Kamis, 19 Februari 2015

Kisah Citta Pascalulus (Kedua): Habis Lulus Terus Ngapain?

Ya, judul di atas benar-benar menjadi pertanyaan yang bergema di kepala gue setelah dinyatakan lulus pada sidang tesis tanggal 20 Januari 2015 lalu.

Bukan, bukan gue galau apakah gue harus kerja, lanjut S-3, atau menikah setelah lulus S-2 ini.

Pertanyaan ini lebih kepada seputar langkah-langkah yang harus gue lakukan di kampus setelah menunaikan sidang. Bagaimana cara mencapai wisuda yang batas waktu pendaftarannya nggak sampai dua minggu lagi? Bagaimana cara gue untuk mendapatkan ijazah dan transkrip nilai? Harus ngapain aja?

Setelah sidang, gue langsung menyambut gembira dengan kelulusan gue yang jatuh tepat di tanggal kelahiran nyokap gue. Jadi, setibanya sampai di rumah, gue sok-sok melupakan revisi yang harus gue lakukan selepas sidang. Boleh lah ya, sekali-sekali melupakan tugas akhir yang sudah gue kerjakan bertahun-tahun lamanya. Gue merasa patut merayakannya :p

Keesokannya, gue baru menyentuh laptop lagi. Gue buka catatan-catatan penguji dan pembimbing atas tesis gue. Kebetulan revisi gue agak tarakdungces. Sempat panik dan stress mengejar waktu revisi karena gue bertanya pada teman gue yang lulus pada dua semester sebelumnya, kata dia, untuk bisa wisuda, gue harus menyelesaikan revisi, dapat tanda tangan dosen, menjilid tesis, dapat tanda tangan dekan, lalu menyerahkan tesis ke perpus serta mengunggah jurnal. Namun teman gue memberi catatan, hal itu berlaku saat dirinya mengurus kelulusan, mungkin saat ini sudah berubah. Dasar gue orangnya suka keteraturan dan lebih suka segala sesuatunya cepat selesai, maka, mau nggak mau, empat hari ke depannya gue kembali bekerja di depan laptop dari pagi sampai pagi lagi. Gue kembali jadi figuran The Walking Dead.

Di sela-sela waktu menyelesaikan revisi, gue bertanya pada teman gue yang lain yang lulus pada satu semester sebelum gue, “Mbak, dulu ngumpulin tesisnya ada waktunya atau bebas kapan aja?” lalu ia menjawab, “Kapan aja, Citta.” Lah, kan gue jadi bingung. Jadi, untuk mendaftar wisuda, gue harus mengumpulkan tesis terlebih dahulu atau boleh setelah itu? Hampir setiap hari setelah lulus gue membuka laman pendaftaran daring wisuda kampus gue. Berkali-kali mencoba log in untuk pendaftaran wisuda, tetapi belum bisa log in karena status gue belum berubah menjadi “lulus”. Kepanikan bertambah ketika dua orang teman yang lulusnya berbarengan dengan gue di semester ini, dari luar kelihatan tipe orangnya santai semua, haha. Jadi setiap gue dapat informasi baru, gue menyalurkan informasi itu kepada mereka.

Alhamdulillah target penyelesaian revisi gue tepat waktu dan gue segera menghubungi pembimbing gue. Gue berencana bertemu beliau hari Senin, tetapi beliau meminta agar kami bertemu Selasa saja. Gue sudah sempat deg-degan, kekejar nggak nih daftar wisuda semester ini karena batas terakhirnya tinggal tujuh hari ke depan. Namun gue percaya, apapun yang terjadi adalah sesuatu yang sudah direncanakan oleh Allah.

Hari Senin, gue kembali mengecek laman pendaftaran wisuda dan akun gue di sistem informasi akademik. Ternyata... Status gue yang tadinya “mahasiswa aktifsudah berubah menjadi “lulus

Tulisan "Lulus"-nya nggak fokus gara-gara ketiban hebohnya nutupin tahun masuk kuliah :p
Asyik, resmi sudah status gue sebagai lulusan kampus tercinta! :’) Gue langsung coba log in untuk mendaftar wisuda dan taraaa gue sudah bisa mengisi data-data yang diperlukan panitia wisuda. Saat itu gue masih setengah senang karena gue benar-benar masih tidak ada bayangan, apakah benar harus mengumpulkan tesis terlebih dahulu atau bisa nanti-nanti. Kok begitu aja dipusingin, Cit? Masalahnya, mendapatkan tanda tangan dekan membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan waktu pendaftaran wisuda tinggal sebentar lagi. Hei, tapi lo kan sudah bisa daftar wisuda! Nah, ini dia yang bikin optimis. Logikanya, kalau status gue sudah lulus dan bisa daftar wisuda, maka penyerahan tesis tidak ada sangkut pautnya dengan wisuda. Hipotesis gue ini bisa terbukti benar ketika gue sudah bisa membayar wisuda. Gue sepakat dengan bokap untuk membayar wisuda di keesokan harinya. Jika dari sistem menyatakan bahwa gue nggak diperbolehkan bayar karena belum menyerahkan tesis, terpaksa gue harus menunggu tesis ditandatangani dekan terlebih dahulu. Tenang saja, Cit, semua sudah ada jalannya *kibas selimut tetangga* *eh*

Pada hari Selasa, di tengah waktu menunggu dosen, gue di-SMS bokap yang mengabarkan bahwa beliau sudah bisa membayar wisuda gue di bank. Yeay! Jadi juga gue wisuda! Hipotesis gue terbukti sehingga gue nggak perlu menyerahkan tesis sebelum wisuda. Alhamdulillah-nya lagi, hari itu gue langsung mendapatkan semua tanda tangan, baik dari pembimbing maupun penguji. Kemudahan dari Allah yang luar biasa. Mengetahui bahwa gue bisa wisuda, bukan berarti gue bermalas-malasan mengulur waktu, sehingga setelah urusan tanda tangan dosen beres, gue langsung meluncur ke tempat penjilidan (yang berkaitan tentang penjilidan tesis sudah gue ceritakan di artikel sebelumnya, ya).

Hari Rabu, gue mengambil tesis kemudian menyerahkannya pada sekretaris dekan. Kata sekretaris dekan, gue akan memperoleh tesis gue kembali dalam waktu 2--3 hari kerja. Gue pasang tampang berharap, “Jumat sudah bisa diambil, ya, Mbak?” dan Mbak sekretaris hanya menjawab, “Mudah-mudahan,” sambil tersenyum. Duh, gue jadi nggak yakin :D

Hari Jumat, gue kembali datang ke kampus. Gue mendatangi meja sekretaris yang satu lagi, yaitu tempat tugas akhir yang sudah ditandatangani dekan. Setelah basa-basi dengan mas sekretaris, gue menyapu pandangan gue di semua tugas akhir yang menumpuk di meja itu. Olala, kok warnanya putih semua (warna putih = skripsi). “Kalau nggak ada, berarti belum selesai,” kata mas sekretaris. Baiklah, berarti Senin gue harus ke kampus lagi. Daripada jauh-jauh Bekasi--Depok tiada hasil, maka gue memutuskan untuk mengambil toga di Balairung. Nah, cerita tentang toga akan gue lanjutkan di artikel berikutnya, ya. Semoga Citta nggak malas lupa :p

Hari Senin-nya, gue sudah bisa mengambil tesis gue dan beberapa lembar pengesahan yang gue selipkan di tesis yang sudah dijilid. Oh, gue lupa memberi informasi, kalau di fakultas gue (nggak tahu berlaku di semua fakultas kampus gue atau tidak), untuk mendapatkan tanda tangan dekan, kami harus menjilid satu tesis terlebih dahulu dan lembar pengesahan lainnya disisipkan dalam tesis yang sudah terjilid itu. Namun kalau mau semua sudah dijilid ya sok wae atuh. Berarti lo menyerahkan semua tesis yang sudah berjilid ke hadapan sekretaris dekan. Selain itu, ada batasan untuk mendapatkan tanda tangan dekan maksimal sebanyak sepuluh lembar. Saat itu gue menyelipkan enam lembar pengesahan. Jadi, total tanda tangan dekan yang gue dapatkan sebanyak tujuh tanda tangan.

Di hari Senin itu gue tidak langsung menyerahkan ke perpustakaan karena belum mengunggah tesis dan jurnal ke laman pengunggahan tugas akhir. Namun, di hari gue menuliskan artikel ini, itu semua sudah gue lakukan. Nanti akan gue ceritakan di artikel berikutnya lagi, ya :)

Oh ya, dari tadi gue hanya menyebutkan “kampus gue” aja, ya? Jadi manfaatnya gue menulis ini apa, dong? :D Sengaja sih nama kampusnya gue sensor :p Kalau mau tahu kampus dan fakultas gue di mana, silakan lihat di artikel gue sebelumnya. Semua terpampang nyata di fotonya. Hihi. Lagian, kalau lo sudah sering main ke blog gue, lo pasti sudah tahu lah, gue kuliah di mana *siapa elu* *minta digaplok banget* :p



Jumat, 13 Februari 2015

Kisah Citta Pascalulus (Pertama): Perbandingan Tempat Penjilidan Tesis di Depok

Fiuh. Akhirnya gue lulus juga, Saudara-saudara!

Kok sepi? Mana tepuk tangannya? 

*tetap hening* *tepuk tangan sendiri*

Mumpung masih hangat di ingatan, sekarang gue mau ngasih review tentang penjilidan tesis di layanan copy & printing di sekitaran kampus gue, yaitu di Margonda, Depok. Jadi, gue sengaja coba-coba ke dua tempat yang berbeda untuk mengetahui layanan dan hasil dari tempat penjilidan mana yang lebih memuaskan. Sifat perfeksionis gue kali ini muncul agar pada penjilidan berikutnya gue sudah tahu tempat mana yang lebih baik untuk gue percayakan menjilid karya-karya gue selanjutnya *tsah*

Yang pertama adalah Era Copy & Digital Printing (selanjutnya gue sebut Era). Gue sudah mendengar beberapa kali mengenai tempat ini dari teman-teman kuliah gue yang sering cetak e-book di sana. Beberapa kali pula gue bertanya, “Di mana sih, mbak?” karena jawaban dari teman gue selalu kurang memuaskan. Akhirnya gue bertanya ke teman yang satu lagi, kata dia begini, “Pokoknya kalau dari kosan Citta, belok kanan.” Oke, gue kan pernah ngekos di Depok, tepatnya di Jalan Kober. Nah, kalau dari Kober, lo nggak usah menyebrang, tapi lo belok kanan, jalan melewati Mie Berkat, terus melewati Lawson (yang sudah tutup). Nggak jauh, lo akan ketemu Era Digital itu. Pokoknya kalau dari Kober letaknya sebelum BSI. Kalau dari arah Jakarta ya nggak jauh-jauh habis melewati BSI.

Setelah mengurus segala macam keperluan di kampus, gue melesat ke Margonda untuk mencari tempat layanan penjilidan tesis. Awalnya gue nggak niat nyari Era, seketemunya aja tempat penjilidan yang bagus, pikir gue. Setelah putar balik dari kampus ke Margonda, bokap gue memelankan kemudinya. Gue lihat kanan-kiri. Bokap tiba-tiba, “Itu Dek, Era.” Ya jadilah kami ke sana. Kesan pertama masuk Era: wow, keren banget tempatnya. Terhampar pemandangan meja panjang dengan komputer-komputer di atasnya dan ada tempat duduk bagi konsumen di tiap meja berkomputer itu. Di sebelah kanan pintu masuk ada mesin nomor antrian seperti di bank. Gue yang baru pertama kali ke sana celingak-celinguk bingung harus ambil nomor atau tidak, tapi ternyata gue langsung disambut mbak petugas di sana. Si Mbak nanya keperluan gue. Gue bilang mau jilid tesis. Alhamdulillah karena hanya jilid satu eksemplar, pesanan gue bisa jadi dalam satu hari saja. Waktu itu gue memasukkan pesanan pada Selasa siang, diambilnya Rabu jam 12.00. Okelah. Kebetulan waktu itu gue perlu fotokopi dulu, jadi gue menunggu hasil fotokopinya jadi. Selagi menunggu gue tanya mbaknya, “Mbak, yang ngambil nomor antrian itu buat apa?” Si Mbak jawab, “Oh, itu yang ngeprint. Kalau fotokopi lagi rame, ya ambil antrian juga.” Kebetulan pas gue ke sana memang jam 12.00--13.00 dan tidak begitu ramai, jadi gue langsung dilayani. Setelah fotokopi jadi, gue ditanya mau sampul berwarna apa. Gue bilang warna cokelat (ketentuan warna sampul tesis di kampus gue). Lalu Si Mbak menunjukkan contoh warna cokelatnya, gue baca di keterangan di bawah contoh warnanya, bertuliskan “Linen”. Jujur gue kurang sreg pas lihatnya, karena cokelatnya agak kusam, tidak seperti tesis-tesis yang sering gue lihat di perpustakaan. Namun gue iya-kan saja, karena memang tidak ada pilihan lain. Si Mbak nanya, pakai pembatas kuning atau tidak, dengan cepatnya gue jawab tidak, karena seingat gue ketentuan penjilidan tesis yang sekarang tidak usah pakai pembatas. Eh ternyata, di meja sebelah gue ada seorang ibu-ibu yang ditemani suaminya yang juga menjilid tesis, tapi sepertinya ibu itu masih nge-print terlebih dahulu. Ibu itu sibuk bertanya sama mas petugas yang melayani, “Bolak-balik nggak, sih?” Si Mas dengan sotoy-nya menjawab, “Biasanya nggak bolak-balik.” Sebenarnya nggak sotoy juga sih, karena ketentuan di-print bolak-balik ini baru beberapa semester belakangan. Gue mau nyamber kan nggak enak, ya, kesannya penguping banget (padahal emang iya :p). Terus ibu itu bilang, “Nanti pakai pembatas, ya, Mas.” Jeng jeng jeng... Itulah yang bikin galau. Perlu pembatas atau nggak. Akhirnya setelah urusan mengatur dan mengecek halaman selesai, gue digiring ke meja kasir (((DIGIRING))). Di situlah gue menumpahkan kegalauan gue, “Mbak, biasanya pakai pembatas, nggak, sih?” “Biasanya sih pakai, Mbak,” jawab Si Mbak petugas. Gue mikir, “Hmmm...,” lantas Si Mbak ngasih ide, “Mending ditanya dulu aja ke temen-temennya, biasanya gimana, nanti hubungi kami kalau mau pakai pembatas.” “Oh gitu, ya sudah, nanti saya telepon ke sini aja, ya, Mbak.” “Iya, tapi sebelum jam 16.00, ya. Di atas jam segitu saya sudah pulang.” Baiklah. Setelah sampai rumah, gue tanya teman gue, ternyata pakai pembatas. Gue telepon Era dan Si Mbaknya gue kasih instruksi bagian-bagian mana saja yang perlu pembatas. Percaya nggak percaya, malamnya gue kepikiran, takut ada yang salah. Emang dasar prasangka Allah sama dengan prasangka hambaNya, benar-benar terjadi deh tuh kesalahan di penjilidan tesis gue. Besoknya, gue ambil anak gue yang baru lahir a.k.a. tesis yang sudah dijilid. Kesan pertama pas gue buka dari plastiknya, wah kok ada guratan tinta emas yang sedikit mengganggu. Langsung agak bete. Begitu gue buka halaman demi halaman, wah, kok ada satu halaman yang tertukar. Langsung makin bete. Gue tahu itu kesalahan gue, karena waktu itu gue sendiri yang mengurutkan halamannya. Ya sudah, gue nggak bisa protes juga, tapi gue puas dengan jilidannya yang rapi dan terlihat kokoh. Gimana nggak kokoh, wong tesis gue halamannya 600 lebih :p

Sekitar seminggu berikutnya, gue menjilid tesis lagi dan sengaja cari tempat lain. Kebetulan gue sudah mengincar Data Digital Copy and Printing (selanjutnya gue sebut Data) karena sempat browsing dan muncul tempat ini. Selain alasan itu, gue memang sudah tahu letaknya (setelah dari Era untuk pertama kali, kan gue pulang harus berputar jalan ke arah Jakarta, nah gue melewati Data ini). Letak Data sejajar dengan Detos, jadi kalau dari Kober, kita harus menyebrang dulu, jalan ke sebelah kiri melewati Es Pocong, Alfamart, dan tepatnya setelah pondok bakso Solo langganan gue pas ngekos dulu *duh jadi pengen baksonya :(* Lahan parkir Data tidak seluas lahan parkir Era. Pas gue masuk, ternyata ada mesin pengambil nomor antrian juga, tapi gue langsung nyelonong ke meja yang ada mas-masnya di ujung kiri. “Mas, mau jilid tesis.” “Oh, silakan ke sana, yang dekat kasir.” Berjalan lah gue ke mbak-mbak petugas dekat kasir. Pas gue sampai di depan salah satu mbak petugas, gue tertegun sesaat, loh, ini kan mbak yang di Era. Gue mengedipkan mata beberapa kali, sadar, Cit, sadar. Pas gue lihat lagi, ternyata bukan, tapi suerrr deh mirip banget dari perawakannya sampai dandanannya, hahaha. Gue sempat mikir, jangan-jangan mbak ini adiknya mbak yang di Era :D Setelah kejadian berpandang-heran-sama-mbak-petugas, gue menjelaskan maksud gue. Mungkin karena sudah pengalaman di tempat sebelumnya, maka gue sudah tahu apa-apa saja yang harus gue minta. Setelah fotokopian gue selesai, gue mengurut halaman dengan cermat, tidak mau kesalahan seperti halaman yang terbalik terulang kembali. Di sela-sela mengurut halaman, Si Mbak bilang ke gue, “Mbak, halamannya tebal banget. Tesis-tesis yang lain biasanya nggak setebal ini.” Gue nyengir sambil bilang, “Iya, Mbak.” Sebenarnya gue sudah kehabisan tanggapan untuk menanggapi hal semacam ini karena sebelum lulus, gue beberapa kali fotokopi tesis untuk ujian pratesis dan sidang tesis, dan hampir semua petugas fotokopi mengujarkan hal yang sama. Ya gimana lagi, gue juga sebenarnya nggak mau tebal-tebal begini, tapi tuntutan topik, Saudara-saudara :D Setelah selesai mengurut halaman, gue memastikan ke Si Mbak, “Mbak, JANGAN SAMPAI ada halaman yang tertukar.” Si Mbak jawab, “Iya, habis ini saya periksa lagi.” Eh bener aja gitu, dia ngecek urutan halamannya di depan gue sambil masukin halaman pembatasnya. Ngeceknya bener-bener satu persatu. Gue langsung ngerasa klop banget sama Data :p Ternyata, di Data ini untuk menjilid satu eksemplar tesis juga hanya menghabiskan waktu satu hari. Berhubung Jumatnya gue harus gladi resik wisuda, maka gue memutuskan untuk mengambil hari Jumat saja, yang merupakan hari ke-tiga setelah gue memasukkan tesis di Data. Pas hari Jumat, sebelum ke kampus, gue pergi dulu ke Data untuk ambil tesis. Kesan pertama, warnanya lebih seperti yang gue inginkan, tapi kok tinta emasnya sudah sedikit ada yang hilang di ujung-ujung huruf. Haaah.. Memang semua tak ada yang sempurna *hela nafas* Setelah itu, gue ke kampus dan menghilangkan segala rasa ketidakpuasan gue agar gladi resik wisuda hari itu berlangsung dengan menyenangkan. Besok-besoknya, gue baru bisa membandingkan tesis hasil jilidan di Era dengan tesis hasil jilidan di Data.  Keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut perbandingan dari pengalaman gue:

(+) ERA
Jilidan lebih rapi.
Kualitas kertas pembatas lebih bagus Era karena warna kuningnya lebih terang.
Permukaan sampul lebih bertekstur dibanding Data sehingga menurut gue lebih enak dipegang.

(-) ERA
Warna cokelat kusam.
Tinta emas agak mbleber-mbleber. Nggak banyak, hanya guratan-guratan tipis seperti rambut, tapi cukup mengganggu untuk orang yang perfeksionis seperti gue karena letaknya di sampul depan.

(+) DATA
Pelayanan lebih baik Data karena tidak terburu-buru.
Suasana toko lebih nyaman dan terasa kekeluargaannya (ya kali lo suka sesuatu yang berbau kekeluargaan :p).
Kualitas emboss logo kampus lebih bagus Data, karena lebih timbul.
Pengecekan halaman dilakukan bersama-sama oleh petugas dan konsumen (jadi resiko halaman tertukar lebih kecil).
Warna cokelat lebih terang.

(-) DATA
Kalau dipegang dengan tangan berkeringat akan ada ceplakan di sampul.
Tinta emas lebih gampang hilang dibanding Era.

 
Hasil jilidan Era (atas) dan hasil jilidan Data (bawah). Bisa di-zoom kalau mau melihat detail tinta emas dan semburat emas yang belepetan. Pesan sponsor: Kalau mau baca isi tesisnya, silakan main ke perpus kampus gue, ya! Dijamin bagus dan membawa manfaat, kok :p

Bisa terlihat perbedaan kertas pembatas (Kiri: Era ; Kanan: Data)
Seperti itulah kelebihan dan kekurangan dari kedua tempat penjilidan tesis di Margonda Depok yang gue jadikan objek penelitian :p. Secara kualitas fotokopi nggak ada masalah. Dua-duanya sama-sama memuaskan. Baik tarif penjilidan maupun fotokopi, keduanya sama. Bisa dikatakan Era dan Data berada dalam pasar persaingan sempurna. Namun, ada yang gue sayangkan, baik Era maupun Data tidak memberikan paper bag sebagai tas pembungkus hasil jilidan. Mereka hanya menawarkan tas kresek saja. Gue menginginkan hal ini bukan karena mengada-ada, sebab gue pernah punya pengalaman saat dahulu menjilid skripsi di Maestro Malang, kami diberikan paper bag untuk menjinjing skripsi kami. Sebagai konsumen, gue merasa skripsi gue terlindungi dengan baik dan ada kesan eksklusif. Mungkin hal ini bisa jadi masukan buat Era maupun Data.

Sekian review dari gue, maaf kalau dari pihak Era atau Data kurang berkenan, tapi sepertinya gue nggak menuliskan kata-kata yang menyakiti hati, kan? Hehe *mendadak panik cari hak perlindungan konsumen :D* Kalau ada yang pernah punya pengalaman dengan penjilidan tesis dan kawan-kawannya, gue persilakan untuk berbagi di kotak komentar. Semoga tulisan gue ini bisa membantu mahasiswa-baru-lulus yang akan menjilid tugas akhirnya berdasarkan prioritas dan selera yang berbeda-beda :)



Rabu, 24 Desember 2014

Afgan Lagi Afgan Lagi


“Citta… Hari gini lo masih suka Afgan?” tulis teman gue di perbincangan melalui sebuah media.

Iya, kalau gue masih suka Afgan terus kenapa? Sedosa apa sih kalau gue suka sama penyanyi dengan suara enak, lagu bagus, dan tampang ganteng?

Atau karena umur gue sudah 25 jadi nggak boleh fangirling lagi? 

Auk ah. Sirik aje lo.

Ini sebenarnya kejadian yang sudah terjadi beberapa bulan lalu, tepatnya satu minggu sebelum lebaran. Iya, gue tahu kejadian ini sudah lama banget, tapi sayang kalau nggak di-posting T.T. Gue sudah menulis ini berbulan-bulan lalu, tapi apa lah daya, waktu belum berjodoh dengan gue (sama waktu aja lama berjodohnya, apalagi sama manusia). Eh, what

Beklah.

 Saat itu, gue pergi ke Mal Kelapa Gading bersama keluarga kakak gue. Niatnya mau beli takoyaki dan beberapa keperluan lain. Tujuan pertama akhirnya diputuskan ke Farmers Market terlebih dahulu untuk membeli beberapa bahan pangan. Dasar belanja sama ibu-ibu (baca: kakak ipar), jadi yang dibeli sayur mayur gitu, seperti kangkung, tomat, kentang, dll.

Selepas dari Farmers Market, kami menuju Ippeke Komachi untuk beli takoyaki. Sepanjang perjalanan ke Ippeke Komachi, banyak stan diskonan dalam rangka lebaran. Dasar cewek (baca: gue dan kakak ipar), nggak tahan kalau nggak lihat diskonan (padahal belum tentu beli), jadi dengan lincah kami mampir dari satu stan ke stan yang lain. Eh ternyata kakak ipar gue tertarik dengan barang-barang di salah satu stan dan berhenti cukup lama di situ untuk memilih-milih. Dasar bapak-bapak (baca: kakak gue) yang nggak tahan nungguin belanja sambil gendong anak yang aktif luar biasa, maka kami disuruh kakak gue untuk ke Ippeke Komachi terlebih dahulu untuk memesan takoyaki agar tidak kelamaan. “Oke, nanti kita balik lagi ke sini, “ kata kakak ipar. Gue sih iya-iya aja deh, kebetulan gue tertarik dengan salah satu stan yang belum sempat gue kunjungi.

Langkah demi langkah mendekati Ippeke Komachi, sayup-sayup terdengar iringan live music.

Langkah semakin dekat... Semakin terdengar suara dan lagunya…

Sampai di samping Ippeke Komachi… Gue dan kakak ipar bertatapan…

“AFGAN!!!”

Kami lari berhamburan mendekati panggung di depan Ippeke Komachi.

Kakak ipar gue udah nggak peduli meninggalkan suami dan anaknya yang jauh di belakang kami. Kalau gue sih ngapain juga peduli. HAHA.

Akhirnya gue bisa mendapat tempat di bagian tengah. Di depan gue berdiri dua orang pria yang badannya lebih tinggi dari gue. Sempat bingung mau pindah ke sayap kanan atau kiri tapi gue lebih senang menonton di bagian tengah. Baiklah, untuk saat itu gue sabar berdiri di belakang kedua pria yang saling kenal ini. Jujur, gue khawatir lama-kelamaan dua pria ini akan berpegangan tangan, bertatapan mesra, dan kau-tahu-selanjutnya. Ah paling juga nanti dua cowok ini pada pergi

Oke, skip.

Afgan saat itu memakai kemeja berwarna biru muda.

Sebenarnya, ini semacam doa yang dikabulkan oleh Allah SWT. Beberapa hari sebelumnya, gue sempat membatin ketika menonton Afgan di televisi, udah lama nggak nonton Afgan, kayaknya harus nonton langsung lagi nih

Iya, gue penasaran akan penampilan langsungnya dia setelah sekitar 4 tahun yang lalu gue menonton langsung penampilannya. Ternyata, interaksi Afgan terhadap penonton sudah semakin bagus dan luwes. Bagian menariknya, ada beberapa kali Afgan mengajak ngobrol penonton. Kali itu, ada seorang penonton perempuan kira-kira berumur sekitar 15-16 tahun yang diajak mengobrol oleh Afgan. 

Afgan                          : Kamu mau nggak nikah sama aku?
Penonton Perempuan   : Hmmm..
Gue (dalam hati)          : Kyaaa~~~Yes yes. Aku mau mau mau, Afgan~~~
Penonton Perempuan   : (dengan suara yang dimanja-manjain) Bukan gitu, Kak. Kak Afgan kan masih muda, jadi jangan pikir nikah dulu.
Gue (dalam hati)          : YA ELAH GAN, MASIH BOCAH GITU LO AJAK NIKAH. MAKANYA GUE AJA YANG LO AJAK NIKAH, UDAH PASTI MAU! *KZL*

Masih dengan pergolakan batin akibat Afgan ditolak ajakan nikahnya, gue menengok ke belakang. Eh kakak ipar ternyata sudah menghilang. Dia pasti sudah bersama kakak gue ke Ippeke Komachi. Oke, biarlah gue khusyuk menonton si ganteng satu ini. Saat itu Afgan membawakan single religinya yang terbaru dan lebih banyak menyanyikan beberapa lagu dari album terbaru.

Gue kalau nonton pertunjukan musik kan ekspresif ya, teriak-teriak bisa, jejingkrakan bisa, nyanyi tanpa mengikuti nada yang benar juga bisa. Bisa heri (heboh sendiri) gitu lah (makanya sebenarnya gue lebih nyaman nonton pertunjukan musik sendirian karena gue tipe Inpresif. Introvert yang ekspresif. Oke, adik-adik di rumah, jangan dipakai istilah ini ya, karena istilah ini 100 persen karangan gue sendiri). Lah, emang ada lagu Afgan yang bisa bikin joget? Ada dong, nggak gawl banget sih situ. 

Woo salah ketik tuh Cit!

Apaan? Gawl?

Iye

EMANG GAWL kali ah nulis GAWL yang GAWL!!!

….

BERANTEM AJA YUK!

***

Oke, masih ingat dong dengan belanjaan sayur mayur yang dibeli kakak ipar gue? Ndilalah (bahasa Jawa: kebetulan) itu belanjaan yang isinya kangkung dkk gue yang bawa! Bayangkan dong gue nyanyi-nyanyi dan jejingkrakan sambil bawa plastik berisi kangkung? Emang sih jingkraknya nonton Afgan tuh nggak sejingkrak kalau gue nonton Nidji. Tapi lo harus tau rasanya nonton pertunjukan musik dengan orang-orang di sekeliling lo yang nggak bawa apa-apa dan elo dengan kerennya bawa plastik belanjaan dengan akar kangkung yang keluar-keluar. How cool you are!

Belum lagi kalau gue nonton tuh makin lama makin pengen maju ke depan. Pasti kan harus nyelip-nyelip, tuh. Gue dengan sok santainya, nyelip-nyelip di antara orang-orang sambil kresek-kresek (bunyi plastik belanjaan). Sontak, orang yang gue selipin (BOK, PILIHAN KATANYA NGGAK ADA YANG LEBIH BAGUS YA, BOK?!) langsung menoleh dan tatapannya menuju ke sumber suara yang ada di antara kaki mereka.

 Iya, suara gesekan plastik dengan akar kangkung yang menjulur-julur ke luar. END LAH POKOKNYA. END. ENDAAANG WILL ALWAYS LOVE YOU~~ HOOO~~ WA~~ A~~ WILL ALWAYS LOVE YOU~~~

*mari kita lupakan yang barusan*

Saat di lagu ke-7, gue dicolek orang dari belakang.

Gue deg-degan.
 
Duh, siapa nih yang nyolek gue?
Colek lagi dong, udah lama nih nggak dicolek orang #eh

Pas gue nengok…

Eh si kakak ipar, “Ayo Cit udah sore.”

Buyar sudah keriaan siang itu. Gue nggak jadi ikut pulang ke rumah Afgan suami gue. Gue cek telepon genggam, ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Kami menargetkan pulang sebelum buka puasa, sehingga kami tidak menuntaskan melihat-lihat barang diskonan. 

Dadah Afgan, dadah barang diskonan.


Rabu, 22 Januari 2014

Jodoh


“Cit, Si Ani nikah!” – Ani, bukan nama sebenarnya, pun yang dimaksud bukan Ani Sang Ibu Negara
“Iya, gue tahu.”
“Lo tahu gak nikahnya sama siapa?”
“Sama siapa?”
“Adi Suwito!” – lagi-lagi bukan nama sebenarnya, bukan pula nama artis idola (emang ada artis namanya Adi Suwito? :D)
“AH SERIUS LO?”
Bagaimana nggak kaget, Ani adalah teman sekelas gue sewaktu kelas XI SMA dan Adi Suwito adalah teman sekelas gue di kelas 5 SD. Mereka berdua dipertemukan di jurusan dan universitas yang sama.
 ---
Gue langsung pusing, oke, jangan-jangan jodoh gue nanti adalah teman TK gue.
---
Kabar pernikahan yang gue ceritakan barusan adalah sebuah berita yang diceritakan oleh seorang teman dalam perjalanan menuju sebuah acara di hari Minggu kemarin. Ya, hari Minggu tanggal 19 Januari kemarin adalah salah satu hari Minggu terbahagia dalam hidup gue karena dua sahabat baik gue menikah. Si mempelai wanita adalah seseorang yang sudah gue kenal baik sejak kelas 5 SD dan kami dipertemukan lagi di SMA yang sama, sedangkan si mempelai pria adalah seseorang yang sudah menjadi sahabat gue sejak kelas XI SMA hingga sekarang. Kami bertiga pernah satu kelas saat kelas XI tapi di kelas XII gue terpisah dengan mereka yang kembali sekelas. Gue tahu betul bagaimana si sahabat pria jatuh cinta kepada si sahabat wanita hingga akhirnya si sahabat pria bisa “lepas sendiri” untuk mendapatkan hati si sahabat wanita meski saat itu jarak mereka terpisah antara Jogja-Semarang untuk berkuliah. Gue bangga karena akhirnya mereka dapat dipersatukan dalam ikutan pernikahan. Tak ada luapan kebahagiaan yang bisa gue gambarkan ketika melihat mereka berdua kirab (iring-iringan pengantin menuju pelaminan) hingga bersanding di pelaminan. Selamat Fajri dan Fadil, semoga menjadi keluarga yang penuh berkah dan selalu dirahmati Allah SWT.
---
Memang benar kata Afgan, “Jodoh pasti bertemu.”
Namun… bertemu di mana dan bertemu dengan siapa adalah rahasia Tuhan.
---
Sesaat setelah sibuk mencicipi (hampir semua) makanan di resepsi pernikahan Fadil dan Fajri (btw, makanannya enak-enak banget deh), gue dan kawan-kawan memutuskan untuk berfoto ria. Saat hendak mencapai tujuan foto yang kami inginkan, Intan, teman gue, dipanggil oleh seseorang. Sontak kami menengok ke sumber suara. Intan langsung menghampiri si pemanggil. Gue melihat sosok orang itu dari kejauhan dan awalnya gue mengira itu adalah kakak kelas gue, sehingga gue mengikuti jejak Intan. Setelah melihat dari dekat, ya ampun, dia adalah teman di bimbel NF semasa gue SMP! Gue langsung menembak, “Okta, kenal nggak sama aku?” Okta mengernyitkan dahi dan dengan sapaannya yang ramah, “Inget dong, temen Kimia kan?” Gue langsung sebel, “Ih bukan, ini Citta! Temen NF!” Okta langsung melebarkan senyum, “Ooh iya! Citta!”.
Jadi, gue dan Okta adalah teman NF semasa SMP sedangkan Intan dan Okta adalah teman NF saat SMA. Waktu SMA gue juga belajar di NF tapi tidak sekelas dengan Okta, maka kami sudah lama sekali tidak bertemu.  Hal yang lebih mengejutkan adalah ternyata Okta baru saja menikah dua bulan lalu dengan teman sekelas gue dan Intan di kelas XI yaitu Ahmad. Padahal Okta anak SMA 1 sedangkan gue, Intan, dan Ahmad adalah anak SMA 2.
Daripada bingung, nih gue buatin premisnya:
Gue teman sekelas Okta di NF waktu SMP.
Intan teman sekelas Okta di NF waktu SMA.
Gue, Intan, dan Ahmad adalah teman SMA.
Okta dan Ahmad adalah suami istri.
Kesimpulan:
Dunia sempit banget, man!
---
Jodoh itu benar-benar misteri. Gue belum tahu siapa yang akan menjadi jodoh gue nanti. Siapa tahu temannya teman tetangganya sepupu gue adalah jodoh gue. Atau jangan-jangan benar kata Shandi, teman kuliah S-1 gue, di sebuah perbincangan melalui telepon genggam:
Shandi (S) :“Kamu udah bisa nyetir motor?”
Citta (C)    : “Belum.”
S             : “Citta.. Citta.. Jangan-jangan jodohmu nanti sopir angkot!” – mengingat ke mana-mana gue selalu pakai angkot
C             : “ASTAGHFIRULLAH! JAHAT BANGET KAMU SHAN!!!”
S              : “Lho, kok jahat sih, kan kayak di FTV-FTV gitu..”

FTV? YA KELEEEUS!

Gambar diambil dari weheartit


Senin, 30 Desember 2013

2000 + 13



Kepada dua ribu tiga belas yang hampir bablas,
sampaikan salamku untuk orang-orang yang tadinya mendekat kemudian di tahun ini menjauh dan sampaikan terima kasihku untuk orang-orang yang tadinya jauh kemudian mendekat,
sampaikan maafku untuk diri sendiri dan orang-orang berkepentingan, karena tidak berhasil mencapai target yang diinginkan, dan
sampaikan syukurku kepada Tuhan atas kejutan yang Ia berikan, baik sedu sedan maupun kebahagiaan.

Dari aku, di deras hujan Desember dua ribu tiga belas.



Oleh:    
                30 Desember 2013