Dan sangat tergila-gila dengannya saat Vino Bastian membalas tweet saya di situs jejaring sosial bernama Twitter.
Saya cinta dunia maya!
Dan sangat jatuh cinta saat saya bisa tetap berhubungan dengan teman-teman lama saya di situs jejaring sosial bernama Facebook.
Saya cinta dunia maya!
Dan sangat terkejut olehnya saat saya butuh informasi tentang lokasi Dunkin’ Donuts Malang dan saya mendapatkannya di situs jejaring sosial bernama Yahoo!Koprol.
Saya cinta dunia maya!
Dan sangat bergantung padanya saat saya ingin mencari referensi tugas-tugas kuliah tanpa perlu pergi ke perpustakaan, cukup mencarinya di situs pencarian bernama Google.
Saya cinta dunia maya!
Dan sangat berterima kasih dengannya saat saya butuh bantuan dari kakak saya dan saya dapat mengirimkan pesan lewat e-mail.
Saya cinta dunia maya!
Dan sangat tak bisa lepas darinya saat saya ingin mendengar lagu-lagu kesukaan saya kemudian saya bebas mengunduhnya lewat situs penyedia unduhan gratis bernama 4shared.
Saya cinta dunia maya!
Dan sangat aku padanya saat saya sedang tidak ingin diusik ketika mencurahkan keluh kesah saya di sebuah situs jejaring sosial bernama Plurk.
Saya cinta dunia maya!
Dan sangat kagum padanya saat saya bisa berlatih bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris dengan orang asing di sebuah situs bernama Omegle.
Saya cinta dunia maya!
Dan sangat ingin menikah dengannya saat saya menyalurkan tulisan saya di sebuah situs bernama Blogspot.
Biasa mendengar bising dari jemari lidah apinya yang senantiasa menari-nari, tak enggan merogoh untaian hangat untuk menyengat kalbuku.
Aku tatap ia kini, silau. Ingin aku raih, aku tahu aku tak sanggup. Jarak memisahkan kami. Tidak seperti mawar yang setia pada duri.
Ia terus berada di sana. Berdiri dengan gagahnya, tertawa bersama sahabat dan terus berganti rupa. Malam menjadi bulan.
Dengan besar rasa, aku kira ia menatapku dari atas sana. Namun tetap menaruh perhatian. Kadang hinaan. Dengan menyengat kuat kulit tubuhku yang cahayanya semakin temaram. Meski begitu, aku biarkan saja.
Ia tak menyapaku, lalu apa aku juga begitu? Pernah sesekali aku tantang dirinya. Berdiri di luar, aku maki-maki dirinya. Kemudian ia keluar sebentar, membalas, dan semakin menguatkan teriknya. Aku puas. Aku masuk lagi ke kamar.
Tapi malam ini berbeda. Ketika ia mulai merapat ke senja. Dan tenggelam di sana.
Aku nanti kurang lebih sepuluh jam lamanya. Di ufuk itu, tak kunjung muncul. Bolak-balik ku keluarkan kepala untuk mengecek kehadirannya. Namun tetap sama. Gulita.
Aku mulai resah dan menggigiti bagian bawah bibirku. Menggoyang-goyangkan kaki seraya menunggu yang dinanti. Ia tak jua lekas datang.
Aku teropong langit gelap itu. Ada seberkas siluet cahaya namun tertutup. Dan aku merasa kepanasan, lebih berkeringat dari biasa dia ada.
Suara letupan-letupan api pun terdengar. Aku tajamkan pendengaran. Makin lama makin sayup dan ini yang sebenarnya aku redupkan sendiri.
Aku bingung. Aku tutup jendela kamarku. Tapi tidak untuk tirai yang sengaja aku buka sedikit, jikalau suatu saat aku ingin mengintip.
Begitu terus menerus. Hingga aku tak mengerti lagi apakah ini siang atau malam. Karena ia tak kunjung datang. Bahkan sesungguhnya menghilang.