih
b.   Masukkan jamur tiram goreng
c.    Aduk selama 2 menit
  1. Selagi sohun dan jamur tiram goreng direbus, siapkan bumbu, minyak, dan cabai bubuk ke dalam mangkuk.
  2. Setelah 2 menit, matikan kompor. Tuang SOTOJI yang telah direbus ke dalam mangkuk. Aduk hingga bumbu merata.
  3. Beri pelengkap tambahan sesuai selera, seperti telur rebus, tomat, jeruk nipis, seledri, dan bawang goreng. SOTOJI siap untuk dihidangkan. 
 
 
 
 

Saya pun langsung tergoda untuk mencicipi karena tergiur oleh aroma jamur yang membangkitkan selera, namun saya juga tidak lupa memanggil kedua orang tua saya untuk turut merasakan SOTOJI ini.
Ketika ibu saya mencicipi, beliau langsung berseru, “Hmm… Enak! Enak!”
 

Papa saya pun tak ketinggalan untuk menikmati SOTOJI.
 

Sedangkan saya? Seperti orang yang tidak makan satu minggu! Hehe... Saya makan SOTOJI selahap mungkin.
 

 
Malam harinya, kakak saya beserta istri datang ke rumah orang tua saya. Sampel SOTOJI yang tinggal sisa satu bungkus pun saya sodorkan kepada kakak saya. “SOTOJI? Apaan nih?” ujarnya. “Udah, cobain aja,” jawab saya. Kakak saya pun antusias dan bergegas menuju dapur untuk memasaknya. Tidak lama kemudian, SOTOJI terhidang di atas meja dan langsung disantap oleh kakak dan kakak ipar saya. Mereka terlihat puas dan sangat menikmati suapan demi suapan SOTOJI.

Berikut adalah komentar kami tentang SOTOJI:
SOTOJI sangat lezat! Setelah saya coba, awalnya saya membayangkan bahwa SOTOJI itu soto daging sapi atau soto ayam, ternyata soto jamur yang rasanya lezat sekali. Saya memakan SOTOJI dengan nasi, merupakan kombinasi yang begitu pas.” - Papa saya

SOTOJI sedap! Saya kan biasa makan jamur, tetapi baru kali ini saya merasakan soto jamur instan. Memang enak dan saya ingin memakannya lagi. Saya yakin SOTOJI ini sehat karena ada kandungan jamurnya. Bumbu SOTOJI terasa light dan pas sekali sehingga saya rasa cocok untuk disajikan kepada keluarga, apalagi dengan cara memasaknya yang mudah dan praktis. Saya akan mempromosikan kepada teman-teman saya.” - Ibu saya

“Inovasi  SOTO Jamur Instan ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Soto dengan jamur tiram goreng dan sohun lembut serta aroma yang begitu khas hingga tidak ada alasan untuk menolaknya. Cara memasaknya pun praktis dan hanya sekedipan mata. Semoga sukses, SOTOJI!” - Saya

SOTOJI rasanya gurih, bumbunya pas, dan proses pembuatannya cepat sehingga kalau lapar tidak usah lama menunggu. Selain itu saya puas karena SOTOJI menyediakan bubuk cabe yang banyak. Saya harap SOTOJI bisa membuat inovasi lain pada jamurnya, jadi tidak hanya jamur tiram saja tetapi bisa jamur kancing atau mungkin jamur shitake.” - Kakak ipar saya

“Ketika mencicip SOTOJI, saya tidak sadar bahwa saya sedang makan soto instan, karena rasanya yang ‘rumahan’, benar-benar soto khas Indonesia. Sangat enak. Hanya saja bungkus bumbunya sulit dibuka. Saran saya terhadap SOTOJI, bisa dikembangkan variasi-variasi soto lainnya.”- Kakak saya

Hayooo, penasaran kan dengan rasa SOTOJI yang sangat nikmat ini? Bagi yang ingin mencoba SOTOJI, buruan deh pesan DI SINI. Selamat mencoba ya : )

Saya berharap semoga SOTOJI bisa diterima oleh pasar dalam negeri dan bahkan tidak tertutup kemungkinan untuk terkenal sampai ke luar negeri. Sukses terus ya, SOTOJI!

 
SOTOJI, paling pas di hati : )



Jumat, 09 Desember 2011

Konser Nidji Liberty Launching Album




Gue sebelumnya sudah pernah post artikel tentang launching album Nidji yang ke-empat di sini. Namun ternyata ada juga launching album Liberty  di Kompas TV yang ditayangkan pada Jumat, 9 Desember 2011 pukul 21.00 WIB.

Gue pun kurang mengerti mengapa ada dua launching di album Nidji yang teranyar ini. Menurut pandangan orang awam seperti gue, di launching album Liberty yang pertama (disiarkan Trans TV), mereka tidak memakai program acara sendiri tetapi “menumpang” pada acara DeRings (yang pada saat itu berubah namanya menjadi DeRings Primetime Launching Album Nidji) . Sedangkan launching kali ini mereka menggunakan nama program yang memang khusus untuk launching album yakni Konser Nidji Liberty Launching Album.

Gambar diambil dari uLun29 dengan modifikasi sedikit dari gue (baca: crop)

Perbedaan lain adalah saat di launching yang pertama itu disiarkan secara langsung. Untuk yang kedua kali ini, disiarkan tidak secara langsung namun dikemas secara apik karena terdapat cuplikan-cuplikan saat mereka latihan dan juga testimoni masing-masing personil tentang album Liberty.

Meski lagu-lagu pada album ke-empat tidak sebanyak mereka bawakan pada launching yang pertama, tetapi gue lebih menikmati saat menonton launching album yang kedua kalinya ini. Karena kolaborasi dengan pemusik lainnya lebih bergengsi dan lagu-lagu di album sebelum-sebelumnya yang mereka mainkan terdengar lebih fresh. Gue yakin Nidji sangat berlatih keras untuk ini.

Buat yang tadi nggak nonton, ini udah gue catat daftar lagu yang mereka bawakan:
1. Breakthru’
2. Jangan Takut
3. Manusia Sempurna (feat. Bee The Musical)
4. Save Me
5. Sang Mantan (feat. Ali Akbar dan Yudi Bee The Musical)
6. Bebas untuk Menang
7. Laskar Pelangi (feat. Gamelan Bali Saraswati)
8. Tuhan Maha Cinta (feat. Yacko)
9. Lagu Cinta
10. Shadows (dibawakan oleh The Fingers feat. Jemima)
11. Indahnya Cinta

Dari kesebelas daftar lagu di atas, yang jadi juaranya (versi gue) adalah Sang Mantan. Kalau boleh jujur, selama ini lagu Nidji (dari album pertama sampai ke-tiga) yang menurut gue paling kurang bagus adalah Sang Mantan, tapi entah kenapa saat dinyanyikan pada launching album ini, gue malah jadi suka banget sama lagu ini.

Di artikel sebelumnya, gue pernah bilang kalau di album Liberty gue paling suka sama Lagu Cinta. Tapi pas mendengarkan Bebas untuk Menang, gue jadi menaikkan posisi lagu tersebut menggeser Lagu Cinta sebagai urutan teratas lagu di album Liberty yang paling gue suka. Karena semangat Nidji-nya kerasa banget. Lagu ini juga pernah mereka bawakan saat di penutupan Sea Games 2011 kemarin.

Ada satu momen juga yang sepertinya jarang terjadi yaitu ketika Aisyah (anak Giring) digendong ke atas panggung oleh Giring saat menyanyikan Lagu Cinta. Dan untungnya Aisyah tidak menangis, justru ikut senyum-senyum di gendongan ayahnya.

Secara keseluruhan, acara launching album Liberty oleh Nidji kali ini terbilang sukses. Menjadikan lagu-lagu yang sudah terdengar biasa menjadi luar biasa. Semoga akan menjadi jalan pembuka yang baik untuk kesuksesan album Liberty Victory.

Kalau di antara Nidjiholic ada yang ketinggalan atau belum nonton, mungkin akan ada siaran ulangnya. Tapi gue nggak tahu kapan (nggak informatif sekali ya gue.. maafkan :D). Biasanya sih acara-acara di Kompas TV ada siaran ulangnya, jadi tongkrongin aja terus televisinya :p

Andai boleh pinjam jempol seluruh rakyat Indonesia, gue akan meminjamnya untuk menaikkan jempol ke atas kepada Nidji.

Rabu, 19 Oktober 2011

Album Ke-Empat Nidji: Liberty Victory


Mungkin di antara Anda belum tahu kalau gue sebenarnya adalah seorang Nidjiholic, karena di blog ini gue belum pernah mengulas sedikitpun mengenai salah satu band favorit gue ini. Berhubung baru saja menyaksikan launching album terbarunya di televisi, gue ingin sedikit sotoy-sotoyan membahasnya. Jika ada opini yang kurang berkenan, mohon dimaafkan : )
Menyimak pernyataan Giring, album ke-empat Nidji yang dirilis pada tahun ini bertajuk “Liberty” untuk album versi bahasa Indonesia, dan “Victory” untuk album berbahasa Inggris. Untuk album “Victory”, akan dipasarkan ke seluruh dunia dan didistribusikan mulai tahun depan. Gue bangga deh mendengar kabar tersebut, semoga Nidji bisa semakin mengudara namanya di belantika musik dunia.
Penggarapan album ini dilaksanakan sekitar sembilan bulan lamanya dan proses rekaman album ke-empat ini berlangsung di Melbourne, Australia. Pantas saja beberapa bulan belakangan Nidji jarang nongol di televisi karena keseriusan mereka dalam mengerjakan album “Liberty” dan “Victory”.
Pada malam hari ini, Nidji membawakan beberapa single lama dari tiga albumnya yang terdahulu dan lima single yang terdapat pada album terbaru. Lima lagu tersebut adalah “Save me”, ”BB”, “Lagu Cinta”, “Indahnya Cinta”, dan “Jangan Takut”.
Gue memang belum mendengarkan satu album, tapi dari kelima lagu yang dibawakan saat launching malam ini, gue langsung jatuh cinta pada “Lagu Cinta”. Karena menurut gue di lagu ini terasa Nidji-nya meski ada sentuhan yang baru dan berbeda.
Selain itu, gue merasa single “Jangan Takut” terdengar senada dengan “Indahnya Cinta”. Atau mungkin memang nada-nada inilah yang ditonjolkan pada album ke-empat ini, gue belum sepenuhnya tahu. Belum lagi konsep video klip dari kedua single tersebut yang menurut gue hampir-hampir mirip. Yang belum pernah nonton video klipnya bisa klik “Jangan Takut” dan “Indahnya Cinta”.
Ada yang sedikit gue sayangkan di launching album Nidji kali ini, menurut gue terlalu banyak bintang tamu (penyanyi lain) yang “bertugas” menyanyikan kembali lagu-lagu Nidji. Dan maaf, mereka menyanyikannya tidak terlalu bagus. Kalau kata nyokap gue, “Malah bagus dong, penyanyi lain bawain lagunya masih dibawahnya Nidji, berarti Nidji masih yang paling bagus.” Gue langsung berpikiran, benar juga ya nyokap gue.

Ralat 12 Juni 2012 :
Maaf, setelah saya cek lagi ternyata artikel ini tidak sengaja terpotong.  File asli artikel ini ada di harddisk laptop saya yang rusak. Maafkan T.T

Sabtu, 07 November 2009

Serigala Terakhir

Akhirnya, gw posting review film juga, guys. Karena gw nggak tahan mau berbagi review ini sama kalian. Buat orang-orang yang belum dan akan menonton film ini tapi nggak mau tahu ceritanya gimana sebelum lw nonton filmnya, gw saranin jangan baca ini. Karena gw akan mengulas sampai tuntas. Okay, bersiap ya teman, karena review gw ini sangatlah panjang.



Kamis malam, gw melihat tayangan On The Spot di Trans 7. Saat itu gw nontonnya sambil pindah-pindah ke channel yang lain. Tiba-tiba pas gw balik lagi ke On The Spot, muncullah muka-muka Vino G. Bastian, Fathir Muchtar, Reza Pahlevi, Ali Syakib, Dion Wiyoko dan Dallas Pratama. Yup, betul banget. Mereka disana sedang mempromosikan film “Serigala Terakhir”. Langsunglah sebagai penggemar berat Vino G. Bastian, gw teriak-teriakan sendiri di kamar. Haha. Vino mempromosikan film tersebut senagai film yang asli dibuat oleh anak-anak Indonesia, tidak menggunakan bantuan dari luar negeri. Gw tahu tuh, dia nyindir film apa.

Keesokan harinya, gw langsung pergi nonton film itu. Karena gw nggak tahu jadwal mainnya jam berapa, gw berangkat ke Matos sekitar jam dua belas kurang sepuluhan. Sampai sana gw liat jadwal main pertamanya jam dua belas tepat. Tanpa ba bi bu lagi gw langsung beli tiketnya. Untung aja nggak ngantri. Gw lihat saat itu jam dua belas kurang sedikiiit dan gw mengambil langkah seribu begitu dapat tiketnya. Ternyata di layar bioskop udah terlihat lima orang pemain utama berlari-larian. Yah, mungkin saat itu gw telat sepersekian menit. Nggak apa-apa deh, belum ketinggalan, baru opening-nya aja.

Vino G. Bastian (Jarot), Fathir Muhtar (Ale), Ali Syakib (Sadat), Dallas Pratama (Jago), dan Dion Wiyoko (Lukman) adalah lima anak kampung yang bersahabat. Mereka bercita-cita suatu saat nanti akan menjadi penguasa di negara ini. Menurut mereka kekuatan adalah kekuasaan dan kekuasaan adalah kehormatan. Mereka lebih sering menggunakan kekuatan ketimbang otak untuk menunjukkan kekuatan mereka. Kalau menurut gw, mereka lebih tepat untuk dijuluki preman kampung, sebab mereka sering beradu otot untuk mempertahankan daerah kekuasaannya jika diancam oleh pihak lain.

Di kampung tersebut mereka adalah pemimpinnya, jadi seluruh pemuda kampung merupakan bawahan mereka. Ada salah seorang pemuda kampung tunawicara bernama Fathir (diperankan oleh Reza Pahlevi), yang pernah satu kali dimintai bantuannya oleh Ale dkk untuk membantu perkelahian dengan sekelompok pemuda lainnya. Saat itu pun Ale dkk berhasil dalam perkelahian tersebut karena Fathir turut memukul salah seorang musuh dengan memecahkan botol di kepala orang tersebut. Disaat yang lain, ketika Fathir diolok-olok oleh sekumpulan anak kecil, Jarot pernah membela Fathir dengan mengusir anak-anak kecil yang telah memperoloknya.

Suatu ketika, Ale dkk bertanding futsal dengan sekelompok pemuda lain. Namun permainan futsal tersebut diwarnai oleh aksi anarkis. Hingga akhirnya ketika Ale berhasil membuat satu tendangan gol, sekelompok lawannya terbakar emosinya kemudian terjadi perkelahian. Ketika pemimpin lawan tersebut ingin menyerang Ale menggunakan belati, dari belakang Jarot memukul pemimpin lawan tersebut hingga tewas. Yang dilakukan oleh Ale dkk saat itu adalah kabur namun Jarot berbesar hati untuk tetap diam di lapangan itu hingga akhirnya ditangkap oleh polisi.

Di balik jeruji penjara, hidup Jarot tidak pernah tenang karena selalu diperlakukan tidak baik dan disiksa oleh teman-teman satu selnya. Namun lama kelamaan jiwa Jarot yang sesungguhnya muncul kembali dan justru menghantam teman-teman satu selnya untuk tunduk kepadanya. Selama mendekam di penjara, Jarot tidak pernah sekalipun dijenguk oleh keempat sahabatnya itu.

Di lain kesempatan, Ale dkk menyatukan kekuatan agar organisasi mafia narkoba Naga Hitam tidak masuk ke daerah perkampungan mereka. Karena Ale dkk “pincang sebelah” setelah tertangkapnya Jarot, maka Ale dkk mengadakan “audisi” kepada pemuda kampung untuk turut bergabung bersama mereka. Fathir adalah orang yang terakhir kali datang ke ajang tersebut. Namun saat itu Lukman dan Jago justru memperolok dan menertawakan Fathir dengan menyuruh Fathir untuk pulang saja dan merawat neneknya. Lalu Fathir langsung menuju rumahnya dan terlihat banyak orang sedang berada di rumahnya. Ternyata saat itu nenek Fathir sudah meninggal dunia.

Baiklah, kita kembali kepada Jarot. Setelah beberapa waktu lamanya, Jarot bebas dari penjara. Begitu keluar dari penjara (di scene ini lw bisa ngelihat Vino dengan gaya rambut gondrong serta berjanggut dan berjambang. So kewl!), Jarot disambut oleh Fathir. Kali ini style Fathir sudah berubah. Dia menggunakan jaket kulit dan memiliki janggut serta jambang. Tak hanya itu saja, Fathir menjemput Jarot dengan mengendarai sebuah mobil sedan berwarna merah. Ternyata Fathir membawa Jarot ke sebuah gedung yang di dalam satu ruangan terdapat beberapa bos besar pemilik organisasi sudah menunggu kedatangan mereka. Bos-bos tersebut mengajak Jarot untuk bergabung bersama mereka karena mereka sudah mengetahui kredibilitas Jarot. Mereka mengiming-imingi Jarot dengan kehidupan yang lebih baik. Akhirnya Jarot menyetujui ajakan tersebut. Dan lw tahu? Organisasi tersebut adalah Naga Hitam. Sehingga, sejak resmi bergabung dengan Naga Hitam, Jarot berseberangan dengan Ale dkk.

Sebetulnya, hati Jarot tidak begitu setuju dengan perilaku Naga Hitam yang sering bertindak terlalu sadis terhadap orang-orang yang tidak mematuhi peraturan Naga Hitam. Mereka selalu menyelesaikan persoalan dengan membunuh orang- orang. Terlebih Fathir yang dengan dinginnya membunuh orang dengan menggunakan pistolnya.

Film ini juga dibumbui oleh kisah cinta. Dimana Jarot dan Aisyah (diperankan oleh Fanny Fabriana) sama-sama menjalin cinta terlarang. Aisyah merupakan adik dari Ale. Setelah bergabung dengan Naga Hitam, Jarot bertemu kembali dengan Aisyah dan mereka sering janjian untuk bertemu.

Lain lagi dengan kisah ketika Jarot mengetahui bahwa adiknya, Yani (diperankan oleh Zaneta Georgina), bekerja di sebuah club malam menjadi seorang penyanyi. Jarot yang melihat hal tersebut kemudian melarang Yani agar tidak bekerja di tempat itu lagi. Akan tetapi yang ada hanyalah perang mulut diantara kakak beradik itu. Setelah itu Jarot meminta pemilik club malam untuk menjaga Yani agar tidak tersentuh oleh pria manapun.

Hingga akhirnya suatu saat Bos Besar menyuruh Jarot untuk mengadakan pendekatan ke kampung Jarot untuk berjualan narkoba. Alasannya adalah Jarot sudah mengetahui tempat itu. Dengan hati yang gundah, Jarot tetap mematuhi perintah tersebut. Jarot dan Fathir memberi sampel narkoba gratis kepada pemuda-pemuda kampung hingga akhirnya mereka ketagihan dan terus menerus membeli kepada Naga Hitam. Salah satu korbannya adalah adik Lukman yang pada akhirnya membuka mulut setelah ditanya paksa oleh kakaknya bahwa yang berjualan narkoba adalah Jarot. Setelah itu Ale dkk terus berniatan untuk memerangi Jarot dan Naga hitam. Di lain hari, ketika Ale dkk meminta uang keamanan kepada para pemilik-pemilik toko di suatu kawasan pertokoan, Ale dkk melihat Jarot dan Fathir melintas menggunakan sedan merahnya. Ale dkk seketika juga mengikuti mobil tersebut menggunakan motor yang dirampas mereka di tengah jalan. Laju mobil Jarot dan Fathir diapit oleh kedua motor Ale dkk hingga Fathir melepaskan tembakan peluru ke lengan Ale. Hal tersebut disesali oleh Jarot yang tidak menginginkan Ale ditembak oleh Fathir.

Tak lama, akhirnya Jarot kembali pulang ke rumah sekedar untuk menjenguk keluarganya. Ternyata ayah Jarot tidak ingin melihat Jarot ada di rumah itu lagi. Jarot pun kemudian memberikan uang untuk ibunya dan seketika Aisyah mendatangi rumah Jarot dan melapor bahwa Ale dkk sedang datang untuk menyerbu Jarot. Namun Jarot pun berhasil lolos dan dengan sedikit bantuan dari Fathir yang ternyata mengikutinya, akhirnya Jarot benar-benar dapat terbebas dari serangan Ale dkk. Jarot marah karena Fathir telah membuntutinya, menurutnya hal itu adalah urusan pribadi Jarot dan Fathir tidak perlu bersikap seperti itu.

Kemudian di lain waktu, Sadat dan Jago mendapati adik Lukman tewas dalam keadaan over dosis. Hal itupun diketahui oleh Lukman. Sehingga Lukman menemui Jarot yang saat itu sedang bersama kawanan Naga Hitam untuk membalaskan dendamnya. Akan tetapi Fathir yang berjalan di belakang Lukman, menjerat leher Lukman dengan benang halus. Kemudian Jarot menyuruh Fathir untuk melepaskan jeratan tersebut. Jarot berbicara empat mata dengan Lukman dengan awasan anggota Naga Hitam dari kejauhan. Setelah sempat terjadi pertengkaran mulut yang membakar emosi Lukman hingga ingin membunuh Jarot, namun hal itu digagalkan oleh Fathir yang terlebih dahulu menembak Lukman. Lukman pun tewas dan Jarot kembali mengecam Fathir.

Ale dkk mengetahui perbuatan Naga Hitam yang telah menembak mati Lukman. Sadat dan Jago melaksanakan aksi balas dendam dengan memperkosa Yani. Ale pun marah ketika Sadat dan Jago melapor kepada Ale. Menurut Ale bukan seperti itu cara balas dendam yang sesungguhnya, karena telah menyakiti wanita.

Sewaktu Jarot pulang ke rumahnya, Yani terlihat sedang termenung dan ibu Jarot berkata bahwa setiap hari Yani bersikap seperti itu. Jarot pun segera mendatangi club malam tempat Yani bekerja dan menanyakan siapa yang telah menodai adiknya kepada pemilik club. Pemilik club yang disiksa oleh Jarot dkk kemudian mau membuka mulut dan mengakui bahwa Sadat dan Jago yang melakukannya. Setelah itu Jarot dkk membakar pemilik club malam tersebut.

Suatu malam Jarot berhasil menangkap Sadat dan Jago. Mereka meminta ampun kepada Jarot. Akan tetapi Jarot tidak mau memaafkan kedua mantan sahabatnya itu dan nyawa mereka pun melayang dihabisi oleh Fathir. Di scene ini benar-benar terlihat betapa pembunuh berdarah dinginnya Fathir ketika memukul Sadat dan Jago menggunakan palu besar hingga darah mereka bermuncratan ke wajah Fathir yang penuh tampang kepuasan.

Ale yang tinggal sendiri pun akhirnya memergoki SMS Jarot di handphone milik Aisyah yang saat itu sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan Jarot. Aisyah dikurung oleh Ale dan justru Ale yang menemui Jarot di sebuah penginapan dengan membawa sekumpulan pemuda kampung. Tanpa sepengetahuan Jarot, Fathir dan anggota Naga Hitam lainnya membuntuti Jarot dengan berjaga-jaga di depan penginapan. Mengetahui Jarot akan diserang, Fathir masuk ke dalam penginapan dan menjemput Jarot. Terjadi aksi tembak menembak di penginapan dan mereka berdua berhasil lolos dengan terjun melompat dari lantai dua. Setelah itu Jarot dihakimi oleh teman-temannya di Naga Hitam. Mereka menyuruh Jarot untuk meninggalkan Aisyah demi keselamatan mereka berdua.

Dengan penuh kegalauan, Jarot mengajak Aisyah untuk bertemu di sebuah atap gedung yang belum jadi. Sebelumnya, Aisyah telah brpamitan dengan ibunya untuk pergi menemui Jarot dan mengaku bahwa dirinya telah mengandung anak hasil perbuatannya dengan Jarot. Namun setelah Jarot dan Aisyah bertemu, Jarot justru mengajak berpisah dengan alasan demi kebaikan untuk mereka berdua. Aisyah masih menangis tersedu-sedu ketika Jarot meninggalkannya dan turun ke lantai dasar. Jarot pun terlihat sangat tersakiti dengan keputusan yang dibuatnya sendiri. Kemudian ada seseorang yang menepuk pundak Aisyah dari belakang, Aisyah mengira orang itu Jarot dan ekspresi Aisyah berubah gembira. Tetapi ekspresi Aisyah berubah kembaki ketika didapati bahwa orang yang menepuk pundaknya adalah Fathir. Jarot yang sedeng menyusuri jalan keluar gedung, mendapati Aisyah terjatuh ke lantai dasar. Jarot pun kaget dan menangis penuh keharuan kemudian segera menelpon polisi. Waktu gw melihat scene itu, gw teriak ”Shit!” sendirian di tengah keheningan bioskop. Sumpah gw kaget dan kesel banget sama perilaku sadisnya Fathir. Jadi di scene itu bener-bener diperlihatkan proses jatuhnya Aisyah yang terjun di udara.

Ibu Aisyah yang tidak terima dengan hal itu meminta anak sulungnya, Ale untuk membalaskan dendam tersebut. Kemudian Ale berhasil membakar mobil sedan merah Naga Hitam dengan mengalihkan perhatian Fathir dkk menggunakan pizza yang dikelabuhi sebagai bentuk traktiran ulang tahun Jarot (padahal Jarot tidak memesan pizza, yang memesan adalah Ale dkk). Ale pun turut membunuh salah seorang anggota Naga Hitam dengan meminta bantuan kepada orang untuk menembaki seorang anggota Naga Hitam itu. Mengetahui hal tersebut, Bos Besar Naga Hitam memarahi anak buahnya yang tersisa. Seorang anggota lainnya menyesali mengapa bukan Jarot saja yang harus tewas, namun Fathir melindungi Jarot ketika terjadi pertengkaran diantara keduanya.

Jarot membawa Fathir ke ruangan rapat mereka. Jarot mengajak Fathir agar berdamai dengan kampung Ale dkk dan tidak akan mengganggu kampung itu lagi. Akan tetapi Fathir menolaknya.

Lalu Jarot mengajak Ale untuk bertemu empat mata saja. Ale sepakat dan mereka bertemu tanpa pengawalan dari siapa pun. Jarot membuka percakapan dengan membawa kenangan-kenangan mereka di masa lalu. Ale bersikap sinis dan menganggap bahwa Jarot telah berkhianat. Namun Jarot menganggap dirinya bersikap seperti itu akibat dari perbuatan mereka yang tidak menjenguk dirinya selama di penjara. Bagi Jarot, hal tersebut bukanlah sikap yang dimiliki oleh orang yang bersaudara. Pertengkaran mulut berlangsung sengit diantara keduanya. Ale ingin membunuh Jarot menggunakan pistolnya dan saat itu terjadi pergelutan. Mereka berguling dan saling mengunci badan di atas tanah berpasir. Hingga akhirnya pistol meledak ke perut Ale. Mereka saling meminta maaf dan kalimat terakhir Ale menjelang ajalnya adalah ia pernah bermimpi bahwa mereka berlima akan bersatu untuk menguasai dunia bersama. Dalam tangisan, Jarot bergerak meninggalkan Ale yang sudah tewas. Ketika berjalan beberapa langkah, bahu sebelah kanan Jarot tiba-tiba ditembak oleh seseorang dan Jarot pun tewas seketika itu juga. Orang yang membunuh Jarot adalah Fathir.

Dan begitulah kurang lebihnya film ”Serigala Terakhir” ini. Gw kira yang dimaksud dengan “Serigala Terakhir” itu Jarot karena dialah yang paling terakhir hidup (dan akhirnya mati juga karena dibunuh oleh Fathir). Namun diakhir cerita, Bara, adik bungsu Ale yang ternyata menjadi generasi penerus dari lima serigala tersebut dan menjadi “Serigala Terakhir”.


Film berdurasi kurang lebih dua jam lima belas menit ini, memiliki unsur drama romantis, action, dan komedi yang menjadi satu di film ini. Untuk lw yang emosian seperti gw (gampang sedih, gampang marah, dan juga gampang bahagia), gw yakin pasti emosi lw akan kecampur aduk disini. Tapi sepanjang film sih gw lebih sering deg-degan, pengen marah dan nendang-nendangin Reza Pahlevi, dan pastinya sedih.

Akting buat Reza Pahlevi gw acungin jempol. Dia bener-bener tokoh yang tidak disangka-sangka yang akhirnya menjadi pembunuh berdarah dingin. Gw sebel banget sama dia. Gimana nggak sebel, di film itu, empat orang pemeran utama dibunuh sama dia.

Akting untuk Vino G. Bastian, seperti biasa, dia bermain total. Manly abis. Sumpah serapah seperti ”Anjing” sering keluar dari mulutnya. Keren banget lah cintaku itu. Haha. Di film itu lw bisa puas lihat otot-otot dan betapa six pack-nya Vino. Di awal lw bisa ngeliat kulit dia agak lebih hitam dari biasanya tapi diakhir-akhir ketika udah jadi mafia bersama Naga Hitam, you can look his pale complexion again. Gw perhatikan sekitar empat kali Vino berganti gaya rambut dan mungkin lw bakal ketawa karena baju-baju yang dia kenakan ketika jadi mafia itu ”enggak banget”. Model-model tahun 80’an gitu, pake kalung rantai emas pula. Yah, kan namanya juga mafia, begitu deh modelnya. Hahaha, tapi mau dibagaimanain juga, Vino tetap juara!

Top deh. Empat bintang untuk film ini.