Senin, 24 Mei 2010

00.43 - 2 comments

Tersenyum Kembali


Terima kasih, kau telah membuatku tersenyum hari ini
Meski saat ini kau tidak tahu
Namun aku tahu pasti, kau akan tahu
Sebab kau begitu

Terima kasih kau telah menghidupkan rasa ini
Meski bukan untuk selamanya

Bukannya aku tidak mau berharap,
Tapi yang jelas senyum ini tak akan pernah sirna untukmu
Bahkan akan tergelak menjadi tawa


Oleh:
D. Nariswari
24 Mei 2010



Rabu, 19 Mei 2010

Lady GaGa (Lagi)

Sebelum melihat seperti apa dia orangnya, gw udah sering banget dengar lagu-lagunya. Apalagi yang Just Dance, bikin kuping gw betah banget kalau dengar lagu itu. Terus gw lihat dia di majalah, makin suka gw sama dia. Gaya berpakaiannya keren banget. Kayak gak pernah kehabisan ide dan selalu percaya diri dengan apa yang dikenakannya.


Sampai gw dengar banyak yang bilang kalau dia itu bukanlah seorang wanita, entah kenapa gw langsung marah dan gak setuju. Memang, dari wajahnya kalau mau dilihat-lihat dia sering dibilang kayak laki-laki. Ah tapi gw nggak percaya. Muka gw aja pernah dibilang kayak cowok sama teman gw, tapi nyatanya gw cewek asli kok! Terus teman gw yang lain pernah bilang Lady Gaga seram. Huh, ngaco aja itu orang.
Biar saja orang lain mau bilang apa. Anjing menggonggong, Lady Gaga berlalu.




















Siapa yang bisa meletakkan telepon

di atas kepala? Ya cuma Lady GaGa!
Gw-gak-bisa-ngomong-lihat-ini




Kalo yang ini, gw iseng gabungin foto-fotonya Lady GaGa yang gw search di Google jadi satu. Lucu ya?

Sabtu, 08 Mei 2010

Puisi Terakhir (Alm.) W. S. Rendra


Sudah beberapa bulan yang lalu sebenarnya gw mau menulis ini. Tapi ide terkadang datang dan pergi silih berganti ( = lupa, maksudnya!). Baiklah, kalau biasanya gw nge-post puisi-puisi gw sendiri, kali ini gw akan memasukkan puisi salah satu sastrawan besar negeri kita.


Ya, puisi ini merupakan mahakarya terakhir dari sastrawan Indonesia, (Alm.) W. S. Rendra.


Gw mengetahui puisi ini pertama kali saat ulang tahun Indosiar. Puisi ini dikumandangkan oleh Giring Nidji kemudian dilanjutkan dengan sebuah lagu dari Nidji. Gw agak lupa, entah lagu “Akhir Cinta Abadi” atau “Pulang”. Yang jelas, gw sangat-sangat tertarik ketika bait demi bait pusi ini dilantunkan. Berulang kali dalam hati gw berteriak:” Wow!!”

Inilah puisi yang diciptakan oleh beliau sebelum beliau pergi menghadap Yang Mahakuasa:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar

Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra
31 Juli 2009
Mitra Keluarga

(Puisi dan foto gw ambil dari sini)

Gw benar-benar terharu. Bagaimana tidak. Seolah beliau sudah dapat melihat pencabut nyawa sudah berada di sekelilingnya. Dan yang membuat gw berdecak kagum adalah beliau benar-benar sastrawan sejati. Di saat detik-detik maut menjemput pun ia masih sanggup untuk berkarya. Sangat jujur.

Di bait pertama, dirinya menunjukkan bahwa beliau sudah lelah dan pasrah, bahkan cenderung sudah siap untuk menghadap Sang Illahi.

Kemudian di bait ke-dua, beliau ingin menekankan bahwa dirinya akan lebih baik lagi jika tidak dalam keadaan sakit seperti saat itu. Beliau menginginkan sebuah kenyamanan pada kondisi yang berbeda.

Pada bait berikutnya, bait inilah yang paling membuat gw tersentuh. Betapa beliau sudah tidak ingin lagi bersentuhan dengan obat-obatan yang membantu menyangga hidupnya dan ingin menjalani keadaan yang biasa-biasa saja.

Bait selanjutnya, beliau semakin pasrah dengan mengungkapkan cita-citanya untuk dapat menghadap Tuhan dengan tenang. Betapa beliau ingin mengabdikan dirinya di jalan Tuhan.

Dan yang terakhir, merupakan sebuah pengakuan terdalam terhadap Tuhan yang telah memberinya kesempatan untuk dapat hidup di dunia ini.

Betapa gw sangat mengagumi sosoknya. (Alm.) W. S. Rendra, meskipun engkau telah gugur namun engkau telah meninggalkan keharuman yang tak akan pernah hilang di darah bumi pertiwi ini. Terima kasih ya Allah, engkau telah menciptakan sastrawan Indonesia sebaik dirinya.