Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2015

Kisah Citta Pascalulus (Ketiga): Tragedi Toga

Ketika daftar wisuda secara daring, calon wisudawan harus memilih ukuran toga sesuai ukuran badannya masing-masing. Ukuran toga tersedia dari S sampai XXL dengan tabel keterangan yang seingat gue mencakup panjang badan, lebar bahu, panjang lengan, dan lingkar pinggang. Dari awal membaca tabel itu, gue langsung berpikir untuk mengambil ukuran M. Setelah pikir lebih jauh, gue takut ukuran M nggak sesuai ukuran badan gue, sehingga gue segera mengambil meteran. Karena nggak pede mengukur sendiri, gue lari ke nyokap gue, “Bu, buat ukuran toga, mending S atau M? Kalau ukuran S blablabla, kalau ukuran M blablabla.” Lalu nyokap gue mengukur lebar bahu dan panjang lengan gue, “Ambil S aja, pas ini.” Oke, gue percaya sama nyokap untuk memilih ukuran S. Dalam hati gue sempat sebal sama tabel ukuran yang tersedia di laman wisuda daring karena tidak ada ukuran lingkar kepala, tapi ya sudah bismillah saja, semoga baik jubah maupun topi berukuran S itu bisa pas di badan dan kepala gue.

Untuk urusan ukuran semacam ini, gue nggak pernah puas dengan keputusan yang gue ambil. Jas almamater kampus gue pas S-1 agak kebesaran sedikit, kemudian gue kecilkan sesuai dengan ukuran badan gue saat itu (iye, saat itu gue masih setipis kertas). Yang itu tidak terlalu bermasalah. Masalahnya, ketika wisuda S-1, toga gue agak ajaib. Bukan di jubah toganya, tetapi di topi toganya. Padahal, saat itu setiap calon wisudawan wajib mengepas ukuran toga sesuai dengan contoh jubah dan topi toga yang disediakan oleh pihak fakultas. Kami dipersilakan mengepas toga di salah satu ruang akademik dan kami diperbolehkan mencoba semua toga yang ada dengan ukuran yang tentu berbeda-beda. Logikanya, setiap calon wisudawan tidak akan ada yang salah ukuran karena kami telah mencobanya. Apalagi saat itu gue mencoba toga bersama teman-teman, sehingga gue bisa menilai yang dikenakan oleh teman gue sudah pantas atau tidak, dan teman-teman gue juga bisa menilai yang gue kenakan. Setelah toga asli milik gue berada di tangan, gue cobalah toga itu beserta topinya. Ukuran jubah toga oke, tapi tidak dengan topinya. Kekecilan, cyiiin! Saat pengukuran jaket almamater S-2 pun sama menyebalkannya. Ketika pendaftaran ulang, gue mendapat kesempatan untuk mencoba semua ukuran jaket almamater. Saat itu kan pendaftaran ulang sendiri-sendiri, jadi gue nggak kenal siapapun. Namun saat mencoba gue bergumam, “Duh, ini kegedean gak, ya.” dan ada mbak-mbak sebelah gue yang juga sedang mencoba menimpali gumaman gue, “Kalau kegedean juga nanti bisa dikecilin,” lalu gue menjawab, “Ah, iya, ya, bisa dikecilin.”. Akhirnya, jaket almamater yang gue pilih berukuran L dengan harapan lebih baik kebesaran daripada kekecilan. Kalau kebesaran bisa dikecilkan, kalau dikecilkan tidak bisa dibesarkan. Lalu, bapak petugas yang memverifikasi meyakinkan ulang di depan gue, “Ukurannya L, ya,” dan dengan yakinnya gue jawab, “Ya.” Begitu di rumah, gue buka bungkusan jaket almamater gue. Yak, kebodohan terulang kembali. Ukuran L-nya besaaar sekali, pemirsa... Berbeda dengan yang gue coba di kampus. Mana jaket almamater gue di kampus yang ini kata nyokap gue nggak bisa dikecilkan karena akan memotong bagian-yang-manalah-yang-gue-ga-paham-karena-gue-ngga-pernah-menyentuhnya-lagi. Seriusan, gue ngga pernah menyentuh bahkan melihatnya lagi saat jaket almamater yang disebut-sebut “jakun” itu sampai di rumah. Terakhir di simpan di kamar nyokap gue dan gue ga mau ketemu lagi dengan jakun itu karena sakitnya tuh di sana, di salah ukuran T.T

Setelah solat Jumat, gue pergi ke tempat pengambilan wisuda yang terletak di sayap baru Balairung yang menghadap ke danau. Sampai sana suasananya sepi dan hanya ada dua orang calon wisudawan pascasarjana selain gue yang mengantri. Antrian calon wisudawan sarjana bahkan tidak ada. Gue melirik kertas yang dibawa ibu-ibu calon wisudawan yang mengantri di sebelah gue (antriannya duduk). Akhirnya gue berani membuka mulut dalam edisi sok kenal sok dekat, “Bu, maaf. Yang dibawa buat ambil toga apa saja, ya?” Kemudian ibu itu memperlihatkan kertasnya ke gue, “Ini, slip pembayaran dari bank sama bukti cetak pembayaran.” Nah, kan, bener. Kenapa dia bisa cetak bukti pembayaran, sedangkan gue tidak? Gue bilang ke ibu itu kalau gue tidak bisa cetak bukti pembayaran. “Mungkin password-nya kali, mbak? Banyak yang ga bisa masuk karena password-nya udah gak berlaku.” Gue yakin banget sebelum ujian pratesis gue sudah mengurus perpanjangan password, “Sudah saya perbarui, kok, Bu.” Ibu itu akhirnya memberi saran lain, “Coba urus di komputer sini, biasanya ada.” Gue sama ibu itu celingukan cari komputer yang tersedia di ruang pengambilan toga. Sampai akhirnya mata kami sama-sama menemukan sebuah meja ber-laptop di sebelah paling kanan ruangan dengan seorang petugas yang duduk di belakangnya, “Nah, itu dia!” Akhirnya gue berterima kasih pada ibu itu dan pamitan menuju ke sana. Gue mendekati mbak petugas dan langsung menyapa padahal mbaknya lagi makan nasi kotak, “Misi, Mbak. Maaf ganggu,” ujar gue sambil ngelirik makanan di kotaknya. Kepo, pengen tau makanannya apa. Gue lihat ada ayam gitu, sih, haha. “Oh ya, nggak pa-pa,” kata Si Mbak sambil sedikit kaget menyambut kedatangan gue yang mengganggu makan siangnya. Gue lihat wajah mbaknya, kok kayak kenal tapi gue lupa itu siapa, daripada nambah ke-SKSD-an, mending gabung SNSD *apa sih* Ya udah, daripada kelamaan mengingat siapa mbak itu, gue langsung pada pokok permasalahan, “Mbak, saya nggak bisa nge-print cetak bukti bayar.” Lalu mbak petugas menjawab, “Oh, di sini bisa.” Kemudian mbaknya nge-klik sana-sini, dan menanyakan NPM gue. Nggak lama setelah gue jawab, cetak bukti bayar gue sudah di-print-kan. Horay! Lumayan, menghemat tinta printer di rumah. Dih. Setelah itu, gue kembali mengantri sebentar dan mendapatkan undangan beserta sebungkus toga. Asyik! Jadi wisuda beneran! Nah, pas keluar ruangan, ketika hendak turun tangga, gue baru ingat siapa mbak yang membantu menyetak bukti bayar wisuda gue. Ternyata dia karyawan di tempat gue magang! Pantas saja kayak kenal, tapi yang membedakan adalah sekarang dia berjilbab. Gue magang kan tahun 2013, beda divisi juga sih sama dia, apalagi sekarang dia berjilbab, ya wajar kalau gue lupa. Gue pengen masuk lagi dan nyamperin mbak itu, tapi gue ada ketakutan salah orang. Haha. Kalau ternyata benar itu dia, ya sudah gue minta maaf lewat sini saja. Maafkan ya, Vero :D

Sampai mobil, gue mengecek kelengkapan toga yang terbungkus plastik. Pertama, gue mengecek jubahnya.

Two stripes, baby!

Pas gue lihat topinya... Ya ampun kenapa kecil sekali? T.T

Gue heran, kenapa gue nggak pernah bisa secara presisi mengukur toga dan jas/jaket almamater yang sesuai dengan anggota tubuh gue? Dari segi panjang, jubah toga gue kependekan, meski ukuran di badan sudah pas. Selain itu, topi toganya diameternya kekecilan di kepala gue. Memang sih, ada karet di belakangnya, tapi dari pengalaman wisuda yang lalu, gue dikatain nyokap gue kalau topi toga gue kayak kue ulang tahun X)) Nyokap pun punya mengalami hal yang sama saat wisuda sarjananya dulu. Jadi, nyokap gue nggak mau tragedi-topi-toga-mirip-kue-ulang-tahun terulang kembali. Akan tetapi, maaf, Bu, kali ini tragedi itu harus kita ulang kembali :D

Sampai rumah, gue ngomel-ngomel sendiri di depan nyokap gue. Beliau juga menyesal, kenapa toga gue kependekan dan topi toga gue kecil sekali, “Kenapa pas kamu ambil, nggak langsung dicoba?” Gue diam saja penuh kekecewaan pada diri sendiri. Untungnya, di bagian belakang topi masih ada karet sehingga topi toganya bisa didorong ke bawah sehingga nggak terlihat seperti kue ulang tahun banget. Nyokap pun akhirnya membuka salah satu bagian jahitan karet kemudian menjahitnya lagi dengan posisi karet yang lebih lebar sehingga karet bisa lebih ditarik dan kepala gue tidak pusing dengan kencangnya karet dengan posisi yang sebelumnya. Gue pun berpikiran untuk menyiasati sanggul gue saat wisuda nanti, yaitu cukup poni miring tanpa sasak dan posisi sanggul berada di bawah sehingga tidak bentrok dengan topi toga. Kembali dari pengalaman, sanggul gue pada wisuda S-1 lalu agak-agak maksa karena gue ingin seperti model sanggul yang gue temukan di majalah, yaitu dengan poni belah tengah. Hasilnya, topi toga gue semakin muncul ke atas. Yeah.
Kiri: Topi Kue Ulang Tahun Toga S-1; Kanan: Topi Kue Ulang Tahun Toga S-2

Pokoknya, besok-besok gue butuh saksi hidup untuk menemani gue mengukur hal-hal semacam itu. Mau nggak mau harus kuliah lagi supaya bisa merasakan jas/jaket almamater dan toga yang sesuai ukuran badan. Err... Gue nggak maksa, sih. Ya mungkin tiba-tiba dendam gue akan ketidakpasan-jas-almamater-dan-toga tersulut api, jadi gue harus menuntaskannya dengan kuliah lagi! HAHA *mau maksa siapa juga, Cit* -___-


Rabu, 24 Desember 2014

Afgan Lagi Afgan Lagi


“Citta… Hari gini lo masih suka Afgan?” tulis teman gue di perbincangan melalui sebuah media.

Iya, kalau gue masih suka Afgan terus kenapa? Sedosa apa sih kalau gue suka sama penyanyi dengan suara enak, lagu bagus, dan tampang ganteng?

Atau karena umur gue sudah 25 jadi nggak boleh fangirling lagi? 

Auk ah. Sirik aje lo.

Ini sebenarnya kejadian yang sudah terjadi beberapa bulan lalu, tepatnya satu minggu sebelum lebaran. Iya, gue tahu kejadian ini sudah lama banget, tapi sayang kalau nggak di-posting T.T. Gue sudah menulis ini berbulan-bulan lalu, tapi apa lah daya, waktu belum berjodoh dengan gue (sama waktu aja lama berjodohnya, apalagi sama manusia). Eh, what

Beklah.

 Saat itu, gue pergi ke Mal Kelapa Gading bersama keluarga kakak gue. Niatnya mau beli takoyaki dan beberapa keperluan lain. Tujuan pertama akhirnya diputuskan ke Farmers Market terlebih dahulu untuk membeli beberapa bahan pangan. Dasar belanja sama ibu-ibu (baca: kakak ipar), jadi yang dibeli sayur mayur gitu, seperti kangkung, tomat, kentang, dll.

Selepas dari Farmers Market, kami menuju Ippeke Komachi untuk beli takoyaki. Sepanjang perjalanan ke Ippeke Komachi, banyak stan diskonan dalam rangka lebaran. Dasar cewek (baca: gue dan kakak ipar), nggak tahan kalau nggak lihat diskonan (padahal belum tentu beli), jadi dengan lincah kami mampir dari satu stan ke stan yang lain. Eh ternyata kakak ipar gue tertarik dengan barang-barang di salah satu stan dan berhenti cukup lama di situ untuk memilih-milih. Dasar bapak-bapak (baca: kakak gue) yang nggak tahan nungguin belanja sambil gendong anak yang aktif luar biasa, maka kami disuruh kakak gue untuk ke Ippeke Komachi terlebih dahulu untuk memesan takoyaki agar tidak kelamaan. “Oke, nanti kita balik lagi ke sini, “ kata kakak ipar. Gue sih iya-iya aja deh, kebetulan gue tertarik dengan salah satu stan yang belum sempat gue kunjungi.

Langkah demi langkah mendekati Ippeke Komachi, sayup-sayup terdengar iringan live music.

Langkah semakin dekat... Semakin terdengar suara dan lagunya…

Sampai di samping Ippeke Komachi… Gue dan kakak ipar bertatapan…

“AFGAN!!!”

Kami lari berhamburan mendekati panggung di depan Ippeke Komachi.

Kakak ipar gue udah nggak peduli meninggalkan suami dan anaknya yang jauh di belakang kami. Kalau gue sih ngapain juga peduli. HAHA.

Akhirnya gue bisa mendapat tempat di bagian tengah. Di depan gue berdiri dua orang pria yang badannya lebih tinggi dari gue. Sempat bingung mau pindah ke sayap kanan atau kiri tapi gue lebih senang menonton di bagian tengah. Baiklah, untuk saat itu gue sabar berdiri di belakang kedua pria yang saling kenal ini. Jujur, gue khawatir lama-kelamaan dua pria ini akan berpegangan tangan, bertatapan mesra, dan kau-tahu-selanjutnya. Ah paling juga nanti dua cowok ini pada pergi

Oke, skip.

Afgan saat itu memakai kemeja berwarna biru muda.

Sebenarnya, ini semacam doa yang dikabulkan oleh Allah SWT. Beberapa hari sebelumnya, gue sempat membatin ketika menonton Afgan di televisi, udah lama nggak nonton Afgan, kayaknya harus nonton langsung lagi nih

Iya, gue penasaran akan penampilan langsungnya dia setelah sekitar 4 tahun yang lalu gue menonton langsung penampilannya. Ternyata, interaksi Afgan terhadap penonton sudah semakin bagus dan luwes. Bagian menariknya, ada beberapa kali Afgan mengajak ngobrol penonton. Kali itu, ada seorang penonton perempuan kira-kira berumur sekitar 15-16 tahun yang diajak mengobrol oleh Afgan. 

Afgan                          : Kamu mau nggak nikah sama aku?
Penonton Perempuan   : Hmmm..
Gue (dalam hati)          : Kyaaa~~~Yes yes. Aku mau mau mau, Afgan~~~
Penonton Perempuan   : (dengan suara yang dimanja-manjain) Bukan gitu, Kak. Kak Afgan kan masih muda, jadi jangan pikir nikah dulu.
Gue (dalam hati)          : YA ELAH GAN, MASIH BOCAH GITU LO AJAK NIKAH. MAKANYA GUE AJA YANG LO AJAK NIKAH, UDAH PASTI MAU! *KZL*

Masih dengan pergolakan batin akibat Afgan ditolak ajakan nikahnya, gue menengok ke belakang. Eh kakak ipar ternyata sudah menghilang. Dia pasti sudah bersama kakak gue ke Ippeke Komachi. Oke, biarlah gue khusyuk menonton si ganteng satu ini. Saat itu Afgan membawakan single religinya yang terbaru dan lebih banyak menyanyikan beberapa lagu dari album terbaru.

Gue kalau nonton pertunjukan musik kan ekspresif ya, teriak-teriak bisa, jejingkrakan bisa, nyanyi tanpa mengikuti nada yang benar juga bisa. Bisa heri (heboh sendiri) gitu lah (makanya sebenarnya gue lebih nyaman nonton pertunjukan musik sendirian karena gue tipe Inpresif. Introvert yang ekspresif. Oke, adik-adik di rumah, jangan dipakai istilah ini ya, karena istilah ini 100 persen karangan gue sendiri). Lah, emang ada lagu Afgan yang bisa bikin joget? Ada dong, nggak gawl banget sih situ. 

Woo salah ketik tuh Cit!

Apaan? Gawl?

Iye

EMANG GAWL kali ah nulis GAWL yang GAWL!!!

….

BERANTEM AJA YUK!

***

Oke, masih ingat dong dengan belanjaan sayur mayur yang dibeli kakak ipar gue? Ndilalah (bahasa Jawa: kebetulan) itu belanjaan yang isinya kangkung dkk gue yang bawa! Bayangkan dong gue nyanyi-nyanyi dan jejingkrakan sambil bawa plastik berisi kangkung? Emang sih jingkraknya nonton Afgan tuh nggak sejingkrak kalau gue nonton Nidji. Tapi lo harus tau rasanya nonton pertunjukan musik dengan orang-orang di sekeliling lo yang nggak bawa apa-apa dan elo dengan kerennya bawa plastik belanjaan dengan akar kangkung yang keluar-keluar. How cool you are!

Belum lagi kalau gue nonton tuh makin lama makin pengen maju ke depan. Pasti kan harus nyelip-nyelip, tuh. Gue dengan sok santainya, nyelip-nyelip di antara orang-orang sambil kresek-kresek (bunyi plastik belanjaan). Sontak, orang yang gue selipin (BOK, PILIHAN KATANYA NGGAK ADA YANG LEBIH BAGUS YA, BOK?!) langsung menoleh dan tatapannya menuju ke sumber suara yang ada di antara kaki mereka.

 Iya, suara gesekan plastik dengan akar kangkung yang menjulur-julur ke luar. END LAH POKOKNYA. END. ENDAAANG WILL ALWAYS LOVE YOU~~ HOOO~~ WA~~ A~~ WILL ALWAYS LOVE YOU~~~

*mari kita lupakan yang barusan*

Saat di lagu ke-7, gue dicolek orang dari belakang.

Gue deg-degan.
 
Duh, siapa nih yang nyolek gue?
Colek lagi dong, udah lama nih nggak dicolek orang #eh

Pas gue nengok…

Eh si kakak ipar, “Ayo Cit udah sore.”

Buyar sudah keriaan siang itu. Gue nggak jadi ikut pulang ke rumah Afgan suami gue. Gue cek telepon genggam, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Kami menargetkan pulang sebelum buka puasa, sehingga kami tidak menuntaskan melihat-lihat barang diskonan. 

Dadah Afgan, dadah barang diskonan.


Kamis, 16 Agustus 2012

Liburan Seru: Klaten - Jogja

Hari ke-4 di Jogja, gue dan nyokap diajak pakde berjalan-jalan ke Klaten. Tujuan pertama adalah mengunjungi Yoga Art Design, yaitu sebuah toko yang menjual lurik. Bagi yang belum mengetahui apa itu lurik, lurik adalah kain tenun khas Jawa yang memiliki motif garis-garis. Di toko ini terhampar berbagai macam warna lurik. Selain menjual kain, toko ini juga menjual pakaian jadi dan juga bantal-bantal berbahan dasar lurik. Lurik yang biasa gue temui adalah lurik yang teksturnya kasar, namun tidak untuk kain lurik di Yoga Art Design, karena lurik yang mereka produksi adalah lurik bertekstur halus dan nyaman untuk dikenakan. Nyokap membelikan gue sebuah kain lurik berwarna hijau muda. Terima kasih, ibu…

Gue diantara lurik-lurik
Tujuan selanjutnya adalah mengunjungi Galeri Kebaya Jakajeky. Galeri ini merupakan produsen kebaya yang memproduksi kebaya berpayet secara massal dengan harga yang terjangkau. Kalau nggak percaya, coba deh, main ke Klaten dan mampir ke sana. Aduh, promosi gini gue jadinya, dibayar juga nggak, haha. Di Galeri Kebaya Jakajeky ini, terdapat larangan untuk mengambil foto. Sebenarnya sebelum membaca larangan itu, gue sudah sempat jeprat-jepret beberapa situasi di sana sebagai dokumentasi perjalanan, tetapi untuk menghormati larangan tersebut, gue tidak akan memasukkan foto mereka di blog ini atau media internet yang lain. Maaf ya buat yang punya Jakajeky, gue ngepromosiinnya jadi setengah-setengah gini kan :p

Setelah puas bermain-main dengan hal-hal yang berhubungan dengan fashion, kami melanjutkan perjalanan ke toko yang menjual berbagai macam keripik. Kata bude gue, di Klaten ini terdapat sentra keripik, tetapi karena bude gue lupa tempatnya, kami hanya mampir ke sebuah toko keripik kecil yang memiliki merek dagang Ibu Mangun (kalau nggak salah, gue agak lupa, haha). Yang menjadi ciri khas dari toko keripik Ibu Mangun ini adalah keripik paru. Di sana kami memborong berbagai macam keripik untuk dikonsumsi sendiri maupun oleh-oleh. Karena sudah siang dan lapar, gue, tante, dan sepupu gue mencicipi tester keripik yang memang disediakan untuk pengunjung secara ganas. Gue sampai ketawa-ketawa sendiri melihat kelakuan kami, tentu saja sambil terus mengunyah tester di sana..

Setelah puas berbelanja dan “menyicipi” tester, kami minta kepada penjaga toko untuk melihat proses pembuatan keripik paru yang kebetulan terletak di belakang toko. Gue langsung teringat ketika gue dulu kuliah S-1, gue pernah pergi ke sentra keripik tempe di Sanan, Malang. Pemandangan di pabrik kecil keripik paru ini juga hampir mirip seperti di Sanan, yaitu pabrik keripik dengan skala Usaha Kecil Menengah (UKM). Memori-memori gue jadi tersentak kembali ketika melihat pabrik di Klaten ini.. Betapa sesungguhnya berkuliah di jurusan Agribisnis sangat menyenangkan! :D
Mesin pemotong paru
Proses pembumbuan keripik paru
Proses penggorengan keripik paru
Berakhirlah jalan-jalan ke Klaten. Sepulang dari Klaten, gue dan nyokap mampir mengunjungi rumah pakde gue yang satu lagi yang terletak di samping Monumen Jogja Kembali (Monjali). Pakde gue ini pecinta kucing, dan ketika gue ke sana, terdapat seekor anak kucing yang nakal dan lincahnya nggak karuan! Akhirnya gue lebih banyak menghabiskan waktu di teras rumah pakde gue. Jadi kayak sombong kan gue jadinya. Gimana lagi dong, salah sendiri pakde-pakde gue pada memelihara kucing :( Untungnya sih keluarga besar gue rata-rata sudah memahami bahwa gue takut banget kalau ketemu sama kucing, jadi (semoga saja) mereka memaklumi perilaku gue. Maaf, ya Pakde..

Malamnya, gue berkesempatan untuk menyaksikan Jogja Fashion Week 2012 (JFW 2012) yang diselenggarakan di Jogja Expo Center. Saat itu adalah hari ke-4 diselenggarakannya JFW 2012. Berhubung pakde gue adalah desainer senior di Jogjakarta, maka gue dan keluarga mendapatkan tempat duduk untuk tamu undangan. Jarak tempat duduk yang gue duduki dengan panggung catwalk sangatlah dekat, hanya sekitar 90 cm saja. Jadi, gue bisa melihat lenggokan peragawati dengan mata kepala sendiri secara dekat, namun sayangnya, malam itu tidak ada satupun peragawan yang tampil, maka gue nggak bisa menyegarkan mata deh :D
Pakde Goet Poespo memberikan karangan bunga kepada para desainer 
Pakde Goet Poespo berfoto bersama desainer di JFW 2012
Salah satu karya desainer di panggung JFW 2012
Keesokan harinya merupakan hari kepulangan gue ke Bekasi. Merasa belum puas kalau ke Jogja belum ke Malioboro, maka pagi itu gue dan nyokap ditemani tante pergi ke sana. Sebelumnya, kami pergi terlebih dahulu ke Pasar Beringharjo untuk membelikan beberapa titipan bude gue. Setelah selesai membelikan titipan, nyokap mengajak ke salah satu gerai makanan yang berada di dalam pasar. Gue yang saat itu sebenarnya tidak begitu nafsu untuk jajan, merasa terheran-heran mengapa nyokap memaksa gue untuk ke gerai itu. Ternyata, di gerai makanan itu terdapat es campur yang menjadi langgan sejak nyokap tinggal di Jogja. Es campur ini terdiri atas cincau dan kelapa muda serta sirup merah yang rasanya gurih kemanisan (sirup inilah yang menjadi kekhasan dari es campur tersebut). Yang tambah bikin mengejutkan adalah ketika nyokap hendak membayar tiga gelas es campur, nyokap bertanya “Berapa pak?” dan penjual menjawab “Rp 6.000”. Jadi… satu gelas es campur harganya hanya Rp 2.000 saja SAUDARA-SAUDARA! Kalau di sekitar rumah gue Rp 2.000 cuma dapet es batunya aja kali…
Es Campur di Pasar Beringharjo
Ini dia gerainya
Oh ya, karena gue tipe manusia yang tenggorokannya sensitif sama es-es jalanan, setelah minum es tersebut, gue sukses flu berat selama dua minggu lamanya. Sebenarnya gue tidak hanya menyalahkan es itu, tetapi memang keadaan tubuh selama liburan yang semakin menurun ditambah lagi dengan lingkungan keluarga gue mulai dari bokap, sepupu, sampai keponakan yang juga terserang flu berat. Bahkan malam sebelum kepulangan gue ke Bekasi, Nadif yang saat itu sudah terlebih dahulu flu, sempat mengeluarkan nafasnya dari dalam mulut ketika duduk di sebelah gue, “Haaah.. Haaah.. Nih, aku sebarin virusnya.” Makasih lho Nadif, aku jadi beneran flu gara-gara disebarin virus sama kamu >.<

Oke, cukup intermezzo mengenai flunya.. Dari Beringharjo, kami melanjutkan perjalanan ke sepanjang Malioboro. Tujuan gue ke Malioboro tentu ada misi khusus yaitu mencari suatu barang-yang-tak-bisa-gue-ceritakan-di-sini (sok rahasia :p). Berhubung saat itu adalah hari libur sekolah, maka sepanjang pelataran Malioboro penuh sekali dengan orang. Perjuangan menerobos kerumunan orang-orang di Malioboro terbayarkan setelah mendapat beberapa barang yang dibutuhkan.

Di Malioboro, gue sempat membeli buah ciplukan. Pasti di antara Anda ada yang kurang familier dengan buah ini. Buah ini bentuknya bulat kecil berwarna hijau muda. Rasanya manis, kadang manis keasaman. Satu ikat harganya Rp 3.000. Buah ciplukan diakui nyokap gue sebagai jajanan nyokap di kala beliau SD, saat itu harga buah ciplukan masih satu sen per ikatnya.. Setiap ke Jogja, gue pasti menyempatkan diri untuk membeli buah ini, karena sangat sulit menemukan buah ini di Jabodetabek.
Buah Ciplukan
Perjalanan di Malioboro menutup rangkaian liburan gue kali ini. Malamnya, gue sekeluarga di jemput travel menuju ke Bekasi. Sempat terkena macet di jalan, hingga menghabiskan perjalanan Jogja-Bekasi 19 jam lamanya. Meski lelah, semua kisah dalam liburan kali ini membawa kepuasan tersendiri. Empat bulan perkuliahan terbayarkan oleh sepuluh hari liburan yang menyenangkan!

Maka, berakhirlah artikel-artikel liburan gue di pertengahan tahun ini. Bagi yang sudah bosan dengan cerita-cerita ini, selamat ya, sudah selesai nih kisah perjalanan gue :p

Sabtu, 11 Agustus 2012

Liburan Seru: Sangam House Jogjakarta

Jika Anda mudah tergoda oleh makanan India, terlebih di bulan puasa, gue sarankan untuk tidak melanjutkan membaca artikel ini :p


Malam hari ke-3 di Jogja, gue sekeluarga diajak Pakde gue makan malam di sebuah restoran India yang bernama Sangam House. Sebelumnya gue sudah pernah melihat restoran ini ketika diliput dalam sebuah acara televisi. Ketika sampai di sana, kami di sambut oleh pelayan yang wajahnya seperti orang India (mungkin saja dia memang keturunan India) dan dari halaman depan kita sudah dapat melihat suasana India bahkan dari pintu masuknya sekalipun.

Masuk ke dalam, ternyata oh ternyata, bagian depan Sangam House ini merupakan butik yang menjual kain-kain, aksesoris, sampai peralatan rumah tangga bertema India. Sedangkan untuk restorannya sendiri, terletak di bagian belakang.

Pakde gue sebelumnya sudah memesan tempat dan makanan, sehingga kami langsung dibawa ke sebuah ruangan yang sudah mereka tata mejanya menjadi meja besar. Setelah mengambil tempat duduk masing-masing, pelayan langsung menyuguhkan Papadum. Papadum ini merupakan snack pembuka yang menurut gue bentuk dan rasanya mirip-mirip kerupuk Opak (ingat Keluarga Cemara? :p), namun yang berbeda adalah cara makannya yang dicelupkan ke dalam kuah berwarna hijau dengan rasa mint segar dan sedikit asam, yang belakangan gue tahu bernama kuah Pani. Untuk Papadum, bisa gue beri nilai 3 dari 5.
Papadum (Rp 10.500) - Kuah Pani
Seketika makanan berikutnya datang, yaitu Maharani Soup. Porsinya memang tidak banyak, justru menurut gue cukup, karena ini merupakan makanan pembuka. Sup ini terdiri atas wortel dan entah dedaunan apa. Rasanya pedas keasaman. Nilai untuk makanan ini 2,5 dari 5.
Maharani Soup (Rp 16.500)
Setelah sup habis, pelayan mengantarkan makanan-makanan utama. Makanan yang pertama sampai ke meja adalah Plain Naan, dimana jenis makanan ini cukup membuat mata gue terbelalak, karena mirip seperti Taco (roti Meksiko) yang nyokap gue sering buat di rumah. Karena sudah biasa makan, gue nggak akan memberikan nilai apapun untuk makanan ini *curang
Plain Naan (Rp 6.000)
Makanan selanjutnya adalah Butter Chicken yang turut disajikan bersama salad dan kuah Pani. Butter Chicken ini merupakan fillet ayam yang dimasak menggunakan rempah-rempah. Gue nggak terlalu suka. Nilainya 1,5 dari 5.
Butter Chicken (Rp 43.000)
Nah.. Karena gue adalah seorang pecinta keju, maka Palak Paneer menjadi salah satu makanan kesukaan gue di sini. Palak Paneer merupakan keju India yang dimasak dengan saus bayam. Tapi jangan berharap rasa kejunya asin, ya. Sebab menurut gue rasa keju ini hambar tapi sensasinya berbeda. Wajib dicoba! Nilainya 3,5 dari 5.
Palak Paneer (Rp 32.000)
Terdapat dua macam nasi yang kami pesan, yakni Java Rice dan Jeera Rice. Java Rice merupakan nasi biasa seperti yang orang Indonesia biasa makan, sedangkan Jeera Rice adalah nasi khas India yang dicampur dengan mentega dan jinten. Jika kita teliti, bentuk dari kedua nasi ini berbeda lho.. Jeera rice bentuknya lebih panjang dan berujung lancip dibandingkan dengan nasi Indonesia. Nilai untuk Jeera Rice adalah 3 dari 5, sedangkan Java Rice nggak usah dinilai, haha!
Java Rice (Rp 5.500)
Jeera Rice (Rp 21.000)
Berikutnya adalah Prawn Goa Vindaloo yang menurut gue salah satu juara di sini. Udang dengan rasa asam pedas yang konon katanya dimasak dengan tomat dan bumbu-bumbu. Nilai untuk makanan ini adalah 4 dari 5.
Prawn Goa Vindaloo (Rp 47.000)
Setelah udang, sajian yang tidak kalah juara adalah Madras Mutton Curry. Makanan ini merupakan kari kambing muda yang dimasak dengan kelapa dan wijen. Nilainya adalah 4 dari 5. Gue suka sekali dengan Madras Mutton Curry ini. Sangat gue rekomendasikan!
Madras Mutton Curry (Rp 32.000)
Makanan selanjutnya adalah Chicken Tandoori yang rupanya sama seperti Butter Chicken karena disajikan bersama salad dan kuah Pani. Chicken Tandoori ini adalah potongan paha atas beserta paha bawah ayam. Warnanya merah menyala, entah dimasak dengan bumbu apa. Nilainya 2  dari 5. Entah mengapa, menurut gue makanan berbahan dasar ayam di restoran ini kurang begitu enak.
Chicken Tandoori (Rp 32.000)
Chapati ini mirip dengan Plain Naan namun lebih tipis dan renyah. Berbeda dengan Plain Naan, Chapati ini ada sensasi rasa gosongnya. Nilai untuk makanan ini adalah 3,5 dari 5.
Chapati (Rp 6.000)
Puas dengan rupa-rupa makanan utama India, selanjutnya kami memesan makanan penutup. Makanan penutup adalah Kulfi, yaitu es krim berbahan dasar susu, almond, dan pistaccio. Yang menarik adalah es krim ini diwadahi oleh pot tembikar berukuran kecil dan es krimnya terasa keras ketika disendoki karena terlalu beku, padahal sebenarnya tekstur es krim tersebut lembut. Saat itu Nadif tidak menghabiskan Kulfi-nya karena sedang pilek, sehingga Kulfi miliknya dihibahkan kepada gue. Tidak tanggung-tanggung, gue mendapatkan satu pot kulfi lagi dari Pakde gue. Merasa berlebih, gue sumbangkan satu pot tersebut kepada Rangga, sepupu gue. Nilai untuk Kulfi adalah 5 dari 5. Hingga sekarang gue masih kangen dengan rasa Kulfi ini, semoga lain kali bisa merasakannya lagi :9
Kulfi (Rp 15.000)
Setelah belum kenyang dengan semua makanan yang dipesan, gue berjalan-jalan ke seluruh ruangan di Sangam House. Restoran ini memang tidak terlalu besar. Ruangan untuk makan terdiri atas empat ruangan yang berwarna kuning, biru, merah, dan warna yang terakhir ini gue lupa, kalau tidak salah sih, oranye.
Keluarga gue dan ruangan makan berwarna kuning
Main ke ruangan biru aah!
Salah satu lukisan yang tergantung di Sangam House 
Semacam lampion, penghias di langit-langit restoran
Terima kasih pakde Goet atas makan malam Indianya.. Semoga suatu saat nanti keponakanmu ini bisa makan makanan India di negara asalnya :)

Pulang dari Sangam House, di mobil, Shafa bercerita tentang pengalamannya ke rumah hantu. Posisi gue saat itu sedang duduk bersama Nadif di jok paling belakang. Gue melihat mata Nadif sudah mulai terpejam. Gue antusias mendengar cerita Shafa dan memancingnya dengan banyak pertanyaan seputar rumah hantu yang ia datangi tempo hari. Tiba-tiba Nadif terbangun dan merekatkan kedua tangan ke kupingnya, “Aaa.. Aku nggak mau dengar. Aku nggak mau dengar!” Gue melirik Nadif, senyum sebentar, namun tidak terlalu gue hiraukan karena ingin terus mendengarkan cerita Shafa. Sebenarnya ada perasaan ingin menggoda Nadif juga sih..<- bibi tak tahu diri

Cerita Shafa semakin lama (mungkin) menurut Nadif semakin seram (kalau gue sih ketawa-ketawa aja dengarnya), tak terasa air mata Nadif mulai turun, “Udaaaah! Udaaah!” ujarnya sambil terisak. Gue memeluk Nadif, “Iya udah udah. Nggak apa-apa kok.” Eh Shafa malah semakin melanjutkan ceritanya dan tangisan Nadif semakin menjadi-jadi. Huaaa.. gue yang jadi bingung. Untungnya mobil sudah sampai di depan rumah bude gue. Setelah orang-orang di jok tengah turun, Nadif segera turun dari mobil dan segera loncat ke dalam pelukan Shafa. Di sini gue melihat pemandangan yang menggelikan saat Shafa berinisiatif menggendong Nadif masuk ke dalam rumah! Gimana gue nggak mau geli, Shafa kan masih kelas 2 SMA dan Nadif sudah kelas 5 SD, kenapa pakai acara gendong-gendongan. Hahaha. Hubungan persepupuan yang cute sekali :D
Nadif (masih terisak), digendong oleh Shafa
Nantikan sambungan cerita liburan gue berikutnya ya :)

(Bersambung ke artikel berikutnya)…