Jumat, 11 Desember 2009

Am I Too Tall?

Gw lagi iseng-iseng liat-liat foto gw bareng keluarga inti gw. Terus gw amati deh, tinggi badan antara gw, kakak, papa, sama ibu gw. Pastinya ya, yang paling tinggi nomor satu itu kakak gw. Kemudian disusul sama papa yang nggak jauh beda sama gw (tapi tetap aja tinggian papa). Yang paling “rendah” ya ibu gw. Hehe.


Ini foto di Rumah YangTi di Surabaya. Lebaran 2009.


Emang sih, kalau menurut apa yang gw inget dari kata-kata guru SD gw, namanya Bu Rina (Hai, teman-teman SD Tunas Jakasampurna Galaxi, masih ingat ibu guru super kita yang satu ini kan?), kalau anak perempuan rata-rata memiliki tinggi diantara ayah dan ibunya. Kalau anak laki-laki baru diatas tinggi ayahnya.
Gw, sering menjadi perempuan yang tertinggi di kelas (sekolah maupun kuliah). Banyak yang bertanya bagaimana cara gw bisa tinggi. Padahal kalau mau jujur nih ya, gw baru berasa tinggi itu waktu SMP. Malah waktu SD gw terhitung setara lah sama teman-teman gw dan bukan menjadi anak yang tertinggi di kelas. Lantas apa yang bisa membuat gw tinggi seperti ini?
Gw kasih tahu nih rahasianya. Sewaktu bulan puasa di kelas 1 SMP, gw setiap sahur minum Energen. Kemudian pas lebarannya, pada saat itu gw berlebaran di Bogor, di rumah tante gw. Di sanalah hampir setiap hari (pagi dan sore) gw berenang, soalnya gratis, hehehe. Langsung aja tuh tulang gw memanjang ke atas. Eh tapi jangan langsung percaya dengan analisis gw diatas. Karena ada faktor X-nya. Mungkin pada saat itu memang waktunya gw sedang pertumbuhan yang benar-benar ”tumbuh” dan yang paling penting, sebetulnya tinggi badan gw ini bawaan dari genetik, guys. Hihihi. Karena dari pihak papa gw, memang tulang-tulangnya cukup ”raksasa” begitu pula dari pihak ibu gw. Meskipun ibu gw yang paling tidak tinggi diantara saudara-saudara kandungnya, tapi kakak dan adik ibu gw punya postur tubuh yang tinggi-tinggi. Jadi, memang sudah bawaan orok makanya gw punya tinggi tubuh yang seperti ini.
FYI, tinggi gw hanya 169 cm kok, teman. Sampai sekarang gw masih suka pengen nambah paling tidak 1 cm lagi aja. Nanggung aja gitu, tinggi kok 169 cm, mau digenapin jadi 170 cm tapi gw nggak tahu gw masih bisa tumbuh atau tidak. Soalnya gw suka ”iri” kalau melihat atau bertemu perempuan yang tinggi badannya di atas gw. Rasanya pengen narik tulang-tulang gw ke atas lagi.
Oh iya, gw juga suka sebal kalau gw jalan sama teman-teman gw yang tingginya di bawah gw tapi mereka kurang percaya diri kalau jalan sama gw. Kalau udah seperti itu gw jadinya salah tingkah dan sedikit ”memendekkan” tubuh gw alias badan gw bungkukkan. Makanya banyak orang yang bilang gw kalau jalan suka bungkuk. Ya karena faktor tersebut, jadi agak kebawa kalau gw jalan agak bungkuk. Tapi kalau gw ingat, pasti gak gw bungkukkin kok, gw gak mau deh jadi si bongkok. Makanya tolong ya teman, jangan menyiksa gw seperti itu.
Barusan saja terbersit di otak gw, perempuan terlalu tinggi itu menyeramkan nggak sih? Yang pasti dapat julukan ”tiang listrik”, ”jangkung”, dan lain-lain itu sih sudah biasa. Tapi kalau gw pribadi sih gw senang mempunyai tinggi badan seperti ini, karena ada manfaatnya juga loh. Gw sering dimintain bantuan sama teman-teman gw untuk menjangkau sesuatu yang letaknya tinggi bahkan sampai menggantikan lampu kamar teman. Kemudian, kalau lagi nonton sesuatu di tempat keramaian, nggak usah berdiri di paling depan juga sudah kelihatan. Dan bermanfaat juga terhadap saluran penafasan gw. Kalau lihat konser yang berdesak-desakan, gw bisa jinjit sedikit dan bisa mendapatkan bantuan sedikit-sedikit oksigen. Hehe.
Jadi, gw nggak akan menyesal telah dianugerahi tinggi badan seperti yang gw punya saat ini. Lagipula, model-model catwalk juga tinggi, bukan?

Selamat Tinggal

Mungkinkah benar aku harus mengucapkan selamat tinggal

Untuk dirimu yang tak pernah lagi muncul di kehidupanku

Dan aku pun harus begitu saja melupakan

Tanpa harus dirimu berpamitan padaku?


Harus setega itu kah aku untuk menghapusmu dari memoriku

Sedangkan terdapat cerita-cerita lucu yang mungkin bisa kita bangun kembali

Untuk dijadikan sebuah perangkat dalam menjalin tali

Entah yang sesuai harapan entah yang hanya seperti itu saja


Tolong, kembalikan suasana seperti dahulu

Yang sama-sama aku ingin kamu dan kamu ingin aku

Berpadu meraih keinginan yang kuat

Meski aku lihat percuma sebab yang aku utarakan ini hanyalah fana


Kini aku tertawa dan berbalut pedih

Sembari menatap ke jalanan yang tak ada kamu

Aku tak tahu kamu ke mana!

Dan tak ada upaya dari sesama kita agar mencari hingga akhirnya bertemu


Sudah, memang aku ingin sudahi saja buruknya petualangan ini

Aku akan menutup misteri cinta ini

Yang aku rasa tak akan pernah berhenti di sebuah titik

Perjumpaan kita yang semestinya akan menjadi satu selamanya


Maaf, jika bukan sekarang, kapan lagi

Jika kamu tiba-tiba datang kembali

Mungkin saja aku tidak akan menerimamu lagi atau bahkan mengusirmu pergi

Agar aku tidak tersakiti dan bisa segera bangkit berdiri



Oleh: D. Nariswari

28 November 2009

Mending Nggak Usah Aja, Deh!

Gw bingung banget deh sama orang-orang. Mau aja merelakan waktu, tenaga, materi, bahkan pikiran untuk mendapatkan sesuatu namun setelah didapatkan akhirnya dicacimakilah sesuatu itu. Eh, pada bingung ya, gw lagi ngomongin apa?
Begini, akhir-akhir ini gw sering melihat tweet-tweet orang-orang yang gw follow dan banyak yang mengeluh mengenai ini dan itu. Tapi yang paling bikin gw tergerak untuk menulis post gw kali ini adalah mengenai keluhan-keluhan terhadap film 2012 dan juga New Moon. Dan hal ini juga tidak terjadi di dunia per-twitter-an aja loh, teman-teman. Tapi juga di dunia nyata kalau gw bertemu dengan orang-orang di sekeliling gw.
Sebelum film 2012 muncul, mereka udah pada heboh aja gitu mau lihat dan penasaran film 2012 itu seperti apa. Ada yang takut lah, ada yang pengen lihat efek-nya lah, pokoknya macem-macem. Begitu film-nya muncul, percaya gak percaya, di Cinema 21 Malang Town Square langsung dibuka dua studio. Udah gitu gak nanggung-nanggung, harga tiketnya dipukul rata Rp 20.000 dari hari Senin sampai Minggu. Ternyata hal itu tidak menyurutkan semangat orang-oang yang mau nonton film tersebut. Terbukti dari antrian ular naga panjangnya bukan kepalang dalam setiap hari penayangan film itu. Kalau nggak salah di bioskop-bioskop lain begitu juga ya? Ngantri dari siang, dapetnya tiketnya buat yang malam. Tapi, pengorbanan yang dilakukan ternyata tidak setara dengan apa yang didapat. Menurut tweet-tweet yang gw baca dan dari obrolan-obrolan gw terhadap teman-teman, mereka justru kecewa dengan film itu. Alasannya sih beragam, ada yang bilang ceritanya aneh, ada yang bilang mengecewakan, yah macem-macem lah.
Lalu, film New Moon. Emang sih, saat gw menulis post ini, film tersebut belum diputer di Malang. Jadinya gw tahu perkembangannya melalui twitter aja. Tweet artis-artis kita banyak yang mengatakan kalau filmnya ngebosenin. Dari beberapa tweet temen-temen gw, dapat disimpulkan bahwa banyak kritikan terhadap film tersebut.
Kira-kira begitulah sekilas laporan pandangan mata dan telinga untuk kedua film tersebut.
Kalau gw sih, untuk film 2012 jujur aja gw gak tertarik buat nonton. Kenapa? Soalnya gw emang kurang suka film-film yang bergenre seperti itu kemudian gw juga sebodo-amatlah sama isu-isu 2012. Jadi nggak ada alasan kuat yang mengharuskan gw untuk menonton film itu. Lagian juga ngantri tiketnya panjang, males banget deh gw. Masih banyak hal-hal bermanfaat yang bisa gw lakukan ketimbang mengantri sampai mati gaya dan bikin kaki gw pegel-pegel. Kalau pun ada yang merekomendasikan gw untuk nonton, lebih baik gw beli DVD bajakannya aja atau meng-copy filmnya dari temen-temen gw.
Jadi intinya begini. Kenapa sih, orang-orang masih aja ribet mengeluh padahal yang dikeluhkan itu adalah sesuatu yang ia perjuangkan sendiri. Iya kan? Contohnya dari film 2012 itu tadi, udah capek-capek ngantri, begitu udah nonton film-nya katanya jelek. Ya sudahlah, lagian lw kan juga bisa memprediksi sebelumnya, film yang mau lw tonton itu bagus atau nggak, jadinya lw bisa memutuskan sendiri, lw harus nonton film-nya atau nggak. Terus, kalau ternyata lw emang udah terlanjur bilang jelek, buang jauh-jauh deh, lw ambil sisi positif dari film tersebut, nggak usah mengeluh terlalu banyak. Gw yakin semakin lw bilang ”jelek”, lw akan bener-bener ngerasa film itu memang sangat jelek.
Semoga peringai tersebut hanya dalam urusan film aja ya. Jadi menurut gw, hargai apa yang telah lw raih, teman. Apa yang telah lw usahakan dan telah lw petik, jangan sampai deh lw injak-injak sendiri. Semua kan pasti ada hikmahnya. Kalau memang gak baik untuk lw lakukan, mending nggak usah aja, deh!

Belanja Murah Meriah


Beberapa waktu yang lalu, gw bersama adik kos gw ke Matahari Pasar Besar Malang. Di sana gw melihat ada diskon untuk T-shirt sebesar 50 %. Harga di bandroll setiap T-shirt ada yang Rp 19.900 dan ada juga yang Rp 29.900. Karena gw pencinta T-shirt, langsung aja gw pilah-pilih motif dan jenis bahan yang gw suka. Jujur aja gw udah lama banget gak beli di T-shirt di Matahari karena gw lebih sering berburu T-shirt yang bermotif merek makanan atau minuman sedangkan yang begituan di Matahari kan gak ada. Namun karena saat itu gw lihat ada diskon yang cukup menggiurkan, jadilah gw beli dua buah T-shirt, yang satu harganya jadi Rp 9.950 dan yang satu lagi jadi Rp 14.950.
Sampai di kosan, adik kos gw ngajakin gw lagi ke Matahari Pasar Besar dalam waktu dekat. Tapi gw menolak, gw takut over budget karena saat itu masih terhitung awal bulan. Dan setelah itu gw membahas sebuah topik yang gw jadikan sedikit ilmu dalam belanja dan gw bagikan kepada adik kos gw. Tentunya saat ini gw bagikan ilmu ini juga kepada lw semua yang lagi baca blog gw. Maaf jika terkesan sok tahu, tapi ini kenyataan berdasarkan pengalaman-pengalaman gw dan nyokap gw sendiri dalam berbelanja. Kalau ada yang gak setuju atau mau berbagi, silahkan post comment aja ya!
Jadi begini, pernah mendengar istilah target pasar? Di dalam ilmu manajemen pemasaran, ada yang disebut dengan STP (Segmentation, Targetting, Positioning). Target pasar menjadi salah satu elemen dalam STP tersebut. Suahlah, jangan kita bahas terlalu jauh mengenai STP. Menurut gw, Matahari Department Store cenderung membedakan harga produknya sesuai dengan lokasi yang berorientasi pada kemampuan ekonomi masyarakatnya. Di sini gw mengambil contoh Matahari Department Store, bukan department store yang lain, karena gw kurang memahami kondisi yang lainnya.
Kita lihat pada kasus diskon. Saat gw masih bersekolah dulu, gw pernah mengamati bahwa Matahari Department Store Grand Mall Bekasi lebih sering memberikan diskon daripada Matahari Department Store Metropolitan Mall Bekasi. Mungkin Matahari Department Store Metropolitan Mall Bekasi saat itu juga sering memberikan diskon tapi ada perbedaannya yaitu harga yang tercetak di bandroll produk di Matahari Department Store Metropolitan Mall Bekasi lebih mahal ketimbang Matahari Department Store Grand Mall Bekasi. Selain itu produk yang dijual pun tingkatannya juga berbeda, (sepertinya) kalau yang di Matahari Department Store Grand Mall Bekasi itu produknya sudah lebih lawas daripada produk-produk yang ditawarkan di Matahari Department Store Metropolitan Mall Bekasi.
Dimana kita mengetahui bahwa pamor Grand Mall kalah dengan Metropolitan Mall Bekasi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal seperti Metropolitan Mall berdiri lebih dahulu ketimbang Grand Mall sehingga orang lebih mengenal Metropolitan Mall, kemudian dari segi lokasi, Metropolitan Mall terdapat di kawasan ”segitiga emas”-nya Bekasi (kawasan pertumbuhan ekonomi yang tinggi karena diapit oleh tempat-tempat perbelanjaan yang lain), dan sebagainya. Sedangkan untuk Grand Mall, dari segi isi mall atau toko-toko yang terdapat di sana seperti layaknya trade center atau kalau gw boleh jahat, gw lebih suka menyebutnya sebagai pasar, bukan seperti layaknya mall.
Hal ini yang gw temukan pula di Malang. Matahari Department Store Pasar Besar Malang dengan Matahari Department Store Malang Town Square menerapkan strategi yang sama seperti yang gw temukan di Bekasi, yaitu menyesuaikan dengan tingkat perekonomian dari konsumen yang berdatangan.
Dengan asumsi yang sama dengan kasus di Bekasi, kita melihat pamor Pasar Besar dengan Malang Town Square dan juga dari sisi pengunjung yang berdatangan. Pasar Besar jelas-jelas merupakan sebuah pasar yang di dalamnya terdapat Matahari Department Store sedangkan Malang Town Square adalah sebuah mall yang menjadi salah satu pusat perbelanjaan bergengsi kebanggaan orang Malang.
Setelah sekitar dua minggu berlalu dari cerita gw di awal (yang gw membeli T-shirt di Matahari Pasar Besar), adik kos gw itu bercerita kalau Matahari Department Store Malang Town Square mengadakan diskon untuk T-shirt sebesar 50 % + 20 %, jadi totalnya 70 %. Gw saat itu sedikit diledek sama adik kos gw karena gw dianggap memberikan teori yang salah mengenai strategi penetapan pangsa pasar yang gw jelaskan tadi. Tapi gw sedikit bersikap curiga, jangan-jangan yang T-shirt yang dijual di Matahari Department Store Malang Town Square itu motif atau kualitasnya lebih buruk dari T-shirt yang dijual di Matahari Department Store Pasar Besar. Lalu adik kos gw mengatakan bahwa yang dijual itu sama.
Lalu, hari ini tadi gw iseng aja ke Malang Town Square sekalian ambil uang di ATM dan ke Matahari-nya. Gw gak berniat untuk membeli T-shirt, tapi pikiran gw saat itu kalau ada yang bagus, ya gw beli. Ternyata benar, terpampang tulisan diskon 50 % + 20 %. Gw langsung mengangkat-angkat T-shirt yang terletak di bak diskon untuk melihat motifnya. Tapi gak ada satu pun motif yang sesuai dengan selera gw. Gw melihat rata-rata harga di banderol sebesar Rp 29.900 dan Rp 39.900. Sangat sedikit jumlah T-shirt yang harganya Rp 19.900. Padahal di Matahari Department Store Pasar Besar yang saat itu gw kunjungi, harganya rata-rata Rp 19.900 dan Rp 29.900 dan tak ada yang berharga Rp 39.900. Dari situlah gw mencibir dan bergumam dalam hati, benar kan dugaan gw. Meskipun diskon T-shirt lebih besar akan tetapi karena harganya entah sengaja dinaikkan entah harga aslinya seperti itu, tetap saja harga di Matahari Department Store Malang Town Square setelah didiskon jatuhnya lebih murah yang di Matahari Department Store Pasar Besar.
Yah begitulah sedikit pengamatan dan pengalaman dari gw. Kita harus jeli dalam menyikapi diskon, jangan asal terburu nafsu dengan diskon yang gila-gilaan namun ternyata mungkin saja harganya sengaja dinaikkan terlebih dahulu karena ada diskon. Selain itu dilihat dulu kualitas barangnya, ada cacat atau tidak. Daripada membeli kucing dalam karung.
Be smart on shopping ya!

Sabtu, 07 November 2009

Serigala Terakhir

Akhirnya, gw posting review film juga, guys. Karena gw nggak tahan mau berbagi review ini sama kalian. Buat orang-orang yang belum dan akan menonton film ini tapi nggak mau tahu ceritanya gimana sebelum lw nonton filmnya, gw saranin jangan baca ini. Karena gw akan mengulas sampai tuntas. Okay, bersiap ya teman, karena review gw ini sangatlah panjang.



Kamis malam, gw melihat tayangan On The Spot di Trans 7. Saat itu gw nontonnya sambil pindah-pindah ke channel yang lain. Tiba-tiba pas gw balik lagi ke On The Spot, muncullah muka-muka Vino G. Bastian, Fathir Muchtar, Reza Pahlevi, Ali Syakib, Dion Wiyoko dan Dallas Pratama. Yup, betul banget. Mereka disana sedang mempromosikan film “Serigala Terakhir”. Langsunglah sebagai penggemar berat Vino G. Bastian, gw teriak-teriakan sendiri di kamar. Haha. Vino mempromosikan film tersebut senagai film yang asli dibuat oleh anak-anak Indonesia, tidak menggunakan bantuan dari luar negeri. Gw tahu tuh, dia nyindir film apa.

Keesokan harinya, gw langsung pergi nonton film itu. Karena gw nggak tahu jadwal mainnya jam berapa, gw berangkat ke Matos sekitar jam dua belas kurang sepuluhan. Sampai sana gw liat jadwal main pertamanya jam dua belas tepat. Tanpa ba bi bu lagi gw langsung beli tiketnya. Untung aja nggak ngantri. Gw lihat saat itu jam dua belas kurang sedikiiit dan gw mengambil langkah seribu begitu dapat tiketnya. Ternyata di layar bioskop udah terlihat lima orang pemain utama berlari-larian. Yah, mungkin saat itu gw telat sepersekian menit. Nggak apa-apa deh, belum ketinggalan, baru opening-nya aja.

Vino G. Bastian (Jarot), Fathir Muhtar (Ale), Ali Syakib (Sadat), Dallas Pratama (Jago), dan Dion Wiyoko (Lukman) adalah lima anak kampung yang bersahabat. Mereka bercita-cita suatu saat nanti akan menjadi penguasa di negara ini. Menurut mereka kekuatan adalah kekuasaan dan kekuasaan adalah kehormatan. Mereka lebih sering menggunakan kekuatan ketimbang otak untuk menunjukkan kekuatan mereka. Kalau menurut gw, mereka lebih tepat untuk dijuluki preman kampung, sebab mereka sering beradu otot untuk mempertahankan daerah kekuasaannya jika diancam oleh pihak lain.

Di kampung tersebut mereka adalah pemimpinnya, jadi seluruh pemuda kampung merupakan bawahan mereka. Ada salah seorang pemuda kampung tunawicara bernama Fathir (diperankan oleh Reza Pahlevi), yang pernah satu kali dimintai bantuannya oleh Ale dkk untuk membantu perkelahian dengan sekelompok pemuda lainnya. Saat itu pun Ale dkk berhasil dalam perkelahian tersebut karena Fathir turut memukul salah seorang musuh dengan memecahkan botol di kepala orang tersebut. Disaat yang lain, ketika Fathir diolok-olok oleh sekumpulan anak kecil, Jarot pernah membela Fathir dengan mengusir anak-anak kecil yang telah memperoloknya.

Suatu ketika, Ale dkk bertanding futsal dengan sekelompok pemuda lain. Namun permainan futsal tersebut diwarnai oleh aksi anarkis. Hingga akhirnya ketika Ale berhasil membuat satu tendangan gol, sekelompok lawannya terbakar emosinya kemudian terjadi perkelahian. Ketika pemimpin lawan tersebut ingin menyerang Ale menggunakan belati, dari belakang Jarot memukul pemimpin lawan tersebut hingga tewas. Yang dilakukan oleh Ale dkk saat itu adalah kabur namun Jarot berbesar hati untuk tetap diam di lapangan itu hingga akhirnya ditangkap oleh polisi.

Di balik jeruji penjara, hidup Jarot tidak pernah tenang karena selalu diperlakukan tidak baik dan disiksa oleh teman-teman satu selnya. Namun lama kelamaan jiwa Jarot yang sesungguhnya muncul kembali dan justru menghantam teman-teman satu selnya untuk tunduk kepadanya. Selama mendekam di penjara, Jarot tidak pernah sekalipun dijenguk oleh keempat sahabatnya itu.

Di lain kesempatan, Ale dkk menyatukan kekuatan agar organisasi mafia narkoba Naga Hitam tidak masuk ke daerah perkampungan mereka. Karena Ale dkk “pincang sebelah” setelah tertangkapnya Jarot, maka Ale dkk mengadakan “audisi” kepada pemuda kampung untuk turut bergabung bersama mereka. Fathir adalah orang yang terakhir kali datang ke ajang tersebut. Namun saat itu Lukman dan Jago justru memperolok dan menertawakan Fathir dengan menyuruh Fathir untuk pulang saja dan merawat neneknya. Lalu Fathir langsung menuju rumahnya dan terlihat banyak orang sedang berada di rumahnya. Ternyata saat itu nenek Fathir sudah meninggal dunia.

Baiklah, kita kembali kepada Jarot. Setelah beberapa waktu lamanya, Jarot bebas dari penjara. Begitu keluar dari penjara (di scene ini lw bisa ngelihat Vino dengan gaya rambut gondrong serta berjanggut dan berjambang. So kewl!), Jarot disambut oleh Fathir. Kali ini style Fathir sudah berubah. Dia menggunakan jaket kulit dan memiliki janggut serta jambang. Tak hanya itu saja, Fathir menjemput Jarot dengan mengendarai sebuah mobil sedan berwarna merah. Ternyata Fathir membawa Jarot ke sebuah gedung yang di dalam satu ruangan terdapat beberapa bos besar pemilik organisasi sudah menunggu kedatangan mereka. Bos-bos tersebut mengajak Jarot untuk bergabung bersama mereka karena mereka sudah mengetahui kredibilitas Jarot. Mereka mengiming-imingi Jarot dengan kehidupan yang lebih baik. Akhirnya Jarot menyetujui ajakan tersebut. Dan lw tahu? Organisasi tersebut adalah Naga Hitam. Sehingga, sejak resmi bergabung dengan Naga Hitam, Jarot berseberangan dengan Ale dkk.

Sebetulnya, hati Jarot tidak begitu setuju dengan perilaku Naga Hitam yang sering bertindak terlalu sadis terhadap orang-orang yang tidak mematuhi peraturan Naga Hitam. Mereka selalu menyelesaikan persoalan dengan membunuh orang- orang. Terlebih Fathir yang dengan dinginnya membunuh orang dengan menggunakan pistolnya.

Film ini juga dibumbui oleh kisah cinta. Dimana Jarot dan Aisyah (diperankan oleh Fanny Fabriana) sama-sama menjalin cinta terlarang. Aisyah merupakan adik dari Ale. Setelah bergabung dengan Naga Hitam, Jarot bertemu kembali dengan Aisyah dan mereka sering janjian untuk bertemu.

Lain lagi dengan kisah ketika Jarot mengetahui bahwa adiknya, Yani (diperankan oleh Zaneta Georgina), bekerja di sebuah club malam menjadi seorang penyanyi. Jarot yang melihat hal tersebut kemudian melarang Yani agar tidak bekerja di tempat itu lagi. Akan tetapi yang ada hanyalah perang mulut diantara kakak beradik itu. Setelah itu Jarot meminta pemilik club malam untuk menjaga Yani agar tidak tersentuh oleh pria manapun.

Hingga akhirnya suatu saat Bos Besar menyuruh Jarot untuk mengadakan pendekatan ke kampung Jarot untuk berjualan narkoba. Alasannya adalah Jarot sudah mengetahui tempat itu. Dengan hati yang gundah, Jarot tetap mematuhi perintah tersebut. Jarot dan Fathir memberi sampel narkoba gratis kepada pemuda-pemuda kampung hingga akhirnya mereka ketagihan dan terus menerus membeli kepada Naga Hitam. Salah satu korbannya adalah adik Lukman yang pada akhirnya membuka mulut setelah ditanya paksa oleh kakaknya bahwa yang berjualan narkoba adalah Jarot. Setelah itu Ale dkk terus berniatan untuk memerangi Jarot dan Naga hitam. Di lain hari, ketika Ale dkk meminta uang keamanan kepada para pemilik-pemilik toko di suatu kawasan pertokoan, Ale dkk melihat Jarot dan Fathir melintas menggunakan sedan merahnya. Ale dkk seketika juga mengikuti mobil tersebut menggunakan motor yang dirampas mereka di tengah jalan. Laju mobil Jarot dan Fathir diapit oleh kedua motor Ale dkk hingga Fathir melepaskan tembakan peluru ke lengan Ale. Hal tersebut disesali oleh Jarot yang tidak menginginkan Ale ditembak oleh Fathir.

Tak lama, akhirnya Jarot kembali pulang ke rumah sekedar untuk menjenguk keluarganya. Ternyata ayah Jarot tidak ingin melihat Jarot ada di rumah itu lagi. Jarot pun kemudian memberikan uang untuk ibunya dan seketika Aisyah mendatangi rumah Jarot dan melapor bahwa Ale dkk sedang datang untuk menyerbu Jarot. Namun Jarot pun berhasil lolos dan dengan sedikit bantuan dari Fathir yang ternyata mengikutinya, akhirnya Jarot benar-benar dapat terbebas dari serangan Ale dkk. Jarot marah karena Fathir telah membuntutinya, menurutnya hal itu adalah urusan pribadi Jarot dan Fathir tidak perlu bersikap seperti itu.

Kemudian di lain waktu, Sadat dan Jago mendapati adik Lukman tewas dalam keadaan over dosis. Hal itupun diketahui oleh Lukman. Sehingga Lukman menemui Jarot yang saat itu sedang bersama kawanan Naga Hitam untuk membalaskan dendamnya. Akan tetapi Fathir yang berjalan di belakang Lukman, menjerat leher Lukman dengan benang halus. Kemudian Jarot menyuruh Fathir untuk melepaskan jeratan tersebut. Jarot berbicara empat mata dengan Lukman dengan awasan anggota Naga Hitam dari kejauhan. Setelah sempat terjadi pertengkaran mulut yang membakar emosi Lukman hingga ingin membunuh Jarot, namun hal itu digagalkan oleh Fathir yang terlebih dahulu menembak Lukman. Lukman pun tewas dan Jarot kembali mengecam Fathir.

Ale dkk mengetahui perbuatan Naga Hitam yang telah menembak mati Lukman. Sadat dan Jago melaksanakan aksi balas dendam dengan memperkosa Yani. Ale pun marah ketika Sadat dan Jago melapor kepada Ale. Menurut Ale bukan seperti itu cara balas dendam yang sesungguhnya, karena telah menyakiti wanita.

Sewaktu Jarot pulang ke rumahnya, Yani terlihat sedang termenung dan ibu Jarot berkata bahwa setiap hari Yani bersikap seperti itu. Jarot pun segera mendatangi club malam tempat Yani bekerja dan menanyakan siapa yang telah menodai adiknya kepada pemilik club. Pemilik club yang disiksa oleh Jarot dkk kemudian mau membuka mulut dan mengakui bahwa Sadat dan Jago yang melakukannya. Setelah itu Jarot dkk membakar pemilik club malam tersebut.

Suatu malam Jarot berhasil menangkap Sadat dan Jago. Mereka meminta ampun kepada Jarot. Akan tetapi Jarot tidak mau memaafkan kedua mantan sahabatnya itu dan nyawa mereka pun melayang dihabisi oleh Fathir. Di scene ini benar-benar terlihat betapa pembunuh berdarah dinginnya Fathir ketika memukul Sadat dan Jago menggunakan palu besar hingga darah mereka bermuncratan ke wajah Fathir yang penuh tampang kepuasan.

Ale yang tinggal sendiri pun akhirnya memergoki SMS Jarot di handphone milik Aisyah yang saat itu sedang bersiap-siap untuk bertemu dengan Jarot. Aisyah dikurung oleh Ale dan justru Ale yang menemui Jarot di sebuah penginapan dengan membawa sekumpulan pemuda kampung. Tanpa sepengetahuan Jarot, Fathir dan anggota Naga Hitam lainnya membuntuti Jarot dengan berjaga-jaga di depan penginapan. Mengetahui Jarot akan diserang, Fathir masuk ke dalam penginapan dan menjemput Jarot. Terjadi aksi tembak menembak di penginapan dan mereka berdua berhasil lolos dengan terjun melompat dari lantai dua. Setelah itu Jarot dihakimi oleh teman-temannya di Naga Hitam. Mereka menyuruh Jarot untuk meninggalkan Aisyah demi keselamatan mereka berdua.

Dengan penuh kegalauan, Jarot mengajak Aisyah untuk bertemu di sebuah atap gedung yang belum jadi. Sebelumnya, Aisyah telah brpamitan dengan ibunya untuk pergi menemui Jarot dan mengaku bahwa dirinya telah mengandung anak hasil perbuatannya dengan Jarot. Namun setelah Jarot dan Aisyah bertemu, Jarot justru mengajak berpisah dengan alasan demi kebaikan untuk mereka berdua. Aisyah masih menangis tersedu-sedu ketika Jarot meninggalkannya dan turun ke lantai dasar. Jarot pun terlihat sangat tersakiti dengan keputusan yang dibuatnya sendiri. Kemudian ada seseorang yang menepuk pundak Aisyah dari belakang, Aisyah mengira orang itu Jarot dan ekspresi Aisyah berubah gembira. Tetapi ekspresi Aisyah berubah kembaki ketika didapati bahwa orang yang menepuk pundaknya adalah Fathir. Jarot yang sedeng menyusuri jalan keluar gedung, mendapati Aisyah terjatuh ke lantai dasar. Jarot pun kaget dan menangis penuh keharuan kemudian segera menelpon polisi. Waktu gw melihat scene itu, gw teriak ”Shit!” sendirian di tengah keheningan bioskop. Sumpah gw kaget dan kesel banget sama perilaku sadisnya Fathir. Jadi di scene itu bener-bener diperlihatkan proses jatuhnya Aisyah yang terjun di udara.

Ibu Aisyah yang tidak terima dengan hal itu meminta anak sulungnya, Ale untuk membalaskan dendam tersebut. Kemudian Ale berhasil membakar mobil sedan merah Naga Hitam dengan mengalihkan perhatian Fathir dkk menggunakan pizza yang dikelabuhi sebagai bentuk traktiran ulang tahun Jarot (padahal Jarot tidak memesan pizza, yang memesan adalah Ale dkk). Ale pun turut membunuh salah seorang anggota Naga Hitam dengan meminta bantuan kepada orang untuk menembaki seorang anggota Naga Hitam itu. Mengetahui hal tersebut, Bos Besar Naga Hitam memarahi anak buahnya yang tersisa. Seorang anggota lainnya menyesali mengapa bukan Jarot saja yang harus tewas, namun Fathir melindungi Jarot ketika terjadi pertengkaran diantara keduanya.

Jarot membawa Fathir ke ruangan rapat mereka. Jarot mengajak Fathir agar berdamai dengan kampung Ale dkk dan tidak akan mengganggu kampung itu lagi. Akan tetapi Fathir menolaknya.

Lalu Jarot mengajak Ale untuk bertemu empat mata saja. Ale sepakat dan mereka bertemu tanpa pengawalan dari siapa pun. Jarot membuka percakapan dengan membawa kenangan-kenangan mereka di masa lalu. Ale bersikap sinis dan menganggap bahwa Jarot telah berkhianat. Namun Jarot menganggap dirinya bersikap seperti itu akibat dari perbuatan mereka yang tidak menjenguk dirinya selama di penjara. Bagi Jarot, hal tersebut bukanlah sikap yang dimiliki oleh orang yang bersaudara. Pertengkaran mulut berlangsung sengit diantara keduanya. Ale ingin membunuh Jarot menggunakan pistolnya dan saat itu terjadi pergelutan. Mereka berguling dan saling mengunci badan di atas tanah berpasir. Hingga akhirnya pistol meledak ke perut Ale. Mereka saling meminta maaf dan kalimat terakhir Ale menjelang ajalnya adalah ia pernah bermimpi bahwa mereka berlima akan bersatu untuk menguasai dunia bersama. Dalam tangisan, Jarot bergerak meninggalkan Ale yang sudah tewas. Ketika berjalan beberapa langkah, bahu sebelah kanan Jarot tiba-tiba ditembak oleh seseorang dan Jarot pun tewas seketika itu juga. Orang yang membunuh Jarot adalah Fathir.

Dan begitulah kurang lebihnya film ”Serigala Terakhir” ini. Gw kira yang dimaksud dengan “Serigala Terakhir” itu Jarot karena dialah yang paling terakhir hidup (dan akhirnya mati juga karena dibunuh oleh Fathir). Namun diakhir cerita, Bara, adik bungsu Ale yang ternyata menjadi generasi penerus dari lima serigala tersebut dan menjadi “Serigala Terakhir”.


Film berdurasi kurang lebih dua jam lima belas menit ini, memiliki unsur drama romantis, action, dan komedi yang menjadi satu di film ini. Untuk lw yang emosian seperti gw (gampang sedih, gampang marah, dan juga gampang bahagia), gw yakin pasti emosi lw akan kecampur aduk disini. Tapi sepanjang film sih gw lebih sering deg-degan, pengen marah dan nendang-nendangin Reza Pahlevi, dan pastinya sedih.

Akting buat Reza Pahlevi gw acungin jempol. Dia bener-bener tokoh yang tidak disangka-sangka yang akhirnya menjadi pembunuh berdarah dingin. Gw sebel banget sama dia. Gimana nggak sebel, di film itu, empat orang pemeran utama dibunuh sama dia.

Akting untuk Vino G. Bastian, seperti biasa, dia bermain total. Manly abis. Sumpah serapah seperti ”Anjing” sering keluar dari mulutnya. Keren banget lah cintaku itu. Haha. Di film itu lw bisa puas lihat otot-otot dan betapa six pack-nya Vino. Di awal lw bisa ngeliat kulit dia agak lebih hitam dari biasanya tapi diakhir-akhir ketika udah jadi mafia bersama Naga Hitam, you can look his pale complexion again. Gw perhatikan sekitar empat kali Vino berganti gaya rambut dan mungkin lw bakal ketawa karena baju-baju yang dia kenakan ketika jadi mafia itu ”enggak banget”. Model-model tahun 80’an gitu, pake kalung rantai emas pula. Yah, kan namanya juga mafia, begitu deh modelnya. Hahaha, tapi mau dibagaimanain juga, Vino tetap juara!

Top deh. Empat bintang untuk film ini.


Bangkitnya Harapan yang Kandas

Gw kagum sama salah seorang teman yang nggak bisa gw sebutkan namanya disini, karena perbincangan gw dengannya saat itu adalah off the record. Kita sebut saja namanya Miss Pianis.
Sejak umur empat tahun, Miss Pianis telah berkenalan dengan piano, saat itu dia tinggal bersama teman orang tuanya yang berprofesi sebagai manajer band dan akhirnya menjadi guru pianonya. Semakin lama Miss Pianis tumbuh menjadi seorang gadis yang bakat bermusiknya semakin terasah dengan baik. Dia pun sering mengikuti pertunjukkan-pertunjukkan musik dan sempat menjadi anggota band. Hingga dia pernah ditawarkan beasiswa ke Jerman untuk melanjutkan studi piano professional. Namun hal itu tak dapat dikecapnya karena dilarang oleh ayahnya.
Setelah lulus SMA, Miss Pianis sempat ingin melanjutkan studi-nya ke UGM mengambil jurusan Piano, dan berangan-angan sampai studi ke S2. Namun orang tuanya kembali melarangnya, hingga akhirnya karena impiannya terlalu sering dikekang oleh orang tuanya, emosi Miss Pianis tak terbantahkan lagi dan dia pun menyakiti benda kesayangannya yakni dengan cara merusak pianonya sendiri.
Sejak saat itu dia trauma dalam menyentuh piano dan tidak ingin memainkannya kembali. Tapi memang Miss Pianis memiliki dasar bakat bermusik yang tinggi, kini ia membanting stir ke alat musik biola. Hal itu pun ia lakukan secara sembunyi-sembunyi dari orang tuanya. Miss Pianis pun berhasil memiliki sebuah biola dari tabungannya sendiri.
Percakapan tersebut rupanya membuat Miss Pianis sedih dan gw agak-agak merasa canggung karena gw telah mengingatkan memori buruknya lagi. Saat itu Miss Pianis pun berkata dia rindu bermain piano. Gw yang mendengar perkataannya langsung bergumam dalam hati, ironis sekali orang berbakat ini. Gw pun berusaha memberinya semangat untuk bermain piano kembali namun dia mengatakan dia tidak mau lagi, karena dia telah sakit hati terhadap kenangannya itu.
Tetapi orang tuanya pernah berjanji untuk memberikan kesempatan kepadanya dalam bersekolah musik (piano) apabila nantinya Miss Pianis telah lulus berkuliah. Karena menurutnya, apalah gunanya jika dia pandai dalam berbisnis namun apabila klien ingin melihatnya bermain piano, dia tidak mampu mempertunjukkannya. Wow. Kalau gw sih, biasanya malu-malu dan bisa sampai nggak mau kalau harus show off di depan orang banyak. Yang dia katakan itu cenderung ke kebiasaan nyokap gw, yaitu berkata seperti ini, “Orang itu harus punya keahlian lain. Percuma kamu pintar tapi nggak punya keahlian.” Berarti pikiran Miss Pianis dan nyokap gw ini sejalan. Ternyata ada juga orang yang beranggapan seperti itu selain nyokap gw.
Gw pun mencoba membelokkan arah pembicaraan ke alat musik yang saat ini sedang dipelajarinya yaitu biola. Gw pribadi, sebetulnya penasaran dengan alat musik yang satu itu, karena sejujurnya gw punya keinginan untuk belajar memainkan biola klasik. Miss Pianis tertarik untuk belajar biola karena guru pianonya memberikan softcopy musik-musik instrumen biola untuk menenangkan jiwanya saat itu. Akhirnya dia memutuskan untuk berpindah ke alat musik biola.
Miss Pianis sedikit banyak telah memberi inspirasi kepada gw. Meski impiannya telah dikandaskan oleh orang tuanya namun tetap tidak menyurutkan semangat bermusiknya, Miss Pianis justru berpindah ke jalan yang lain yang bisa membuatnya lebih bahagia di dalamnya. Hal yang hampir serupa pernah terjadi dalam hidup gw, dan kini gw berusaha untuk terus mencintai serta menikmati apa yang bisa gw lakukan saat ini: menulis dan bermusik. Semoga gw menjadi profesional di dalamnya. Amin.

Selasa, 06 Oktober 2009

Hari Batik

Tanggal 2 Oktober kini resmi menjadi Hari Batik se-Indonesia.

Sehari sebelum tanggal 2 Okober, banyak tweet di twitter.com yang mengingatkan bahkan mengajak followers-nya untuk memakai batik untuk keesokan harinya. Salah satunya yaitu teman gw, Karina, bertanya di twitter seperti ini: “Besok ke kampus pakai batik gak?” Gw membalas tweet teman gw itu dengan jawaban: “Gak, besok aku kuliah di D3, siapa juga yang mau ngelihat? Hehe”.

Keesokan paginya, Mela, teman gw, mengirimkan sebuah pesan melalui SMS ke nomor gw. Isinya seperti ini: “Kamu ke kampus pakai batik gak?” Dan gw pun menjawab: “Gak, Hehe”.

Seperti biasa di hari Jumat gw selalu pergi ke kampus dengan Ranny dan Ica. Kebetulan saat itu gw sampai terlebih dahulu di tempat dimana kami biasa bertemu. Di sanalah gw melihat banyak mahasiwa/ mahasiswi yang berlalu lalang dengan memakai baju batik. Dan gw? Gw hanya memakai kemeja hitam dan rok hitam biasa saja. Tidak lama kemudian muncullah Ica dari arah depan dan Ranny dari arah samping kanan. Baju yang dikenakan Ica sama seperti hari-hari biasanya, dengan kaos berkerah dan celana jeans. Rupanya Ranny saat itu menjadi satu-satunya orang diantara kami bertiga yang memakai batik. Ternyata dengan polosnya Ica tidak mengetahui bahwa hari itu adalah hari dimana UNESCO menetapkan Batik sebagai motif sandang kebudayaan asli dari Indonesia. Ica rupanya menyesal karena tidak mengetahui informasi tersebut. Menurut gw nih ya, kalau dia tahu, sepertinya dia akan memakai batik juga.

Sesampainya di kelas, teman-teman gw pun banyak yang memakai batik, sekitar 40% teman-teman gw memakai batik termasuk dosen gw. Kalau dosen gw ini sih gw perhatikan hampir setiap hari memakai batik. Hingga akhirnya Mela masuk ke kelas dan duduk di bangku paling belakang. Ternyata dia nggak pakai batik! Waduh, gw sempat berpikiran jangan-jangan dia cuma survei ke gw dan karena gw jawabnya nggak pakai batik, makanya dia mengurungkan niat untuk tidak memakai batik. Tapi gw juga nggak sempat nanya, kenapa dia nggak pakai batik.

Ternyata kemeriahan hari batik tidak gw rasakan di lingkungan kampus saja. Karena ketika sore harinya gw keluar, gw melihat banyak anak sekolah yang menggunakan batik (mungkin disuruh oleh sekolahannya).

Kalau gw, jujur saja tidak begitu antusias menanggapi Hari Batik tersebut. Mungkin lw menganggap gw orang yang skeptis, kaku, ataulah apa. Sebenarnya gw juga sering memakai rok batik ketika ke kampus, maka menurut gw tidak usah ada hari batik pun gw juga akan memakai batik. Apalagi setiap hari di kosan gw memakai sandal rumah bermotif batik.

Mari kita lihat Hari Valentine. Ada yang merayakannya dan ada yang tidak merayakannya. Bagi orang-orang yang tidak merayakannya, mereka berargumentasi seperti ini, ”Hari kasih sayang itu bisa dirayakan setiap hari, jadi tidak perlu ada Hari Valentine”. Maka kesimpulannya, kalau esensi Hari Valentine saja bisa dirayakan setiap hari, mengapa Hari Batik tidak? Ya kan?

Diadakannya Hari Batik menurut gw adalah baik, akan tetapi jika orang-orang yang ”merayakannya” tidak mengetahui makna Hari Batik, menurut gw sama saja. Maka, lebih baik lagi jika diluar Hari Batik kita juga turut memeriahkan hari-hari kita dengan memakai batik. Dan jangan sampai kita terlena dengan Hari Batik serta telah diresmikannya motif batik oleh UNESCO sehingga budaya asli Indonesia yang lainnya ”kecolongan” lagi. Alangkah lebih indahnya jika kita mau melestarikan kebudayaan lainnya, jadi bukan batik saja. Kalau tanggal 2 Oktober bisa menjadi Hari Batik, mungkin juga kan, nanti akan menyusul tanggal 3 Januari menjadi Hari Lurik atau 19 Februari menjadi Hari Songket?

Intinya sih, kita harus menghargai dan melestarikan kebudayaan asli negeri kita ini kapan pun dan dimana pun. Jangan sampai hangat-hangat tahi ayam ya, teman-teman.