Minggu, 15 Mei 2011

Minggu Pagi di Pasar Minggu


Warga Malang pasti sudah tidak asing lagi dengan kehadiran sebuah “pasar kaget” yang hadir di setiap Minggu pagi. Oleh karena dilaksanakan setiap hari Minggu inilah, pasar yang terletak di sepanjang jalan Semeru ini dinamakan dengan Pasar Minggu. Di gerbang masuk Pasar Minggu dari arah Pizza Hut, Anda akan disambut dengan gapura ini.

Oke, sekarang saatnya pengakuan. Gue, sebagai warga perantau yang hampir empat tahun tinggal di Malang, baru satu kali ini pergi ke Pasar Minggu. Berhubung sebentar lagi akan kembali ke Bekasi, maka gue menyempatkan hari Minggu terakhir di Malang untuk pergi ke sana sendirian. Gue bangun jam enam pagi, kemudian gue mandi dan hanya makan satu keping biskuit, lalu berangkat pada pukul tujuh menggunakan angkot GL.

Sampai di sana ternyata sudah banyak orang yang menyesaki jalanan Pasar Minggu. Gue berjalan mengikuti arus sambil melihat barang-barang atau makanan-makanan apa saja yang dijual di sana. Ternyata barang yang dijual seperti “pasar kaget” pada umumnya. Gue tidak menemukan sesuatu yang unik. Ada mainan anak-anak, peralatan rumah tangga, baju, sandal/ sepatu, aksesoris, dan sebagainya. Sedangkan untuk makanan ada jajanan pasar, bubur kampiun, cenil, cilok, sari jeruk, hingga makanan berat seperti bubur ayam, soto, bakso, rawon, sate, siomay/ batagor, dan lain-lain. Untuk harga, gue tidak mengetahui secara pasti karena hanya beberapa stan yang menyantumkan daftar harga. Tapi kalau gue lihat sih harganya masih normal-normal saja, mungkin hanya selisih seribu-dua ribu lebih mahal dibanding harga pada umumnya.

Suasana Pasar Minggu

Gue ingin sekali beli makanan karena gue belum sarapan dan kepala sudah mulai pusing. Tapi begitu melintas, tidak ada yang menarik hati gue. Ditambah lagi dengan kondisi pencernaanyang kurang fit, gue harus selektif dalam memilih makanan. Sempat tertarik dengan bubur kampiun tapi gue pikir nanti saja kalau sudah mau pulang baru gue beli.

Akhirnya gue sampai juga di ujung jalan. Lalu gue kembali memutar untuk memasuki ruas pasar pada arah yang berlawanan dengan ruas pasar yang gue lalui sebelumnya. Mulai dari situ, kaki gue agak keseleo sedikit. Mungkin ini teguran dari Allah karena selama ini gue hampir tidak pernah olah raga. Meski keseleo, gue tetap berjalan dan terus berjalan (halah) hingga kembali ke tempat awal pertama gue memasuki Pasar Minggu. Lalu gue bingung. Apa lagi yang harus gue lakukan? Akhirnya gue berjalan terus untuk mengambil foto-foto ini.

Baliho Malang Tempo Doeloe (MTD) VI

Tugu yang membelah ruas jalan Ijen (Gue nggak tahu nama resmi tugu ini apa)

Perpustakaan Kota

Setelah itu gue memutuskan untuk kembali masuk ke dalam pasar! Gue pikir, keterlaluan sekali kalau gue nggak membeli apa-apa di tempat tersebut. Gue mencari bubur kampiun. Namun di tiga per empat jalan, gue memutuskan untuk kembali karena jika dilanjutkan gue bisa-bisa pingsan di tengah jalan. Kenapa? Pertama, gue sudah pusing dari tadi karena belum sarapan. Kedua, matahari mulai terik. Ketiga, pengunjung makin ramai. Maka, gue putar balik tidak jadi membeli bubur kampiun dan hanya membeli jajanan pasar untuk gue makan di kosan. Harga satu kue-nya Rp 1.500,-.

Cucur Hijau (Kiri), Tahu Crispy Isi (Atas), dan Cum-cum (Bawah)

Dari situ, gue berpikiran untuk mampir ke bakso bakar yang terletak di Jalan Pahlawan Trip. Gue memang sengaja memanjakan diri gue pada saat-saat terakhir sebelum hijrah ke daerah asal. Kebetulan lokasinya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Alhasil gue berjalan di sepanjang trotoar Jalan Ijen. Tahukah Anda kalau salah satu impian saya adalah bisa berjalan di trotoar Jalan Ijen? Karena menurut gue Jalan Ijen merupakan ruas jalan paling indah di Malang, ditambah dengan pemandangan rumah-rumah kuno di sisi jalan. Meski setiap tahunnya terdapat festival MTD yang terletak di Jalan Ijen, gue tetap tidak pernah berjalan di trotoarnya, karena festival tersebut berada tepat di tengah jalannya. Maka, momen ini sangat gue nikmati. Walau sering mendapat godaan dari orang-orang yang melintas, gue tetap melaju di sepanjang trotoar dengan hati yang berseri-seri.

Baliho MTD VI mulai dipasang

Sayang kalau nggak ada foto diri (biarin deh kalau ada orang lihat)

Suasana trotoar Jalan Ijen

Salah satu rumah di sudut Jalan Ijen

Sampai di Bakso Bakar Pahlawan Trip, gue memutuskan untuk tidak makan di tempat dan cukup dibawa pulang saja. Gue memesan bakso bakar campur (bakso halus dan bakso kasar) dengan harga Rp 7.500,-/ porsi (satu porsi 5 bakso).

Suasana Bakso Bakar Pahlawan Trip

Kemasan dengan cap logo Bakso Bakar Pahlawan Trip

Bakso bakar, kuah, dan saus serta sambal

Setelah itu gue meluncur pulang. Dengan yakinnya, gue jalan ke daerah depan gereja untuk menunggu angkot GL. Sampai di satu tempat dekat angkot-angkot ADL mangkal, gue berhenti. Sempat ditawarkan naik Adl oleh sopirnya, namun gue menggeleng. Gue bersikeras menunggu GL.Waktu terus berlalu dan tak ada satupun angkot GL yang lewat. Gue justru berjalan semakin menjauh dari pangkalan ADL tersebut.

Gereja di Jalan Ijen

Hingga ada sebuah ADL yang melintas lalu gue ditanya, “Mau ke mana mbak?” Gue jawab, “UIN pak. GL lewat sini nggak?” Sopir membalas, “Oh GL nggak lewat sini, yang lewat sini cuma ADL.” Dang! Pengen pukul kepala sendiri jadinya. Lalu gue berjalan menyusuri trotoar Jalan Ijen lagi hingga Museum Brawijaya. Kali ini hati gue sudah tidak merasa riang, karena kaki sudah lelah sekali dan matahari semakin menyengat, ditambah betapa bodohnya karena salah nungguin angkot. Sampai di Museum Brawijaya gue naik angkot GL. Di atas angkot gue berpikir, tahu begitu pas di Bakso Bakar Pahlawan Trip gue langsung jalan tembus ke daerah Dempo aja supaya bisa langsung naik GL. Ah serba kebodohan deh tadi -____-

Kalau dirasa-rasa, jika tidak ada kejadian lucu, perjalanan gue hari ini tidak akan ada serunya. Meski merasa bodoh, tapi gue bahagia :)



Rabu, 11 Mei 2011

06.43 - 4 comments

Ketika Emosi Bercampur Logika




Aku bukannya tidak mengerti. Tapi aku marah. Aku begini karena kau begitu. Aku menjadi seperti ini karena kau seperti itu.

Sakit? Jahat? Perih?

Semua kau yang ajari. Semua kau yang awali. Namun kau kini menghakimi. Seolah aku yang pantas mati.

Rusak? Kandas? Putus?

Bukan aku yang bermaksud. Bukan aku yang menyalahi maktub. Tapi kau yang terkutuk. Kau yang harusnya takut.

Semua menunjuk aku. Di tengah-tengah putih, aku hitam. Padahal kau di situ. Kau JUGA di situ.

Namun sayang aku yang terpenjara. Kau berhasil keluar dengan senyum simpulmu. Meninggalkan aku. Turut menunjuk aku. Sebagai yang hitam. Yang paling hitam. Teramat hitam.

Aku tersungkur. Lalu babak belur. Kau tetap di situ, menjadi yang paling unggul.

N. B. : Kau harus tahu, sangkaanku tidak sepahit sangkaanmu terhadapku. Kau jauh lebih pantas menjadi dedemit. Enyah kau, lemur.

Oleh :

11 Mei 2011

Sabtu, 07 Mei 2011

Surat Cintaku yang Pertama

Tadi siang, gue beres-beres laci di meja belajar gue. Laci itu isinya kertas-kertas yang kebanyakan merupakan kertas bukti penarikan uang di ATM dan bon-bon serta kwitansi pembayaran. Lumayan juga lho ngebersihinnya hampir satu setengah jam, soalnya gue pilah-pilah juga, takut ada kertas penting yang ikut kebuang, selain itu juga karena kertas-kertas tersebut sudah gue kumpulkan sejak pertama kali ngekos di tahun 2007! Bukannya gue jorok atau malas membuang kertas, tapi gue memang tipe orang yang suka mengumpulkan barang hingga gue rasa barang tersebut tidak akan ada gunanya lagi, baru gue buang.

Di antara tumpukan-tumpukan kertas tersebut, tiba-tiba gue menemukan ini! Jeng jeng jeng..

Yak. Surat cinta. Gue langsung senyam-senyum sendiri. Jelas surat cinta ini bukan surat cinta yang benar-benar gue buat dengan sepenuh hati dan segenap jiwa untuk seseorang yang gue suka. Tapi ini adalah surat cinta waktu gue ospek saat menjadi mahasiswa baru di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya!

Oke. Dan menurut gue tugas ini adalah tugas ternorak yang pernah gue dapat selama ospek. Gila aja, tahun 2007, masih zaman gitu tugas bikin surat cinta ke kakak tingkat? Gue waktu ospek SMP dan SMA aja, gak dapet tuh tugas bikin surat cinta begituan. Ck ck ck, panitia-nya jadul banget sih, atau nggak kreatif? Hihihi kok gue malah ngomel sih, padahal kan gue mau cerita lucu-lucuan aja.

Kembali ke surat. Waktu gue baca isi suratnya, gue tambah cengar-cengir. Isi suratnya nyolot abis. Kalau gue jadi orang yang dikirimin surat, pengen gue jambak deh rambut orang yang ngirimin surat macam surat yang gue bikin itu. Isinya seperti ini:

Malang, 24 Agustus 2007

Assalammu’alaikum Wr. Wb.

Kak Feri yang terhormat, saya selaku mahasiswa baru MADEWA 2007 ingin mengungkapkan sesuatu kepada kakak. Adapun ungkapan perasaan saya terhadap kakak yaitu biasa-biasa saja. Karena saya baru mengenal kakak dan tidak mungkin dapat menilai lebih jauh.

Sekian surat ini. Atas perhatian dan kesediaan kakak membaca surat ini, saya ucapkan terima kasih.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Hormat saya,

R. A. Disyacitta N.

Benar kan, gue nyolot banget? Apalagi di kalimat: “Adapun ungkapan perasaan saya terhadap kakak yaitu biasa-biasa saja.” Bikin ngakak! Mana ada surat cinta yang isinya begituan? Pada saat itu gue berpikir, daripada gue sok-sokan memuja-muja nanti malah orangnya ke-GR-an. Lagipula gue takut dikerjain sama kakak tingkat kalau bikin kalimat yang cinta-cintaan banget dan ternyata (untungnya) surat cinta ini pada akhir ospek dikembalikan juga kepada kami masing-masing.

Oh iya, kan gue menujukan surat cinta ini ke Kak Feri, kenapa gue memilih dia? Padahal banyak pilihan kakak-kakak tingkat laki-laki yang lain (kami diperbolehkan memilih kakak tingkat siapa saja, asalkan masih berstatus panitia ospek). Oke nih, gue jujur. Karena gue melihat dia sebagai seseorang yang keren dibanding kakak tingkat yang lain, meski saat ospek dia menjabat sebagai DISMA (Disiplin Mahasiswa-yang notabene panitia dengan peran “galak”). Tapi perasaan gue sama dia sih biasa aja, gak sampai cinta. Biarin deh, kalau tiba-tiba Kak Feri-nya baca blog ini, gak kenal juga gue sama dia (begitupun sebaliknya). Halo Kak Feri! : )

Eh, yang bikin tambah ngakak adalah kertas yang menjadi kertas surat cinta ini. Mau tahu depannya kayak apa?

Bah. Jijik banget ya, jantung hati gitu, sama tulisan ”The power of love”-nya dong, nggak nahan :D

Kok bisa-bisanya sih gue punya kertas begituan? Jadi, kertas itu gue dapat dari teman satu kelompok ospek gue. Tiba-tiba saja salah seorang teman membagi-bagikan, maka satu kelompok gue seragam pakai kertas itu semua. Hahaha. Sampai di rumah saudara gue (saat ospek, gue dan keluarga tinggal di rumah saudara), gue menunjukkan kertas itu ke nyokap. Nyokap gue pun ketawa lihat kertas-nya. Bahkan isi suratnya juga gue bacakan lho ke nyokap gue. Minta persetujuan gitu. Lagipula gue khawatir sendiri, takut nyokap gue ngira gue cinta beneran sama si kakak tingkat :p Terus gue nanya, “Nggak apa-apa kan bu?” Nyokap menjawab, “Ya, nggak apa-apa. Begitu aja.”

Sekarang, surat cinta itu sudah gue tumpuk bersama kertas-kertas lain yang akan gue loak-kan. Lumayan lah uang hasil loak kertas bisa gue pergunakan untuk seorang pengangguran fresh graduate macam gue ini. Selamat tinggal surat cintaku yang pertama :p