Rabu, 27 Juni 2012

Membayar Hutang


Berbulan-bulan yang lalu, blog gue ini mendapatkan award dari seorang teman blogger yang bernama Syifa. Award ini bertajuk Versatile Award.


Pertama kalinya gue nggak sadar kalau gue dapat award ini, karena Syifa memberi tahu lewat chat box di samping kanan situ tuh.. Berhubung gue jarang ngecek chat box (isinya spammer semua, bok.. pengen eik hapus deh rasanya), jadi gue baru sadar setelah sekitar dua minggu lamanya. Begitu gue iseng cek chat box dan ternyata ada pesan dari Syifa, waaah gue langsung merasa seperti seorang pendosa. Langsung lah gue mengucapkan terima kasih kepada Syifa di blognya, namun meminta maaf karena “pekerjaan rumah”nya belum bisa secepatnya gue kerjakan. Alasannya? Apalagi kalau bukan lagi banyak t-u-g-a-s.

Sekali lagi, terima kasih ya, Syifa, atas pemberian award ini.. dan maaf baru bisa dikerjakan sekarang.
Entah mengapa Syifa bisa menganggap bahwa gue pantas untuk mendapatkan Versatile Award. Mungkin karena blog gue ini isinya campur-campur dan serba guna (meski nggak berguna-berguna amat sih >.<). Memang, niat awal bikin blog ini sebenarnya untuk memuaskan diri sendiri dan artikel-artikel yang gue buat di sini penuh dengan subjektivitas. Jadi, buat yang nggak suka dengan sesuatu yang bersifat subjektif, silakan angkat kaki dari blog ini (mengusir dengan halus :p).

Dan “pekerjaan rumah” yang harus gue bikin dari award ini, yaitu “7 things about myself”. Hmm.. kali ini akan gue buat dengan spontanitas saja, apa yang tebersit dalam benak gue, akan langsung gue tuliskan di sini. Mari kita mulai:

1. Gue adalah seorang pencinta wewangian. Khususnya wangi lemon. Tapi bukan berarti gue ngelem gitu, ya. Kalau nggak ada juga nggak bakal gue cari-cari setengah mati. Yang jelas di kamar gue ada dua gel pengharum ruangan dan satu tabung semprot pengharum ruangan beraroma lemon. Di samping lemon, suka sama wangi apel dan karbol. Iya. Karbol :p

2. Terkadang gue malas makan nasi. Ya, dalam satu kurun waktu tertentu gue bisa betah nggak makan nasi dan berulang untuk beberapa hari ke depannya. Lapar? Sudah pasti. Tapi mulut ini tetap tidak mau menyerah untuk mempertahankan agar nasi tidak masuk ke dalam mulut. Biasanya sih gue substitusi dengan cemilan-cemilan atau karbohidrat lain, seperti mie atau roti. 

3. Waktu kecil, rambut gue panjaaang sekali. Rekor rambut terpanjang waktu SD sampai di bawah pantat. Kalau ke sekolah rambut gue selalu di kepang. Nyokap gue suka bereksperimen dengan kepangan, sampai guru di sekolah terheran-heran. Dulu gue selalu menolak untuk dipotong rambutnya, kalaupun dipotong hanya 1-2 cm saja. Tapi sejak SD kelas 6 sudah mau dipotong rambutnya sampai sebahu. 

4. Gue ini aslinya pendiam. Eh, nggak juga deh. Gue ini aslinya bawel. Aarghhh, nggak juga. Gue sendiri bingung, sebenarnya gue ini pendiam atau bawel. Kalau di suatu tempat Anda menemukan gue menjadi seorang pendiam, berarti gue sedang tidak nyaman dengan suasana tersebut, namun kalau Anda menemukan gue sebagai seorang yang bawel, berarti gue sedang dalam keadaan nyaman di suasana itu. Berarti bisa ketebak dong ya, kalau gue ketemu Anda bisa ngobrol panjang lebar, itu tandanya Anda adalah seseorang yang bisa membuat gue nyaman : )

5. Gue hanya bisa dua jenis olahraga, yaitu renang dan lari. Olah raga yang berhubungan dengan bola? Nggak deh, makasih. Mending gue disuruh bikin kue onde-onde aja.

6. Belajar main piano mulai kelas 2 SD, pertama kali belajar pakai not angka. Kelas 6 SD mulai belajar lagu klasik pakai not balok. Sempat males semales-malesnya main piano saat SMP dan SMA, sampai nyokap mengancam piano akan dijual kalau nggak dimainin. Gue memohon agar tidak dijual tapi tetap saja gue malas memainkannya. Entah dapat semangat dari mana, tiba-tiba pas kuliah jadi suka lagi main piano, hingga sekarang. Oh ya, kalau ada yang mau les piano atau keyboard sama gue, boleh lho, hubungi gue aja ya *uhuuuk *promosi *serius lho ini :D

7. Mata gue minus. Kanan minus 2.75 dan kiri 2.50. Dulu selama tiga tahun mata kanan gue sempat minus 3.00, dan ajaibnya bisa berkurang seperempat. Tapi jangan heran kalau di tengah jalan Anda menemui gue nggak pakai kacamata, gue masih bisa jalan-jalan tanpa kacamata. Bukan karena nggak pede, tapi lebih karena kurang nyaman kalau pakai kacamata terlalu lama. Dan jangan lebih heran kalau melihat gue sering salah menyapa orang. Urat malu gue sudah putus untuk urusan yang satu itu :p

Sekiranya cukup sekian dari diri gue yang dapat gue bagikan kepada Anda semua. Masih banyak lagi sebenarnya sisi-sisi terang dan gelap yang menarik untuk diceritakan.. sok penting lo, Cit.

Lalu, Versatile Award ini sebenarnya adalah award berantai yang harus diteruskan kepada blogger lainnya. Tapi, bukannya pelit nih ya, diibaratkan dengan buah, menurut gue award ini sudah mencapai tingkat kematangan yang teramat matang. Kalau dimakan, buah tersebut rasanya sudah hampir tidak enak. Sama dengan award ini. Karena gue mendapatkannya sudah berbulan-bulan lalu, maka gue khawatir blogger yang gue teruskan untuk mendapat award ini sudah mendapatkan award yang sama. Jadi, gue mohon izin dan mohon maaf karena gue tidak melanjutkan award ini kepada siapapun : (

Eh tapi jangan kapok-kapok ngasih gue award ya. Kalau ada waktu sih pasti langsung gue kerjakan dan gue patuhi persyaratannya. Meski bukan banci award, apapun yang teman-teman blogger berikan kepada gue pasti akan gue hargai setinggi mungkin.  Terima kasih, blogger : )

Psst Syifa, hutangnya udah lunas ya! : )



Rabu, 13 Juni 2012

Kartun Tergalau


Pernahkah di suatu ketika, secara tidak sadar, Anda mendendangkan sebuah lagu yang tidak pernah Anda rencanakan atau pikirkan sebelumnya?

Kalau gue sih, pernah. Sering malah.

Tapi lagu yang gue nyanyikan beberapa hari lalu membuat gue cekikikan dan keheranan sendiri sampai sekarang kalau ingat mengapa tiba-tiba gue bisa menyanyikan lagu itu.

Jadi, beberapa hari lalu, saat gue sedang dalam “kenikmatan” mengerjakan tugas UAS (yang mana jam tidur gue selalu di kisaran pukul 03.00 malam), pada pagi harinya saat bangun dari tidur, gue turun ke lantai bawah. Di saat perjalanan menuju lantai bawah itulah, di tengah tangga, tiba-tiba mulut gue menggumamkan lagu ini:

Hutchi anak yang sebatang kara, pergi mencari ibunya
Di malam yang sangat dingin, teringat mama
Walaupun kesepian, Hutchi tetap gembira
Mama, mama… di mana kau berada
Mama, mama… suatu saat pasti bertemu

Sesampainya di bawah, gue langsung ngakak dan terheran-heran. Kok bisa ya tiba-tiba gue menyanyikan lagu itu?

Keheranan itu menjadi hal yang wajar mengingat sudah bertahun-tahun lamanya gue tidak pernah mengingat lagu dan film kartun Honeybee Hutch tersebut. Selain itu, gue sama sekali tidak suka dengan film kartun tersebut, bahkan cenderung benci. Makanya gue ngerasa aneh kenapa gue bisa nyanyi lagu itu. Ternyata, tugas UAS benar-benar dengan sukses membuat gue gila : ))

Gue lupa kapan tepatnya film kartun Honeybee Hutch disiarkan di Indonesia. Seingat gue film kartun ini dulu ditayangkannya di waktu-waktu maghrib. Dan seperti yang telah gue sebut sebelumnya, bahwa gue membenci film kartun ini. Namun lain halnya dengan kakak gue yang merupakan penggemar berat Honeybee Hutch. Perlu digarisbawahi ya, kakak gue adalah seorang laki-laki.

Mengapa jenis kelamin kakak gue menjadi penting? Karena Honeybee Hutch menurut gue adalah film kartun tergalau sepanjang masa yang bisa merusak moral bangsa. Pantas saja anak-anak seumuran gue banyak yang galau, wong waktu beranjak remaja tontonannya beginian. Untung gue nggak suka, makanya sampai sekarang gue anti-galau *woooh *disorakin satu RT

Saat kartun ini ditayangkan, nyokap gue sering menghardik agar gue (dan khususnya kakak gue) untuk tidak menonton film kartun ini. Sebab nyokap nggak suka sama acara televisi yang isinya tangis-tangisan. Meski acara televisi kesukaan nyokap sekali pun, salah satu sinetron, misalnya, ada adegan nangis-nangisan pasti langsung diganti sama nyokap gue (sinetron zaman dulu tangis-tangisannya masih sedikit-sedikit, nggak kayak sinetron sekarang). Padahal Honeybee Hutch ini ceritanya supermelankolis. Hutchi, pemeran utama di film kartun ini, selalu menderita di setiap episodenya. Hutchi adalah seorang lebah yang terpisah dari ibunya si ratu lebah dan ia berjuang agar suatu hari bisa bertemu ibunya, namun di tengah perjuangan itulah ia sering mendapatkan penderitaan. Gue kurang jelas ceritanya seperti apa (karena gue nggak nonton), tapi garis besar kisahnya kurang lebih seperti itulah. Jika di antara Anda ada yang mau mengoreksi, monggo diluruskan ceritanya seperti apa : )

Hutchi, lebah melankolis yang sebatang kara
Balik lagi ke kisah di luar Hutchi. Jadi, kakak gue itu sudah sering dilarang oleh nyokap agar tidak menonton kartun tersebut. Tapi dengan santainya dia tetap menonton kartun tersebut hingga selesai. Gue sesekali kepo menanyakan sudah sampai mana ceritanya. Bukan. Bukan karena gue gengsi kepengen nonton tapi sudah terlanjur bilang nggak suka. Tapi pengen tahu sejauh mana kisahnya karena gue pengen kartun itu cepat-cepat habis, sebab mendengarkan soundtracknya saja kuping gue rasanya sudah hampir teriris-iris.
Di suatu ketika gue diceritain sama kakak gue, katanya Hutchi sudah bertemu dengan ibunya, namun terpisah lagi. Walaaah gue yang dengerin ceritanya langsung frustasi, apalagi kalau nonton sendiri. Gue bisa membayangkan, mungkin stok kesabaran gue bisa habis kalau gue nonton dengan mata kepala gue sendiri. Eh tapi herannya, kakak gue yang lelaki sejati itu tetap saja mau nonton. Hahahah, kacau lo mas.
Tapi kemungkinan terbesar mengapa kakak gue suka film kartun ini adalah ceritanya berkisar tentang kehidupan serangga. Terbukti, ketika dewasa ia menjadi sarjana biologi dan peminatan utamanya pada serangga :D

Entah bagaimana cerita film kartun itu pada akhirnya, gue nggak peduli, yang jelas gue bahagia tidak lagi mendengarkan soundtrack lagu itu setiap maghrib dan tidak mendengarkan lagi perkembangan cerita di setiap episode Honeybee Hutch.

Beberapa hari lalu saat kakak gue main ke rumah, gue mengingatkan kakak dan nyokap tentang film kartun ini, mereka pun langsung terbahak-bahak. Nostalgia tentang larangan nyokap dan kakak gue yang keukeuh menonton film itu sampai habis. Tentu, nostalgia itu ditutup dengan nyanyian:

Hutchi anak yang sebatang kara, pergi mencari ibunya
Di malam yang sangat dingin, teringat mama
Walaupun kesepian, Hutchi tetap gembira
Mama, mama… di mana kau berada
Mama, mama… suatu saat pasti bertemu

Hutchi bermimpi untuk bertemu ibunya

Gambar diambil dari sini dan sini.

Senin, 11 Juni 2012

Libur Telah Tiba, Hatiku Gembira


♪Libur telah tiba, hore hore hore! Simpanlah tas dan bukumu, lupakan keluh kesahmu. Libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembiraaa! ♫

Itulah bait lagu yang sedang kencang-kencangnya bergaung di telinga gue sejak tiga hari yang lalu. Karena apa? Karena gue sudah mulai memasuki liburan semester. 

Yeaaay!

Liburan semester ini sudah gue rindukan sejak kurang lebih dua bulan lalu, saat perkuliahan mulai menunjukkan sifat aslinya: tiada hari tanpa tugas. Di mana tiada topik pembicaraan yang lebih hot ketimbang tugas: Penelitian X jadi ambil topik apa? Tugas Y dikumpulinnya kapan? Kuis Z bahannya yang mana aja?Laporan bacaan dipresentasiin atau diketik juga?

DHUAARR! *isi kepala berhamburan

Tidak, bukannya gue tidak suka kuliah. Kalau gue nggak suka kuliah sih mana mungkin gue memutuskan untuk kuliah lagi.

Tapi kalau tiap makan, tiap bangun tidur, tiap hembusan nafas yang keinget cuma tugas, tugas, dan tugas... Maka, liburan semester ini menjadi hal yang sangat gue tunggu-tunggu.

Satu minggu sebelum liburan datang, di saat gue sedang mengerjakan lima tugas UAS dan satu penelitian, gue sudah merencanakan kalau libur akan berbuat ini, itu, dan sebagainya. Bahan-bahan untuk mengisi kegiatan saat liburan pun sudah disiapkan.

Tapi sepertinya rencana berbeda dengan kenyataan. Sehabis mengumpulkan tugas UAS untuk terakhir kalinya, malamnya gue langsung tidur sampai keesokan harinya dengan total waktu 13 jam. Mungkin saat itu fisik gue turut menghukum jiwa gue yang selama ini memaksanya untuk selalu begadang setiap malam. Fisik gue balas dendam terhadap jiwa gue. Muahahahaha.

Hari Sabtu, suasana ngantuk belum juga usai. Sabtu malam gue tidur dengan cepat. Hari Minggu, suasana pun belum berubah. Minggu malam gue (kembali) tidur dengan cepat.

Merasa hidup mulai tidak ada gunanya, gue pun lapor ke nyokap, kenapa gue jadi anak-yang-mudah-tidur begini, padahal dari zaman dahulu kala gue terkenal sebagai orang yang nggak bisa tidur cepat. Reaksi nyokap, “Yaa nggak apa-apa… Itu namanya badan kamu butuh istirahat. Tidurlah sepuas kamu, sampai satu minggu begitu terus juga nggak apa-apa.” Hihihi, ibuku memang tiada duanya! : )

 Jadi… Mulai minggu ini gue akan menikmati liburan dengan tenang. Semoga gue tidak terbuai dengan liburan yang bisa menghanyutkan gue kepada hal-hal tidak berguna.

Untuk siapa pun yang sedang liburan seperti gue, mari kita isi liburan ini penuh suka cita : )

Selamat berlibur!

Gambar diambil dari weheartit

Kamis, 24 Mei 2012

Kepada: Sopir Angkot Tadi Sore



Tadi sore, seperti aktivitas keseharian gue biasanya, gue pulang dari Depok ke Bekasi sekitar pukul 15.00 (dari Depok). Sampai pintu tol Bekasi Barat, waktu menunjukkan sekitar pukul 16.30. Setelah turun dari bus, gue berjalan ke arah BCP untuk mampir sebentar ke toiletnya.

Maaf ya BCP, lo cuma sering gue jadikan tempat numpang cuci tangan dan buang air kecil.

Eh tapi sebenarnya gue nggak sering-sering juga sih mampir ke BCP setelah pulang kuliah. Gue cenderung untuk menunggu angkot 05 (angkot yang menuju rumah gue) di depan Islamic Center, karena gue malas jalan masuk BCP dan tembus ke belakang untuk menunggu angkot di sana. Padahal kata orang-orang sih, mendingan gue masuk BCP dulu, lumayan ngadem. Halah, sama aja sih menurut gue, mending nggak kecapekan jalan daripada numpang ngadem yang hanya sebentar doang kerasanya. Toh sama aja, ujung-ujungnya naik angkot 05 juga. 

Singkat cerita, keluar dari BCP, gue jalan ke pertigaan tempat angkot-angkot biasa ngetem. Kebetulan, angkot 05 yang ada saat itu jumlahnya tiga biji (biji semangka, maksud lo, Cit?). Angkot yang paling depan itu kosong melompong tak ada penumpang dan ngetem. Angkot kedua berada di belakang angkot pertama, dengan penumpang yang cukup banyak. Sama halnya dengan angkot ketiga yang berada di belakang angkot kedua. Perlu diketahui, angkot kedua dan angkot ketiga ini tidak ngetem.

Gue, sebagai penumpang yang harus menentukan jalan hidup pun mulai berpikir: Angkot manakah yang layak untuk gue tumpangi?

Sebagaimana dalam dunia perangkotan, jikalau ada angkot pertama yang ngetem, selayaknyalah penumpang naik angkot tersebut. Teori dari mana Cit? Ya iyalah, gue udah terlalu sering naik angkot dan menyimpulkan hal ini: jika kita naik angkot yang berada di belakang angkot yang ngetem tersebut, bisa-bisa kita diteriakin, “NAIK YANG ITU NENG!” Males banget kan kalau kita udah naik angkot kemudian disuruh turun lagi gara-gara si sopir angkot yang kita naikin mobilnya nggak enak sama sopir angkot yang ngetem di depannya. Itu sama saja dengan penolakan! Wahai pembaca yang budiman, penolakan itu sesungguhnya sangatlah menyakitkan… Yang pernah ditolak cintanya, mana suaranyaaaa? → Kayak gue pernah ngerasain ditolak aja. Kalau menolak sih pernah. Oke mulai ngelantur.

Sopir angkot kedua sempat terlihat setengah hati mau menawarkan kepada gue, tapi setengah hatinya lagi tidak enak terhadap sopir angkot pertama. Akhirnya, demi menjaga keharmonisan para abang angkot, gue memutuskan untuk naik angkot pertama yang kosong melompong dan ngetem tersebut.

Gue tunggu, lima menit, sepuluh menit, baru jalanlah angkot yang gue naiki itu seorang diri dengan si abang. Di Perumnas 2, abang angkot sudah mulai terlihat emosi dalam mengendarai angkotnya karena sepi penumpang. Herannya, dia nggak ngetem-ngetem lagi setelah itu, jadi sepanjang Perumnas 2 sampai Kalimalang, angkot berjalan dengan kencang plus rem-rem mendadak yang bikin gue kepikiran: Oke, kalau gini cara nyetirnya, gue bisa mati. Tragis banget kisah kematian gue kalau harus mati berduaan sama abang angkot. Boleh milih mati berduaan sama Vino Bastian aja?

Kemudian gue berpikir lagi, mungkin angkot ini bakalan ngetem di jembatan LIA. Karena berdasarkan pengamatan, angkot yang sepi biasa ngetem di situ bermenit-menit lamanya untuk menjaring penumpang. Ternyata, perkiraan gue kali ini salah. Tepat satu detik setelah gue menguap “Hoaaaahmmm..,” si abang nanya ke gue, “Dek, turun mana?” Lalu gue jawab, “Taman.”

Setelah mendengar jawaban gue, angkot pun terus berjalan. Dalam hati sempat berbisik, syukurlah, gak ngetem, asiik dianter sampai Taman. Eh tiba-tiba angkot berhenti di depan LIA, “Ikut belakang aja ya, dek!”

Lalu muka gue seketika menjadi seperti ini:
Gambardiambil dari sini nih
Gue pun tanya balik, “Hah? Ikut belakang?” Si abang pun meyakinkan lagi, “Iya, ikut belakang aja!”

Dengan setengah kesal, gue turun dari angkot. Berjalan sedikit ke arus balik. Sialnya, saat itu gue sudah lepas kaca mata sehingga pandangan gue jadi terbatas sekali, mau pakai kaca mata lagi sudah susah karena berada di dalam tas. Eh tiba-tiba angkot yang tadi berjalan mundur ke arah gue dan abang angkot berteriak (tidak begitu terdengar oleh gue), “BLA BLA BLA!” Kemudian gue jalan menengok dan jalan mendekati angkot, “HAH?” Hah-hoh aja kan gue anaknya… Gue nggak ngerti si abang ngomong apa, tapi di ujung kalimat terdengar seperti ini, “… NGGAK TERIMA KASIH!”

HAH??????

Setelah termangu mendengar ujung kalimat tersebut, si abang angkot ngeloyor pergi. Kembali, gue pun ter-hah-hah.

EMANG GUE ADA SALAH APA YA KE ABANG ANGKOT?

Mari kita analisis:
1.   Gue nggak bayar angkot ketika diturunkan di tengah jalan
Prinsip gue (dan bokap gue), jika angkot menurunkan kita di tengah jalan, tidak sampai kepada tempat tujuan, kita tidak berkewajiban untuk membayar angkot tersebut. Mengingat angkot adalah jasa, sama halnya dengan jasa fotokopi, di mana saat tukang fotokopi salah fotokopi, ia tidak berhak meminta ganti rugi fotokopi tersebut kepada kita. Atau contoh lain, jasa penjahit misalnya, apabila kita menjahitkan baju kepada penjahit dan tiba-tiba di tengah pekerjaan mesin jahitnya rusak, apakah penjahit akan mengembalikan baju kepada kita dan “menodong” kita untuk membayar baju yang baru setengah jadi itu? Gue rasa tidak sepantasnya produsen jasa bertindak seperti itu. Toh gue bukan anak kemarin sore yang baru belajar naik angkot, gue sudah beberapa kali diturunkan seperti itu dan 90% sopirnya memaklumi.
2.   Saat sopir angkot meneriakkan sesuatu kepada gue, sebenarnya gue sudah ada feeling yaitu dia pengin dibayar.
Kalau pun dia melafalkan dengan jelas, meminta dengan baik-baik, gue pun sudah berniat akan memberikannya uang (meski tidak akan gue bayar penuh). Tapi berhubung yang dimintanya nggak jelas, ya mana gue tahu, lagi pula kejadiannya begitu cepat.
3.   Haruskah gue mengucapkan terima kasih kepada sopir angkot yang menurunkan gue di jalan yang bukan menjadi tujuan gue?
Gini ya, gue bukan tipe orang yang kikir dalam mengucapkan “Terima kasih”. Setiap transaksi apa pun (pembayaran di kasir supermarket, pembelian makanan di kantin, sampai pembayaran fotokopian) gue selalu mengucapkan “Makasih ya, Pak/ Bu/Mas/Mbak.” sekalipun mereka sudah terlebih dulu mengucapkan terima kasih kepada gue. Memang, kepada sopir angkot gue jarang mengucapkannya karena rata-rata setelah dibayar, sopir angkot langsung jalan begitu saja atau keadaan yang tidak memungkinkan (seperti turun di jalan yang mobil dilarang berhenti). Pernah sih, beberapa kali gue mengucapkan terima kasih kepada sopir angkot, tapi seringnya tidak direspon, ihik, sebabnya sih karena yang telah gue jelaskan tadi. Namun untuk kasus gue ini, sepertinya memang tidak perlu untuk mengucapkan terima kasih kepada sopir angkot yang menurunkan gue di tengah jalan demi kemalasannya mengantarkan gue ke tempat tujuan.

Sampai rumah pun gue masih terngiang kejadian barusan. Jadi menerka-nerka, memangnya benar kalau gue menjadi pihak yang bersalah? Tetapi gue teringat kembali ajaran bokap gue, di mana kita tidak perlu meladeni orang-orang yang pendidikan tata kramanya tidak sederajat dengan kita. Karena memang sudah jelas berbeda, kita paham etika dan sopan santun sedangkan mereka tidak. Jika meladeni, sama saja menurunkan derajat kita yaitu menjadi setingkat dengan mereka. Hal ini sama sekali tidak berhubungan dengan keangkuhan dan stratifikasi sosial. Tapi kenyataan yang terjadi di masyarakat memang seperti ini.

Terakhir, pesan saya untuk si abang angkot:
1.   Hei, abang angkot yang barusan, harusnya Anda bersyukur saat itu saya sudah menghormati Anda karena saya bersedia naik angkot Anda, bukan angkot di belakang angkot Anda yang jelas-jelas sudah mempersilakan saya.
2.   Hei, abang angkot yang barusan, bagaimana angkot Anda akan penuh penumpang jika kelakuan Anda seperti itu? Percayalah, Tuhan akan memberikan kebaikan kepada Anda jika Anda berbuat baik. Kalau sedikit-sedikit ngamuk, sedikit-sedikit nggak sabar, sedikit-sedikit ngatain orang, niscaya rezeki yang diberikan Tuhan kepada Anda pun kurang berkahnya.

Pesan untuk gue sendiri? Harus pintar-pintar memilih angkot yang akan dinaiki. Hihi : )

AngkotBekasi (bukan 05) yang diambil dari sini

Kamis, 12 April 2012

Ketika Tiada Hari Tanpa Tugas


Bisa dibilang saat ini adalah masa-masa sekolah paling sibuk dari jenjang sekolah manapun yang pernah gue alami. Tugas belum selesai, bahkan belum tersentuh sekali pun, sudah ada tugas lain datang menanti. Begitu seterusnya, tidak pernah berhenti. Terus menghantui hingga akhir semester nanti. Jam tidur dikurangi, zona nyaman pun mulai dikebiri.

Meski sudah tahu resiko dari kembali berkuliah, gue pun menghadapi dengan setengah marah. Gundah. Gelisah. Sampai pasrah.

Hingga akhirnya penat ini gue keluarkan dari mulut untuk disampaikan kepada orang tua gue.

Di suatu makan siang, duduklah gue dan nyokap di depan meja makan. “Aduan” pun dimulai:
Gue (G)           : Bu, menurut aku, yang sepantasnya kuliah S2 itu anak SD, bukan orang-orang  dewasa.
Nyokap (N)     : Kenapa emangnya?
G         : Ya karena anak SD itu urusannya belum banyak. Orang dewasa kan urusan dan masalahnya lebih kompleks, ngurusin anak lah, punya kerjaan juga lah. Berarti yang harusnya punya banyak tugas itu anak SD dong, bukan orang dewasa yang nggak punya banyak waktu?!
N         : (dengan tenang menjawab) Ya karena dosen kamu itu orang dewasa yang juga nggak punya banyak waktu, dia harus ngurusin anak di rumah, dan punya kerjaan lain juga. Makanya dia ngasih tugas-tugas ke kamu supaya bisa ngurusin urusan yang lain.
G         : (diam, cengengesan) Oh iya ya…

Beberapa hari kemudian, gue kembali mengeluh di hadapan bokap dan nyokap, namun kali ini “aduan” diarahkan kepada bokap.
G         : Aduh pa, tugas aku banyak banget nih. Temen-temenku juga pada ngeluh belum selesai.
Bokap  : Udah dek, kamu harus bersyukur kamu masih sekolah. Percaya sama papa. Sekolah itu masa-masa paling enak.
Seketika itu bokap dan nyokap bercerita sedikit mengenai permasalahan dan konflik-konflik di dunia kerja. Gue pun kembali tersadar.

Ya, kalimat-kalimat dari orang tua gue itu menjadi sentilan tersendiri buat gue. Allah ngasih kesempatan gue untuk kuliah lagi karena Allah percaya bahwa gue sanggup melewati tantangan ini. Selain itu gue masih disayang dan dipersiapkan oleh Allah untuk memasuki dunia pekerjaan yang tantangannya “jauh lebih berat” di depan nanti. Ini semua adalah jalan terbaik yang memang sudah dipilihkan olehNya. Tentu harus gue jalani dengan sekuat mungkin agar tidak mengecewakan Allah dan orang tua.

Terima kasih papa dan ibu : )



NB: Tulisan ini dibuat untuk siapapun yang sedang dalam keadaan jenuh menghadapi tugas-tugas kuliah, terutama untuk teman-teman di Linguistik UI 2011.

Jumat, 06 April 2012

Idola Indonesia


Aku mungkin sudah gila
Memang benar kata Agnes Monica
“Cinta ini kadang-kadang tak ada logika”

Ada salah satu idola gue di Indonesian Idol musim ini yang menurut gue tidak terlalu memiliki kekhasan dalam suaranya namun gue sangat suka. Mulai pertama berjumpa. Meski berjumpa di layar televisi saja. Memang benar kata Agnes Monica, “Cinta ini kadang-kadang tak ada logika” *Eaaa diulang lagi  *Kehabisan ide :p

Ya, Indonesian Idol babak spektakuler akan segera dimulai! Kedua belas kontestan sudah diumumkan pada tanggal 7 April 2012 dini hari. Jadi, siapa aja dong yang masuk ke Indonesian Idol musim 7? Mari dicek, siapa tahu ada idola kesayangan Anda juga!

Urutan ini dibuat berdasarkan urutan pengumuman 12 besar Indonesian Idol musim 7:
1.      Regina
2.      Yoda
3.      Dera
4.      Dion
5.      Rio
6.      Sean
7.      Belinda
8.      Ivan
9.      Kanza
10.  Sandy
11.  Febri
12.  Rosa

Selamat untuk kedua belas kontestan. Jangan kecewakan Indonesia ya, di mana menurut gue satu hal yang cukup berat karena mereka akan membawa gelar “Idola Indonesia”, yang seharusnya bisa merepresentasikan selera musik masyarakat Indonesia. Mohon digaris bawahi pada kata seharusnya :p

Eh tapi tidak sedikit lho, yang ternyata mencemooh, mempertanyakan, dan menggugat Indonesian Idol, baik kontestan maupun juri. “Mengapa si A yang masuk? Si B jauh lebih baik.” atau “Hampir aja si C nggak masuk. Malah si D yang jelas-jelas suaranya jelek, masuk duluan.” atau ada yang lebih parah “Eh si E ini saudaranya juri F ya, kok dia bisa keterima?” daaan banyak lagi komentar lainnya.

Hei, ada sedikit saran aja nih dari gue buat orang-orang yang protes di twitter atau di mana pun (terserah lah), buka deh pikiran Anda, jangan jadikan pikiran Anda hanya selebar daun kelor. Ada juga tuh, beberapa kontestan yang menurut gue nggak begitu layak tetapi gue terima-terima saja, nggak maki-maki juga. Mungkin juri dan mayoritas penonton memiliki selera yang berbeda dengan gue (selera adalah hak masing-masing individu) dan ada sisi lain yang mungkin saja gue belum menemukan alasan mengapa dia bisa pantas dipilih. Malah gue akan menunggu-nunggu di setiap penampilan berikutnya, apakah dia memang selayaknya untuk dimasukkan ke 12 besar, atau akan lebih membanggakan jika kontestan yang nggak gue suka itu bisa menampilkan kemajuan di setiap minggunya. Mulailah belajar untuk menerima sesuatu yang tidak sejalan dengan (kemauan) kita. Dan satu lagi, nggak usahlah berburuk sangka dengan sesuatu, hidup ini nggak usah ditambah beban dengan memikirkan sangkaan-sangkaan yang belum tentu benar. Enjoy aja lagi :D

Dan terakhir, kenapa udah lama gue nggak posting artikel eh malah tiba-tiba gue bahas tentang acara pencarian bakat ini? Pertama, karena tugas kuliah lagi sama tingginya dengan tumpukan sampah di Bantar Gebang. Kedua, karena emosi gue sedang menggebu-gebu setelah menonton acara tersebut, ditambah dengan kekepoan gue yang langsung mengecek di media sosial mengenai komentar acara ini.

Lagian, nggak usah heran ya. Gue ini sebenarnya pencinta acara-acara pencarian bakat semacam ini. Kalau Anda mau tanya seputar ajang pencarian bakat yang sudah pernah tayang, mulai dari AFI, Indonesian Idol, American Idol, Mamamia, Indonesia Mencari Bakat, Masterchef, Junior Masterchef, America’s Got Talent, dan lain-lain (hihi malu ah nyebutin banyak-banyak *Udah banyak kaliii itu yang disebutin), silakan aja kirimkan pertanyaannya ke gue, insyaallah gue masih hafal hahaha. Dulu aja waktu di kosan, gue jadi standar verifikasi anak-anak kosan tentang hal-hal seputar acara pencarian bakat. Kalau belum diverifikasi ke gue, gosip seputar mereka dianggap belum sah :p *Setidaknya, hidup gue ada gunanya sedikit lah :’)

Akhir kata, selamat berakhir minggu, Indonesia!